Review Film Ular Tangga (2017)

Kids jaman old pasti tahu dengan permainan ular tangga. Dalam board game ini, kita menjalankan bidak / pion pilihan kita melalui kotak demi kotak hingga mencapai garis finish di kotak ke-100. Pada kotak tertentu, terdapat gambar tangga dan ular. Jika tiba di gambar tangga, maka bidak kita bisa langsung naik ke kotak yang ada di ujung atas tangga. Sebaliknya, jika sampai di kotak bergambar ular, maka pion kita harus meluncur turun ke ujung kepala ular di bagian bawah.

Nah, di tahun 2017, ada sebuah film horor lokal besutan Arie Azis, sutradara trilogi Arwah Tumbal Nyai, yang berjudul “Ular Tangga”. Penasaran jadinya, seperti apa sih filmnya. Apa bakal membawa unsur-unsur permainan tersebut ke dalam cerita misteri bernuansa horor? Atau ujung-ujungnya hanya sebagai marketing gimmick, sekedar membuat kita jadi kepo dan tergoda untuk menontonnya? Simak deh sinopsis dan review singkatnya di bawah.

Sinopsis Singkat

Review Film Ular Tangga (2017)

Vina (diperankan oleh Vicky Monica) memiliki firasat buruk melalui mimpi-mimpinya belakangan. Hal tersebut berhubungan dengan rencana mendaki gunung bersama tim pecinta alam di kampusnya yang dipimpin oleh Bagas (diperankan oleh Ahmad Affandy). Pun begitu, Bagas tidak terlalu mempedulikan kekhawatiran Vina dan tetap membujuknya untuk melanjutkan rencana mereka bersama dengan Martha (diperankan oleh Alessia Cestaro), William (diperankan oleh Fauzan Nasrul), Dodoy (diperankan oleh Randa Septian), dan Lani (diperankan oleh Yova Gracia).

Di titik awal pendakian, mereka bertemu dengan Gina (diperankan oleh Shareefa Daanish), pendaki berpengalaman yang sebelumnya sudah diminta Bagas untuk membantu mengantar mereka hingga Pos 1. Sebelum berpisah, Gina mengingatkan mereka agar mengikuti jalur yang sudah ditetapkan. Peringatan tersebut dilanggar oleh Bagas dkk dan berujung pada petualangan yang penuh misteri dan teror gaib, bahkan mengancam nyawa mereka. Dapatkah mereka keluar dari semua itu dan kembali dengan selamat?

Tanggal Rilis: 9 Maret 2017
Durasi: 90 menit
Sutradara: Arie Azis
Produser: Tommy Soemarni
Penulis Naskah: Mia Amalia
Produksi: Lingkar Karya Pratama
Pemain: Shareefa Daanish, Vicky Monica, Ahmad Affandy, Fauzan Nasrul, Alessia Cestaro, Yova Gracia, Randa Septian, Egi Fedly, Tuti Kembang Mentari, Yafi Tessa Zahara, Atiyah, Roy Marten, Guntur Triyoga

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Film dibuka dengan mimpi buruk yang dialami Vina dan berlanjut pada dirinya yang gelisah memikirkan mimpi tersebut. Vina lantas menanyakan perihal mimpi dan keterkaitannya dengan firasat serta makhluk gaib pada dosen psikologinya yang diperankan oleh Roy Marten. Bagian ini memakan durasi yang lumayan panjang sehingga mau tidak mau saya merasa film “Ular Tangga” ini ada hubungannya dengan mimpi.

Memang tidak salah. Mulai dari mimpi yang berujung jadi nyata / petunjuk hingga out of body expererience. Sayang tidak menyertakan lucid dreaming (mimpi dalam mimpi) yang acap ditemui di film horor. Supaya lebih komplit lagi.

Tapi di sinilah letak permasalahannya. Permainan ular tangga yang diangkat menjadi judul dan sudah seharusnya mendapat porsi lebih besar nyatanya tidak terlalu dikulik. Alih-alih membawa cerita ke nuansa misteri psikologis penuh kejutan yang sangat cocok dengan permainan tersebut, sutradara Arie Azis terjebak pada penggarapan film horor yang begitu-begitu saja. Seandainya diganti dengan permainan monopoli atau ludo rasanya juga tidak terlalu banyak pengaruhnya.

Kejutan memang masih ada. But not in a good way.

Anggota mapala dalam film diceritakan sudah berulang kali melakukan pendakian. Orang-orang yang sudah sering menjelajah gunung pasti tahu bahwa area tersebut kental dengan hal gaib. Larangan atau pantangan yang ada sebaiknya dituruti. Di film ini, Bagas dkk dengan mudahnya melanggar hal tersebut.

Kejutan lain adalah karakter Vina yang menurut saya tidak konsisten. Terkadang ia terlihat kebingungan, di lain waktu ia terlihat bagai pemimpin yang tahu pasti apa yang harus mereka semua lakukan agar bisa selamat. Adegan mimpi di awal yang disajikan di layar juga tidak membantu menguatkan kemampuan Vina yang digambarkan tahu semua yang bakal terjadi lewat mimpi-mimpinya. Kenapa? Karena adegan pada mimpi tersebut sama sekali tidak terjadi saat mereka terjebak di gunung.

Saya tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan pada Bagas saat Vina menemuinya di alam gaib. Yang jelas, cukup mengejutkan juga ketika setelah itu Vina bisa menemukan tubuh ketiga orang temannya yang hilang dengan relatif mudah. Apa mungkin Bagas memberitahu ancer-ancer posisi mereka? Atau lubang pada cerita?

Dari segi horor, “Ular Tangga” sebenarnya nyaris berhasil. Nyereminnya sih tidak terlalu. Tapi hampir semua penampakannya on the spot, sesuai porsi dan tidak lebay. Yang berlebihan justru efek suaranya, yang mau tidak mau harus dimaklumi mengingat film-film di tahun 2017 memang masih belum pede dengan jump scare mereka sendiri.

Yang paling bikin pusing adalah twist di ending. Sama sekali tidak jelas. Adegan flashback yang mungkin diharapkan bisa menjadi petunjuk dari twist tersebut sama sekali tidak membantu. Adegan Vina yang digambarkan salah perhitungan waktu karena jamnya mati juga tidak terlalu meyakinkan.

Terakhir, untuk karakter, pada dasarnya film ini adalah tentang Vina dan firasatnya. Tidak perlu protes dengan keberadaan karakter-karakter lain yang seolah hanya tempelan tanpa ada kepribadian yang kuat. Satu-satunya karakter pendukung yang ada gunanya mungkin adalah William, mengingat dia yang selalu kebagian tugas gotong-gotong barang dan teman-temannya, hehehe.

Penutup

“Ular Tangga” menambah panjang deretan film horor lokal yang menawarkan ide segar tapi keteteran dalam mewujudkannya sebagai sebuah cerita yang utuh dan berkualitas. Begitu papan permainan ular tangga hadir, saya sempat berharap ceritanya akan berlanjut ala ala Jumanji namun dengan sentuhan horor lokal. Sayangnya tidak. Si penulis naskah mungkin terlalu malas untuk memikirkan hal serumit itu. Jalur cepat yang conventional dan membosankan yang pada akhirnya dipilih.

3/10. Satu untuk idenya, satu untuk animasi papan permainan di menjelang akhir, satu lagi untuk akting Shareefa Daanish yang terbatas tapi mampu mencuri perhatian.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply