Yang Harus Dibawa Saat Traveling: Dokumen Identitas Pribadi

Topik bahasan berikutnya mengenai barang yang harus dibawa saat traveling adalah dokumen identitas pribadi. Mungkin ada yang protes. Bukankah tanpa perlu dibicarakan memang sudah wajib hukumnya untuk membawa barang tersebut? Baik yang berupa KTP (Kartu Tanda Penduduk) / SIM (Surat Ijin Mengemudi) untuk perjalanan dalam negeri maupun buku paspor untuk perjalanan luar negeri. Iya, memang benar. Tapi bukan itu yang saya maksud. Melainkan copy atau backup dari dokumen identitas pribadi yang kita miliki. Apa maksudnya?

Yang Dimaksud Dokumen Identitas Pribadi

Sebelum dibahas lebih jauh, kita samakan persepsi dulu untuk pengertian dari dokumen identitas pribadi itu sendiri. Yang saya maksud di sini adalah segala macam dokumen legal, baik yang berupa buku maupun kartu, yang bisa menjadi bukti valid akan identitas kewarganegaraan kita. Informasi dalam dokumen ini umumnya mencakup nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, alamat tempat tinggal, serta nomer ID tertentu.

Pada tarif nasional atau domestik (dalam negeri), dokumen identitas yang diterima adalah KTP dan SIM. Sementara untuk skala internasional, yang berlaku adalah buku paspor. Tentu saja masing-masing harus masih dalam masa berlaku yang aktif. Khusus untuk paspor, hindari untuk bepergian apabila masa berlakunya sudah kurang dari 6 bulan. Kebanyakan negara akan menolak untuk mencap buku paspor dengan kondisi semacam itu. Sebaiknya urus perpanjangannya terlebih dahulu sebelum melakukan traveling, daripada bermasalah di belakang.

Di luar keperluan mengemudi, untuk SIM Internasional saya kurang tahu apakah juga bisa dianggap sebagai dokumen ID yang berlaku atau tidak. Mungkin ada teman-teman yang tahu?

Fungsi Dokumen Identitas Pribadi

Fungsi utamanya mungkin sudah jelas. Yaitu untuk memastikan identitas kita dan, untuk kasus perjalanan internasional, memastikan kita adalah penduduk resmi dari suatu negara. Itu sebabnya dokumen-dokumen ini selalu diminta pada saat kita melakukan check-in penerbangan, check-in hotel, dan sejenisnya.

Kembali ke soal buku paspor, usahakan agar buku tersebut segera dikembalikan ke tangan kita setelah proses check-in usai. Ada beberapa penginapan yang menahan paspor tersebut hingga kita melakukan check-out. Ini sangat riskan dan berbahaya. Selain bisa disalahgunakan, kita bisa ditahan apabila ketahuan keluyuran di negeri orang tanpa membawa buku paspor.

Saya pernah mengalaminya. Paspor ditahan saat menginap di sebuah hotel yang mirip ruko di Hue, Vietnam. Namun saya biarkan saja berhubung saya sudah punya backupnya. Harusnya sih jangan, cuma waktu itu agak malas berdebat karena yang sedang bertugas di bagian resepsionis tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali. Jangan ditiru ya, gaes, hehehe.

Oh ya, fungsi lain adalah pada saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebut saja kecelakaan. Dokumen identitas yang kita bawa otomatis akan jadi rujukan pertama bagi pihak yang berwenang untuk melakukan tindakan lebih lanjut. Menghubungi pihak keluarga atau pihak kedutaan besar misalnya.

Yang Dimaksud Backup Dokumen Identitas Pribadi

Setelah mengetahui pentingnya selalu memegang identitas pribadi dalam perjalanan, pasti teman-teman sudah tahu fungsi utama dari backup dokumen ini. Tentu saja sebagai pegangan atau cadangan jika terjadi kehilangan atau kerusakan fatal pada buku atau kartu identitas asli yang kita miliki.

Bentuknya ada 2, yaitu fisik dan digital.

Yang fisik berupa fotocopy dari ID yang kita miliki. Termasuk fotocopy KTP, SIM, dan buku paspor. Khusus untuk buku paspor, cukup diambil bagian depan saja, yang mencantumkan nomer paspor dan data pribadi kita. Selain itu, apabila negara yang kita tuju mensyaratkan kepemilikan visa, fotocopy juga visa tersebut sebagai backup.

Sedang untuk bentuk digital adalah berupa file gambar hasil scan atau foto. Bagian-bagian yang diabadikan sama saja dengan di atas.

Cara Menyiapkan Backup Dokumen Identitas Pribadi

Saya selalu menyiapkan dua bentuk backup ID sekaligus, yaitu bentuk fisik dan digital.

Untuk yang berbentuk fisik (hasil fotocopy), saya menyimpannya di tas ransel utama. Bukan di dalam tas ekstra yang digunakan untuk berkeliling. Dengan demikian, jika terjadi sesuatu dengan dokumen asli yang saya bawa dalam tas ekstra, saya masih tetap punya backupnya di tas utama yang biasanya saya tinggalkan di kamar hotel.

Untuk yang berbentuk digital (hasil foto / scan), saya menyimpannya di dua tempat. Di dalam memori ponsel (atau kartu memori) serta di internet. Untuk yang tersimpan di ponsel atau kartu memori rasanya sudah jelas ya, tinggal dikopikan saja ke sana file-filenya. Nah, untuk yang tersimpan di internet ada beberapa opsi. Kita bisa mengirimkan file-file dokumen tersebut ke akun email kita atau menggunakan layanan penyimpanan berbasis awan (cloud storage), seperti Google Drive, Dropbox, dan lain sebagainya. Intinya, simpan backup identitas tersebut di tempat dimana kita bisa mengaksesnya kapan saja dan darimana saja.


Meski kelihatannya ribet, tapi percayalah, gaes, hal ini akan sangat bermanfaat. Toh kita hanya perlu sekali saja menyiapkannya. Atau setiap kali ada perubahan data pada dokumen identitas pribadi yang kita miliki. Asli tidak ada ruginya sama sekali 🙂

Selamat traveling!

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply