Review Film Surat Dari Kematian (2020)

Firasat buruk sudah muncul begitu pagi kemarin mengetahui bahwa film “Surat Dari Kematian” ini tidak tayang di bioskop Royal XXI yang menjadi langganan saya. Biasanya, judul yang tidak diputar di sana adalah judul yang kualitasnya di bawah standar. Khususnya untuk kategori film horor lokal. Contoh yang paling dekat adalah “Ku Tak Percaya Kamu Mati“. Apakah firasat saya terbukti?

Sinopsis Singkat

poster surat dari kematian

Tanggal Rilis: 9 Januari 2020
Durasi: 1 jam 26 menit
Sutradara: Hestu Saputra
Produser: Ody Mulya Hidayat
Penulis Naskah: Evelyn Afnilla, Adham T Fusama
Produksi: MAX Pictures
Pemain: Carrisa Perruset, Endy Arfian, Jerome Kurnia, Omara Esteghlal, Dannia Salsabila, Justin Adiwinata, Eric Febrian

Misteri surat mistis yang diterima oleh Pasha (diperankan oleh Omara Esteghlal) dan kemungkinan keterkaitannya dengan insiden bunuh diri yang dilakukan Darius (diperankan oleh Jerome Kurnia) di Gama Plaza membuat Zein (diperankan oleh Endi Arfian) dan Kinan (diperankan oleh Carrisa Perruset) tertarik untuk melakukan investigasi. Teror surat mistis ternyata berlanjut pada Reno (diperankan oleh Eric Febrian) dan Joe (diperankan oleh Justin Adiwinata), sahabat Pasha. Apa yang sebenarnya terjadi? Benarkah ada kaitannya dengan arwah Darius yang ingin membalas dendam?

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Duet Carrisa dan Endy sebagai pemeran utama surprisingly cukup meyakinkan. Ini di luar beberapa dialog geje dan tidak konsisten yang tentu berada di luar tanggung jawab mereka. Sayangnya, kekacauan dialog ternyata semakin lama semakin berimbas pada kekacauan alur cerita.

Sebelum itu, perlu saya katakan bahwa pada paruh pertama, film Surat Dari Kematian ini nyaris sempurna. Alur yang rapi, sinematografi yang menawan, hantu sumur yang nyeremin, plus sempalan komedi yang tidak lebay. Yang saya pikirkan saat itu adalah apakah hendak memberi nilai 7 atau 8 untuk unsur cerita.

Ajaibnya, di paruh akhir film, cerita jadi hancur berantakan. Banyak adegan yang seolah kentang, berpindah-pindah tanpa ada kejelasan dari adegan sebelumnya. Belum ditambah dengan deret percakapan yang semakin ambyar. Saya yang awalnya bersyukur sudah datang ke bioskop ujung-ujungnya jadi menyesal.

Satu contohnya. Saat Kinan mendatangi Romo (diperankan oleh Like Suyanto) untuk meminta bantuan menyelamatkan Zein, Romo meminta Kinan untuk menunggu sejenak karena ia akan memberikan sebuah barang yang bakal bisa membantu kita. Romo melangkah off frame, Kinan terlihat gelisah, dan tiba-tiba adegan sudah berpindah lokasi ke Gama Plaza dimana Kinan mencari keberadaan Zein. SAMPAI AKHIR FILM SAMA SEKALI TIDAK ADA PEMBAHASAN MENGENAI BARANG APA YANG DIBERIKAN ROMO.

Saya seperti di-prank.

Dari segi misteri, penulis Ody Mulya Hidayat sudah cukup baik menyimpan twist pelaku utamanya. Karakter yang bersangkutan baru di-reveal belakangan. Sebelumnya juga tidak ada petunjuk mengenai eksistensi karakter tersebut. Dari sisi kejutan mungkin bisa membuat sebagian orang terkejut. Namun sebagian lain kemungkinan bakal kesel karena twist jadi terasa dipaksakan.

Apalagi setelah itu tidak ada penjelasan bagaimana karakter tersebut melakukan pembunuhan. Apakah ia melakukan dengan tangannya sendiri? Atau dengan bantuan mistis karena sempat ditunjukkan adegan si karakter mendatangi paranormal? Semua serba tidak jelas.

Dibandingkan unsur horor, genre misteri sebenarnya lebih dominan. Sayangnya, ada beberapa detil berkaitan dengan misteri yang sepertinya luput dari pengamatan sutradara Hestu Saputra. Contohnya adalah saat Joe dan Reno mengatur TKP agar seolah-olah Darius melakukan bunuh diri. Terlihat jelas bahwa kursi yang diletakkan di bawah tubuh Darius berada dalam posisi berdiri. Alasnya pun penuh debu. Aneh jadinya dengan kejanggalan tersebut pihak kepolisian masih menganggapnya sebagai kasus bunuh diri.


Menonton “Surat Dari Kematian” membuat saya seolah naik roller coaster. Awalnya diangkat setinggi awan namun kemudian diluncurkan ke bawah dengan curam. Paruh pertama film yang menyenangkan sebenarnya membuat tidak tega untuk memberi penilaian minus. Namun fakta tetap fakta. Paruh akhir film sangat kacau dan berantakan. Sutradara seolah hanya dibayar separuh sehingga hasil kerjanya setengah-setengah. Mohon maaf, but this one is NOT RECOMMENDED.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply