Review Film Bangsal 13 (2004)

Review ini saya tulis pada masa PSBB akibat pandemi Corona, tepatnya di bulan April. Saya tidak tahu apakah saat dipublikasikan ini kondisinya masih sama atau sudah jadi lebih baik. Yang jelas, di masa-masa #dirumahaja kala itu, seperti halnya kebanyakan orang, kreativitas saya lumayan meningkat. Lebih tepatnya kreativitas untuk mencari film-film horor lawas yang tidak tersedia di layanan streaming, hehehe. Dan salah satu yang saya temukan adalah “Bangsal 13”, film keluaran tahun 2004 yang diproduseri oleh Dimas Djayadiningrat dan menjadi debut Ody C Harahap sebagai sutradara. Seperti apakah filmnya? Simak sinopsis dan review singkatnya di bawah ini.

Sinopsis Singkat

Review Film Bangsal 13 (2004)

Suatu malam, mobil yang dikendarai oleh Nat (diperankan oleh Endhita) dan Mina (diperankan oleh Luna Maya) mengalami kecelakaan. Mereka segera dibawa ke sebuah rumah sakit bersama dengan seorang wanita bernama Reta. Tak lama datang juga beberapa orang pasien yang dikabarkan mengalami kecelakaan di tol. Akibat kekurangan kamar, dokter Azis (diperankan oleh Andhika) meminta perawat untuk buka kamar bangsal 13 yang sudah tertutup selama 20 tahun. Nat dan Mina termasuk di antara mereka yang diinapkan di kamar tersebut.

Karena tidak bisa tidur, Nat menuju kamar mandi bangsal untuk merokok. Tiba-tiba terdengar suara ketukan keras dari sebuah pintu kecil yang ada di lantai. Saat dihampiri, muncul suster Frida (diperankan oleh Lia Chandra) yang meminta agar pintu tersebut jangan sampai dibuka. Sepeninggal suster Frida, suara ketukan kembali terulang. Nat yang kesal akhirnya membuka pintu tersebut dan tidak menemukan apa-apa di dalamnya.

Sejak kejadian tersebut, baik Nat maupun Mina mulai mengalami gangguan dari makluk gaib yang berwujud suster ngesot. Bahkan Val (diperankan oleh Bayu Wahyudhi), kekasih Nat, yang iseng mengetuk pintu padahal sudah dilarang oleh suster Frida, ikut tewas di tangan si hantu. Teror terus berlanjut hingga pada akhirnya suster Frida menceritakan rahasia tragis di balik tertutupnya pintu sekaligus bangsal 13 itu. Dan untuk bisa terbebas, Nat dan Mina harus menyegel kembali pintu tersebut.

Saat berusaha untuk melakukannya, Nat ditarik oleh arwah suster penasaran hingga masuk ke dalam lubang. Mina tidak kuasa menahannya sehingga hanya bisa meratapi kepergian sahabatnya itu. Setelah menyegel pintu kecil tersebut, Mina berlari keluar dari rumah sakit sembari berteriak histeris. Sementara itu, Nat yang terkurung di dalam, mendapati banyak mayat di dalamnya. Salah satunya adalah seorang perawat dengan label nama Frida.

Tanggal Rilis: 2004
Durasi: 94 menit
Sutradara: Ody C Harahap
Produser: Dimas Djayadiningrat
Penulis Naskah: Gunnar Nimpuno, Ody C Harahap
Produksi: Rexinema Multimedia Pratama
Pemain: Endhita, Luna Maya, Andika, Bayu Wahyudhi, Lia Chandra, Erka

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Siapa sangka, film paling horor yang mengangkat sosok hantu suster ngesot ternyata justru datang dari film yang judul maupun kisahnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan suster tersebut. Sutradara Ody C Harahap berhasil membangun suasana yang mencekam sepanjang film dengan baik dengan tidak terlalu boros menyajikan penampakan. Bahkan suster ngesot-nya sendiri hampir tidak pernah ditampilkan wujudnya secara utuh. Kalau tidak kakinya, ujung kepalanya, tangannya, atau hanya siluetnya.

Sayangnya, Ody sepertinya kurang pede bahwa yang seperti itu cukup untuk menakut-nakuti. Ia menambahkan satu sosok hantu lain, yang mirip kuntilanak (dengan pakaian serba putih), yang membuat cerita jadi tidak konsisten. Yang terpanggil adalah arwah penasaran si suster, kenapa datangnya malah sepaket dengan mbak kunti?

Ceritanya sendiri bisa dibilang klise. Menggunakan salah satu template film horor yang umum. Melibatkan sebuah pintu di sebuah bangunan yang tidak boleh dibuka. Dan seperti biasa, ujung-ujungnya pintu tersebut dibuka. Bisa ditebak, setelahnya teror gaib mulai bermunculan.

Yang menarik, latar rumah sakit dan ruangan yang sudah tertutup selama 20 tahun sama persis dengan cerita “Suster Ngesot The Movie” (2007). Kalau pun yang dirilis belakangan itu meniru, mbok ya jangan disamakan sampai jumlah tahunnya segala lah.

Di awal sebenarnya saya sudah menaruh harapan pada “Bangsal 13” ini. Reaksi Nat saat tahu dirinya diinapkan di bangsal yang terlihat kusam sesuai dengan yang saya harapkan. Hal itu yang saya kritik dalam “The Secret: Suster Ngesot Urban Legend“, dimana karakter yang merupakan putri orang kaya sama sekali tidak bereaksi saat tahu dirinya diletakkan di kamar bangsal. Meski ujung-ujungnya tetap menginap di bangsal, setidaknya Nat masih mempertanyakan keberadaan ruang VIP (yang ternyata tidak tersedia).

Sayangnya, dengan cerita yang wajib terjadi di kamar tersebut, penulis Gunnar Nimpuno sepertinya kebingungan memberi alasan agar Nat dan Mina tidak meninggalkannya. Alhasil, alasan-alasan bodoh dan tidak meyakinkan yang dipakai. Film jadi terasa dragging terutama di babak kedua.

Langkah lain yang diambil adalah menyertakan satu karakter lain, Reta, yang dirawat di ruang intensif. Belakangan baru diketahui bahwa Reta bukanlah teman Mina dan Nat, melainkan justru korban tabrakan dari mobil mereka berdua. Sampai akhir pun tidak ada kejelasan nasib Reta. Terus apa faedahnya dia diselipkan ke dalam cerita?

Banyaknya adegan yang mengulur waktu serta dialog yang tidak meyakinkan membuat secara keseluruhan film ini jadi terasa membosankan. Padahal, tidak hanya berhasil membangun suasana horor yang mencekam, “Bangsal 13” mampu menghadirkan twist yang lumayan. Sudah bisa tertebak sih sedari awal hadirnya karakter Frida, tapi masih oke lah. Lokasi syuting juga diperhatikan dengan serius. Beneran mirip suasana di sebuah rumah sakit. Tidak versi hemat budget seperti kebanyakan film horor jaman sekarang dimana orang yang bersliweran bisa dihitung dengan jari.

Terakhir, untuk akting pemain, saya rasa aksi mereka terhalang dialog yang tidak mendukung. Terasa datar dan begitu begitu saja. Gak jelek jelek amat sebetulnya. Cuma tidak berkesan.

Ngomong-ngomong, ini salah satu dialog geblek yang sempat saya catat. Terjadi saat Nat dan Mina dikejar-kejar hantu lantas bertemu dengan suster Frida.

Suster Frida: Belum waktunya pulang. Dia akan terus mengikuti kalian.
Nat: Pihak rumah sakit, ya?

Woooi. Emangnya dia pikir dari kemarin-kemarin yang neror itu orang rumah sakit apa???

Penutup

Unsur horor memang penting dalam sebuah film bergenre horor. Namun bukan berarti unsur-unsur lain sah untuk dilupakan. “Bangsal 13” berhasil menyuguhkan suasana mencekam di layar, walau sayangnya gagal mempersembahkan cerita yang solid dan meyakinkan. Bisa jauh lebih baik hasilnya jika naskah skenario digarap lebih serius. 5/10.

Catatan: rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

One Response - Add Comment

  1. Avatar

Reply