Review Film Sekte (2019)

Beberapa jam setelah menonton film “Arwah Noni Belanda” yang mengecewakan, saya lanjutkan dengan “Sekte”. Jujur film ini saya tunggu tunggu sejak pertama melihat trailernya. Utamanya karena naskahnya ditulis oleh William Chandra, penulis skenario yang bagi saya pribadi cukup berhasil memberikan karya apik dalam “MatiAnak” yang tayang bulan lalu. Apakah kali ini ia juga bisa membuat saya keluar bioskop dalam kondisi hati senang?

Sinopsis Singkat

Poster film Sekte

Lia (Asmara Abigail) sempat mengalami hilang ingatan pasca kecelakaan. Saat terbangun, ia berada di sebuah rumah besar yang terisolasi. Itu tempat sebuah komunitas yang terdiri dari orang-orang yang tak memiliki rumah dan kerabat. Mereka hidup rukun dan saling menjaga. Mereka lah yang menolong Lia saat kecelakaaan. Karena tidak ingat siapa dirinya dan kemana harus pergi, Lia pun tinggal disana untuk mendapatkan perawatan. Hari berlalu, Lia yang mulai sedikit pulih menyadari ada hal yang aneh dengan situasi tempat dirinya tinggal. Ternyata para penghuni rumah terdiri dari para pengikut sekte aliran sesat dan orang-orang yang masuk ke rumah tersebut tidak pernah bisa keluar lagi.

Tanggal Rilis: 2 Mei 2019
Durasi: –
Sutradara: William Chandra
Penulis: William Chandra, Husein M Atmojo
Produser: Derby Romero, Marsio Juwono
Produksi: Open Door Films & Silver Bullet Films
Distributor: MD Pictures
Pemain: Asmara Abigail, Derby Romero, Rizky Nazar, Gesata Stella, Trisa Triandesa, Natal Chendana, Eduwart Manalu, Nadira Adnan, Fangtatis, Saefullah Mahyudin, Djaelani, Atjih Isnawati

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Begitu film dimulai, saya sudah langsung terkagum-kagum dengan gambarnya yang menawan. Saya malah tidak terlalu fokus dengan cerita di awal, teralihkan oleh detil suara serangga yang terdengar sayup-sayup di latar. Mantapnya lagi, William Chandra yang di sini juga merangkap sebagai sutradara, nyaris tidak menggunakan jurus suara bising untuk mengagetkan penontonnya. Kita akan dibawa larut dalam suasana yang mencekam, yang pada saat dibumbui dengan musik latar pun masih tidak menutupi detil-detil suara lainnya.

Misteri yang diangkat bagi saya tidak terlalu berat. Meski twist yang dihadirkan di akhir bakal bikin sebagian besar penonton terkejut, namun semuanya masih masuk akal dan bisa dinalar. Jika jeli, kita mungkin sudah bisa menebaknya di babak ketiga cerita, saat salah satu karakternya mengalami perubahan keyakinan yang drastis. Saya gagal menangkapnya gegara sudah su’udzon terlebih dahulu, menganggap momen tersebut adalah kesalahan fatal dari segi skenario. Padahal justru sebaliknya.

Keseluruhan cerita memang belum bisa dikatakan sempurna. Namun mengingat ini adalah film horor lokal pertama (mohon diralat jika saya salah) yang full membahas mengenai sekte sesat — bukan sempalan seperti di film-film lainnya — saya cukup puas dengan apa yang dihadirkan William Chandra di sini. Setidaknya bisa membuat saya memaafkan kekakuan dialog yang terjadi di sepertiga awal film. Juga membuat saya lupa dengan beberapa gerakan hunusan pisau / belati yang terlihat tidak natural.


Di minggu-minggu berikutnya di bulan Mei 2019 akan ada “Roh Fasik” dan “Malam Jum’at The Movie”. Yang disebut pertama sepertinya tidak akan terlalu istimewa mengingat kemiripannya dengan film Malaysia “Munafik”. Semoga “Malam Jum’at The Movie” tampil mumpuni seperti trailernya, supaya “Sekte” tidak jadi satu-satunya film horor lokal yang layak untuk ditonton di bulan ini.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply