Review (Singkat) Film Aquaman (2018)

Sepanjang saya mengikuti serial komik Justice League, menurut saya karakter Aquaman adalah yang paling gak jelas perannya. Ikutan tarung, tapi kesannya cuma sekedar numpang lewat. Seandainya setiap anggota Justice League dibayar pemerintah, mungkin Arthur Curry ini yang paling gabut, hehehe. Itu sebabnya saat tahu cerita solo Aquaman diangkat oleh DC ke layar lebar setelah Justice League, jujur saja saya amat sangat pesimis.

Tapi pendapat saya berubah sejak 3 minggu lalu, saat menonton trailernya untuk pertama kali.

Yang ini.

AQUAMAN - Final Trailer - Now Playing In Theaters

AQUAMAN - Final Trailer - Now Playing In Theaters

Beda banget nuansanya dengan “Batman vs Superman“, “Suicide Squad“, maupun “Justice League“. Lebih berwarna, lebih hidup, lebih meriah.

Alhasil, dari yang sebelumnya sama sekali tidak berminat nonton, hari ini saya justru nonton di kloter pertama, jam 12.15 tadi siang. Dan hasilnya?

Sesuai dengan harapan.

Berikut ini review singkatnya.

Eh, by the way, saya berusaha sebisa mungkin untuk tidak memberikan spoiler di dalam review film Aquaman ini. Tapi ada hal-hal yang memang mau tidak mau harus disebutkan. Jadi yang tidak ingin membaca spoiler bisa tekan tombol Back di browser dan melanjutkan membaca lagi artikel ini nanti setelah menonton filmnya di bioskop, hehehe.

Yang saya suka dari film Aquaman:

  • Tampilan visual. Asli, bener-bener keren. Terutama penggambaran dunia bawah laut alias Atlantis. Berkali-kali geleng-geleng kepala dan berdecak kagum liat visualisasi adegan yang ada di layar.

  • Chemistry antara karakter Aquaman / Arthur Curry dengan Mera. Meyakinkan sekali kalau ada perkembangan perasaan di antara mereka, hingga pada akhirnya saling jatuh cinta.

  • Ada beberapa momen dimana saya merasa sedang tidak menonton film superhero. Dan dalam artian yang positif, Misalnya saja saat Arthur dan Mera berkelana di daratan untuk mencari keberadaan trisula Poseidon. Jadi kebayang film-film aksi ala “James Bond” dan “Mission: Impossible”.

  • Gak sedikit momen yang berkesan alias memorable. Film-film aksi jaman now sudah jarang yang punya momen seperti ini. Bahkan setelah menonton film “Avengers: Infinity War” sekali pun saya tidak mendapatkannya. Salah satu yang saya suka adalah saat Aquaman dan Mera masuk ke wilayah teritori The Trench.

Dan yang saya kurang suka:

  • Penyakit film-film superhero DC masih belum sepenuhnya sembuh: transisi scene yang kasar. Jumlahnya memang tidak sebanyak di film “Batman vs Superman” atau “Justice League”, tapi justru terasa lebih mengganggu. Misalnya saat adegan kedatangan di gurun sahara yang tiba-tiba berpindah menyoroti David Hyde yang sedang mengutak-atik bakal kostum Black Manta miliknya.

  • Masih di gurun sahara, efek CGI-nya keliatan amatiran banget. Karakter Arthur dan Mera yang sedang berjalan benar-benar terlihat seperti tempelan.

  • Backstory perkembangan karakter Arthur muda hingga menjadi Aquaman terasa nanggung. Saya malah jadi berpikir seandainya film perdana Aquaman ini lebih difokuskan ke masa-masa awal dirinya mulai menerima peran sebagai seorang superhero sepertinya bisa jadi lebih menarik untuk ditonton.

  • Di pertempuran besar-besaran nmenjelang akhir film, beberapa adegan yang harusnya memberi kesan epic malah buat saya terasa kacau. Entah karena pengaruh CGI atau karena terlalu banyak obyek di layar dalam bentuk kecil dan kurang jelas.

Di sini saya sengaja tidak memberi penilaian dari segi cerita. Ada yang bilang kalau ceritanya biasa-biasa saja. Well, faktanya, dari dulu sampai sekarang memang kisah superhero di komik ya begitu-begitu saja. Bahkan sudah bukan hal yang aneh apabila ada cerita yang di-rinse-and-repeat.

Secara keseluruhan saya memberikan nilai 8.5 / 10 untuk film “Aquaman” ini. Sebenarnya skor 8 sudah cukup, tapi saya beri tambahan setengah poin untuk usaha James Wan, sang sutradara, dalam melepaskan diri dari pengaruh buruk tiga judul DC Extended Universe sebelumnya. Dan bagi saya ia cukup berhasil.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

2 Comments - Add Comment

  1. Avatar
    • Cosa Aranda

Reply