Review Film The Soul (2003)

“The Soul” adalah film yang pertama kali disutradarai oleh Nayato Fio. Bukan kebetulan genrenya adalah horor, genre yang menjadi mayoritas dalam portofolio panjang sutradara kelahiran Bireuen, Aceh, yang mengasah kemampuan perfilmannya di Taiwan itu. Sebelum melanjutkan dengan film horor keduanya, “Kereta Hantu Manggarai“, Nayato sempat membuat beberapa judul film horor lain dengan menggunakan nama samaran Koya Pagayo. Lalu seperti apa karya perdana beliau ini? Simak sinopsis dan review singkatnya di bawah.

Sinopsis Singkat

Review Film The Soul (2003)

Astrid (diperankan oleh Marcella Zalianty) mengalami trauma dan depresi sejak menjadi korban pemerkosaan. Apalagi saat itu putrinya, Kikan (diperankan oleh Natasya Septiani Irawan), dibawa kabur oleh para pemerkosa dan tidak ada kabarnya hingga sekarang, satu tahun berselang. Pun demikian, satu demi satu dari komplotan tersebut ternyata mengalami teror gaib yang berujung pada kematian. Hingga tersisa Roni (diperankan oleh Iqbal M. Pakul) seorang, yang saat itu sebenarnya hanya ikut-ikutan karena dipaksa oleh teman-temannya yang lain.

Astrid sendiri sering mendapat penampakan berupa sosok seorang gadis kecil. Sayang tidak ada teman-temannya yang percaya. Hal itu bahkan berimbas pada pekerjaannya sebagai perawat, yang terancam dikeluarkan karena dirinya acap berbuat salah.

Pada akhirnya Roni mendatangi Astrid dan mengakui perbuatannya. Ia juga memberitahu Astrid bahwa Kikan telah meninggal pada saat itu. Meski syok, Astrid tidak menuntut balas dendam pada Roni. Ia hanya minta agar Roni menyerahkan diri dan memberitahu dimana jenazah Kikan disembunyikan.

Tanggal Rilis: 24 Desember 2003
Durasi: 96 menit
Sutradara: Nayato Fio Nuala
Produser: Shanker RS BSc, Chand Parwez Servia
Penulis Naskah: Ery Sofid
Produksi: Starvision Plus, Indika Entertainment
Pemain: Marcella Zalianty, Natasya Septiani Irawan, Iqbal Pakula, Ananda George, David Rene, Renny Umari, Dikdhik, Lenda Vito Origin

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Sebagai salah satu ‘penguasa’ perfilman horor tanah air, Nayato Fio mengawali karirnya dengan sebuah karya yang… hancur berantakan. Entah darimana sumber inspirasinya saat membuat film dengan pengambilan gambar seperti “The Soul” ini. Terasa kasar dan membingungkan. Apalagi ada beberapa adegan berurutan yang tidak sinkron, seolah dibuat oleh dua orang yang berbeda dan langsung asal ditempelkan saja tanpa ada benang merah.

Padahal ide dasar ceritanya tidak sulit untuk dipahami. Seorang wanita menjadi korban pemerkosaan. Putrinya diculik lalu tewas di tangan gerombolan pemerkosa. Tidak terima, sang putri lantas menjadi arwah penasaran yang membunuh satu demi satu anggota komplotan tersebut. Yang tersisa merasa bersalah dan membuat pengakuan. Ia ditahan pihak kepolisian dan jenazah sang putri diketemukan. Sederhana, bukan?

Selain formula pengambilan gambar yang membingungkan, film ini juga terasa sangat bertele-tele dan dragging di banyak bagian. Mungkin karena harus memenuhi batas minimal durasi agar layak tayang di layar lebar, sementara pengalaman mengembangkan naskah skenario masih minim.

Penampakannya? Entahlah. Baru kali ini saya melihat ada hantu bersiap-siap untuk membunuh. Biasanya setan kalau mau bunuh ya bunuh aja, gak pake persiapan segala. Jatuhnya bukan lagi makhluk gaib, melainkan orang biasa yang dipenuhi dendam kesumat.

Untuk akting, Marcella Zalianty tampil cukup memukau sebagai sosok seorang wanita yang depresi. Bisa jauh lebih baik lagi seandainya ditunjang dengan naskah skenario yang layak.

Penutup

“The Soul” membuka jalan karir Nayato Fio sebagai sutradara film, terutama yang bergenre horor, dengan tidak terlalu meyakinkan. Berantakan, kasar, membingungkan. Untung masih terselamatkan dengan akting Marcella Zalianty yang di atas standar. Pun begitu, tetap bukan sebuah sajian film horor utuh yang layak untuk ditonton. 1/10.

Catatan: rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply