Sinopsis Bad Genius The Series Episode 11 (S1E11) (2020)

Di cerita sebelumnya, Bank memutuskan untuk menambah ‘anggota’ agar rencana mereka bisa berjalan mulus. Ada Fluke, karyawan percetakan Nopphon Security Printing, serta seorang teknisi listrik yang belum diketahui namanya. Lin agak khawatir mengingat semakin banyak orang berarti semakin besar pula resiko mereka ketahuan. Terlebih belum apa-apa rencana mereka sudah berantakan. Kendati demikian, Bank tetap ingin melanjutkan semuanya dan meminta Pat untuk masuk ke dalam gedung percetakan. Akankah mereka berhasil melakukannya?

Sinopsis Bad Genius The Series Episode 11 Lengkap

Walau belum berhasil menemukan ponselnya, Fluke memutuskan untuk mematikan listrik gedung percetakan sesuai rencana sebelumnya. Apesnya, paman Chai sendiri yang menelpon teknisi listrik, bukan Fluke.

Tidak itu saja. Sebelum paman Chai meninggalkan ruang kontrol, ia meminta salah seorang karyawan untuk memeriksa kondisi di ruangan tersebut. Hal itu membuat Fluke kesulitan mengambil kunci ruang sampah. Tapi untungnya ia kemudian berhasil melakukannya.

Pat ikut masuk ke dalam gedung percetakan bersama dengan mobil teknisi bayaran yang sudah menunggu. Di dalam, Fluke memberitahu Pat bahwa ia tidak bisa menemukan ponselnya.

Di luar gedung percetakan, mobil Roong Rueang Electrics, tehnisi yang dihubungi oleh paman Chai, tiba. Melihatnya, Lin langsung menyadari bahwa Fluke gagal melakukan tugasnya.

Tiba-tiba Lin keluar dari mobil dan menghentikan mobil tersebut. Ia mengaku diminta paman Chai untuk memberitahu mereka bahwa listrik di Nopphon Security Printing sudah menyala kembali sehingga mereka tidak perlu masuk ke dalam.

Tehnisi Roong Rueang Electrics sempat menghubungi Nopphon Security Printing untuk mengkonfirmasi hal tersebut pada paman Chai. Untungnya, sebelum paman Chai sempat mengangkatnya, tehnisi tersebut sudah terlebih dahulu mematikan panggilan.

Dengan ditemani oleh Fluke dan paman Chai, Pat dan seorang tehnisi melakukan pengecekan listrik. Setelah memberi kode pada Fluke, Pat minta ijin untuk mengecek mesin cetak, siapa tahu ada kerusakan di sana. Fluke menimpali bahwa dia yang akan mengantarkan Pat ke sana.

Tanpa disangka, paman Chai menolaknya. Ia memerintahkan Fluke untuk segera kembali ke posnya. Mau tidak mau Pat pergi sendirian. Namun bukan menuju mesin cetak, melainkan ke tempat sampah untuk mencari ponsel di kotak nasi Fluke.

Tak lama Pat berhasil menemukan kotak nasi dan ponsel di dalamnya. Masalah lagi-lagi datang. Saat dicoba mengirimkan pesan, koneksi internet di sana ternyata tidak stabil. Bahkan setelah beberapa kali dicoba hasilnya tetap sama.

Dengan waktu yang sudah hampir menunjukkan pukul 2 pagi, Lin mengingatkan Bank bahwa situasi sekarang sudah benar-benar genting. Setelah terdiam sejenak, Bank tiba-tiba keluar dari mobil.

Pat kembali ke tehnisi yang langsung menanyakan apa yang harus ia lakukan mengingat listrik sudah usai diperbaiki. Merasa sudah tidak ada pilihan lain, Pat meminta listrik dinyalakan saja dan mereka menjalankan rencana cadangan, yaitu meninggalkan tempat itu secepatnya.

Saat tehnisi hendak melakukannya, seorang karyawan memanggil mereka datang ke ruang kontrol untuk menemui paman Chai. Ternyata ada rekan mereka yang hendak masuk untuk membawakan peralatan yang tertinggal. Meski kebingungan, Pat mengiyakan. Dan rekan yang dimaksud tidak lain dan tidak bukan adalah Bank.

Sebelum meninggalkan ruang kontrol, Pat sempat mendengar paman Chai menjelaskan pada perwakilan ujian bahwa ia telah memasang pengacak sinyal ponsel untuk meningkatkan keamanan di dalam gedung percetakan.

Sepeninggal Pat, perwakilan ujian menanyakan pada paman Chai sudah berapa lama perusahaan listrik tersebut bekerja untuk Nopphon Security Printing. Paman Chai memastikan bahwa mereka bisa dipercaya karena sudah bekerjasama selama 10 tahun lebih.

Pun begitu, tak lama setelah Pat dan Bank bergabung kembali dengan tehnisi, paman Chai mendatangi mereka dan meminta agar mereka semua tetap berada di ruang kontrol selama proses percetakan berlangsung. Ia beralasan agar jika terjadi apa-apa mereka bisa langsung menanganinya. Mau tidak mau mereka mengiyakan.

Setelah paman Chai pergi, Pat menceritakan pada Bank kondisi di sana. Karena tidak ada pilihan lain, Bank memutuskan untuk mengerjakan soal ujian di ruang sampah dan menghapalkan jawabannya. Ia meminta Pat untuk menghidupkan kembali listrik gedung dalam waktu 3 menit lagi.

Tanpa menghiraukan Pat yang panik dan tidak yakin rencana tersebut bakal berhasil, Bank pergi menuju ruang sampah. Sudah ada Fluke menunggu di sana.

Fluke memberitahu bahwa proses pencetakan akan berlangsung selama 1 jam. Dengan demikian, Bank hanya punya waktu kurang dari 1 jam untuk menyelesaikan soal-soal yang ada. Setelah berpesan agar Fluke membukakan pintu sebelum proses pencetakan selesai, Bank pun masuk ke dalam ruang sampah.

Tepat 3 menit kemudian, listrik gedung menyala. Tanpa membuang waktu, paman Chai memerintahkan anak buahnya untuk mulai mencetak. Ia juga memastikan pada pengawas ujian bahwa proses tersebut akan selesai tepat pada jam 3 pagi.

Sementara itu, di dalam ruang sampah, setelah berkali-kali berusaha, Bank akhirnya berhasil mendapat cetakan soal ujian. Ia segera mulai mengerjakan soal-soal tersebut agar bisa selesai tepat waktu.

Waktu demi waktu berlalu. Saat proses pencetakan hampir usai, paman Chai mendatangi Pat dan tehnisi untuk berterimakasih karena sudah mau menunggu. Di saat itu ia baru menyadari bahwa mereka hanya berdua saja. Ketika ditanya, Pat mengaku rekannya sedang pergi ke toilet.

Tanpa disangka, paman Chai ternyata memutuskan untuk pergi ke toilet dan mengeceknya. Begitu tahu tidak ada seorang pun di sana, ia langsung mengkonfrontasi Pat.

Tidak itu saja. Setelah meminta anak buahnya mengawasi Pat dan tehnisi, paman Chai kembali ke ruang kontrol dan memeriksa kotak kunci. Menyadari kunci ruang sampah tidak ada di sana, ia menumpahkan kekesalannya pada dua orang karyawan yang sedari tadi berada di ruang kontrol.

Pat semakin panik mendengar hal tersebut. Begitu juga dengan Fluke. Namun tiba-tiba ada seorang karyawan lain yang menghampirinya mengkonfirmasi apakah benar Fluke membawa kunci ruang sampah. Jika benar, ia minta agar Fluke menyerahkan kunci tersebut kepadanya. Walau agak kebingungan, Fluke melakukannya.

Cetakan soal ujian yang diambil Bank ternyata tidak lengkap. Ada beberapa halaman yang masih kosong. Sialnya, karena proses pencetakan sudah berlangsung, semua sampel cetak telah terpotong-potong. Ia terpaksa mengambilnya dan mencoba untuk menyusunnya.

Paman Chai bergegas menuju ruang sampah. Setibanya di sana, ia mencoba membuka paksa pintu ruang sampah yang masih terkunci rapat. Karena gagal, ia pergi ke kantornya untuk mengambil kunci cadangan.

Sementara itu, Bank gagal menyusun potongan-potongan soal ujian. Ia memutuskan untuk melanjutkan sisa soal ujian yang ada, namun sedikit kesulitan karena hasil cetakannya benar-benar parah.

Di luar, paman Chai mengajak perwakilan ujian untuk menemaninya menuju ruang sampah. Tepat di saat proses cetak selesai, paman Chai dan perwakilan ujian masuk ke dalam ruang sampah. Tidak ada seorang pun di sana.

Sesaat kemudian, karyawan yang tadi meminta kunci dari Fluke datang dengan mengendarai forklift. Ia mengaku pada paman Chai bahwa ia yang telah mengambil kunci ruang sampah karena hari ini ia bertugas untuk membersihkannya. Ia hanya ingin mempersiapkan segala sesuatunya agar saat paman Chai dan klien tiba, ruang sampah bisa langsung dibersihkan.

Paman Chai sempat memarahinya. Namun perwakilan ujian tidak mempermasalahkan hal itu.

Paman Chai kembali pada Pat dan tehnisi. Sudah ada Bank di sana. Setelah berterimakasih, ia mengawal mereka bertiga keluar dari gedung percetakan. Ia ternyata ingin memastikan apakah benar tidak ada seorang pun dari mereka yang membawa sesuatu dari dalam gedung.

Saat diperiksa, Pat baru menyadari bahwa ponsel dari kotak nasi Fluke masih ada bersamanya. Ia lupa belum membuangnya seperti yang direncanakan sebelumnya. Anehnya, saat petugas keamanan memeriksanya, yang ia ambil dan tunjukkan pada paman Chai adalah obeng yang kebetulan berada di sebelah ponsel tersebut.

Pat menyadari bahwa ada yang diberitahukan oleh Bank pada mereka. Pun begitu, karena keterbatasan waktu, ia tidak langsung mempermasalahkannya.

Setibanya kembali di gudang yang menjadi markas mereka, Grace gercep mempersiapkan jawaban dari Bank dan memasukkannya ke ID card peserta ujian. Di saat itulah Pat lantas menanyakan mengenai petugas keamanan pada Bank.

Awalnya Bank membantah. Namun pada akhirnya ia mengaku bahwa itu adalah rencana B yang sudah ia persiapkan sendiri. Yaitu dengan menyogok petugas keamanan dan karyawan gedung percetakan yang bertugas untuk membersihkan ruang sampah.

Grace tiba-tiba memberitahu bahwa ada jawaban yang dobel. Setelah Bank memeriksanya, ia menyatakan ada satu jawaban yang berlebih dan menghapus salah satunya. Hal itu membuat Lin curiga.

Lin kemudian meminta Bank untuk mengulangi hapalan jawabannya agar bisa dicocokkan. Bank menolak dan menuduh Lin tidak mempercayainya. Lin membalas dengan apa yang sudah dilakukan Bank di belakang mereka, saat ini ia sulit untuk mempercayainya.

Bank lagi-lagi berdalih bahwa mereka tidak punya waktu untuk itu. Baik Lin maupun Pat bersikeras memaksa Bank memberitahu hapalannya.

Bank akhirnya menyebutkan hapalannya. Semuanya tidak sesuai. Karena panik, Bank saat itu ternyata tidak sempat menghapal satu jawaban sama sekali.


“Bad Genius The Series” tayang setiap hari Senin dan Selasa mulai tanggal 3 Agustus 2020. Di Indonesia, serial TV ini bisa disaksikan melalui layanan streaming iFlix dan WeTV secara gratis.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , , ,

Reply