Sinopsis Alice In Borderland Episode 1 (S1E1) (Netflix, 2020)

Setelah ditunggu-tunggu akhirnya versi adaptasi live action dari manga Alice in Borderland ini tayang di Netflix. Saya pikir bakal hadir 1 atau 2 episode per minggu, tapi ternyata grudukan 8 episode hingga tuntas. Cuma berhubung pastinya puyeng juga kalau harus langsung nulis semua episode sekaligus, dicicil 1-2 hari sekali ya di sini. Stay tune terus aja deh pokoknya, hehehe.

Sinopsis Lengkap Alice In Borderland Episode 1 (S1E1)

Ryohei Arisu sedang asik bermain game saat kakaknya tiba-tiba masuk dan memarahinya karena tidak pergi wawancara kerja. Mengingat itu sudah terjadi untuk kesekian kalinya, kakaknya, dan juga ayahnya, memutuskan untuk tidak mau membantunya lagi. Alih-alih memasukkan kata-kata kakaknya ke telinga, Arisu lebih memilih untuk meninggalkannya.

Keluar dari rumah, Arisu langsung menghubungi sahabatnya, Daikichi Karube. Ia menanyakan apakah ia bisa menghabiskan waktu di bar tempat Karube bekerja.

Karube sendiri saat itu sedang sibuk bercumbu dengan Emi, salah seorang pegawai bar. Hingga mendadak bos mereka muncul. Tanpa disangka, si bos langsung menghajar Karube. Ia ternyata sudah tahu Karube selama ini diam-diam bermesraan dengan Emi, yang notabene adalah kekasih si bos. Tidak tinggal diam, Karube ganti menghantam bosnya sampai ia tak sadarkan diri.

Tidak kunjung mendapat balasan dari Karube, Arisu ganti menghubungi sahabatnya yang lain, Chota Segawa. Ia menanyakan apakah ia bisa menginap di tempat Chota nanti malam.

Belum sempat Chota merespon, Karube membalas pesan Arisu dan memberitahu bahwa ia sudah tidak lagi bekerja di bar. Setelahnya, ganti Chota yang menyatakan bahwa ia sedang malas untuk pergi ke kantor. Mengingat Arisu juga tidak ada niatan untuk kembali lagi ke rumahnya, mereka pun janjian untuk bertemu di depan Stasiun Shibuya guna berangkat minum-minum bareng.

Tak lama kemudian ketiganya bertemu. Sembari memikirkan tujuan selanjutnya, mereka mengamati kerumunan orang yang lalu lalang di perempatan Shibuya. Arisu meyakini jika pada saat itu ada zombie yang muncul dan orang-orang tersebut berubah menjadi zombie, pastilah Karube yang bakalan selamat.

Tanpa disangka, Karube justru yakin bahwa Arisu yang akan selamat. Baik Chota maupun Arisu heran mendengar pernyataan Karube tersebut. Karube sendiri tidak mau menjelaskan lebih lanjut alasannya.

Setelah sama-sama sempat terdiam beberapa saat, Karube tiba-tiba memanggul Arisu di pundaknya. Sembari mengatakan bahwa ini saatnya merayakan hari kebebasan Arisu, Karube dengan penuh semangat membawa Arisu ke tengah-tengah perempatan Shibuya. Chota pun gercep mengeluarkan ponselnya dan mengabadikan aksi gila Karube.

Tanpa disadari, traffic light sudah berubah ke warna hijau. Kendaraan mulai melaju. Arisu dkk yang menyadari hal tersebut segera berusaha untuk melipir ke trotoar. Apesnya, ulah mereka ternyata membuat beberapa mobil bertabrakan.

Sesaat kemudian, beberapa orang polisi yang berjaga di dekat stasiun keluar. Tidak mau tertangkap, ketiganya berusaha untuk kabur. Buru-buru mereka masuk ke dalam salah satu bilik toilet di stasiun dan bersembunyi di sana.

Belum lama mereka bersembunyi, pintu toilet tiba-tiba digedor. Mengira itu polisi, mereka sengaja membiarkannya. Tak lama listrik mati dan keadaan menjadi gelap gulita.

Penasaran, perlahan Arisu mulai membuka pintu bilik toilet. Ia melangkah keluar diikuti oleh Karube dan Chota. Secara mengejutkan, kondisi stasiun yang tadinya ramai menjadi benar-benar sepi. Tidak ada orang satu pun di sana.

Anehnya lagi, tidak hanya di dalam stasiun. Perempatan Shibuya yang selalu dipadati orang kini benar-benar lenggang. Selain Arisu dkk, tidak ada orang lain di sana. Ketiganya terbengong-bengong melihat fenomena tersebut.

Karube mendatangi bar tempatnya bekerja dan tidak menemukan siapa pun di dalamnya. Padahal puntung rokok milik bosnya masih tergeletak di asbak. Begitu pula dengan Chota, yang mendapati tidak ada seorang pun di kantornya.

Arisu sendiri mengecek di sekitar kota. Hasilnya sama. Orang-orang seolah menghilang begitu saja. Ponselnya pun ikut-ikutan tidak berfungsi.

Arisu memberitahu Karube dan Chota bahwa dia tidak keberatan jika hanya tersisa mereka bertiga manusia di muka bumi. Chota mengamini. Namun Karube mengingatkan bahwa Chota bakalan terus perjaka. Chota agak sedih mendengarnya, kendati demikian ia tetap merasa happy dengan kondisi mereka saat ini. Karube yang awalnya stress akhirnya turut bergembira bersama Arisu dan Chota.

Tiba-tiba saja layar videotron di salah satu gedung dekat tempat mereka berada menyala terang. Terlihat tulisan yang menyebutkan bahwa permainan akan segera dimulai sebentar lagi. Arisu, Karube, dan Chota kebingungan melihatnya.

Layar videotron tersebut lantas menunjukkan arah lokasi permainan. Terlihat ada cahaya merah di arah yang ditunjuk. Tanpa membuang waktu ketiganya bergegas menuju ke sana.

Lokasi yang dimaksud ternyata adalah sebuah bangunan bernama GM Building. Berbeda dengan bangunan lain, listrik di bangunan tersebut terlihat menyala sepenuhnya. Perlahan ketiganya melangkah masuk ke dalam, mengikuti arah panah menuju area permainan.

Penunjuk arah tersebut berujung pada lift berwarna merah. Di dekat pintu lift ada beberapa ponsel. Terdapat pesan bahwa masing-masing orang mendapatkan satu ponsel tersebut.

Saat diambil, ponsel otomatis menyala dan melakukan program pengenalan wajah. Selanjutnya, terdengar suara dari ponsel yang memberitahukan bahwa permainan akan dimulai dalam waktu 2 menit.

Tiba-tiba muncul seorang wanita, Saori Shibuki. Tanpa banyak berkata-kata, Saori menghampiri Chota, mengambil kartu identitas pegawai milik Chota dari saku bajunya, lalu melemparkannya ke ujung lorong. Tanpa disangka, kartu tersebut langsung hangus terkena tembakan laser.

Saori lantas melanjutkan bahwa siapa pun yang sudah masuk ke dalam area permainan tidak punya pilihan lain selain berpartisipasi.

Seorang siswi SMA muncul. Ia lega karena menemukan ada orang lain di sana. Tanpa tahu apa yang terjadi, siswi SMA tersebut langsung menghampiri Arisu dkk tanpa bisa dicegah oleh mereka. Setelah mengucap belasungkawa, Saori dengan tenang memberikan salah satu ponsel yang ada di sana kepadanya.

Begitu ponsel diterima, tampil pesan bahwa game bernama “Dead or Alive” (Hidup Atau Mati) akan dimulai. Permainan tersebut memiliki tingkat kesulitan Tiga Keriting (sesuai nama kartu dalam set kartu remi). Aturan mainnya, masing-masing diminta untuk memilih pintu yang benar dalam jangka waktu tertentu. Jika berhasil, mereka akan bisa keluar hidup-hidup dari bangunan tersebut.

Pintu lift kemudian menyala. Tanpa membuang waktu Saori langsung masuk ke dalam, diikuti oleh siswi SMA. Walau masih kebingungan, mau tidak mau Arisu dkk ikut masuk ke dalam lift.

Tak lama lift berhenti di salah satu lantai. Terlihat ada dua pintu di sana. Yang satu tertempel poster anime dengan tulisan To Live (Hidup), satunya lagi gambar tengkorak dengan tulisan To Die (Mati). Durasi memilih yang diberikan adalah 2 menit.

Saat ditanya, Saori menyatakan bahwa pintu yang benar adalah yang bertuliskan To Live. Pun begitu, ia menolak untuk membukanya sendiri.

Saat waktu tersisa 30 detik, terlihat gas keluar dari sela-sela lantai. Panik, si siswi SMA langsung berlari menuju pintu To Live dan membukanya. Begitu melangkah ke dalam, sebuah sinar laser menembus kepalanya hingga ia tewas seketika.

Dengan tersisa satu pilihan, Saori menghampiri pintu To Die dan membukanya. Ternyata itu adalah pintu yang benar.

Arisu dan Karube bergegas menyusulnya. Chota nyaris tewas karena masih syok melihat kematian si siswi SMA. Untung Arisu sempat kembali dan menarik Chota ke dalam ruangan To Die.

Tanpa basa basi, muncul pemberitahuan bahwa waktu permainan di ruangan tersebut adalah 1 menit 50 detik. Pilihannya masih sama, 2 pintu yang masing-masing bertulisan To Live dan To Die.

Saori meyakini bahwa apapun pilihan mereka tidak penting. Permainan tersebut pasti sudah sengaja diatur agar pintu pertama yang dibuka adalah pintu yang salah. Dengan demikian, masalahnya sekarang adalah siapa yang berikutnya akan dikorbankan.

Arisu tidak mempercayainya dan memutuskan untuk membuka sendiri salah satu pintu yang ada. Setelah berpikir sejenak, ia menghampiri pintu To Die dan bersiap untuk membukanya. Kendati demikian, Arisu ternyata tidak sanggup dan terduduk lemas.

Melihatnya, Karube melangkah maju mendekati pintu To Live. Ia menyatakan akan membuka pintu tersebut. Syaratnya, untuk giliran selanjutnya, harus Saori yang membuka pintu terlebih dahulu.

Pilihan Karube tepat. Kali ini mereka kembali berhasil lolos dari ledakan gas.

Lagi-lagi terdapat 2 pilihan pintu. Durasinya 1 menit 30 detik. Karube memaksa Saori untuk membuka pintu To Live, namun Saori menolak karena tidak berani melakukannya.

Karube lantas meminta Arisu untuk mengingat-ingat dan mencari petunjuk pintu mana yang seharusnya dibuka. Ia percaya Arisu bisa melakukannya.

Setelah sempat panik, Arisu kemudian teringat sesuatu. Yaitu mobil BMW 523d yang terparkir di depan GM Building. Tanpa menjelaskan pada yang lain, Arisu menyatakan bahwa pintu yang harus dibuka adalah pintu To Die. Tebakannya benar.

Dengan cepat Arisu memberitahu bahwa kuncinya adalah bentuk bangunan GM Building itu sendiri dengan mobil BMW 523d sebagai acuannya. Dari analisanya, GM Building berbentuk bujursangkar. Dengan mempertimbangkan bentuk ruangan yang juga sama sisi, berarti secara keseluruhan ada 9 ruangan permainan.

Karena dua ruangan di tengah sudah diketahui berbahaya, maka selanjutnya mereka tinggal memilih pintu yang sesuai agar bisa menghindari kedua ruangan tersebut.

Dipimpin oleh Arisu, mereka melewati satu demi satu ruangan yang ada hingga tersisa ruangan terakhir. Di saat Karube dan Chota kegirangan karena pede mereka semua bakal selamat, Arisu justru kebingungan karena di ruangan tersebut hanya ada pintu di sisi kiri (To Die) dan kanan (To Live).

Jika mengikuti denah pembagian ruangan yang ia buat, maka pintu di kanan akan menuju ke tengah alias harus dihindari. Masalahnya, ia tidak tahu pintu di kiri akan menuju kemana karena sudah keluar dari bangunan.

Arisu tiba-tiba ingat bahwa Chota sempat merekam video saat mereka berada di ruangan pertama. Setelah mengamatinya, Arisu yakin bahwa pintu yang benar adalah pintu To Live.

Di saat-saat terakhir mereka berhasil lolos dari ruangan tersebut. Sayangnya, ledakan gas sempat menyambar kaki Chota hingga ia terluka.

Setibanya di luar, mereka mendapati kartu Tiga Keriting di sebuah meja. Masing-masing ponsel yang mereka miliki lanjut menunjukkan visa selama tiga hari yang telah berhasil mereka peroleh.

Arisu bingung apa yang dimaksud dengan visa. Seorang pria tiba-tiba muncul di hadapan mereka, menyatakan bahwa ia sudah muak dengan permainan-permainan yang ada. Visanya sudah berakhir hari itu dan ia tidak berniat memperpanjangnya. Sesaat kemudian, sinar laser menyambar pria tersebut.

Saori kemudian menjelaskan bahwa siapa saja akan mati di saat visa mereka berakhir. Jika tidak ingin itu terjadi, mereka harus terus mengikuti permainan demi permainan yang ada

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , , ,

Reply