Review Film Kuntilanak 2 (2007)

“Kuntilanak 2” adalah sekuel dari film “Kuntilanak” yang dirilis pada tahun 2006. Kolaborasi Rizal Mantovani di kursi sutradara dengan Ve Handojo di departemen penulisan masih dipertahankan. Begitu juga dengan jajaran pemain, sebagian masih bisa ditemui kembali. Bukan rahasia lagi bahwa banyak franchise film yang gagal saat dibuat sekuel. Akankah “Kuntilanak 2” ini mengalami hal yang sama? Simak review singkatnya di bawah ini ya.

Sinopsis Singkat

Review Film Kuntilanak 2 (2007)

Beberapa waktu semenjak insiden dengan kuntilanak, Samantha (diperankan oleh Julie Estelle) memutuskan untuk pindah ke tempat kost yang baru. Sementara itu, para pengikut sekte Mangkujiwo berniat untuk menjadikan Sam sebagai anggota sekte karena untuk saat ini hanya Sam seorang yang bisa memanggil kuntilanak. Agung (diperankan oleh Evan Sanders) yang sempat trauma dengan kuntilanak berhasil menguatkan tekadnya untuk membantu Sam pasca kematian Iwank (diperankan oleh Ibnu Jamil). Dengan jiwa Sam yang semakin hari semakin dekat dengan kegelapan, mampukah cinta Agung menyelamatkannya?

Tanggal Rilis: 10 Oktober 2007
Durasi: 116 menit
Sutradara: Rizal Mantovani
Produser: Raam Punjabi
Penulis Naskah: Ve Handojo
Produksi: MVP Pictures
Pemain: Julie Estelle, Evan Sanders, Ibnu Jamil, Lita Soewardi, Cindy Valerie, Alice Iskak, Bella Esperance, Sutan Amanullah, Piet Pagau, Ratu Felisha, Ida Iasha

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Jarang ada sekuel film yang mampu menjaga kualitas bawaan dari film perdananya. Toh nyatanya “Kuntilanak 2” berhasil melakukannya. Setidaknya dari segi kerapian cerita, akting pemeran utama, dan juga suasana horor yang dibangun.

Setelah dibuka dengan adegan sepanjang 8 menit yang terasa terlalu bertele-tele karena hanya bertujuan untuk menunjukkan kondisi bangunan kos Sam saat ini, cerita langsung kembali fokus ke perjalanan Sam beberapa waktu setelah insiden di “Kuntilanak” berakhir. Siapa sangka, akting Julie Estelle yang sudah cukup lumayan di film sebelumnya ternyata masih bisa ditingkatkan lagi. Terlebih saat Sam bertarung melawan manifestasi sisi jahat dirinya sendiri di dalam kamar kos yang baru.

Selain keren, adegan tersebut juga agak membingungkan karena dari yang saya lihat, yang dijebloskan masuk ke dalam cermin adalah Sam yang asli. Sementara hingga film usai sama sekali tidak disinggung ulang soal sosoknya yang jahat itu. Yah. bisa jadi saya yang salah lihat, hehehe.

Gaya menakut-nakuti di film sebelumnya masih dibawa ke film ini. Sepertinya Rizal Mantovani tidak berniat gambling dengan merubah formula yang sudah terbukti berhasil. Adegan pembantaian anggota sekte Mangkujiwo suwer bikin senyum-senyum sendiri. Puas banget ngeliatnya.

Saya juga suka dengan penggambaran anggota sekte Mangkujiwo yang seluruhnya sadis dan kejam. Tidak hanya sekedar kata, namun masing-masing berani pula beraksi. Seru aja ngeliat mereka yang hampir semuanya sudah berumur tapi gak ragu untuk menyiksa bahkan membunuh orang lain. Bagai sekelompok gangster versi kearifan lokal, hehehe.

Sayangnya, sulit untuk tidak mengakui adanya sedikit penurunan kualitas. Dari dialog dan beberapa titik cerita yang seharusnya bisa dikembangkan lagi. Entah dari segi naskah atau penyutradaraan yang malas untuk bekerja dengan lebih keras. Untungnya tidak sampai pada level yang benar-benar mengganggu.

Secara keseluruhan, film ini adalah sekuel yang berhasil melakukan tugasnya dengan baik.

Penutup

Rasanya tidak perlu berkata banyak. Jika teman-teman suka dengan “Kuntilanak”, wajib untuk menonton “Kuntilanak 2” ini. Kualitas ceritanya masih terjaga walau ada sedikit lubang yang seharusnya bisa ditambal. Akting para pemainnya masih tetap meyakinkan. Dan yang terpenting, suasana horor yang mencekam, terutama di bagian akhir, masih tetap bisa didapat. Jempols!

8/10, berkat adegan puncak dan kejutan di akhir yang bikin lupa sejenak dengan kekurangan-kekurangan minor yang ada.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply