Review Film Mirror (2005)

Cari film ini di beberapa layanan streaming dan tidak ketemu, eh malah tiba-tiba muncul di beranda Youtube, hehehe. Gak apa-apa lah ya sekali-kali nonton bajakan, reviewnya kan juga buat bahan promosi… kalau emang bagus. Tapi kalau menilik nama sutradaranya, Hanny R. Saputra, sepertinya tidak mengecewakan. Setidaknya dua film beliau yang sudah pernah saya tonton, “Sajen” dan “Dejavu: Ajian Puter Giling”, sama-sama punya nilai di atas rata-rata. Lebih jelasnya, yuk simak sinopsis dan review singkatnya di bawah ini.

Sinopsis Singkat

Kikan (diperankan oleh Nirina Zubir) adalah siswi sebuah SMA yang gemar menjahili teman-temannya dengan hal-hal berbau mistis dan kematian. Hingga suatu ketika, usai berpura-pura menjadi kuntilanak, ia tersandung dan keningnya membentur meja. Sejak saat itu, ia mulai menyadari satu hal, bahwa orang yang bayangannya tidak bisa ia lihat di cermin, berarti dalam waktu dekat orang tersebut akan meninggal.

Hal tersebut mulai menyiksa batin Kikan. Apalagi setelah kematian ibu Yani (diperankan oleh Henidar Amroe), guru sekolah yang baik. Seluruh penghuni sekolah mulai menjauhinya karena dianggap membawa sial. Kecuali Doni (diperankan oleh Jonathan Mulia), sahabat dekatnya yang sebenarnya diam-diam jatuh hati pada Kikan.

Teror demi teror yang dialami membawa Kikan mulai membuka hatinya untuk Doni. Meski belum bisa menjawab perasaan cinta Doni, Kikan sejenak bisa melupakan masalahnya saat bersama Doni. Saat hendak pergi berdua, Kikan mendapati bayangannya menghilang di cermin. Sadar kematian akan segera menjemput, Kikan jadi panik dan mati-matian mendorong Doni agar menjauh darinya.

Dalam perjalanan menuju rumah seorang paranormal (diperankan oleh Leo Lumanto), mobil yang dikendarai Kikan mengalami kecelakaan. Ia berhasil selamat dan melanjutkan langkahnya menuju rumah paranormal tersebut. Tanpa banyak memberi penjelasan, si paranormal hanya berpesan agar Kikan tidak perlu takut menghadapi kematian.

Sekembalinya ke rumah, Kikan mendapati banyak orang tengah berkumpul dan berduka. Termasuk ayahnya sendiri (diperankan oleh Joshua Pandelaki). Mengira ibunya yang meninggal, bergegas Kikan menghampiri peti mati. Ia kaget begitu melihat yang berbujur kaku di dalamnya adalah dirinya sendiri. Saat melangkah keluar, Kikan kembali bertemu dengan si paranormal yang ternyata tahu bahwa sebelumnya Kikan sudah meninggal. Ia pun meminta agar Kikan menyelesaikan urusan cintanya agar bisa meninggalkan alam dunia dengan tenang.

Beberapa waktu kemudian, Doni terlihat sedang berdiri di dermaga sebuah danau yang pernah ia datangi bersama Kikan. Segerombolan kunang-kunang tiba-tiba muncul. Saat Doni menggapai mereka, sosok Kikan muncul di hadapannya dan mengungkapkan perasaannya. Kikan kemudian berbalik dan melangkah menuju cahaya diiringi oleh senyuman Doni.

Tanggal Rilis: 27 Oktober 2005
Durasi: 115 menit
Sutradara: Hanny R. Saputra
Produser: Novi Christina
Penulis Naskah: Armantono
Produksi: SinemArt
Pemain: Nirina Zubir, Jonathan Mulia, Henidar Amroe, Ira Wibowo

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Wajar jika Nirina Zubir berhasil menyabet penghargaan sebagai Pemeran Wanita Terbaik dalam ajang Indonesian Movie Awards 2006 untuk aktingnya sebagai Kikan di “Mirror”. Penampilannya memang luar biasa. Meyakinkan dan sesuai porsinya. Saya yang menyimak aksinya sepanjang film bisa ikut sebel dengan kejahilannya, bisa juga ikut merasakan kepanikannya saat tahu dirinya bakal tiada. Gestur kecil saat Kikan tahu orang tuanya masih belum akan pulang dari luar kota pun terasa. Nyaris tidak ada yang terlihat dibuat-buat, natural apa adanya.

Kendati demikian, harus diakui bahwa naskah skenario dari Novi Christina tidak kalah berperannya. Alurnya rapi dan mudah untuk dipahami. Momen romantis yang diselipkan di babak kedua pun cukup berhasil. Satu jempol buat yang nemuin lokasi danau yang bener-bener mendukung.

Sayangnya, semakin ke belakang, dialog terdengar semakin berantakan. Ada pengulangan. Ada pula yang gak banget. Beberapa detil juga terlihat terabaikan. Misalnya:

  • Rumah yang dihuni Kikan super besar tapi sama sekali tidak terlihat ada pembantu / asisten rumah tangga. Padahal, saat Kikan pulang ke rumah malam hari, terlihat lampu rumah sudah menyala.
  • Pintu pagar otomatis yang saya tahu difungsikan menggunakan remote. Tapi yang ada di rumah Kikan bisa terbuka sendiri walaupun yang masuk bukanlah tuan rumah. Kikan sendiri terlihat tidak mengharapkan kedatangan tamu tersebut.
  • Di babak ketiga, Kikan pingsan dan ditolong oleh Doni. Saat siuman, terlihat Kikan sudah menggunakan baju yang berbeda. Gak mungkin kan Doni yang mengganti bajunya.

Hal-hal tersebut mungkin tidak diperhatikan oleh kebanyakan penonton. Saya sangat menghargai film maker yang aware terhadap hal-hal kecil dalamm film seperti di atas. Apesnya, pembuat film “Mirror” bukanlah salah satunya.

Kembali ke cerita, yang terasa agak kurang adalah tidak adanya perkenalan mengenai hubungan Kikan dan Doni. Sedekat apa mereka. Apakah hanya teman biasa? Atau sahabat? Jika teman, kenapa Kikan bisa tahu rumah Doni? Jika sahabat, kenapa Kikan seperti tidak mengenal Doni dengan baik.

Untuk jump scare nyaris tidak ada. Namun untuk penampakannya perlu diberi apresiasi. Sutradara cukup mampu bersabar untuk tidak menghadirkan penampakan yang tidak sesuai waktu dan pakemnya. Hanya karakter Kikan yang melihat penampakan makhluk gaib. Itu pun baru terjadi pasca ia terjatuh dan mengalami benturan di keningnya. Frekuensinya meningkat secara bertahap. Yang awalnya cuma bisa melihat mereka yang baru saja meninggal, semakin lama bisa melihat makhluk astral lainnya. Salut.

Oh ya, ada beberapa adegan dimana Kikan terlihat kaget dengan apa yang ia lihat, tapi penonton sama sekali tidak ditunjukkan apa yang dilihat oleh Kikan. Itu jujur mengganggu sekali.

Twist di puncak cerita rasanya sudah dapat tertebak dari awal. Tidak ada yang spesial sih untuk bagian itu. Tertolong banget lah dengan akting Nirina yang bisa membawakan twist yang apa adanya itu menjadi terasa lebih bermakna.

Penutup

“Mirror” mungkin masih memiliki beberapa kekurangan di sana sini untuk bisa dinobatkan ke dalam jajaran film horor Indonesia terbaik sepanjang masa. Pun begitu, akting Nirina Zubir yang menawan, serta alur cerita yang rapi (walau dengan ide maupun twist yang tidak orisinil) dan treatment penampakan makhluk gaib yang tepat sasaran membuat film ini secara keseluruhan masih sangat layak untuk ditonton. 6.5/10.

Catatan: rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

Last modified on August 24, 2020 12:58 pm

Share
Cosa Aranda

Cosa Aranda adalah blogger profesional dari kota Surabaya yang sudah berkecimpung di dunia bisnis online sejak tahun 2005. Sempat beberapa kali menjadi pembicara seminar dan mengadakan workshop pada periode tahun 2007-2010. Saat ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggeluti hobi dan passionnya di bidang travelling, hiburan, serta permainan arcade. Bisa ditemui di Facebook jika ingin berkenalan.