Review Film Ratu Ilmu Hitam (2019)

Setelah bulan lalu penggemar film horor lokal dibuai oleh “Perempuan Tanah Jahanam”, minggu ini hadir kembali judul anyar yang naskahnya ditulis oleh Joko Anwar, sutradara sekaligus penulis skenario film yang disebut di awal. “Ratu Ilmu Hitam” tajuknya, dengan Kimo Stamboel yang duduk di kursi sutradara. Kolaborasi yang terasa sangat menggoda dan sulit dilewatkan. Lalu apakah hasilnya sesuai dengan yang diharapkan? Simak sinopsis dan review singkatnya di bawah ini.

Sinopsis Singkat

Review Film Ratu Ilmu Hitam (2019)

Pak Bandi (diperankan oleh Yayu Unru), pengurus panti asuhan Tunas, sakit keras. Suami istri penjaga panti, Maman (diperankan oleh Ade Firman Hakim) dan Siti (diperankan oleh Sheila Dara Aisha), kemudian mengundang tiga orang mantan penghuni panti yang kini sudah dewasa dan berkeluarga. Mereka adalah Hanif (diperankan oleh Ario Bayu), Anton (diperankan oleh Tanta Ginting), dan Jefri (diperankan oleh Miller Khan). Anehnya, semenjak kedatangan mereka beserta keluarga ke panti asuhan tersebut, kejadian-kejadian aneh dan mengerikan mulai terjadi. Ditambah dengan bus darmawisata yang ditumpangi oleh hampir seluruh penghuni panti ternyata mengalami kecelakaan dan menewaskan seluruh penumpangnya. Hanif dkk harus berusaha untuk menjaga keselamatan keluarga mereka masing-masing sembari mencari tahu siapa sebenarnya dalang di balik semua peristiwa yang mereka alami, yang kemungkinan besar terkait dengan masa lalu mereka di sana.

Tanggal Rilis: 7 November 2019
Durasi: 99 menit
Sutradara: Kimo Stamboel
Produser: Gope T Samtani
Penulis Naskah: Joko Anwar
Produksi: Rapi Films
Pemain: Hannah Al Rashid, Imelda Therinne, Putri Ayunda, Giulio Parengkuan, Yayu Unru, Ario Bayu, Miller Khan, Tanta Ginting, Adhisty Zara

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Dari segi cerita dan dialog nyaris tidak ada cela. Alurnya terbangun dengan rapi, dengan laju yang sewajarnya. Sesuai yang dipromosikan oleh Ario Bayu dalam sebuah wawancara, porsi sadis dan mistisnya seimbang. Meski hampir tidak ada penampakan hantu di sepanjang durasi film, tapi jangan khawatir. Kengerian tetap bisa terasa, baik dari suasana yang dibangun, musik pendukung yang tidak lebai, serta adegan-adegan yang berpotensi bikin penonton berteriak atau menahan nafas.

Namun demikian, dari sisi orang yang sudah terbiasa menonton film sadis, adegan-adegan sejenis dalam “Ratu Ilmu Hitam” seolah tergesa-gesa. Mungkin disengaja agar penonton tidak keburu mual. Tapi saya pribadi merasa agak nanggung. Seperti udah ngarep lebih, eh tau tau selesai begitu aja. Yang paling kentara saat karakter Anton diserang serangga di dalam bus. Kayak di fast forward.

Bicara soal set bus, menurut saya set tersebut seharusnya bisa dieksplor agar lebih maksimal lagi. Apalagi masih jarang film horor lokal yang menggunakannya. Yah, ujung-ujungnya ya itu tadi, terasa nanggung.

Begitu pula dengan adegan-adegan sadisnya. Joko Anwar selaku penulis cerita sepertinya terlalu baik di sini. Minim sekali jumlah karakter yang tewas meski hampir seluruhnya mengalami teror yang sedemikian dahsyat. Sengaja disimpan untuk sekuelnya? Bisa saja. Tapi jadi terasa antiklimaks, mengingat beberapa karakter jika dipikir dengan logika seharusnya sudah tewas karena kehabisan darah. Toh di akhir secara verbal dinyatakan baik-baik saja.

Teman-teman yang suka misteri tidak perlu terlalu berharap. Formula umum film horor lokal dimana karakter yang terlalu baik biasanya merupakan pelaku atau bersekongkol dengan pelaku masih digunakan di “Ratu Ilmu Hitam”. Seperti “Lampor: Keranda Terbang“, tak lama setelah karakter X diperkenalkan seharusnya kita sudah bisa menduga jika ia punya peran dalam teror-teror yang terjadi.

Penyelesaian akhir pada akhirnya masih menjadi momok. Sebuah lilin kecil bisa mengakibatkan jubah langsung terbakar dengan hebat rasanya tidak masuk akal. Untung Kimo mengimbanginya dengan gimmick tubuh tanpa kepala yang lumayan seru.

Oh ya, saya pribadi merasa terlalu banyak karakter yang dijejalkan. Memang semua mendapat porsi yang pas, tapi jika beberapa dihilangkan kemungkinan besar juga tidak akan mengubah maupun mengurangi jalannya cerita.

Kesimpulan

Dengan mengabaikan keganjilan di awal dimana karakter Sandi (diperankan oleh Ari Irham) menggunakan lampu flash HP di jalan padahal langit jelas-jelas masih terang, secara keseluruhan film “Ratu Ilmu Hitam” ini cukup menghibur. Banyak adegan sadis di dalamnya, walau mungkin tidak seheboh ekspektasi awal saya saat menonton trailernya. Beberapa bagian terasa kurang maksimal atau kurang dieksplor, namun tetap tidak mengurangi kepuasan yang diperoleh usai menonton. Kandidat 3 besar film horor lokal terbaik tahun ini. Recommended!

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply