Review Film Taring (2010)

Setelah menghadirkan “Air Terjun Pengantin” di tahun 2009 yang sukses menghipnotis penonton untuk berduyun-duyun datang ke bioskop berkat adanya Tamara Bleszynski di jajaran pemain, sutradara Rizal Mantovani kembali mencoba bereksperimen dengan menghadirkan sub genre baru yang ia sebut sebagai creature thriller. Adalah “Taring: Dedemit Dari Hutan Werenggeni” yang menjadi bahan uji cobanya. Dengan poster yang sekilas mengingatkan kembali pada film yang disebut di awal, berhasilkah “Taring” menakut-nakuti penontonnya? Atau malah sama sekali tidak layak untuk ditonton? Simak deh sinopsis dan review singkatnya di bawah ini.

Sinopsis Singkat

Review Film Taring (2010)

Untuk memperkenalkan lini produk lingerie terbaru dari Heaven’s Secret, Alex (diperankan oleh Meidian Maladi) mengajak temannya, Damian (diperankan oleh Dallas Pratama), seorang fotografer handal, untuk melakukan pemotretan di Hutan Werenggeni yang keindahanan alamnya masih jarang terjamah manusia. Sebagai modelnya, Damian menunjuk Farah (diperankan oleh Fahrani), mantan kekasihnya; Wiwid (diperankan oleh Shinta Bachir), wanita yang sedang menjalin hubungan dengan Alex; serta Gabriella (diperankan oleh Rebecca), modal ternama yang baru kembali dari Belanda. Untuk mengasah kemampuan adiknya, Inggrid (diperankan oleh Reynavenzka), Damian juga mengajaknya turut serta sebagai asisten.

Tiba di bandara lokal, semua penduduk tampak panik dan ketakutan. Seorang dukun terlihat tengah merapal mantra-mantra. Pemandu yang tadinya sudah disiapkan untuk mengantar Damian dkk menolak untuk berangkat karena takut. Pada akhirnya, ia dan seluruh kru lainnya berangkat sendiri ke tengah hutan.

Keanehan mulai terjadi di malam pertama. Menginap di desa buatan yang dulunya dipakai oleh sekelompok peneliti yang lantas menghilang begitu saja, salah satu kru yang berjaga tiba-tiba lenyap tanpa bekas. Hal itu ternyata hanyalah permulaan. Usai pemotretan, satu demi satu anggota kru menemui ajal di tangan dedemit yang selama ini menghuni hutan Werenggeni.

Dalam usahanya bertahan hidup, Farah menyadari kelemahan dedemit akan cahaya. Ia pun pada akhirnya menjadi satu-satunya yang bisa selamat, lolos setelah membakar dedemit dengan api, lantas menusuk kepalanya dengan kayu.

Tanggal Rilis: 29 April 2010
Durasi: 90 menit
Sutradara: Rizal Mantovani
Produser: Gope T. Samtani, Subagio S.
Penulis Naskah: Alim Sudio
Produksi: Rapi Films
Pemain: Fahrani, Rebecca, Shinta Bachir, Dallas Pratama, Meidian Maladi, Reynavenzka

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Sebuah adegan pembuka menggambarkan dengan jelas apa yang akan dihadapi oleh para karakter di utama di film “Taring”. Sayang aksi si bocah dalam menangkap ayam agak lebay. Pun begitu dengan cipratan darah yang tampak kurang real.

Awal yang menjanjikan langsung terbanting dengan adegan event fashion show lingerie di kolam renang yang musiknya terasa sama sekali tidak nyambung. Sudah terlihat bahwa ini hanyalah awal dari hadirnya adegan-adegan lain yang sekedar memamerkan bodi mulus pemeran wanitanya, ketimbang menonjolkan kemampuan akting mereka.

Bekal menonton puluhan film horor Indonesia sepertinya cukup mengasah insting saya. Tebakan tersebut benar adanya. Puncaknya adalah adegan pemotretan lingerie di tengah hutan yang sengaja disuguhkan dalam durasi yang lumayan memakan waktu. Parahnya, Rizal Mantovani sendiri, sang sutradara, terlihat agak malas melakukannya karena ada beberapa shot yang diulang. Adegan tersebut lantas ditutup dengan menceburnya ketiga model ke air dan melepaskan lingerie mereka.

Jauh-jauh ke hutan terpencil hanya untuk melakukan sesi pemotretan semacam itu agak sulit saya nalar. Apalagi para model yang dengan pedenya bisa berjalan menyusuri hutan dengan modal pakaian mini. Sutradara atau penulis naskah kayaknya gak tahu kalau ada binatang namanya lintah, kali ya.

Cerita jadi makin terlihat dipaksakan dengan rentetan adegan bodoh dan menggelikan. Lihat bagaimana pesawat Hercules yang mengantarkan dari Jakarta bisa dengan santainya parkir di tengah-tengah perkampungan penduduk lokal yang diklaim sebagai bandara. Atau bagaimana tidak ada satu pun dari tim pemotretan plus model yang curiga dengan penduduk lokal yang saat itu sedang panik. Atau saat salah satu kru tiba-tiba menghilang. Absurd.

Begitu dedemit mulai melancarkan aksinya, film berubah total menjadi pesta pembantaian yang sebenarnya lumayan seru. Tidak perlu lagi memikirkan soal logika cerita, cukup dinikmati saja satu persatu dari karakter tewas di tangan makhluk hutan yang doyan makan daging manusia itu. Untungnya, solusi permasalahan bisa dinalar. Kelamaan tinggal di dalam pohon yang gelap membuat kaum dedemit hutan Werenggeni tersebut tidak kuat dengan cahaya. Alhasil, lampu blitz kamera maupun lampu sorot jadi andalan bertahan hidup.

Yang menjadi permasalahan utama sebenarnya adalah pemakaian istilah dedemit itu sendiri yang mengarah pada makhluk halus. Jika diasumsikan sebagai penghuni dunia astral, jelas yang disuguhkan dalam paragraf di atas sangat tidak masuk akal. Dedemit mungkin bisa mati terbakar, tapi gak mungkin dong mereka tewas gara-gara digebukin pake kayu.

Akan jauh lebih make sense apabila mereka bukanlah dedemit. Melainkan semacam suku kanibal terpencil yang turun temurun menghuni hutan Werenggeni. Alias manusia biasa. Dengan demikian, selain penampakan dedemit kayang yang kocak sekaligus memorable, hampir semua karakteristik makhluk yang diklaim sebagai dedemit di “Taring” bisa dijelaskan dengan logis.

Selain latar dedemit yang tidak jelas, Rizal di akhir juga terjebak dengan kebiasaan film horor lokal yang tidak ingin cerita berakhir bahagia. Apapun dilakukan biar semua karakternya mati. Dan sayangnya, meski sukses menjadi jump scare yang lumayan mengagetkan, lagi-lagi logika terpaksa dibungkam.

Penutup

“Taring: Dedemit Dari Hutan Werenggeni” harus diakui punya ide cerita yang menarik. Sayangnya, hasil akhir tidak ubahnya kebanyakan film dalam genre sejenis. Naskah yang dangkal dan kurang berani melakukan eksplorasi adalah penyebabnya. Banyak hal yang terlihat dipaksakan. Termasuk penggunaan istilah dedemit sendiri yang justru menjadi blunder. Itu semua didukung dengan penampilan para pemainnya yang membosankan dan di bawah rata-rata. 3/10.

Catatan: rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply