Review Film Villa Nabila (2015)

“Villa Nabila” jadi film horor Malaysia kedua yang saya review di Curcol.Co. Bersama dengan “Karak” yang sudah di-review beberapa minggu lalu, film ini masuk ke dalam top 10 film horor terseram di negara tersebut. Lebay-kah? Atau memang beneran seram? Yang jelas, film yang disutradarai oleh Syafiq Yusof ini diangkat dari urban legend Villa Nabila yang diklaim sebagai salah satu tempat terseram di Malaysia. Biar tidak penasaran, langsung deh simak sinopsis dan review singkatnya di bawah.

Sinopsis Singkat

Review Film Villa Nabila (2015)

Sebuah kontraktor yang dikepalai oleh Manaf mendapat proyek bernilai besar untuk merobohkan bangunan Villa Nabila yang terkenal angker. Baru di hari pertama, Asyraf (diperankan oleh Pekin Ibraham), tangan kanan Manaf, melihat tetesan dalar mengalir deras dari balik tembok yang coba ia hancurkan. Ia sempat berniat untuk tidak melanjutkan pekerjaannya di sana. Namun kondisi keuangan keluarga yang mendesak membuatnya terpaksa kembali bekerja.

Esok harinya, keanehan lain muncul. Tembok yang sudah dirobohkan ternyata kembali utuh seolah tidak terjadi apa-apa. Hal ini terjadi berulang-ulang. Pak Manaf yang berniat mendatangkan alat berat pun tiba-tiba ditarik oleh makhluk halus hingga terjatuh dari tangga dan terluka. Ia lantas mendelegasikan tugasnya pada Asyraf, yang dijanjikan mendapat bayaran lebih besar asal ia mau menerimanya.

Penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, Asyraf memutuskan untuk bermalam di villa bersama dengan Amar, Junaidi, dan Ishak. Mereka juga membawa kamera untuk merekam keadaan di sana. Yang terjadi di luar dugaan. Berawal dari Ishak yang kesurupan, satu per satu mengalami teror gaib yang memaksa mereka kabur dari villa.

Setibanya di rumah, Asyraf mendapati istrinya, Huda (diperankan oleh Tisha Shamsir), ternyata baru saja menyusulnya ke villa tersebut karena khawatir. Mau tidak mau Asyraf pun kembali ke TKP. Ia juga meminta rekan-rekannya untuk menyusul ke sana dengan membawa ustad.

Di villa, Asyraf menemukan istrinya sudah dalam keadaan kerasukan. Huda kemudian menyerang Asyraf dan sepertinya hendak membunuhnya. Untung tak lama kemudian datang Amar dan Junaidi bersama seorang pemuka agama. Ustad itu lalu mengusir setan yang merasuki tubuh Huda.

Dengan kejadian tersebut, pada akhirnya villa Nabila dibiarkan tetap berdiri. Para pekerja proyek yang terlibat juga memutuskan untuk menutup mulut dan tidak menceritakan kejadian itu pada siapa pun.

Tanggal Rilis: 15 Januari 2015
Durasi: 83 menit
Sutradara: Syafiq Yusof
Produser: Syafiq Yusof, Datuk Yusof Haslam
Penulis Naskah: Daniel Matin, Rosalli Azrin
Produksi: Viper Studios, Skop Productions
Pemain: Pekin Ibrahim, Tisha Shamsir

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Meski terlihat seperti sebuah film dokumenter yang diambil dari kisah nyata, faktanya sebagian kisah yang ada dalam “Villa Nabila” merupakan cerita fiksi yang dirajut berdasarkan rumor-rumor yang beredar mengenai tempat angker tersebut. Well, setidaknya urban legend yang diangkat benar-benar nyata. Banyak referensi di internet yang terkait. Tidak seperti sebagian besar film horor Indonesia yang mengaku based on true story namun tidak ada bukti yang kuat mengenai keabsahan ceritanya.

Babak pertama film bisa dibilang adalah sisi dokumentasinya. Cuplikan berita mengenai hilangnya 23 orang di villa dengan salah satunya tiba-tiba diketemukan kembali dalam kondisi hilang ingatan. Juga ada potongan wawancara dengan pihak-pihak terkait, seperti dari kepolisian maupun keluarga korban. Uniknya, film maker pun ikut di dalamnya. Mendokumentasikan proses investigasi hingga momen yang berujung pada keputusan memfilmkan misteri villa tersebut.

Walau dikemas dengan baik, jujur saya merasa babak pertama ini terlalu lama. Bertele-tele. Saya benar-benar seperti merasa sedang menonton film dokumenter. Bukan saya tidak suka, tapi saya tidak mengharapkannya saat berniat untuk menonton sebuah film horor.

Untunglah begitu memasuki babak kedua, cerita yang disuguhkan cukup menarik. Alih-alih fokus pada kasus hilangnya orang di villa, cerita justru mengambil sudut pandang berbeda. Mengenai pengalaman mistis beberapa orang pekerja proyek yang ditugaskan untuk menghancurkan bangunan villa Nabila oleh pemerintah. Sayangnya, karena bagian pertama sudah banyak memakan durasi, menu utamanya ini terasa singkat dan kurang eksplorasi. Kejadian janggal yang disajikan nanggung. Efek angker dan misteriusnya jadi berkurang drastis.

Tidak hanya dari segi horor. Secara keseluruhan alur cerita terkesan tidak tuntas. Beberapa hal di-skip begitu saja dengan penonton diminta untuk mengisi kekosongan plot yang ada. Seperti karakter Ishak yang tidak jelas apakah ia berusaha meminta wangsit dari penunggu villa atau hendak memujanya. Tahu-tahu kesurupan, dibawa ke mushola, selesai. Juga ancaman dari pemerintah mengenai hukuman bagi Asyraf dkk apabila tidak berhasil merobohkan bangunan. Tidak ada kejelasan apakah pada akhirnya mereka dihukum atau dibiarkan bebas.

Dari sekian banyak versi misteri yang ada, film ini sepertinya mengambil kisah mengenai gadis bernama Nabila yang tewas dibunuh di TKP sebagai pondasinya. Ini terlihat dari keluarnya darah dari sela tembok serta sosok hantu yang berwujud perempuan. Jump scare tidak buruk, walau bagi saya pribadi tidak terlalu menakutkan. Saya malah lebih merinding pada saat karakter Asyraf, Amar, dan Junaidi tertawa terbahak pasca melihat setan ketimbang ketika mereka panik ketakutan.

Di beberapa adegan diselipkan cuplikan footage yang diklaim sebagai real footage. Saya tidak tahu apakah ini benar atau tidak. Tapi boleh sih, saya cukup suka dengan cara memadukannya. At least masih terlihat real. Tidak seperti dalam film “Arwah Goyang Jupe Depe” yang terlihat begitu staged (walau mungkin saja benar asli).

Untuk akting bagi saya tidak ada masalah. Semua pas sesuai porsi peran mereka masing-masing.

Penutup

“Villa Nabila” mencoba menghadirkan genre yang tidak biasa dengan menggabungkan unsur dokumenter dengan horor. Bagian dokumentasinya pun tidak sekedar tempelan. Sayangnya, pada akhirnya ini menjadi pedang bermata dua. Menjadi kelebihan sekaligus kekurangan. Dengan unsur dokumenter yang tidak sedikit, cerita utama yang diangkat malah terasa tidak tuntas. Saya yakin bakal jauh lebih bagus hasilnya apabila hanya fokus pada satu genre saja. Segi horornya oke. Tidak banyak mengumbar penampakan dan konsisten pada satu hantu yang sesuai dengan asal usul tempat tersebut. Mungkin menyeramkan bagi sebagian orang. 6/10.

Catatan: rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply