Menuju Jaffna, Ujung Utara Negeri Sri Lanka

Bagi turis (atau traveler berotak normal) yang ingin atau pernah datang ke Sri Lanka, nama kota Jaffna mungkin terasa asing. Minim kemungkinan bakal masuk dalam itinerari. Tapi tidak bagi yang gemar hal-hal anti mainstream dan non-touristy seperti saya. Jaffna adalah salah satu wilayah yang terkena dampak tsunami di tahun 2004. Jaffna adalah markas pusat pemberontak Macan Tamil sebelum akhirnya mereka menyerah di tahun 2009. Jaffna adalah daerah yang berbatasan dengan India sehingga dijaga ketat oleh pihak militer. Kurang alasan apalagi untuk menuju ke sana?

Tulisan ini bagian kedua dari catatan traveling ke Sri Lanka. Sebaiknya baca dulu bagian pertamanya di sini biar gak bingung ya teman-teman 🙂

Dari Bandara ke Kolombo

Keluar area imigrasi, saya disuguhkan pemandangan toko-toko duty free yang tidak biasa. Jika di negara lain area ini diisi oleh aneka minuman, cokelat, parfum, dan sejenisnya, di Bandaranaike International Airport ini yang marak justru berbagai macam barang elektronik. Mulai dari LCD TV hingga kulkas!

Ketakjuban saya untungnya tidak membuat lupa untuk membeli kartu SIM lokal sebelum beranjak keluar area bandara. Provider Dialog yang paling direkomendasikan. Karena antrian booth panjang saya pilih Airtel. Sekaligus dengan paket internet 7GB. Total biayanya 700 LKR, sekitar 56 ribu rupiah saja.

Paket SIM Card versi super ekonomis

Awalnya ingin ambil yang 3GB, berbandrol 300 LKR. Tapi saya ingat beberapa tulisan di internet. Tentang performa WiFI penginapan di Sri Lanka yang kurang bagus. Lebih baik cari aman daripada kehabisan kuota.

Oh ya, sebelumnya saya juga menukarkan uang dolar US terlebih dahulu ke mata uang lokal. Dari bekal 300 USD, 2/3-nya saya tukarkan. Dapatnya 34 ribu LKR lebih.

SIM card beres, waktunya menuju kota Kolombo. Cukstaw. Mski namanya Colombo Airport, tapi bandar udara ini jaraknya kurang lebih 35 km dari kota Kolombo. Justru lebih merapat ke kota Negombo. Tidak sampai 9 km.

Ada 2 opsi menuju ibukota Sri Lanka itu. Via taksi atau bus. Yang pertama mematok harga 2000 LKR. Yang kedua? Antara 150 LKR hingga 400 LKR. Lewat jam 9 malam, hanya tersedia pilihan 400 LKR. Dengan bus 187-Express. Tak apalah, daripada 5x lipatnya.

Tujuan akhir bus ini adalah terminal bus Bastian Mawatha. Tidak jauh dari stasiun kereta api Colombo Fort. Di kota Kolombo tentunya.

Baru sekitar 2km berjalan, bus berhenti untuk ngetem. Di pertigaan dekat sebuah restoran yang buka 24 jam. Sepertinya hingga penumpang penuh. Lewat tengah malam baru melanjutkan perjalanan. Seingat saya.

TIPS: Jika saat tiba di bandara bus ini sudah tidak ada di tempat, teman-teman bisa menggunakan tuk-tuk menuju ke pertigaan tempat bus ini ngetem. Mahal sih kabarnya. Alternatif lain ya ditunggu saja sampai bus berikutnya tiba.

Dari Kolombo ke Jaffna

Bus masuk terminal pukul 1 dini hari. Sempat terpikir untuk sekalian lanjut naik bis saja ke Jaffna. Tapi memang sudah takdirnya naik kereta api. Bus terakhir ke sana sudah berangkat 2 jam sebelumnya.

Warung-warung makan di area terminal sudah mulai beberes. Untung masih ada kudapan Oat Choco di tas, cukup sebagai pengganjal perut. Ditambah sebotol air mineral seharga 50 LKR sebagai penghilang dahaga.

Langkah kaki lantas saya arahkan menuju Colombo Fort. Stasiun kereta yang berjarak 600 meter. Karena masih tutup, terpaksa harus berjalan memutar ke bagian depan. Yah, kalikan dua lah jaraknya.

Suasana malam di kota Kolombo

Tanya-tanya petugas, loket pembelian tiket kereta baru dibuka pukul 3 pagi. Itu pun bukan untuk rute menuju Jaffna. Masih harus menunggu satu jam setengah lagi. Alias pukul setengah lima.

Tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain tidur-tiduran di emperan stasiun. Bersama dengan puluhan gelandangan. Yang sepertinya menjadikan area tersebut sebagai tempat istirahat mereka di kala malam.

Ada dua kejadian menarik dini hari itu. Berkenalan dengan orang lokal. Yang ternyata adalah cucu dari penyanyi ternama di sana. Plus pengalaman religi berkesan di Red Mosque, beberapa ratus meter dari stasiun. Kisah lengkapnya nanti di artikel tersendiri. Atau mungkin di situs baru saya yang sedang dipersiapkan.

Singkat cerita, pagi menjelang. Loket telah dibuka. Niat awal adalah membeli tiket kelas 2 Unreserved (rebutan kursi) senilai 630 LKR. Kendala bahasa buntut-buntutnya jadi dapat tiket kelas 2 Reserved (dapet kursi) seharga 800 LKR. Baiklah.

Tiket kereta yang tidak begitu jelas

Agak sulit untuk memahami cetakan tulisan yang ada di tiket. Untungnya, petugas stasiun sangat ramah. Hanpir semuanya lancar berbahasa Inggris. Cari saja pria-pria berseragam yang seliweran di bagian dalam stasiun. Sama seperti petugas di bagian imigrasi bandara, mereka juga aktif dalam memberi bantuan. Begitu ada yang kelihatan bingung membaca tiket, langsung disamperin dan diminta menunjukkan tiketnya. Asli keren.

Saya pun tidak ketinggalan untuk minta bantuan. Kebetulan bertepatan dengan datangnya kereta. Sambil menunggu kereta berhenti, si petugas mengajak ngobrol tentang Indonesia. Dobel keren.

Daleman stasiun kereta Colombo Fort

Meski terlihat tua, tapi saya cukup suka dengan gerbongnya. Jarak antar kursi melegakan. Jendela juga bisa ditutup. Tidak seperti kereta api di Myanmar. Yang tidak ada kaca jendelanya. Terbuka begitu saja.

Kursi kereta yang lega

Beberapa bule beberapa kali salah gerbong. Tiket mereka untuk gerbong unreserved. Sebenarnya bisa saja karena kondisi gerbong yang saya tempati tidak penuh. Tapi petugas pemeriksa karcis — yang sepertinya standby di masing-masing kelas — cukup sigap mengusir mereka kembali ke habitatnya.

Sekitar pukul 4 sore lebih sedikit kereta tiba di Jaffna. Perjalanan memakan waktu sekitar 8 jam. Molor 2 jam dari durasi seharusnya.

Welcome to Jaffna

Suasana kota Jaffna tidak jauh berbeda dengan kota-kota kecil di pulau Jawa. Seperti Pacitan. Atau Banyuwangi. Bayangkan, hanya ada satu ‘pusat perbelanjaan’ di sana. Cargill Square namanya. Entah apa bisa disebut pusat perbelanjaan juga. Faktanya itu adalah bangunan milik Bank Cargill. Yang sekaligus difungsikan untuk menampung Cargill Food City (jaringan supermarket mereka yang ada di seluruh penjuru Sri Lanka); beberapa gerai fashion, komputer, dan handphone; bioskop; 2 cafe; 1 gerai es krim; serta KFC.

Belum makan sama sekali sejak tiba di Sri Lanka, jadilah saya menuju Cargill Square terlebih dahulu. 1 km jaraknya dari stasiun kereta. Sempat melewati gerai Pizza Hut di perempatan jalan.

KFC jadi pengisi perut saat itu. Lumayan mahal menunya. 660 LKR untuk hidangan seperti pada gambar di bawah.

Paket KFC entah apa namanya

Sepertinya nasi briyani

Saus dan acar

Sebelum menuju hotel, saya berbelanja beberapa minuman dan snack di supermarketnya. Tempat saya menginap, Bosco Guesthouse, lokasinya di tengah area perumahan. Logikanya sih tidak ada minimarket di sekitar. Lebih baik menyiapkan bekal dulu. Siapa tahu malam-malam kehausan. Atau kelaparan.

Dari Cargill Square saya memilih naik tuk-tuk. Biar tidak repot cari lokasi penginapan. Belum tahu patokan harga, saya terima saja saat sopir tuk-tuk memberi tawaran 200 LKR. Belakangan baru saya tahu kalau untuk jarak 2 km, bandroll segitu sedikit kemahalan. 150 LKR saja seharusnya.

Dewi fortuna ternyata sudah menunggu di penginapan. Kamar yang saya pesan sedang direnovasi. Gantinya adalah kamar tipe lebih besar. Tanpa perlu mengeluarkan biaya ekstra. Dengan dua tempat tidur. Plus wastafel.

Kamar di Bosco Guesthouse

Dan lampu disko!

Lampu disko dalam kamar

Perjalanan panjang dari Surabaya hingga Jaffna akhirnya bisa ditutup dengan tidur yang nyenyak.

Total Pengeluaran

Berikut ini adalah rincian pengeluaran selama perjalanan dari bandara Colombo hingga tiba di Jaffna. Atau hari pertama di Sri Lanka.

Hari 1
KeteranganBiaya (LKR)
Bus 187-Express400
SIM Card700
Air Mineral50
Toilet10
Kereta api -> Jaffna (2nd Class Reserve)800
Makan di KFC660
Beli persediaan minum di Cargill Food City160
Tuk-tuk -> Bosco Guesthouse200
Bosco Guesthouse 3 malam3600

Total pengeluaran untuk hari pertama di Sri Lanka adalah LKR 6580 atau sekitar 540 ribu rupiah (dibulatkan ke atas).

menuju jaffna srilanka

Leave a Reply