Review Film Reuni Z (2018)

Zombie bukanlah makhluk seram yang populer di Indonesia. Fans base Pocong, kuntilanak, dan jailangkung masih lebih masif dari zombie. Maka adalah suatu keberanian (atau kenekadan) tersendiri bagi Soleh Solihun untuk membuat sebuah film horor komedi dengan tema tersebut yang diberi judul “Reuni Z”. Dengan jajaran pemain yang bertabur bintang, mampukah film ini mencuri perhatian publik yang selama ini sulit move on dari Pocong dkk? Simak sinopsis dan review singkatnya, ges.

Sinopsis Singkat

poster reuniz

Empat sahabat bertemu kembali dalam reuni SMA mereka, SMA Zenith. Mereka adalah Juhana (diperankan oleh Soleh Solihun), Jeffri (diperankan oleh Tora Sudiro), Lulu (diperankan oleh Ayushita), dan Mansur / Marina (diperankan oleh Dinda Kanya Dewi). Juhana, yang kini menjadi bintang artis kelas dua, sudah hampir 20 tahun tidak bertegur sapa dengan Jeffri akibat pertengkaran mereka di acara perpisahan sekolah dahulu. Jeffri sendiri telah menikah dengan Lulu, yang dulu menjadi alasannya untuk bergabung dengan band bersama dua orang temannya yang lain. Sementara itu, Mansur telah beberapa kali melakukan operasi transgender dan berubah menjadi seorang wanita cantik dan seksi bernama Marina.

Meraihnya acara alumni berakhir begitu beberapa orang anggota cheerleader yang tengah tampil berubah menjadi zombie. Kepanikan mulai timbul dan satu demi satu undangan reuni berubah menjadi zombie.

Di tengah kekacauan itu, para karakter yang bertahan mulai menyadari kesalahan-kesalahan yang pernah mereka buat. Mantan pasangan suami istri Rudy (diperankan oleh Anjasmara) dan Nining (diperankan oleh Dian Nitami) yang rujuk sebelum mereka berubah, Afuk (diperankan oleh Kenny Austin) yang akhirnya berani menyatakan cinta pada Prilly (diperankan oleh Cassandra Lee), Jody (diperankan oleh Surya Saputra) yang menyesal dulu mem-bully Mansur / Marina, Lulu dan Jeffri yang sadar bahwa pernikahan mereka adalah sesuatu yang patut disyukuri, hingga Juhana dan Jeffri yang akhirnya bisa berdamai dengan masa lalu mereka.

Pada akhirnya, begitu mengetahui para zombie lemah terhadap suara, Juhanna, Jeffri, Marina, dan Prilly (menggantikan Lulu yang tangannya keseleo) sukses mengalahkan para zombie dengan permainan musik mereka.

Tanggal Rilis: 12 April 2018
Durasi: 1 jam 38 menit
Sutradara: Monty Tiwa, Soleh Solihun
Produser: Gope T. Samtani
Penulis Naskah: Agasyah Karim, Khalid Kashogi, Soleh Solihun
Produksi: Rapi Films
Pemain: Soleh Solihun, Tora Sudiro, Ayushita, Dinda Kanya Dewi, Cassandra Lee, Surya Saputra, Verdi Solaiman, Gabriella Lasdauskas, Beby Tsabina, Dian Nitami, Anjasmara, Ence Bagus, Sogi Indra Dhuaja, Fanny Fabriana, Denny Gitong

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Saya pecinta zombie. Maksudnya, segala cerita yang ada hubungannya dengan makluk yang mati segan hidup tak mau itu. Sudah banyak komik maupun film zombie yang saya baca atau tonton. Dan sayangnya, Soleh Solihun sepertinya tidak melakukan hal itu. Dia lupa bahwa ada satu hal yang penting dalam menghadirkan sosok zombie ke dalam cerita. Terlebih jika sosoknya merupakan ‘tokoh utama’ seperti yang ada pada “Reuni Z” ini. Yaitu aturan maupun karakteristik yang konsisten.

Ini memang film komedi. Tapi bukan berarti ceritanya tidak harus solid. Belum berbicara yang lain, untuk urusan zombie-nya sendiri saja film ini sudah gagal menghadirkan konsistensi. Di satu adegan mereka terlihat kuat, di adegan lain terlihat cupu. Ini benar-benar mengganggu. Mending sekalian saja. Kalau sadis ya sadis, kalau bego ya bego.

Untungnya, satu konsep masih dipegang hingga akhir. Bahwa si zombie sensitif terhadap suara. Di film ini digambarkan mereka tidak akan bereaksi apabila tidak mendengar suara. Lucunya, ada saja kritikus film yang gagal paham gara-gara celetukan karakter Marina yang menyatakan si zombie jadi tidak menyerang mereka gara-gara bau kentut Jody.

Namun konsep dan eksekusi adalah dua hal yang berbeda. Tidak dijelaskan bagaimana para karakter yang bertahan seolah semuanya bisa mendadak memahami kelemahan zombie tersebut. Adegan akhir dimana musik dimainkan secara live juga menimbulkan banyak protes dari yang paham dunia ngeband. Untuk bagian ini saya ikutan setuju aja deh, gak paham soalnya, hehehe.

Separuh durasi awal “Reuni Z” sebenarnya cukup rapi bagi saya. Alur ceritanya jelas. Latar karakter demi karakter pun tersampaikan walau harus berbagi jatah on screen. Saya curiga yang menuduh film ini kurang perkenalan karakter sepertinya dia habis ketiduran.

Masalahnya, separuh akhir terasa bagai musibah. Cerita yang sudah terjalin apik jadi kacau dan berantakan. Nalar dan logika tidak lagi dipakai. Yang penting berusaha tampil lucu saja sampai ke titik akhir.

Sayangnya, film ini juga gagal untuk menghadirkan gelak tawa yang optimal. Setidaknya masih (jauh) di bawah “Ghost Writer“, yang sama-sama dibesut oleh komika. Saya memang tertawa di beberapa humor garing, tapi setelah itu ya sudah. Tidak ada yang benar-benar berkesan dan sampai bikin mata berair.

Kalau ada yang layak diberi acungan dua jempol, bahkan empat, adalah akting para pemainnya. Hampir semua bermain total dengan karakter mereka masing-masing. Terlihat jelas bagaimana si A dan si B punya kepribadian yang berbeda. Tidak datar seperti kebanyakan film horor Indonesia.

Yang jelas, walau tokoh sentral adalah Tora Sudiro dan Soleh Solihun, sulit untuk mengabaikan akting Dinda Kanya Dewi yang amat sangat sukses (pake banget) mencuri perhatian. This movie deserves at least 5 stars (out of 10) just for her act alone.

Penutup

Eksperimen Soleh Solihun dengan zombie menghadirkan banyak catatan. Cerita masih meninggalkan ruang untuk sekuel, walau rasanya kemungkinan kecil bakal jadi kenyataan. Naskah yang tidak solid, komedi yang gagal menghasilkan titik tawa, dan aturan zombie yang tidak jelas susah untuk dilupakan. Akting para pemain yang total dan berkarakter jadi terasa mubazir. 6/10, untuk Dinya Kanya Dewi dan pesan-pesan moral yang disampaikan.

Catatan: rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

rf reuniz

Leave a Reply