Review Film Pocong Rumah Angker (2010)

Meski waktu publikasinya berselisih setengah tahun lebih, tapi film “Pocong Rumah Angker” ini sebenarnya saya tonton setelah “Pocong Setan Jompo“. Di film tersebut, walau secara keseluruhan saya terhibur, namun sulit untuk memberikan nilai bagus karena genre yang digunakan adalah horor. Sementara yang lebih dominan justru unsur komedinya. Berbeda dengan yang akan kita bahas kali ini. Dari awal sudah disebutkan bahwa genrenya adalah komedi horor. Sekarang tinggal dilihat saja. Apakah bakal lucu sekaligus bikin merinding? Simak sinopsis dan review singkatnya di bawah ini.

Sinopsis Singkat

Joana (diperankan oleh Donita) dan Debby (diperankan oleh Pamela Bowie) berniat meliput sebuah rumah kosong yang dikenal sebagai tempat pembuangan mayat kasus-kasus kriminal. Mereka berdua minta diantarkan oleh Zaki (diperankan oleh Zaky Zimah), yang kebetulkan pernah ke sana bersama 2 orang teamnnya (lupa namanya, yang jelas diperankan oleh Krisna Patra dan Radith).

Saat sedang menyusuri bagian dalam rumah, Donita menemukan sebuah payung hitam. Karena waktu itu kondisi hujan dan atap rumah sudah bolong, spontan Donita mengambil dan membuka payung tersebut. Zaki kaget dan memarahinya karena percaya hal tersebut bisa mengundang datangnya makhluk gaib.

Entah benar atau kebetulan, sejak itu mereka mulai diteror oleh sosok pocong dan kuntilanak. Kedua teman Zaki pun mengalami nasib yang sama. Bahkan si hantu pocong itu terang-terangan menampakkan diri di depan mereka sebagai wanita yang bernama Lilis.

Dari alamat rumah yang diberikan langsung oleh Lilis, Zaki dkk akhirnya tahu bahwa yang mengganggu mereka adalah arwah penasaran Lilis dan temannya yang diperkosa sekaligus dibunuh di rumah tersebut. Pelakunya sendiri disebut punya wajah yang kebetulan mirip dengan Zaki, hingga dirinyalah yang paling sering mendapat gangguan. Agar tidak lagi diganggu, mereka diminta untuk mencari cincin Lilis yang hilang di rumah tersebut.

Karena sudah capek diteror, mereka pun memutuskan untuk mencari cincin yang dimaksud. Namun anehnya, meski sudah berhasil melakukannya, duo poci dan kunti masih terus mengganggu mereka.

Tanggal Rilis: 16 Desember 2010
Durasi: 1 jam 18 menit
Sutradara: Koya Pagayo
Produser: Firman Bintang
Penulis Naskah: Ery Sofid
Produksi: Mitra Pictures, BIC Production
Pemain: Donita, Zaky Zimah, Pamela Bowie, Krisna Patra, Radith

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Oke, pertama-tama, saya baru sadar Donita dulu secantik ini, hehehe. Maklum jarang nonton TV. Asli bening banget. Setiap muncul di layar perhatian saya auto focus ke doi.

Sebandingkah dengan aktingnya? Itu dia masalahnya. Secara “Pocong Rumah Angker” lebih kental nuansa komedinya, kualitas akting pemain-pemainnya tidak terlalu terlihat. Termasuk Zaky Zimah yang menjadi tokoh sentral pemancing titik tawa. Saya pribadi malah lebih suka dengan aktingnya di FTV ketimbang di film ini. Terasa berlebihan. Apalagi tidak ada chemistry di antara pemain. Datar-datar saja.

Banyolan yang coba dihadirkan sebenarnya lumayan menggelitik. Sayangnya minim variasi. Alhasil pola yang sama terus menerus diulang. Awalnya tertawa, ujung-ujungnya bosan. Hal yang sama berlaku pula untuk penampakannya. Di babak pertama sukses bikin saya tersenyum girang. Apalagi kalau bukan gara-gara adegan kuntilanak merayap di tembok serta melayang-layang di udara. Namun setelah itu sepertinya Koya Pagayo tidak mampu menemukan ide lain untuk menyajikan jump scare. Balik lagi ke formula-formula usang yang acap ia pakai di film-filmnya yang lain.

Oh ya, ada adegan pocong jatuh di film ini. Bukan hal baru memang. Tapi ngakak parah saat jatuhnya menimpa beberapa karakter yang ada, wkwkwk.

Dari segi cerita tidak terlalu rumit untuk dicerna. Hanya membingungkan di babak ketiga. Mulai dari kemunculan kakek misterius yang gak jelas siapa hingga alasan kedua arwah penasaran menteror Zaki dkk yang tidak nyambung sama sekali. Bahkan setelah permintaan mereka dipenuhi pun Zaki dan teman-temannya tetap diteror. Maksa.

Penutup

“Pocong Rumah Angker” bisa dikatakan gagal mengembangkan ide cerita yang telah mereka persiapkan. Baik dari segi komedi maupun horor. Ujung-ujungnya banyak yang terus diulang. Parahnya, semakin ke belakang cerita semakin ngawur dan dipaksakan. Setengah menghibur, setengah membosankan. 3/10 cukup lah ya.

Catatan: rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

rf pocongrumahangker

Leave a Reply