Sinopsis The K2 Episode 10 & Preview Episode 11 (22 Oktober 2016)

Di sinopsis The K2 episode sebelumnya, Choi Sung-Won (Lee Jung-Jin) membawa Ko Anna (Im Yoona), Jang Mi-Ran (Lee Yea-Eun), ibu Mi-Ran, dan Sung-Gyu / K1 (Lee Jae-woo) untuk tinggal di tempatnya, di sebuah rumah pinggir pantai yang jauh dari pusat kota. Meski masih curiga terhadap motif Sung-Won, untuk saat ini mau tidak mau Kim Je-Ha (Ji Chang-Wook) menemani Anna di sana. Hal itu malah membuat benih-benih cinta di antara mereka berdua mulai tumbuh. Apa yang selanjutnya bakal terjadi di sinopsis drama korea The K2 episode 10 kali ini?

Dok. gambar dan video © tvN of Korea Selatan

Sinopsis Episode 10

Je-Ha hendak membuka pintu kamar Anna saat tiba-tiba Anna memanggilnya melalui walkie-talkie. Dengan mengendap-endap Je-Ha kembali ke ruang tengah dan meraih walkie-talkienya lalu membalas panggilan Anna.

“Aku lupa memberitahumu. Tidur yang nyenyak. Over,” ujar Anna.

“Umm.. kamu juga. Selamat malam. Over,” respon Je-Ha, sembari tersenyum sendiri.

Malam pun berlalu. Esok harinya, Mi-Ran me-make-up wajah Anna dengan bangga. Ia pede dengan skill make-up-nya karena menjadi perias wajah artis adalah cita-citanya yang kedua setelah bodyguard. Anna mengatakan bahwa itu untuk pertama kalinya ia dirias.

“Aku yakin ada banyak ‘pertama kali’ yang belum kamu alami,” ujar Mi-Ran.

“Apa lagi yang harus aku coba?” tanya Anna.

“Ciuman pertama,” jawab Mi-Ran dengan cepat.

Anna jadi teringat bahwa Je-Ha sudah pernah menciumnya, pada saat melakukan CPR beberapa waktu lalu.

“Aku sudah mengalami ciuman pertamaku,” ucap Anna sambil tersenyum.

Mi-Ran jadi bingung, seolah tak percaya, mendengarnya.

Je-Ha yang sedang dalam perjalanan entah kemana membayangkan kembali tentang hal-hal yang ia alami bersama Anna kemarin. Sementara itu, Mi-Ran yang sudah mendapat penjelasan tentang ‘ciuman pertama’ Anna menjelaskan bahwa itu bukanlah ciuman, melainkan pernafasan mulut ke mulut.

“Sayang, itu bukan ciuman hanya karena kalian mengunci bibir, oke?” jelas Mi-Ran, “Ciuman adalah… well…”

“Aku tahu apa ciuman itu, oke?” potong Anna kesal. “Memangnya kamu sudah pernah mencium seseorang?”

“Tentu saja, berkali-kali, bahkan kemarin aku..”, Mi-Ran menghentikan kata-katanya, sadar sudah keceplosan.

“Kemarin? Kapan? Dengan siapa?” tanya Anna kepo.

“Kemarin! Kemarin! Umm.. eniwei.. nona muda, aku membiarkanmu mendapatkan K2, kamu tahu,” ucap Mi-Ran, mengalihkan pembicaraan.

Anna heran mendengarnya. Mi-Ran lalu mengatakan bahwa jika ia tidak membiarkan hal itu, tentu saja ia sudah berusaha untuk merayu K2 habis-habisan dan melahapnya sendiri. Anna tersenyum. Mi-Ran lantas memberikan sentuhan akhir pada bibir Anna agar terlihat ‘super kissable’.

Usai berdandan, dengan penuh semangat Anna mencari Je-Ha. Namun ia langsung kecewa begitu mendengar Je-Ha sudah pergi sejak pagi tadi. Ternyata tujuannya adalah ke tempat Choi Yoo-Jin (Song Yoon-A) untuk berbicara dengannya agar berhenti mengejar Anna.

Sebuah pesan masuk di ponsel Je-Ha. Saat dibuka, muncul foto Anna dengan dandanan maksimal dan mulut dimonyongkan ala selfie alay. Je-Ha pun kaget melihatnya. Tiba-tiba Anna menelponnya dan menanyakan apakah ia sudah melihat foto tersebut. Je-Ha mengiyakan.

“Bagaimana penampilanku?” tanya Anna.

“Well, kamu terlihat cantik,” jawab Je-Ha.

Anna girang mendengarnya.

“Kim Je-Ha, kamu milikku sekarang,” ujar Anna.

Giliran Mi-Ran yang meloncat-loncat girang mendengar Anna mengatakan itu pada Je-Ha.

“Mi-Ran mengatakan padaku bahwa ia membiarkan aku mendapatkanmu, jadi kamu milikku sekarang,” jelas Anna. “Kamu tahu maksudku, bukan?”

“Baik, baik, lakukan apa yang kamu inginkan,” respon Je-Ha.

“Jadi kamu harus berhati-hati hari ini dan jangan terluka, oke?”

“Baiklah,” jawab Je-Ha.

Tak lama kemudian, Je-Ha tiba di tempat kediaman Yoo-Jin, tepat di saat Yoo-Jin hendak berangkat ke suatu tempat. Je-Ha pun ikut dengan mobil Yoo-Jin. Dalam perjalanan, Yoo-Jin menanyakan tentang Anna, apakah ia betah di tempatnya yang baru. Je-Ha mengiyakan.

“Kapan dia akan kembali?” tanya Yoo-Jin.

Je-Ha hanya terdiam. Yoo-Jin paham akan arti diam Je-Ha menjadi kesal terhadap Sung-Won yang secara tidak langsung telah menawan Anna. Kim Dong-Mi (Shin Dong-Mi) mengingatkan Yoo-Jin untuk menjaga emosinya karena ia akan segera menjalani interview di TV. Yoo-Jin memastikan bahwa itu adalah interview terakhirnya sembari meminta Dong-Mi untuk melakukan segala cara demi mencegah identitas asli Anna terekspos ke publik.

“Baik, nyonya. Ia akan segera dilupakan dalam waktu dekat,” janji Dong-Mi.

Saat itu, Je-Ha bertemu dengan ketua Joo, yang penasaran dengan tujuan asli Sung-Won. Je-Ha memberitahu apa yang dikatakan Sung-Won semalam kepadanya, bahwa Sung-Won menggunakan Anna sebagai pelindung dari serangan kakaknya. Ketua Joo merasa bahwa itu mungkin benar, setidaknya hingga pemilihan berakhir.

“Tapi bagaimana jika anggota parlemen Jang yang keluar sebagai pemenang? Akankah istri presiden membiarkan Anna tetap berada di tangan ketua Choi? Dan apakah kamu pikir ketua Choi tidak menyadari hal itu? Anna bukanlah pelindung ketua Choi. Ia adalah pedang kuat yang bisa digunakan untuk melawan Nyonya.”

Sementara itu, di rumah, Sung-Won menunjukkan catatan polisi mengenai kasus ibu Anna. Saat Anna melihatnya, diam-diam senyum tersungging di bibir Sung-Won.

Acara syuting talk show dimulai. Pembawa acara (yang sebelumnya di episode 1 juga pernah mewawancarai Yoo-Jin) menanyakan mengenai hubungan Yoo-Jin sebagai wali Ko Anna. Yoo-Jin menjawab bahwa ia melakukannya karena punya hubungan dekat dengan ibu Anna, Ume Hye-Rin, sejak masih belum menikah dulu. Mereka pertama kali bertemu saat Yoo-Jin bekerja di JB Group. Karena merasa sebagai orang yang mempertemukan Hye-Rin dengan suaminya, Yoo-Jin jadi merasa bersalah saat mereka berpisah dan akhirnya memutuskan untuk menjadi wali Anna. Ia pun berpura-pura menangis untuk memperkuat kebohongannya.

Syuting terhenti sejenak untuk jeda iklan. Saat break, pembawa acara, Ji Yeon, mempertanyakan kebenaran cerita Yoo-Jin karena ternyata saudara iparnya pernah bekerja di JB Group pada waktu itu dan ia tidak pernah melihat keberadaan Yoo-Jin di sana. Yoo-Jin berdalih karyawan biasa pasti tidak tahu apa-apa, tapi ternyata saudara ipar Ji-Yeon waktu itu menjabat sebagai presiden JB Group. Yoo-Jin sontak terhenyak. Ia lalu meminta Ji Yeon agar tetap mengikuti script. Dengan tenang Ji Yeon menjawab bahwa kali ini Yoo-Jin tidak bisa mengancamnya seperti sebelumnya karena anaknya saat ini berada di luar negeri.

Acara talkshow dimulai kembali. Kali ini pembawa acara menanyakan tentang Anna. Usai Yoo-Jin menjawab, yang tentu saja juga ditambah dengan bumbu-bumbu kebohongan di sana-sini, tanpa diduga Ji Yeon memanggilkan surprise guest, Anna! Dan dari sudut ruangan muncullah Anna bersama Sung-Won dan beberapa orang bodyguardnya.

Anna berhenti sejenak di depan K2, yang menunjukkan raut muka ketidaksetujuan terhadap sikap Anna. Namun Anna hanya tersenyum. Ia lalu maju ke panggung dan duduk di samping Yoo-Jin.

Pertanyaan bagi Anna pun mulai diberikan. Dan seolah sedang membalas dendam, Ji Yeon mengcrosscheck jawaban-jawaban Yoo-Jin sebelumnya yang ternyata tidak sesuai dengan jawaban Anna. Salah satunya adalah mengenai Jean-Paul Lafelt yang dikatakan Yoo-Jin tidak mengenal Ume, padahal faktanya mereka berdua adalah teman baik. Yoo-Jin tidak mampu berdalih apa-apa untuk membantahnya. Untuk lebih menjatuhkan Yoo-Jin, Ji Yeon bahkan menampilkan rekaman video dari Lafelt yang ditujukan untuk Anna, dimana di dalamnya Lafelt sempat menyinggung tentang Ume.

Ji Yeon melanjutkan dengan menanyakan apakah Anna berniat untuk pergi ke Paris dan menjadi model Lafelt. Anna menjawab bahwa untuk saat ini belum karena ia harus mengobati penyakit panic disorder-nya terlebih dahulu. Selain itu, ia mengatakan bahwa ada sesuatu yang harus ia kerjakan terlebih dahulu di sini. Ji Yeon mencoba mengejar penjelasan Anna mengenai ‘sesuatu yang harus ia kerjakan’ itu. Anna terdiam dan menoleh sejenak ke arah Yoo-Jin.

“Aku ingin menyelesaikan misteri kematian ibuku, Ume Hye Rin,” jawab Anna.

“Misteri kematian ibumu? Apakah itu berarti kamu tidak menerima bahwa ia melakukan bunuh diri?” tanya Ji Yeon.

Yoo-Jin menoleh ke arah Anna dan memaksakan diri untuk tersenyum kepadanya sembari memanggil namanya.

“Bukan begitu. Jika ia benar melakukan bunuh diri, aku ingin tahu kenapa ia melakukannya. Ia masih populer pada saat itu dan tidak menghadapi masalah. Ia bahkan membuatkan passport untukku tepat sebelum ia meninggal. Dan pada hari itu, ibu dan aku sudah memesan tiket ke Amerika. Tapi di malam itu ibu meninggal, bahkan tanpa meninggalkan wasiat. Itu sebabnya aku ingin tahu kenapa ibu meninggal.”

Sung-Won terlihat puas mendengarnya. Ia lantas pergi meninggalkan studio bersama para bodyguardnya. Dan tanpa diduga, Anna tiba-tiba memberi pernyataan yang meminta siapa saja yang memiliki petunjuk tentang kematian ibunya itu untuk menghubunginya langsung.

Usai interview, Je-Ha mempertanyakan tindakan Anna barusan. Sung-Won sempat masuk ke ruangan mereka, namun keluar lagi setelah Anna mengaku bahwa semua itu adalah keinginannya sendiri dan pamannya hanya membantunya.

“Aku ingin membalas dendam pada Choi Yoo Jin. Paman akan membantuku. Dan kamu akan melindungiku,” ujar Anna.

Yoo-Jin melangkah dengan gontai memasuki ruangannya bersama Dong-Mi. Melihat kondisi bosnya, Dong-Mi menanyakan apakah ia baik-baik saja.

“Aku pasti telah salah mengira sesuatu selama ini,” ucap Yoo-Jin.

“Aku akan membunuhnya,” respon Dong-Mi.

“Ya, seharusnya aku mendengarkan kata-katamu.” lanjut Yoo-Jin dengan mata berkaca-kaca.

Anna memberikan catatan kepolisian tentang ibunya pada Je-Ha dan memberitahunya bahwa ibunya tidak meninggal karena overdosis obat tidur. Ini terbukti dari kukunya yang patah, menandakan bahwa ia mati dalam keadaan menderita. Je-Ha terdiam mendengarnya.

Direktur JSS akhirnya menemui kepala polisi untuk mempertanyakan mengapa ia harus mengikuti dirinya sekarang. Dengan berbisik kepala polisi memberitahu sesuatu pada direktur JSS, yang terlihat kaget mendengarnya.

Sung-Won membawa Anna ke sebuah butik untuk di-makeover penampilannya. Di tempat lain, Yoo-Jin juga sedang melakukan hal yang sama. Dong-Mi lantas memberitahunya bahwa anggota parlemen Jang, suaminya, akan dibebaskan siang ini. Perias Yoo-Jin mengira Yoo-Jin berdandan untuk menyambut suaminya sehingga ia memuji suami Yoo-Jin yang beruntung punya istri cantik dan setia seperti Yoo-Jin. Yoo-Jin hanya tersenyum mendengarnya.

Usai dirias, Yoo-Jin mengatakan pada Dong-Mi untuk membiarkan Je-Ha saat ini karena bisa dimanfaatkan nanti. Sementara itu, sambil menunggu Anna selesai berdandan, Je-Ha mempertanyakan tindakan Sung-Won hari ini terhadap Anna.

“Aku pikir para chairman sibuk menghasilkan uang, tapi aku rasa kamu punya banyak waktu luang,” ujar Je-Ha.

“Bekerja adalah untuk lebah pekerja,” respon Sung-Won.

“Lalu apa yang dilakukan oleh kalian? Para chairman?” tanya Je-Ha lagi.

“Kami? Kami melancarkan perang. Kami membangun kastil dan mencurinya. Dan mengembangkan daerah kekuasaan kita. Dan setelah mengembangkan daerah kekuasaan kita seperti itu, lebah pekerja menggarap tanahnya lebih lagi. Dan kemudian, kita melancarkan perang lagi. Tanpa ada akhirnya.”

“Aku rasa yang ia katakan adalah benar, bahwa Anna bukanlah pelindungmu dari Choi Yoo Jin, ia adalah pedang yang kamu gunakan untuk menyerangnya.”

“Ya, itu benar. Aku ingin Anna sukses membalaskan dendam ibunya karena aku akan bisa melindungi JB Group. Apakah itu buruk? Keadilan akan ditegakkan dan aku akan melindungi kastilku.”

“Jadi itu sebabnya kamu menunjukkan kepada gadis yang menderita panic disorder sebuah file kasus yang berisi foto-foto traumatik mengenai kematian ibunya dengan sengaja?”

Sung-Won tertawa. Ia berkata, “‘Gadis’? Aku rasa kamu sudah salah informasi. Lihat sendiri. Wanita yang kamu cintai bukanlah seorang gadis lagi. Lihat. Lihat dengan baik.”

Dan memang, usai berdandan, Anna terlihat lebih dewasa dan juga anggun.

“Ia membutuhkan seseorang yang bisa memberikannya sayap,” ucap Sung-Won.

“Aku rasa kamu tidak tahu banyak mengenai saudaramu meskipun kamu mengawasinya sepanjang hidupmu. Karena jika kamu benar mengenalnya, kamu tidak akan mungkin melakukan sesuatu yang berbahaya seperti membawa Anna ke studio hari ini.”

Anna ternyata menjalani sesi pemotretan, entah untuk keperluan apa. Setelah beberapa kali mengambil gambar, fotografer mengatakan pada Sung-Won bahwa ia membutuhkan flash untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Sung-Won lalu meminta waktu sejenak untuk berbicara dengan Anna.

Setelah semua orang pergi meninggalkan ruangan pemotretan, Sung-Won memberikan obat anti panik pada Anna yang berasal dari dokter Lee. Obat tersebut, menurut Sung-Won, bisa menghilangkan ketakutan Anna pada kilatan lampu selama beberapa saat. Efeknya sendiri baru akan terasa satu jam setelah diminum. Sung-Won lalu meminta Anna melanjutkan pemotretan setelah meminum obat itu agar nantinya mereka bisa menggunakan lampu flash. Anna mengiyakan.

Je-Ha yang melihatnya lantas menghampiri Anna dan mengecek obat yang diberikan Sung-Won. Saat diberitahu kegunaannya, Je-Ha curiga kenapa tidak dokter langsung yang memberikannya pada Anna pada waktu itu. Tapi Anna sudah terlanjur percaya pada pamannya, dan merasa akan baik-baik saja karena ada Je-Ha di sana. Ia kemudian mengajak Je-Ha menemaninya di ruang ganti hingga waktunya nanti obat itu bekerja.

Sung-Won ternyata pergi meninggalkan tempat pemotretan usai memberikan obat tersebut. Begitu pula dengan kru yang lain, yang sebelumnya sudah diminta untuk meninggalkan TKP selama satu jam. Sepeninggal mereka, seseorang keluar dari sebuah mobil van yang sepertinya sudah menunggu dari tadi di sana. Ia berpura-pura mengantarkan bunga untuk Anna, namun saat bodyguard yang berjaga memintanya, ia langsung melumpuhkan mereka.

Pria tersebut lantas kembali keluar dan memberi tanda pada rekan-rekannya yang masih menunggu di mobil. Beberapa orang lalu keluar dengan membawa koper-koper yang entah berisi apa. Secara kebetulan, Je-Ha yang sedang memeriksa kondisi di luar melihat kehadiran mereka. Ia langsung menyadari kondisi bahaya begitu melihat tubuh bodyguard yang tergeletak di lantai.

Dari berbagai peralatan yang dikeluarkan dari koper, ternyata orang-orang tersebut berniat untuk menyebarkan gas beracun ke seluruh gedung. Je-Ha yang melihatnya bergegas menuju ruang ganti dan memberitahu Anna. Ia meminta Anna untuk kabur melalui jalur udara di plafon sementara ia akan menahan mereka. Anna menolak, memaksa Je-Ha agar ikut pergi bersamanya.

“Dengarkan aku,” bentak Je-Ha, melihat gas sudah mulai sampai ke ujung lorong tempat mereka berada saat itu. “Aku mohon kepadamu. Jika kita tetap bersama, kita berdua akan mati.”

Anna akhirnya mengikuti perintah Je-Ha. Dengan bantuan Je-Ha, ia masuk ke lorong udara di plafon lalu mulai berjalan mencari jalan keluar. Sementara itu, Je-Ha mencoba menghubungi Yoo-Jin. Dong-Mi yang mengangkat telponnya, mengatakan bahwa ia bisa berbicara dengannya karena Yoo-Jin sedang sibuk. Je-Ha langsung sadar bahwa ini semua adalah ulah Dong-Mi.

“Aku sangat tidak menyukaimu, tidak seperti seseorang lainnya, dan aku juga tidak peduli terhadap ayah Anna. Fakta bahwa semua yang barusan terjadi pada Nyonya adalah sepenuhnya kesalahanmu. Semuanya berjalan sempurna hingga engkau muncul. Sudah waktunya untuk mengembalikan Nyonya dan Anna ke tempat mereka yang sebenarnya sekarang. Mereka yang harus hidup akan hidup, dan mereka yang harus mati akan mati.” ujar Dong-Mi tegas.

“Tunggu dulu. Tunggu hingga aku tiba di sana.”

Sayangnya, salah seorang kawanan penyerang memutus kabel sambungan telepon, sehingga komunikasi Je-Ha dengan Dong-Mi terhenti di sana. Kawanan itu pun mulai menyebar untuk mencari keberadaan Anna dan Je-Ha.

Je-Ha mulai menyerang beberapa orang kawanan yang sudah tiba di dekat ruang ganti. Ia sempat merebut salah satu topeng gas milik mereka, namun kembali berhasil direbut oleh yang lain. Anna kebetulan berada di atas plafon tempat Je-Ha bertarung. Melihat Je-Ha terjatuh dan berada dalam posisi terdesak, Anna memutuskan untuk turun dan membantu Je-Ha. Dengan menggunakan tabung pemadam kebakaran, dua di antaranya berhasil dijatuhkan oleh Anna. Tinggal satu orang tersisa, yang kini mulai mengincar Anna dengan pisaunya.

Sembari berlari, Anna terus berteriak memanggil Je-Ha agar segera bangun kembali. Ia tiba di sebuah ruangan dan bersembunyi di balik tembok. Perlahan si pengejar melangkah mendekati Anna, yang terus berdoa agar Je-Ha datang. Doanya terkabul, tepat di saat si musuh hendak menikam Anna, Je-Ha muncul dari belakang dan melumpuhkannya. Baik Anna maupun Je-Ha kemudian tak sadarkan diri karena sudah terlalu banyak menghisap gas syaraf. Untunglah tak lama kemudian Mi-Ran dan bodyguard yang lain datang untuk menyelamatkan mereka.

Di kantor kejaksaan, Jang Se-Joon(Cho Seong-Ha) melihat pendukungnya berdemonstrasi di luar meminta agar ia segera dibebaskan. Dengan rasa puas karena strateginya untuk berpura-pura diperiksa berhasil, ia mengatakan pada jaksa Kim bahwa sudah waktunya ia keluar. Jaksa Kim pun segera keluar untuk mengurus surat pembebasannya.

Dong-Mi dan Yoo-Jin ternyata ada di barisan pendemo itu. Yoo-Jin menanyakan mengenai Anna, yang dijawab Dong-Mi bahwa belum ada kabar. Sementara itu, di dalam kantor Se-Joon mulai gelisah karena jaksa Kim tidak kunjung kembali. Tanpa diduga, saat Se-Joon menghidupkan TV, terlihat jaksa Kim keluar menemui wartawan dan menyatakan bahwa dikarenakan adanya tindak kriminal yang baru, maka Se-Joon tidak jadi dilepaskan pada hari ini dan akan menjalani pemeriksaan tambahan. Se-Joon jadi geram mendengarnya. Di ruangannya, Park Gwan-Soo (Kim Kap-Soo) tertawa terbahak-bahak menyaksikan pernyataan pihak kejaksaan barusan.

Dengan adanya kejadian penyerangan barusan, Je-Ha memutuskan untuk membawa kembali Anna ke rumah persembunyiannya sebelumnya, karena Dong-Mi tidak mungkin menyerang JSS. Sung-Won menyetujui usul tersebut dan mengatakan akan mengirimkan tim keamanannya ke sana. Sepeninggal mereka, Je-Ha lantas menghubungi ketua Joo dan menceritakan apa yang terjadi. Ketua Joo yang kebetulan saat itu sedang bersama Yoo-Jin dan Dong-Mi kaget mendengarnya.

Mereka sendiri, bersama dengan direktur JSS, saat itu sedang menuju Cloud Nine, membahas mengenai penangkapan Se-Joon. Yang menjadi masalah, saat ini mereka tidak bisa bertindak karena tidak tahu alasan di balik penangguhan pembebasan Se-Joon itu. Dengan emosional Yoo-Jin memarahi direktur JSS. Direktur JSS meminta maaf dan mengusulkan untuk melawan melalui jalur politik ketimbang jalur hukum, namun Yoo-Jin kembali membentaknya dan menyuruhnya diam. Ia lalu meminta direktur JSS untuk melakukan segala cara untuk mencegah penahanan Se-Joon.

Yoo-Jin kemudian menanyakan tentang dokumen-dokumen yang sebelumnya ia berikan pada pihak kejaksaan untuk diperiksa, apakah benar sudah tidak ada yang salah di dalamnya. Bagian accounting memastikan demikian.

Gwan-Soo yang sedang berpesta bersama rekan-rekan politiknya menghubungi anggota kongres Kim (Yoo Seung-mok) dan mengatakan bahwa yang ia lakukan barusan adalah salah satu cara untuk mencegah orang seperti anggota parlemen Jang masuk ke dalam partai mereka. Mengingat presiden sudah menyetujui masuknya Se-Joon ke partai mereka, Kim menjadi geram pada Gwan-Soo dan menganggapnya sedang mengancam presiden. Gwan-Soo membantah dan meminta Kim mengatur pertemuan antara dirinya dengan presiden. Selain itu, ia juga meminta Kim untuk rehat sejenak dari dunia politik dan berjanji akan memberinya posisi strategis nanti di saat ia menjadi presiden.

Tak lama kemudian, beberapa anggota parlemen di pihak Gwan-Soo yang sebelumnya sempat ikut diperiksa di kejaksaan tiba di sana. Gwan-Soo menyambut kedatangan mereka dengan gembira dan memeluk mereka satu persatu. Sekretaris Gwan-Soo kemudian memberitahu bahwa ada beberapa anggota parlemen muda dari partai lain yang sedang mengintip di pintu masuk.

“Sepertinya mereka pandai mengamati perkembangan situasi,” respon Gwan-Soo.

Ia lalu meminta sekretarisnya untuk memberikan ruangan tersendiri bagi mereka dan menempatkannya bersama anggota parlemen lain yang tidak mudah emosi.

“Dan beritahu mereka bahwa mereka tidak perlu merasa malu,” tambah Gwan-Soo.

Langkah politik Gwan-Soo ini ternyata sudah diprediksi oleh direktur JSS, yang saat itu sedang memberitahukannya pada Yoo-Jin. Direktur JSS khawatir apabila sampai surat penahanan dikeluarkan, maka dampaknya akan terus berlangsung hingga waktu pemilihan. Bahkan jika mereka nantinya menang secara hukum, kemungkinan besar mereka akan kalah dalam kepresidenan.

“Nyonya, kita hanya punya satu metode tersedia untuk sekarang,” ujar direktur JSS. “Kita harus membunuh Park Gwan-Soo nanti malam.”

Ketua Joo kaget dan terlihat tidak menyetujuinya. Berbeda dengan Dong-Mi yang sepertinya senang dengan usul direktur JSS.

“Apakah itu memang memungkinkan?” tanya Yoo-Jin perlahan. “Aku yakin mereka sekarang memiliki penjaga terbaik saat ini.”

“Well, kita juga punya seseorang yang spesial, bukan?” respon direktur JSS sambil tersenyum.

Anna dan Je-Ha tiba kembali di rumah persembunyian. Setelah meminta bodyguard yang lain untuk berjaga di sekeliling rumah, Je-Ha mengajak Anna untuk masuk ke dalam. Anna menolak, ia merasa takut untuk itu. Je-Ha berpikir sejenak. Melihat selimut yang digunakan oleh Anna, ia lantas menarik Anna keluar lalu menggunakan selimut itu untuk menutupi dirinya dan Anna. Berdua mereka pun melangkah perlahan menuju ke dalam rumah.

“Kamu harus hati-hati karena sulit untuk melihat apa yang ada di depan,” pesan Je-Ha.

Saat sedang melangkah, tiba-tiba perut Anna berbunyi karena lapar. Karena malu, Anna tidak mau mengakuinya. Ia juga menolak saat Je-Ha menawarkan untuk membuatkannya ramen. Tak lama mereka pun tiba di dalam rumah.

“Bagaimana perasaanmu? Masih takut?” tanya Je-Ha.

“Yeah” jawab Anna. “Aku takut.”

Wajah keduanya perlahan saling mendekat dan akhirnya mereka saling berciuman, masih tetap di balik selimut. Sung-Gyu, Mi-Ran, dan juga ibu Mi-Ran yang ternyata berada di dekat mereka hanya bisa terpaku sambil melongo melihat ulah mereka berdua.

“Apakah mereka, ada kemungkinan…” gumam Mi-Ran, yang kemudian tertawa sendiri karena malu melihatnya. Ibu Mi-Ran segera menyuruhnya untuk diam kembali.

“Akan lebih baik untuk merencanakan penyerangan cepat di saat musuh paling tidak menyadarinya. Dengan kondisi saat ini, mereka kemungkinan besar mengharapkan kita datang malam ini. Mereka juga mungkin telah menyiapkan jebakan untuk kita.” ujar ketua Joo.

“Itu masih kemungkinan,” respon Yoo-Jin.

Ketua Joo menjawab bahwa meski ada kemungkinan untuk mengalahkan Park Gwan-Soo, namun kemungkinan Je-Ha untuk kembali hidup-hidup sangatlah kecil. Direktur JSS membantahnya dan mengatakan bahwa kemungkinan sekecil apapun harus dimanfaatkan karena jika tidak maka JSS akan berakhir.

“Dimana Kim Je-Ha sekarang?” tanya Yoo-Jin.

Beberapa saat kemudian, Je-Ha menerima perintah itu melalui telpon. Ia menyetujuinya, namun sebagai gantinya, ia minta agar rumah persembunyian Anna tetap aman.

“Saat aku mengkonfirmasi itu, aku segera menuju ke sana.” ujar Je-Ha.

Anna yang berada di dekat Je-Ha menanyakan kemana Je-Ha hendak pergi. Je-Ha tidak menjawabnya, hanya mengatakan bahwa ia akan segera kembali.

“Jangan pergi,” pinta Anna.

“Jangan khawatir, aku akan segera kembali,” jawab Je-Ha.

“Tidak, jangan pergi! Kamu pergi karenaku, bukan?” ujar Anna, lantas memeluk Je-Ha.

Tapi Je-Ha tetap pergi. Kini ia berada di Cloud Nine bersama dengan yang lain. Ia berkata, “Jadi kamu bilang ada kemungkinan untuk membunuh Park Gwan-Soo tapi akan sulit bagiku untuk kembali hidup-hidup.”

Semuanya terdiam. Tanpa disangka oleh yang lain, Je-Ha lalu mengiyakan.

“Aku akan membunuh Park Gwan-Soo untukmu. Tapi aku punya syarat. Pertama, berikan aku kepala.”

Yoo-Jin bingung mendengarnya.

Sambil menunjuk ke arah Dong-Mi, Je-Ha berkata, “Kepala wanita ini.”

Mata Dong-Mi terbelalak karena kaget. Yoo-Jin pun terdiam.

“Jika kamu melakukannya untukku, aku akan memberikan kepala Park Gwan-Soo.” lanjut Je-Ha.

“Apa yang akan kamu lakukan, chief Kim?” tanya Yoo-Jin pada Dong-Mi.

Dong-Mi terdiam sejenak, lalu menjawabnya, “Ya, Nyonya. Aku akan melakukannya untukmu. Tapi sebagai gantinya, kamu harus membawakan kepala Park Gwan-Soo terlebih dahulu. Aku akan menawarkan kepalaku juga nantinya.”

“Itu masuk akal, bukan?” respon Yoo-Jin.

“Tentu. Ayo kita lakukan.” jawab Je-Ha. “Yang kedua, berjanjilah padaku kamu akan membiarkan Anna. Sebagai gantinya, aku akan pastikan Anna tidak akan lagi menghalangi jalanmu.”

Meski tampak enggan, Yoo-Jin menyetujui permintaan kedua Je-Ha.

“Sudah semua?” tanya direktur JSS.

“Oh yeah,” jawab Je-Ha, “berikan padaku tim penyerangmu juga. Aku tidak bisa jadi satu-satunya yang menerima pukulan mereka.”

Tanpa berpikir panjang direktur JSS mengiyakan, bahkan menanyakan apakah hanya itu saja yang ia minta.

“Aku akan pergi sekarang,” ujar Je-Ha sembari bangkit dari kursinya.

“Tapi untuk berjaga-jaga,” ucap direktur JSS, “Dapatkah kamu memberitahuku mengenai alamat emailmu sebelum kamu pergi? Ayolah. Sudah waktunya, bukan?”

“Tidak apa-apa. Aku tidak butuh itu,” ujar Yoo-Jin. “Jika Je-Ha tidak berhasil, toh kita semua berakhir. Benar begitu?”

Je-Ha pun melangkah keluar, diikuti oleh Dong-Mi, direktur JSS, dan juga ketua Joo.

“K2!” tiba-tiba Yoo-Jin memanggilnya.

Je-Ha menghentikan langkahnya di depan pintu. Perlahan Yoo-Jin menghampirinya.

“Je-Ha. Jika kamu mendapati dirimu berada dalam situasi yang terlalu berbahaya, tidak masalah jika kamu kembali.”

“Kenapa kamu berlaku seperti ini?” tanya Je-Ha. “Ini tidak seperti dirimu.”

“Lalu apa yang sepertiku kalau begitu?”

“Jangan khawatir,” ujar Je-Ha. “Aku sudah menghapus email itu sejak lama.”

“Je-Ha,” gumam Yoo-Jin.

Je-Ha melangkah mendekat ke arah Yoo-Jin.

“Aku percaya kamu adalah seseorang yang memegang janjimu.” ucapnya sebelum akhirnya melangkah pergi.

81

Di parkiran, Je-Ha dan ketua tip VIP SEO mempersiapkan pasukan JSS yang akan menemani Je-Ha menyerbu tempat Gwan-Soo. Tiba-tiba ponsel Je-Ha berdering. Anna yang menelpon.

“Bisakah kamu membelikanku ddukbokki dari wilayah tempatku tinggal sebelumnya pada saat kamu pulang nanti?” pinta Anna.

Di belakang Anna, Mi-Ran dan ibu Mi-Ran, yang sepertinya sudah tahu kondisi Je-Ha, hanya tertunduk diam.

“Aku rasa aku akan pulang terlambat,” jawab Je-Ha.

“Tak apa, bahkan jika kamu pulang terlambat”

“Kenapa kamu tidak meminta Mi-Ran untuk melakukan pekerjaan seperti itu?”

“Aku tidak bisa. Ia akan memakannya sendiri. Aku ingin memakannya bersamamu.”, jawab Anna sambil menghapus air matanya.

Sementara itu, Seo menerima telpon dari Dong-Mi, yang memintanya untuk membunuh K2 apapun yang terjadi nanti. Dong-Mi juga meminta Seo untuk mengambil telpon K2. Meski heran, Seo mengiyakan perintah tersebut.

“Oke? Kamu harus membelinya,” ujar Anna pada Je-Ha. “Jika kamu lupa, aku akan membunuhmu!”

“Aku rasa aku benar-benar harus membawakannya untukmu jika aku ingin tetap hidup.” jawab Je-Ha.

“Kamu sebaiknya kembali dalam keadaan hidup. Itu perintah.” pinta Anna.

“Baik, mengerti,” jawab Je-Ha. “Aku pasti akan kembali kepadamu.”

Preview Episode 11

» Sinopsis The K2 eps 11 selengkapnya

Reply