Campur Aduk di Colombo

Titik awal dan titik akhir perjalanan di Sri Lanka. Itulah kota Colombo. Rencana bermalam di sini awalnya fifty fifty. Masih bingung antara Colombo atau Negombo. Tapi pilihan jatuh pada ibukota Sri Lanka ini. Keputusan dadakan setelah melewati Kandy yang tidak menyenangkan. Bagi saya pribadi tentunya.

Dari Kandy Ke Colombo

Ada banyak bus menuju Colombo. Tidak perlu takut kehabisan. Yang saya tumpangi berangkat pukul 2 siang tepat. Tidak lama setelah saya duduk. Di dalam saya baru sadar. Salah masuk bus. Niatnya ingin naik yang biasa saja. Tapi keliru yang eksekutif. Bukan apa-apa. Yang ini full AC. Sementara saya gak kuat dingin.

Hari itu rupanya bukan hari yang tepat untuk ke Colombo. Ada perbaikan jalan yang bikin macet. Ditambah dengan lalu lintas dalam kota Colombo sendiri yang padat di sore hari. Seharusnya 2.5 jam sampai. Ini molor hingga 4 jam lebih.

Sekitar jam 6 malam bus memasuki terminal Bastian Mawatha. Pemberhentian terakhir. Dan saya pun turun. Bersama penumpang-penumpang lain yang tersisa.

Menginap di Manimalar Lodge

Tidak banyak pilihan tempat menginap. Mengingat pesennya dadakan. Yang tersisa dengan budget terjangkau adalah Manimalar Lodge. Hampir 2 km jaraknya dari terminal bus.

Bukti menginap di Manimalar Lodge

Meski hujan saya memilih untuk berjalan kaki. Toh ada payung.

Penginapannya sendiri agak ajaib. Lebih mirip bangunan rusun yang dijadikan akomodasi. Tidak ada lobi. Apalagi resepsionis. Cukup bunyikan bel di pintu teralis. Nanti penjaganya datang untuk membukakan pintu. Dan mengajari cara membuka dan menutup gemboknya sendiri apabila hendak keluar masuk.

Kamar yang saya dapatkan cukup luas. Tempat tidurnya ada dua. Satu ukuran queen. Satu ukuran single. Bisa buat menginap ramai-ramai. Sepuluh orang saja rasanya cukup. Kalau ada yang mau tidur di lantai.

Biaya menginap per malam tidak sampai $17. Sekitar 3000 LKR. Penjaga hotel meminta 3300 LKR. Memang tidak seberapa jika dirupiahkan. Tapi mengurangi esensi low budget yang saya harapkan.

Dari segi lokasi tidak terlalu strategis sebenarnya. Tidak ada penjual makanan maupun minimarket di sekitar. Yang terdekat di jalan K. B. Christy Perera Mawatha. 400 meter dari hotel. Berderet restoran lokal.

Pilihan lain di jalan George R. De Silva Mawatha. Tambah sekitar 300 meter lagi berjalan kakinya. Yang ini banyak bertengger kuliner internasional. Mulai dari Dominos Pizza, Burger King, hingga KFC. Juga ada jaringan supermarket kebanggaan Sri Lanka. Apalagi kalau bukan Cargills Food City.

Kuliner Kota Colombo

Mayoritas merupakan kuliner India. Sesuatu yang sebisa mungkin saya hindari. Alhasil McD yang saya datangi. Saya tidak ingat menu yang saya pesan. Yang jelas harganya 280 LKR. Lebih murah dari standar harga di KFC.

Menu McD Yang Saya Pesan

Pagi harinya saya tidak sarapan. Hanya membeli sekotak Milo di Cargills Food City. Maklum dana sudah menipis.

Keliling Kota Colombo

Banyak tuk tuk menawarkan jasa tur keliling kota. Layaknya kota yang baru terjamah wisatawan asing. Cocok buat yang malas berjalan kaki. Tapi pastikan harganya di awal. Banyak yang nakal. Minta duit lebih di belakang.

Saya memilih untuk berjalan kaki. Toh hanya ingin melihat seputar wilayah Pettah saja. Ada Kayman’s Gate, balai kota lama, Red Masjid, juga Dutch Museum. Yang disebut terakhir sayangnya sedang direnovasi. Ditutup sementara untuk turis.

Beberapa tempat di Colombo

Banyak sebenarnya yang bisa dieksplor di kota Colombo. Tidak perlu mengikuti jejak saya. Yang hanya berkutat di situ-situ saja. Masih ada mercusuar, pantai Galle Face, kuil sekaligus museum Gangaramaya, serta mall Colombo City Centre. Atau cafe Barefoot yang cukup tersohor di kalangan turis.

Scam Jum’atan

Saya tidak pernah (lagi) kena scam. Sejak pertama dan terakhir kali di Hat Yai, Thailand. 3 tahun yang lalu. Selalu dobel waspada. Apalagi ketika ada orang lokal yang sok akrab. Tapi di Colombo saya lengah. Gara-gara ada pria yang mengaku sesama muslim. Mengajak pergi jum’atan bersama. Di masjid yang katanya tidak jauh dari rumahnya.

Saya diajak menyusuri gang gang kecil yang katanya jalan tembus. GPS alami saya sudah merasa kalau itu hanya berputar-putar. Tapi saya coba husnudzon. Berbaik sangka. Masih menganggapnya benar-benar sesama umat Islam. Yang memang hendak sholat Jum’at.

Perasaan mulai tidak enak ketika saya diminta foto-foto. Di depan sebuah kuil yang katanya terkenal. Dilanjut dengan menunjukkan kawasan yang katanya zona merah. Lantas menawarkan apakah setelah jumatan saya berminat untuk boom boom. Istilah untuk ML di kawasan Asia Tenggara.

Saya mulai ngeh bahwa si pria ini bukan benar-benar hendak jumatan. Melainkan salah satu bentuk scam city tour tanpa tuk tuk. Saya pun minta kembali ke mesjid. Yang sebenarnya sudah sempat dilewati. Daripada semakin jauh berputar-putar.

Dan tebakan saya benar. Mendekati mesjid ia berhenti. Meminta uang. Dengan alasan sudah jadi guide. Dibumbui cerita ngibul kalau anak-anaknya sedang dirawat di rumah sakit. Saya beri 1500 LKR. Malas berdebat. Itu pun dia minta tambah. Tapi saya abaikan.

Aktingnya sebagai muslim ternyata masih berlanjut. Ia mengajak saya ke sebuah toilet umum untuk berwudhu. Terlihat bahwa ia tidak bisa melakukannya. Hanya asal basuh basuh. Sebelum saya masuk mesjid ia berpesan. Hendak pulang sejenak untuk mengambil sesuatu. Dan meminta saya untuk nanti menunggunya.

Jelas nggak mungkin dong saya nungguin dia.

Usai jumatan saya buru-buru meninggalkan mesjid. Nyelip di antara kerumunan jama’ah. Jaga-jaga agar tidak bertemu dengan orang itu lagi.

Yah, itu pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Untuk jangan pernah mengendorkan kecurigaan saat traveling. Bahkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan ibadah sekali pun.

Menuju Bandara

Bus menuju bandara berangkat dari Central Bus Station. Seberang Bastian Mawatha Bus Station. Sepertinya jumlahnya tidak terlalu banyak. 30 menit menunggu baru busnya datang.

Kursinya cukup nyaman. Terdapat kabin untuk menyimpan koper dan bawaan lainnya. Atau bisa diletakkan di bagian depan. Samping sopir.

Kursi bus bandara yang nyaman

Perjalanan menuju airport sangat lancar. Sama sekali tidak terhalang macet. Jauh lebih cepat sampai dari perkiraan saya.

Di Bandara

Petugas bandara cukup ketat. Tidak memperbolehkan masuk jika counter check-in belum dibuka. Apesnya saya datang 4 jam sebelum jadwal keberangkatan. Dua jam menunggu untuk bisa masuk area check-in.

Terdapat banyak stand penukaran uang dan souvenir di luar area check-in. Saya tukarkan sebagian sisa uang Rupee saya. Sisanya disimpan untuk kenang-kenangan.

Sayangnya di dalam semua harga berlipat ganda. Termasuk makanan. Semua menu di semua restoran yang ada harganya minimal Rp 100.000,- jika dirupiahkan. Saya terpaksa tarik uang di ATM untuk beli makan. Lagi-lagi ekstra budget.

Makannya di Burger King. Harga menu 4-5 kali lipat dari harga normal. Bener-bener edan. Saya pilih yang paling murah. Segelas minuman dan 3 potong sayap ayam. Itu juga ternyata satu sayap ayam dipotong jadi tiga. Parah.

Menu burger king ekstra mahal

Saya lupa mencatat harga menu Burger King yang saya pesan. Sudah terlanjur bete. Rasanya $8.

Moral of the story: Pastikan perut kenyang saat menuju bandara Colombo.

Total Pengeluaran

Berikut ini rincian pengeluaran selama sehari semalam di kota Colombo.

Hari Pertama
KeteranganBiaya (LKR)
Bus -> Colombo360 LKR
Bayar Manimalar Hotel3300 LKR
Makan di McD280 LKR

Total pengeluaran di hari pertama adalah 3940 LKR.

Hari Kedua
KeteranganBiaya (LKR)
Milo50 LKR
Kena Scam1500 LKR
Fanta100 LKR
Bus -> Airport150 LKR
Burger King???

Total pengeluaran di hari kedua adalah 1800 LKR.

Dengan demikian, total pengeluaran selama di kota Colombo adalah 3940 + 1800 = 5740 LKR atau sekitar 445 ribu dengan menggunakan kurs saat artikel ini ditulis.

Jangan lupa untuk membaca juga catatan perjalanan sebelumnya di Sri Lanka:

  1. Dari Surabaya Ke Kolombo
  2. Menuju Jaffna, Ujung Utara Negeri Sri Lanka
  3. Jelajah Jaffna
  4. Berteman Hujan di Sigiriya
  5. Terpesona Dambulla
  6. Kandy Yang Tidak Candy
OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply