Review Film Karak (2011)

Setelah beberapa waktu lalu untuk pertama kalinya saya me-review film horor dari negeri Filipina, kini giliran yang berasal dari tetangga sebelah, Malaysia. Kebetulan “Karak” bukanlah pengalaman perdana menonton film horor dari negeri jiran. Sebelumnya saya sudah pernah menonton beberapa, termasuk “Munafik” yang cukup populer di Indonesia. Nah, bagaimana ceritanya? Simak ges sinopsis dan review singkatnya di bawah ini.

Sinopsis Singkat

Review Film Karak (2011)

Sekumpulan empat sahabat yang merupakan pelajar kolej terdiri daripada Nik, Zura, Ida dan Jack sedang dalam perjalanan pulang ke Kuantan melalui Lebuhraya Karak selepas percutian mereka di Kuala Lumpur. Namun, kesesakan luar biasa di lebuh raya tersebut di Persimpangan Karak menyebabkan mereka memilih untuk keluar dari lebuh raya dan sebaliknya melalui Laluan Persekutuan. Semasa berhenti rehat di pekan Karak, Nik dan Jack diganggu hantu semasa berada di sebuah tandas yang usang dan tidak terurus. Semasa mereka meneruskan perjalanan di jalan raya persekutuan itu, sekali lagi mereka diganggu hantu sehingga menyebabkan kereta yang dipandu Jack hilang kawalan dan terbabas ke dalam gaung. Setelah Zura berjaya mendapatkan rakan-rakannya, mereka menjumpai sebuah rumah di dalam hutan yang didiami oleh Tok Malam serta sepakat untuk menumpang di rumah tersebut sementara menunggu hari siang untuk mendapatkan bantuan. Namun demikian, pelbagai kejadian seram telah berlaku semasa mereka berada di rumah tersebut. Adalah didedahkan bahawa hantu-hantu yang mengganggu mereka selama ini asalnya merupakan hantu belaan arwah isteri Tok Malam, manakala pada penghujung cerita pula didedahkan bahawa Nik, Ida dan Jack sebenarnya sudah mati akibat kemalangan tersebut; “rakan-rakan” Zura semasa di rumah Tok Malam pula adalah hantu-hantu yang mahu menyesatkan Zura.

Tanggal Rilis: 26 Mei 2011
Durasi: 1 jam 30 menit
Sutradara: Yusry Abd Halim
Produser: Norman Abdul Halim, Yusry Abd Halim, Edry Abdul Halim
Penulis Naskah: Yusry Abd Halim, Norman Abdul Halim
Produksi: KRU Studios
Pemain: Shahir AF8, Shera Aiyob, Kilafairy, Along Eyzendy, Sidek Hussain

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

“Karak” mungkin adalah salah satu film horor religi dengan adegan puncak paling berkesan yang pernah saya tonton. Kebanyakan, film yang berembel-embel genre tersebut hanya memasukkan unsur religi seadanya. Bahkan ada yang berani-beraninya menasbihkan diri ke dalam kategori tersebut hanya karena ada adegan pak ustad baca ayat kursi di bagian akhir dengan durasi tidak lebih dari 5 menit.

Berbeda dengan film yang satu ini. Pesan religi yang coba disampaikan cukup dalam dan mungkin tidak semua orang bisa memahami atau menerima. Terlihat dari beberapa review yang sempat saya baca sebelum menulis review ini, yang semuanya berbahasa melayu, sebagian menganggap adegan pembacaan ayat kursi untuk mengusir setan — yang mana merupakan adegan puncak yang saya maksudkan di paragraf sebelumnya — biasa biasa saja.

Padahal tidak.

Film ini mengajarkan kepada kita bagaimana pentingnya memahami MAKNA dari doa yang kita panjatkan kepada Tuhan. Tidak cuma paham maknanya, tapi kita juga harus PERCAYA bahwa doa tersebut akan terkabul. Dan satu lagi, doa tidak perlu disampaikan dalam bahasa arab, bisa dengan menggunakan bahasa apa pun. Sederhana, karena Tuhan Maha Mengetahui. Dalam kasus film ini, karakter Zura membacakan terjemahan ayat kursi dalam bahasa melayu.

Tidak sekedar mengandalkan pesan religi, “Karak” juga boleh berbangga diri dengan unsur horor yang disajikan. Desain karakter makhluk gaibnya cukup baik. Saya percaya sebagian orang pasti akan merasa ketakutan melihatnya. Tapi ada sisi minusnya. Ada beberapa sosok makhluk gaib sekaligus yang dihadirkan. Bagi saya yang awam dengan urban legend daerah Karak — kota kecil di antara Kuantan dan Kuala Lumpur — hal ini terasa membingungkan. Saya jadi tidak bisa fokus mana sebenarnya sosok antagonis utama di dalam cerita. Apakah arwah istri Tok Malam, atau hantu berwujud nenek tua? Belum lagi soal mobil gaib di jalanan sesaat sebelum Zura dkk mengalami kecelakaan.

Yang menjadi sumber permasalahan utama sepertinya adalah naskah skenario yang kurang rapi dan tidak solid. Ini sangat terasa pasca Zura dkk bertemu dengan Tok Malam. Apa yang terjadi selama mereka berada di rumah Tok Malam sulit untuk dipahami. Kejadian absurd yang jauh dari kata logis juga mewarnai. Seperti Ida yang dengan bodohnya memutuskan untuk mandi di tengah malam dengan menggunakan kemben sementara lokasi kamar mandi ada di luar rumah alias in the middle of the (creepy) jungle. Gak usah jauh-jauh mikir hantu. Dengan mereka menumpang di rumah pria yang tidak dikenal pun seharusnya Ida berpikir seribu kali untuk melakukannya.

Untungnya, cerita yang berantakan sedikit tertutupi oleh twist yang mengejutkan. Memang bukan sesuatu yang baru, tapi tidak terduga karena tidak ada petunjuk ke arah twist tersebut. Yang sebenarnya, jika dilihat dari sudut pandang lain, lagi-lagi merupakan akibat dari penulisan skenario yang agak ngawur.

Dalam film dengan twist sejenis, dimana ada satu atau lebih orang di sekitar karakter utama sudah meninggal, arwah orang-orang tersebut biasanya hanya berinteraksi dengan si karakter utama tersebut. Di “Karak”, mereka bisa saling berinteraksi meski tanpa ada kehadiran karakter utama di dekat mereka.

Secara keseluruhan film ini lumayan menghibur. Namun banyak potensi yang dibiarkan terbuang percuma. Bisa jauh lebih baik lagi.

Penutup

Tidak bisa dipungkiri bahwa “Karak” cukup matang dalam segi eksekusi naskah. Elemen horor-nya digarap serius dengan pesan religi yang dalam. Sayangnya, naskahnya sendiri masih jauh dari kata matang. Banyak kekurangan dan ketidakrapian di sana sini. Alhasil, tidak hanya kekuatannya yang terpampang nyata, begitu pula dengan kelemahannya. Yang seharusnya bisa memukau ujung-ujungnya terasa biasa aja. 5/10.

Catatan: rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply