Review Film Kuntilanak-Kuntilanak (2012)

Kuntilanak mungkin termasuk salah satu hantu yang digemari oleh film maker. Bersama dengan rekannya, pocong, hantu wanita ini cukup sering bergentayangan di bioskop. Dari penelusuran sekilas, setidaknya ada 20 judul film horor Indonesia yang mengangkat aksinya. Salah satunya adalah “Kuntilanak-Kuntilanak” dengan Koya Pagayo sebagai sutradaranya. Seperti apa ceritanya? Simak sinopsis dan review singkatnya di bawah ini, ges.

Sinopsis Singkat

Review Film Kuntilanak-Kuntilanak (2012)

Pasca bercerai dengan suaminya, Krisna (diperankan oleh Reza Pahlevi), penulis novel terkenal bernama Adelina Venus (diperankan oleh Niken Anjani) memutuskan untuk mengerjakan novel terbarunya di vila Rumah Bukit Hijau yang terpencil. Ia ditemani oleh asistennya, Saskia (diperankan oleh Chrissie Vanessa), serta putri satu-satunya, Salwa (diperankan oleh Adzwa Aurelline).

Bukannya ketenangan yang didapat, semenjak kehadiran mereka di vila justru ketiganya dihantui oleh arwah-arwah penghuni vila. Rentetan gangguan gaib bergantian mereka alami. Belum ditambah dengan kondisi psikologis Adelina yang gampang emosi, membuat suasana di dalam vila menjadi intens.

Tanggal Rilis: 3 Mei 2012
Durasi: 1 jam 17 menit
Sutradara: Koya Pagayo
Produser: Dhamoo Punjabi, Manoj Punjabi
Penulis Naskah: Djamaludin Moenaf, Ery Sofid
Produksi: Mitra Pictures
Pemain: Niken Anjani, Chrissie Vanessa, Reza Pahlevi, Adzwa Aurell, Rikas Harsa

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Alur yang diangkat oleh Koya Pagayo dalam “Di Sini Ada Yang Mati” ternyata bersumber dari film “Kuntilanak-Kuntilanak” ini. Mirip banget. Liburan ke vila, dihantui arwah yang mati di vila, sampai akhirnya semua mati kecuali si tokoh utama. Bedanya, twist yang dihadirkan dalam film ini masih jauh lebih berkelas, walau lagi-lagi bukanlah sesuatu yang orisinil.

Sayangnya, keterkejutan akibat twist dirusak sendiri dengan momen-momen pengungkapan yang terlalu memakan durasi. Sutradara seolah yakin bahwa penonton filmnya sulit untuk mencerna twist tersebut apabila tidak dijelaskan dari A sampai Z. Di film lain dengan twist serupa, paling hanya menggunakan separuh atau bahkan sepertiga durasi saja.

Dari segi cerita, film ini punya alur yang rapi dan minim kejanggalan. Bukan berarti tidak ada, ya. Tidak jelas apakah Krisna benar-benar menjalin hubungan dengan Saskia karena Adelina sudah keburu emosi. Mau protes percuma, mengingat itu adalah bagian dari twist yang mau tidak mau harus diterima mentah-mentah.

Satu yang mengganggu adalah penggunaan properti handycam dan CCTV di dalam vila yang ujung-ujungnya hanya pemanis. Sama sekali tidak ada faedahnya bagi film. Dihilangkan pun tidak menimbulkan dampak. Gaya Saskia saat memegang handycam juga sama seperti saya dulu… saat belum paham tehnik-tehnik videografi. Terasa ada yang tidak pas saat melihat Saskia men-syuting ke sana kemari seenaknya.

Untuk ukuran film Koya Pagayo / Nayato Fio, penampakan dan jump scare dalam “Kuntilanak-Kuntilanak” terbilang minim. Kita masih diberi jeda untuk menikmati jalan cerita tanpa terus-terusan disuguhi penampakan. Yang saya suka, ada beberapa jump scare yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Seperti penampakan beruntun di dalam lemari dan langsung disusul dengan penampakan lain di balik pintu lemari. Atau saat karakter Adelina dan Saskia berhadap-hadapan dan masing-masing saling melihat rekannya diganggu hantu. Atau juga saat Salwa meringkuk ketakutan di samping toilet dan saat membuka mata ternyata si hantu lagi ikut meringkuk sembari melongok di hadapan Salwa.

Minusnya, gangguan gaib yang dialami tidak konsisten. Yang seharusnya hanya berasal dari arwah nenek dan cucunya, ikut ditambahi dengan gangguan poltergeist dari vila yang ditempati. Kedua arwah tersebut juga tidak ada hubungannya dengan kuntilanak. Entah kenapa nama hantu tersebut yang diangkat menjadi judul.

Kemampuan akting Niken Anjani sangat terasa di film ini. Apalagi ia harus memerankan seseorang dengan dua kepribadian. Ada kalanya harus berubah kepribadian hanya dalam hitungan detik. Untuk Chrissie Vanessa dan Reza Pahlevi masih oke penampilannya walau tidak terlalu istimewa.

Penutup

Saat “Takut: Tujuh Hari Bersama Setan” dan “Hantu Kuburan Tua” membuat saya hampir menyerah dengan karya-karya Nayato Fio, “Kuntilanak-Kuntilanak” (dan juga “Kereta Hantu Manggarai“) kembali memberi secercah harapan bagi saya. Memang tidak semua karya beliau layak ditonton, tapi fakta bahwa ada pula hasil besutannya yang berkualitas dan di atas rata-rata patut untuk diapresiasi. Cerita yang nyaris tanpa cela, twist yang tidak disangka-sangka (karena tidak ada clue yang mengarah ke sana), beberapa jump scare yang kreatif, serta akting Niken Anjani yang mumpuni membuat film ini berhak diganjar skor 6/10.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply