Review Film Jenglot Pantai Selatan (2011)

Saya kurang tahu seberapa berhasilnya “Taring” memancing penonton untuk datang ke bioskop pada masanya. Yang jelas, kurang dari setahun semenjak film tersebut dirilis, Rizal Mantovani kembali menghadirkan film bergenre serupa yang mengedepankan sosok ‘monster’ sebagai tokoh antagonis utamanya. Bumbu sensual ala “Air Terjun Pengantin” tetap dipertahankan, bahkan ditingkatkan ke level yang lebih tinggi. Terlihat jelas dari trailernya, karena memang itu salah satu nilai jualnya. Lalu seperti apakah ceritanya? Simak sinopsis dan review singkatnya di bawah ini.

Sinopsis Singkat

Review Film Jenglot Pantai Selatan (2011)

Randy (diperankan oleh Temmy Rahadi), Temmi (diperankan oleh Debby Ayu), Denisa (diperankan oleh Wichita Satari), dan Josh (diperankan oleh Framli Nainggolan) pergi berlibur di sebuah pantai eksklusif yang ada di pesisir pantai selatan. Kemal (diperankan oleh Zidni Adam), adik Randy, diam-diam juga ikut dengan bersembunyi di bagasi mobil Randy. Berita tentang hilangnya jenglot pemakan daging yang sebelumnya ditangkap warga sama sekali tidak mengurungkan niat mereka. Tanpa mereka ketahui, jenglot tersebut sengaja dibebaskan seorang kakek misterius (diperankan oleh Buanergis Muryono) agar bisa memangsa siapa pun yang dianggap mencemari kesucian pantai tersebut.

Seperti sudah diperkirakan, satu demi satu pengunjung pantai menjadi korban keganasan jenglot. Tidak terkecuali Denisa, Josh, Kemal, dan Cecil (diperankan oleh Putri Farmer), wanita yang baru saja dikenal Kemas di pantai. Temmi sempat berhasil mengurung jenglot tersebut ke dalam oven dan memanggangnya hingga hangus terbakar. Namun saat ia membuka oven tersebut, roh jenglot ternyata berpindah ke tubuhnya. Randy yang tidak mengetahui hal itu pada akhirnya tewas di tangan Temmi.

Tanggal Rilis: 17 Februari 2011
Durasi: 1 jam 18 menit
Sutradara: Rizal Mantovani
Produser: Ody Mulya Hidayat
Penulis Naskah: Alim Sudio
Produksi: Maxima Pictures
Pemain: Temmy Rahadi, Debby Ayu, Wichita Satari, Framli Nainggolan, Febriyanie Ferdzilla, Zidni Adam, Buanergis Muryono

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

“Jenglot Pantai Selatan” membagi film dalam dua babak. Babak pertama menyuguhkan sensualitas, babak kedua menyajikan kebodohan cerita yang diwakili oleh aksi-aksi absurd para karakternya serta adegan-adegan tidak logis. Yang pertama memang berhasil, walau buat saya pribadi bukan sebuah prestasi. Toh sutradara mana pun bisa melakukannya, tinggal membekali diri dengan deretan artis yang berani berpakaian terbuka atau mengenakan baju dalam (lingerie) serta awak kamera yang tahu sudut-sudut pengambilan gambar yang bisa membuat jiwa pria bergejolak.

Simak bagaimana film dibuka dengan 2 wanita yang berkeliaran di dalam rumah dengan hanya menggunakan pakaian dalam. Ada 1 orang pria di sana, kekasih salah satunya. Lalu kenapa wanita yang lain berani tampil buka-bukaan di depan pria yang bukan siapa-siapanya? Entahlah.

Simak juga bagaimana sosok seorang wanita pencari kerang berbikini digambarkan asyik berpose sensual di pantai. Mulai dari berbaring sembari membelai tubuhnya sendiri tanpa alasan yang jelas, hingga merangkak ke sana kemari di pasir demi memamerkan belahan dada mengambil kerang yang berserakan.

Di satu sisi, saya perlu acungkan jempol karena film ini cukup niat dengan menghadirkan banyak figuran. Setidaknya suasana pesta benar-benar terasa seperti pesta. Di sisi lain, dengan banyaknya figuran yang bersliweran di set lokasi, sutradara masih memilih untuk mengulang-ulang footage kegiatan mereka (sama seperti di “Taring”) ketimbang memperkaya film dengan footage yang bervariasi.

Bertebarannya figuran dengan pakaian seksi sepertinya membuat semua orang yang terlibat dalam pembuatan film ini menjadi tidak fokus. Beberapa bagian cerita tidak konsisten. Mengenai lokasi villa yang ditempati Randy dkk misalnya. Di salah satu adegan, Randy dan Temmi bisa dengan cepat tiba di villa, sementara di adegan lain Josh dan Denisa membutuhkan waktu lama untuk menuju ke sana. Bahkan sepertinya menggunakan jalur yang sama sekali berbeda. Ajaib.

Yang lebih parah adalah tidak sedikitnya tindakan-tindakan bodoh di luar nalar yang dilakukan oleh para karakternya. Ayolah. Mana ada orang waras yang ketika mendengar suara misterius di dalam lubang akan memutuskan untuk MEMASUKKAN TANGANNYA ke dalam lubang tersebut. Gak perlu jauh-jauh mikir bakal ada jenglot di dalamnya. Kemungkinan adanya ular di dalamnya jelas pemikiran yang lebih normal.

Tindakan bodoh ini masih ditambah dengan adegan-adegan bodoh yang bikin garuk-garuk kepala. Di awal, Temmi membuka internet untuk mencari informasi mengenai jenglot. Bukannya halaman situs web, yang lantas ditunjukkan di layar komputer adalah halaman dokumentasi Microsoft Word. Kelihatan jelas dari kata-kata berbahasa Indonesia yang mendapat garis bawah merah karena tidak ada di dalam dictionary.

Ada pula sosok penjaga pantai yang dibunuh jenglot tanpa ada seorang pun yang menyadari. Padahal jelas-jelas tidak jauh di belakangnya ada beberapa orang sedang beraktivitas.

Lebih lucu lagi saat menjelang akhir, ketika seorang wanita diserang jenglot hingga tangan kirinya sisa tulang belulang. Reaksi pertama orang-orang di pantai adalah menyatakan itu ulah IKAN HIU. Semua berhamburan ke sana kemari. Saat Randy menanyakan ke salah satu orang yang panik, ia menyebut ada BUAYA di pantai. Begitu sampai di pantai, orang lain menyatakan ada JENGLOT. Bisa gak kompak gitu dialognya.

Babak pamungkas pun diwarnai dengan kejanganggalan. Tidak seperti saat menyerang orang lain, jenglot hanya menyerang karakter Randy dan Temmi sekenanya. Gigit gigit, lalu pergi. Padahal sebelum sebelumnya ia selalu menyerang dengan niat membunuh. Belum lagi karakter Temmi yang bisa tetap berjalan bahkan berlari normal meski kedua kakinya habis digigiti jenglot. Sakti, ges.

Selain footage kegiatan di pantai, pola horor yang digunakan repetitif. Entah berapa kali ada karakter yang menjulurkan tangannya, baik itu ke dalam lubang atau ke kolong meja / kursi. Aksi jenglot menghabisi nyawa manusia juga begitu-begitu saja. Cuma satu yang memorable, saat salah satu karakter yang masih mabuk mengira jenglot yang ada di hadapannya adalah sosok yang imut dan cute.

Bagaimana dengan akting pemainnya? Mampukah menutupi cerita yang jauh dari kata solid? Sayangnya tidak. Malah sebaliknya, membuat film secara keseluruhan bertambah hancur. Jangankan tampil mengesankan. Untuk meyakinkan dan membuat saya bersimpati saja gagal. Eh, kecuali satu ding. Putri Farmer yang berperan sebagai Cecil. Dapet banget kepribadian karakternya yang lugu dan loveable.

Penutup

Saya mulai paham kenapa adegan cuci mata banyak diselipkan ke dalam film horor lokal. Setidaknya bisa menghabiskan durasi beberapa menit tanpa perlu ada cerita yang jelas. Cocok diterapkan pada naskah skenario yang dangkal dan kurang eksplorasi. Seperti halnya “Jenglot Pantai Selatan”. Cerita yang berantakan digenapi dengan akting yang tidak memukai serta elemen horor yang membosankan. Satu-satunya pelajaran yang saya dapat dari film ini adalah bahwa hiu merupakan binatang yang setia pada pasangannya. 2/10 untuk itu.

Catatan: rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply