Review Film Lampor: Keranda Terbang (2019)

Setelah beberapa kali mengalami penundaan jadwal tayang, Lampor: Keranda Terbang akhirnya hadir juga di layar bioskop. Dan untungnya, debut perdana sutradara Guntur Soeharjanto di ranah genre horor ini tidaklah mengecewakan. Mencekam dan penuh dengan momen mengejutkan. Seperti apa? Simak sinopsis dan reviewnya di bawah ini ges.

Sinopsis Singkat

Review Film Lampor: Keranda Terbang (2019)

Setelah pergi meninggalkan kampung halamannya di Temanggung 25 tahun yang lalu, Netta (diperankan oleh Adinia Wirasti) kembali demi menyampaikan wasiat terakhir ibunya pada ayahnya yang dulu mereka tinggalkan. Kedatangan Netta bersama suaminya Edwin (diperankan oleh Dion Wiyoko) dan kedua putra putri mereka Agam (diperankan oleh Bimasena) dan Sekar (diperankan oleh Angelia Livie) ternyata tidak disambut baik oleh penduduk lokal. Netta dianggap sebagai pemicu hadirnya kembali Lampor, teror setan pencabut nyawa yang datang dengan membawa sebuah keranda terbang. Dengan nyawa kedua anaknya yang menjadi taruhan, Netta dan Edwin berusaha untuk memecahkan misteri hubungan Netta dengan setan Lampor.

Tanggal Rilis: 31 Oktober 2019
Durasi: 1 jam 35 menit
Sutradara: Guntur Soeharjanto
Produser: Chand Parwez Servia, Fiaz Servia
Penulis Naskah: Alim Sudio
Produksi: Starvision Plus
Pemain: Dion Wiyoko, Nova Eliza, Adinia Wirasti, Unique Priscilla, Stefhanie Zamora Husen

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Film dibuka dengan kisah masa lalu Netta saat pertama kali berhadapan dengan Lampor dan terpaksa pergi meninggalkan Temanggung bersama dengan ibunya. Saya cukup senang dengan adegan ini karena setidaknya penonton sudah mendapat separuh gambaran mengenai cerita keseluruhan. Tidak perlu meraba-raba dan baru mendapat jawaban secara bertubi-tubi di babak akhir durasi.

Dan jangan salah. Meski kita sudah tahu bahwa Lampor kembali datang ke kampung karena hadirnya Netta, film masih menyimpan segudang misteri. Sayangnya, sebagian besar side plot yang disajikan benar-benar terasa hanya sebagai sekedar sampingan saja. Terselesaikan atau terabaikan begitu saja di tengah jalan. Sebut saja mengenai Mitha (diperankan oleh Stefhani Zamora Husen), anak angkat Jamal (diperankan oleh Mathias Muchus) dan Asti (diperankan oleh Nova Eliza), yang berusaha mencuri harta peninggalan Jamal. Atau mengenai hubungan rahasia antara Asti dengan asisten Jamal, Bimo (diperankan oleh Dian Sidik). Juga mengenai kondisi keuangan keluarga Netta yang sedang butuh uang dalam waktu singkat. Ujung-ujungnya lebih terasa sebagai penjejal agar cerita terasa lebih padat.

Misteri utama yang seharusnya menjadi twist mengejutkan cukup mudah tertebak. Yang sudah sering nonton film horor lokal pasti tahu. Karakter yang sikapnya terlalu baik biasanya ada hubungannya dengan teror. Dari sejak 5 menit pertama penampilan karakter XXX di layar saja saya sudah bisa menebak jika si Lampor ada kaitannya dengan karakter tersebut.

Penyakit umum yang menimpa hampir semua film horor lokal masih bisa ditemui. Apalagi kalau bukan bagian akhir yang intensitasnya kurang memadai. 2/3 bagian awal Lampor: Keranda Terbang sebenarnya cukup baik. Suasana yang mencekam berhasil dibangun dengan baik. Beberapa kali terselip jump scare yang bukan berasal dari penampakan hantu. Which is good. Sound efeknya juga tidak memekakkan telinga.

Salah satu penyebabnya mungkin karena film ini mengejar rating 13 tahun ke atas. Beberapa bagian yang terlalu sadis terpaksa dihilangkan atau tidak diperlihatkan secara detil. Padahal jika ratingnya 17 tahun ke atas, rasanya bakal keren hasilnya. Efek usus pak Atmo (diperankan oleh Landung Simatupang) yang semburat bisa lebih dioptimalkan lagi, hehehe.

Dari segi dialog saya pribadi tidak menemukan adanya kejanggalan. Yang agak sedikit mengganggu mungkin adalah soal waktu di bagian menjelang final. Pak Atmo yang datang belakangan ternyata bisa sampai di gua terlebih dahulu ketimbang Edwin yang datang duluan. Begitu pula saat Bimo kembali ke desa. Pada adegan sebelumnya, lokasi gua digambarkan cukup jauh, namun Bimo bisa kembali dalam waktu (terlihat) singkat.

Duet Adinia Wirasti dan Dion Wiyoko di sini bagi saya cukup baik dan meyakinkan. Sama-sama punya momen yang bikin gemes, saking geregetannya pada kedua karakter yang mereka perankan. Karakter Yoyo yang diperankan oleh Rendra Bagus Pamungkas cukup berhasil mencuri perhatian. Karakter lugu dan ceplas ceplosnya di sini membuat saya lupa bahwa yang bersangkutan adalah pemeran Adi Sulaiman, salah satu musuh Gundala.

Dari segi penampakan hantunya sendiri tidak terlalu menakutkan. Tapi ada satu adegan yang memorable dan patut diacungi jempol. Yaitu saat setan Lampor mengangkat Netta sementara Edwin dan Agam yang berusaha menahannya ikut terangkat ke udara. Lucu lucu seram gimana gitu, hehehe.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, film ini terbilang layak menutup bulan Oktober yang kebetulan bertepatan pula dengan malam Halloween. Beberapa kekurangan yang ada bisa dimaafkan. Dari sisi horor, sang sutradara mampu membangun suasana yang mencekam di (nyaris) sepanjang film. Unsur drama keluarga yang terselip juga sukses menyampaikan pesannya. Yang sedikit disayangkan mungkin hanyalah pada bagian penutup, saat Yoyo didatangi oleh Lampor. Terasa dipaksakan dan melenceng dari cerita utama.

Recommended!

Oh ya, pada credit scene ditampilkan wawancara dengan orang-orang yang dirinya atau keluarganya pernah diculik oleh Lampor. Bukan masalah benar tidaknya. Seru aja nyimaknya. Bikin kita bisa lebih menjiwai film yang barusan ditonton, hehehe.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply