Review Film Lantai 13 (2007)

“Lantai 13” adalah film horor kedua dari sutradara Helfi Kardit, atau proyek layar lebarnya yang ke-empat setelah menghadirkan “17th – Seventeen” di tahun 2004 silam. Dari judulnya sudah jelas bahwa film ini mengangkat tema lantai ketigabelas dari sebuah bangunan yang di Indonesia umumnya ditiadakan, bersama dengan lantai 4, karena masalah mitos. Pemeran utamanya adalah Widi Mulia, Ariyo Wahab, Tio Pakusadewo, dan Lucky Hakim. Seramkah? Simak sinopsis dan review singkatnya di bawah ini.

Sinopsis Singkat

Review Film Lantai 13 (2007)

Luna (diperankan oleh Widi Mulia) mendapat panggilan seleksi kerja di sebuah perusahaan yang menempati lantai 13 sebuah gedung perkantoran. Setibanya di sana, ia bertemu dengan perwakilan HRD yang bernama Laras (diperankan oleh Virnie Ismail). Laras lantas mengantarkannya ke sebuah ruangan di lantai 13 untuk menjalani proses seleksi bersama dengan 12 calon karyawan lainnya. Anehnya, tiba-tiba saja ke-12 orang tersebut menghilang begitu saja.

Kembali ke lantai dasar, resepsionis memberitahu bahwa perusahaan yang dimaksud berada di lantai 15, bukan 13. Pada akhirnya Luna diterima bekerja di perusahaan tersebut dengan Albert (diperankan oleh Lucky Hakim) sebagai pimpinannya. Meski betah bekerja di sana, teror dari lantai 13 terus menghantuinya. Apa yang sebenarnya terjadi?

Tanggal Rilis: 7 Juni 2007
Durasi: 1 jam 46 menit
Sutradara: Helfi Kardit
Produser: Chand Parwez Servia
Penulis Naskah: Helfi Kardit, Capluk
Produksi: Kharisma StarVision Plus
Pemain: Widi Mulia (AB Three), Aryo Wahab, Virnie Ismail, Lucky Hakim, Tio Pakusadewo, Bella Esperance Lee, Irwansyah, Maia Estianty, Daus Separo, Ibnu Jamil

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Beberapa menit di awal film ini terlihat normal. Layaknya film horor pada umumnya. Namun begitu muncul footage mayat bertumpuk yang di satu dua bagian berulang, saya mulai waswas bakal ada yang tidak beres. Dan ternyata benar.

Sama halnya dengan footage tersebut, keseluruhan film terasa bertele-tele. Sang sutradara seperti tidak paham cara membuat film dalam genre ini. Atau mungkin tidak pernah menonton film horor sama sekali sebelumnya.

Alih-alih membangun suasana mencekam atau menghadirkan jump scare, 95% durasi diisi dengan adegan percakapan yang membosankan. Iya kalau rentetan dialognya cerdas. Kata demi kata yang terucap pun amburadul. Tidak bikin kita penasaran dengan yang dilontarkan oleh para karakternya, yang menambah kacau film dengan akting mereka yang jauh di bawah standar.

Saya yakin ini satu-satunya film horor buatan Indonesia yang menyuguhkan adegan ngobrol di satu titik yang sama selama hampir 30 menit tanpa jeda.

Satu setengah jam lebih yang saya habiskan untuk menonton “Lantai 13” sudah saya masukkan dalam daftar perbuatan sia-sia yang pernah saya lakukan dan tidak akan pernah saya ulangi lagi.

Penutup

Seburuk-buruknya film, saya biasanya masih bisa menemukan satu dua hal untuk diapresiasi. Dari “The Secret: Suster Ngesot Urban Legend” yang kemarin saya beri rating 1/10 saja misalnya, ada bagian dari twist yang cukup baik. Tidak dengan “Lantai 13”. Keinginan sutradara untuk membangun horor dari dialog jelas tidak tereksekusi dengan baik. Pemilihan kalimatnya berantakan, akting pemainnya tidak meyakinkan, pengambilan gambarnya membosankan. Jangankan untuk tayang di bioskop, diputar di televisi sebagai FTV pun sungguh tidak layak.

0.5/10. Atau 0/10 jika memang boleh dinilai seperti itu.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply