Review Film Hantu Kuburan Tua (2015)

Putri Indonesia 2013, Whulandary Herman, menjalani debutnya di layar lebar melalui film horor “Hantu Kuburan Tua” besutan sutradara Nayato Fio. Meski yang bersangkutan pernah mengikuti ajang Miss Universe 2013 di Moskow, jangan berharap bisa menikmati sajian cuci mata karena era genre horor yang penuh berisi adegan menjurus mesum kebetulan sudah berakhir di tahun 2015 saat film ini dirilis. Lalu bagaimanakah dengan cerita maupun horornya sendiri? Layakkah untuk ditonton? Simak sinopsis dan review singkatnya, ya.

Sinopsis Singkat

Review Film Hantu Kuburan Tua (2015)

Hubungan Laura (diperankan oleh Whulandary Herman) dengan ibunya, Riska (diperankan oleh Keke Soeryo Renaldi), sejak kecil tidaklah akur. Sebuah insiden lantas membuat Laura jengkel dengan kondisi di rumah dan memutuskan untuk pergi bersama kekasihnya, Edwin (diperankan oleh Maxime Bouttier), dan dua orang temannya, Rizal (diperankan oleh Trisa Triandesa) dan Maya (diperankan oleh Vicky Monica). Dalam perjalanan, mobil mengalami kecelakaan sehingga mereka memutuskan untuk mendatangi rumah warga untuk ijin menginap. Rumah yang ternyata bekas panti asuhan tersebut dihuni oleh Sarinten (diperankan oleh Jajang C. Noer). Awalnya bersikap ketus dan dingin, sikap Sarinten berubah total begitu tahu salah satu dari mereka bernama Laura. Sementara itu, Maya yang penasaran dengan ritual Baby Blues memutuskan untuk mencobanya. Dan sejak itulah teror dan gangguan gaib mulai mereka alami satu persatu. Benarkah ritual tersebut pemicunya?

Tanggal Rilis: 17 September 2015
Durasi: 77 menit
Sutradara: Nayato Fio Nuala
Produser: Mohammar Rafdy
Penulis Naskah: Ery Sofid
Produksi: Mitra Pictures, BIC Productions
Pemain: Whulandary Herman, Maxime Bouttier, Trisa Triandesa, Vicky Monica, Jajang C. Noer, Keke Soeryo Renaldi

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Saya pikir “Takut: Tujuh Hari Bersama Setan” adalah karya terburuk Nayato Fio. Ternyata saya salah. Tanpa perlu menunggu terlalu lama, hanya berselang beberapa bulan setelahnya, gelar tersebut diserahkan kepada filmnya yang lain, “Hantu Kuburan Tua”.

Seperti sebagian film-film beliau, ide dasarnya sebenarnya cukup menarik. Tentang sekelompok anak kuliah yang hendak pergi ke suatu tempat namun mengalami insiden di tengah jalan sehingga terpaksa menumpang di rumah warga. Rumah tersebut, yang kebetulan berada di samping kuburan tua, ternyata berkaitan dengan masa lalu kelam salah seorang dari mereka. Kelanjutannya bisa ditebak, mereka dihantui, diteror, dan pada akhirnya menemui ajal.

Masalahnya, belum apa-apa kita sudah disuguhkan dengan ketololan yang luar biasa. Maya, yang penasaran dengan ritual Baby Blues, memutuskan untuk mencobanya di rumah orang yang tidak dikenal dan sudah berbaik hati untuk menampung mereka. Logiskah? Jelas tidak.

Belum lagi adegan banting setir karena adanya lubang maya (alias gak jelas penyebabnya) dan kemudian mobil menabrak batu yang tidak kalah mayanya karena setelah itu tidak terlihat di layar.

Adegan demi adegan teror yang lantas dialami mereka sebenarnya tidak menimbulkan kendala. Terlihat baik-baik saja dan bisa dinikmati. Yang bermasalah adalah respon mereka terhadap itu semua. Kejadian-kejadian gaib tersebut seolah tidak ada artinya bagi mereka, tidak memberi dampak apa-apa. Mau bagaimana lagi, cerita yang dangkal bertemu dengan akting pemain yang datar. Klop jadinya.

Yang paling aneh saat Laura pulang meninggalkan rumah tua. Tanpa curiga ia masuk ke dalam taksi dimana semua temannya terlihat tidak sadarkan diri. Bahkan sampai di rumah, dalam kondisi teman-temannya hanya mematung dengan tatapan kosong, Laura seolah menganggap itu adalah hal yang normal. Padahal, jangankan melihat kondisi Rizal, Edwin, dan Maya, melihat ada taksi tiba-tiba nongol menjemput mereka saja saya sudah curiga.

Kebanyakan penampakan dan lokasi syuting ada di dalam rumah. Kuburan terasa bagai pelengkap saja. Harusnya diberi judul “Hantu Rumah Tua” saja, masih lebih related.

Penutup

Saat seseorang kecewa, di titik tertentu biasanya orang tersebut hanya bisa terdiam dan sudah tidak peduli lagi dengan sesuatu yang sudah membuatnya kecewa. Jujur, itu yang saya alami setelah semalam usai menonton “Hantu Kuburan Tua”. Saking buruknya cerita yang disajikan, saya cuma bengong saja selama beberapa menit. Gak tahu mau komentar apa lagi. Sepertinya untuk sementara waktu saya harus istirahat menonton karya-karya Nayato Fio.

1/10, untuk adegan-adegan horornya yang proper.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply