Review Film Zeta: When the Dead Awaken (2019)

Setelah proses pindahan server yang melelahkan karena adanya satu dua rintangan, akhirnya bisa kembali lagi menulis konten yang semoga saja gaungnya belum berlalu. “Zeta: When the Dead Awaken” (selanjutnya ditulis Zeta) adalah film horor lokal pertama yang menggarap tema zombie alias manusia hidup secara serius. Si mayat hidup benar-benar menjadi bintang utama, bukan sekedar sempalan, apalagi obyek adegan komedi seperti film “Reuni Z” misalnya. Dan ini yang bikin saya terpaksa berjuang untuk menuju Tunjungan Plaza, satu-satunya tempat dimana film tersebut diputar di kota Surabaya. Bukan berjuang dari segi usaha, melainkan dari segi dompet, karena biaya PP naik ojek online ke TKP lumayan bisa buat makan minimal sehari, hehehe.

Sinopsis Singkat

Review Film Zeta: When the Dead Awaken (2019)

Tanggal Rilis: 1 Agustus Juli 2019
Durasi: 94 menit
Sutradara: Syaiful Wathan, Amanda Iswan
Penulis: Amanda Iswan
Produser: Amanda Iswan
Produksi: Swan Studio
Distributor: –
Pemain: Cut Mini, Jeff Smith, Edo Borne, Joshua Pandelaki, Dimas Aditya

Pasca banjir yang melanda ibukota, sebuah wabah misterius tiba-tiba terjadi di wilayah pinggiran kota Jakarta. Wabah yang disebabkan oleh protozoa air tersebut membuat orang yang terinfeksi bertindak layaknya zombie. Mereka akan bertindak secara ganas dan menyerang siapa saja yang berada di sekitar mereka. Kekacauan pun terjadi, dengan Deon (diperankan oleh Jeff Smith) dan ibunya, Isma (diperankan oleh Cut Mini), terjebak di kamar apartemen Teratai Asri tempat tinggal mereka. Dapatkah pada akhirnya mereka berdua selamat?

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Tidak sulit untuk menemukan elemen dari film / novel zombie lain di dalam Zeta, yang untungnya, tidak dengan mentah-mentah dicomot oleh sang penulis naskah sekaligus produser merangkap sutradara, Amanda Iswan. Ia mampu merangkai kesemuanya menjadi sebuah cerita yang mencekam dan penuh ketegangan di nyaris sepanjang durasi. Studio tempat saya menonton setidaknya terisi sepertiganya, dan saya bisa merasakan sendiri bagaimana penonton lain di sekitar menahan nafas dan terpaku tegang di kursi mereka pada banyak adegan.

Sayangnya, beberapa bagian yang seharusnya bisa menjadi misteri dan dijadikan twist di babak ketiga tidak mendapatkan treatment yang seharusnya. Cukup mudah untuk menebak kaitan si tokoh utama dengan wabah zombie misalnya. Atau adanya karakter-karakter tertentu yang punya hidden agenda.

Keterlaluan kalau menganggap ini hanyalah sebuah film horor zombie belaka. Ada banyak pesan di dalamnya. Seperti tentang keluarga yang berantakan dan dampaknya terhadap anak, tentang anak yang harus menghadapi ibunya yang mengidap penyakit parah (dalam kasus film ini adalah Alzheimer), juga tentang komunitas yang dianggap sebagai sampah masyarakat hanya karena pendapat mereka pada saat itu tidak ada buktinya.

Yang mungkin dirasa kurang dari segi cerita adalah tentang operasi militer yang dilakukan dalam menangani wabah zombie. Terkesan bertele-tele dan rasanya tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Apalagi, dengan latar TKP di Indonesia, kok geli ya mendengar perintah-perintah berbahasa Inggris yang terkadang diselipkan. Jelas-jelas yang diajak bicara orang Indonesia, kok disuruh “stand down”.

Masalah utama justru datang dari akting beberapa karakter yang terlihat sangat kaku. Terlihat dibuat-buat dan tidak natural. Yang lagi-lagi harus diacungi jempol, setelah perannya yang cukup baik dalam “Ikut Aku Ke Neraka“, adalah Cut Mini. Asli, juara banget aktingnya.

Kesimpulan

Sebagai pelopor film horor lokal (non-komedi) dengan tema zombie saya rasa Zeta berhasil melakukan tugasnya dengan baik. Ceritanya lumayan (walau seharusnya bisa jauh lebih baik lagi), suasanya mencekam, dan banyak adegan seru khas film-film bertema serupa yang mayoritas berasal dari luar negeri. Sayangnya, sepertinya film ini tidak mendapat respon yang cukup baik dari penggemar film tanah air. Terlihat dari jumlah penonton yang masih sangat sedikit, bahkan belum menembus 10 ribu orang pada saat artikel ini ditulis. Mungkin benar apa yang dibilang Ernest Prakasa di satu kesempatan, bahwa orang akan lebih memilih untuk menonton sesuatu yang ceritanya related dengan apa yang ia alami atau apa yang umum ada di sekitarnya. Dan zombie sebagai ‘budaya dari barat’ jelas tidak termasuk di antaranya…

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply