Review Film Hantu Jembatan Ancol (2008)

Setahun sebelum membintangi “Hantu Rumah Ampera“, Ben Joshua ternyata juga sudah pernah beradu akting dengan Nadila Ernesta di film “Hantu Jembatan Ancol” yang sama-sama bergenre horor. Film ini disutradarai oleh Arie Azis, yang membesut “Tali Pocong Perawan” beberapa bulan setelahnya. Lantas berhasilkah ia mengangkat kembali urban legend mengenai penunggu jembatan Ancol yang cukup populer tersebut? Simak sinopsis dan review singkatnya berikut ini.

Sinopsis Singkat

Meski sudah bertunangan dengan Donna (diperankan oleh Nia Ramadhani), Niko (diperankan oleh Ben Joshua) malah berselingkuh dengan Livi (diperankan oleh Nadila Ernesta) yang tanpa disengaja dikenalnya di sebuah kafe. Hubungan Niko dan Livi semakin intim hingga Livi memberitahu Niko bahwa dirinya hamil. Niko yang panik menjadi emosi dan tanpa sengaja membunuh Livi. Untuk menyembunyikan jejak, ia lantas diam-diam membuang tubuh Livi ke sungai di jembatan Ancol.

Pasca kejadian tersebut, hidup Niko malah makin tidak tenang. Arwah Livi yang penasaran terus-terusan menghantuinya. Bahkan sampai berusaha mengajak Nissa (diperankan oleh Marsha Aruan), adik Niko, bunuh diri, yang untungnya berhasil dicegah Niko. Hal tersebut membuat hubungannya dengan Donna semakin lama semakin renggang. Donna pun akhirnya memutuskan untuk membatalkan pertunangan dan pergi ke Australia menyusul kedua orang tuanya.

Sebelum Donna pergi, Nikko akhirnya mengakui perbuatannya. Donna syok mendengarnya dan berlari keluar rumah. Tanpa disangka, sebuah mobil menabraknya sehingga ia terluka parah dan mengalami koma. Di rumah sakit, saat Niko berjaga di sampingnya, jantung Donna sempat terhenti. Sesaat kemudian, jantungnya kembali berdetak. Niko yang mulanya gembira hanya bisa terdiam begitu mendengar Donna mengucapkan sebuah kalimat yang biasanya diucapkan Livi.

Tanggal Rilis: 31 Januari 2008
Durasi: 90 menit
Sutradara: Arie Azis
Produser: Dhamoo Punjabi, Manooj Punjabi
Penulis Naskah: Aviv Elham
Produksi: MD Pictures
Pemain: Nia Ramadhani, Ben Joshua, Nadila Ernesta, Dennis Adhiswara, Marsha Aruan

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Ini aneh banget sih. Dengan dua pemeran utama yang sama dan waktu rilis yang terbilang tidak jauh berselisih, “Hantu Jembatan Ancol” ternyata punya jalan cerita yang mirip dengan “Hantu Rumah Ampera”. Padahal baik produser, sutradara, maupun penulisnya berbeda. Pun begitu dengan rumah produksinya.

Di “Hantu Rumah Ampera”, karakter yang diperankan Ben berselingkuh dan wanita yang diselingkuhi tewas lantas menjadi hantu. Sementara di “Hantu Jembatan Ancol”, Ben juga memerankan pria yang berselingkuh dengan wanita lain. Bedanya, yang menjadi hantu adalah selingkuhannya itu. Di kedua film ini, Nadila sama-sama menjadi selingkuhan Ben. Ajaibnya, sampai tuntutan si arwah penasaran terhadap Ben tidak berbeda. Keduanya menginginkan agar Ben menjadi milik mereka selamanya.

Untungnya ada satu hal yang menjadi pembeda utama. Kemampuan sutradara dalam membangun suasana mencekam. Arie Azis gagal untuk melakukannya di film ini. Pola penampakannya berulang dan tidak spesial. Ditambah dengan penggunaan tata cahaya yang temaram. Terlalu dipaksakan dan tidak nyambung dengan latar karakter Niko sebagai anak orang berada.

Latar karakter jadi kelemahan kedua dari “Hantu Jembatan Ancol”. Tidak ada penjelasan sama sekali mengenai karakter Niko, Donna, dan Livi. Donna masih mending, setidaknya ada pemberitahuan bahwa orang tuanya pergi ke Australia sehingga untuk sementara waktu ia tinggal sendiri di rumah. Niko hanya diperlihatkan tinggal serumah dengan adik dan pembantunya. Tidak jelas apakah ia kuliah atau bekerja. Fakta bahwa Niko dan Donna bertunangan juga baru terlontar di pertengahan.

Kendati demikian, alur cerita sebenarnya tidak sulit untuk dipahami. Secara keseluruhan masih bisa dimengerti tanpa adanya plot hole yang kentara. Saya hanya agak geregetan saat adegan Niko mandi. Jelas-jelas ia sedang santuy di bawah siraman shower, eh saat beranjak pergi kok malah kelihatan bagian bawahnya memakai handuk. Bisa dong yang sepele semacam ini diakali dengan sudut pengambilan kamera yang lebih pas.

Oh ya, momen geregetan terlintas pula saat Donna tertabrak mobil dengan efek yang begitu lebainya. Meski terlontar jauh, sama sekali tidak ada luka fisik yang ia derita. Justru dahinya yang diperlihatkan lecet. Ajaibnya, saat itu mobil menabrak TUBUH Donna, bukan kepalanya. Ia juga terjatuh dalam posisi terlentang, sehingga dahinya tidak bertumbukan dengan tanah.

Ngomong-ngomong tentang plot hole, saya sempat membaca ada kritikus yang mempermasalahkan beberapa poin dalam cerita. Bagi saya itu agak aneh karena tidak ada masalah sama sekali di poin-poin tersebut. Sekedar membantu meluruskan saja, berikut di antaranya:

  • Jasad Livi disebut sudah diketemukan dan ada di kamar mayat. Jika diingat baik-baik, saat Niko ada di kamar mayat dia sedang diteror oleh arwah Livi. Artinya, jenazah yang ia lihat pada saat itu bukanlah Livi yang asli, melainkan salah satu penampakan dari arwah Livi.
  • Mayat Livi tidak diketemukan di sungai / bawah jembatan. Ini saya juga kurang paham penyebabnya. Bisa jadi terbawa arus karena Niko dan Jojo terlihat hanya mencari di sekitar jembatan saja.
  • Mencari mayat Livi mungkin bisa memecahkan masalah. Ya memang, dari dulu juga seperti itu. Arwah penasaran kemungkinan besar bakal tenang setelah mayatnya dikuburkan dengan layak. Asli saya bingung kenapa ada kritikus yang mempertanyakan hal ini.
  • Tidak ada yang mencari Livi saat dia hilang. Niko diceritakan berpacaran dengan Livi diam-diam. Livi juga ditunjukkan tinggal sendirian. Lantas siapa yang akan mencarinya? Tidak ada. Kalau pun pemilik kafe tempatnya bekerja mencari, apa ya mungkin dia punya nomer telpon Niko. Gak, kan?

Untuk akting, tidak ada yang berkesan sih. Akting Ben Joshua memang lebih baik jika dibandingkan aksinya di “Hantu Rumah Ampera”, tapi ya itu, masih tergolong biasa saja.

By the way, adegan yang melihatkan Kiki Fatmala sebagai cameo asli lucu dan bikin ngakak, hehehe.

Penutup

“Hantu Jembatan Ancol” bisa dibilang tidak jauh berbeda dengan film horor Indonesia pada umumnya. Tidak ada sesuatu di dalamnya yang benar-benar berbeda, apalagi yang terasa istimewa. Ceritanya biasa aja, horornya biasa aja, aktingnya pun biasa aja. Tidak berkualitas tapi masih bisa dinikmati sebagai sebuah tontonan. 3/10.

Catatan: rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

rf hantujembatanancol

Leave a Reply