Review Film Asih 2 (2020)

Setelah lebih dari 3 bulan, “Asih 2” akhirnya hadir juga di salah satu layanan digital video streaming. Tepatnya di Disney+ Hotstar. Saya yang tidak bisa menontonnya langsung di bioskop tentu saja langsung gercep duduk manis di depan layar komputer, hehehe. Apalagi sebagian besar review yang beredar memberikan nilai yang cukup baik untuknya. Benarkah demikian? Simak deh, sinopsis / alur cerita serta resensi singkatnya di bawah ini. Cekidot!

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Sinopsis Singkat

poster asih 2

Beberapa hari setelah kejadian di film “Asih”, hantu Asih (diperankan oleh Shareefa Daanish) kembali mendatangi kediaman pasangan Ita dan Andi. Ia lantas membunuh keduanya dan membawa bayi mereka, Amelia, pergi. Ibu Ita (diperankan oleh Marini) sendiri syok dengan kejadian tersebut.

Tujuh tahun kemudian, seorang anak perempuan menjadi korban tabrak lari di tengah hutan. Pernah mengalami kejadian serupa dengan putri kandungannya yang kemudian meninggal, dokter Sylvia (diperankan oleh Marsha Timothy) memutuskan untuk mengadopsi anak perempuan tersebut dan memberinya nama Ana (diperankan oleh Anantya Rezky). Walau sempat ragu, Razan (diperankan oleh Ario Bayu), suaminya, menyetujui keputusan Sylvia.

Sejak tinggal di rumah, Ana seringkali berperilaku aneh. Mulai dari lebih suka makan di lantai dengan menggunakan tangan, tertawa-tawa sendiri, hingga tiba-tiba tidur di atas lemari.

Belakangan terungkap bahwa Ana sebenarnya adalah Amelia, bayi yang dulu diculik oleh Asih. Selama ini, Ana ternyata diasuh oleh Asih. Ana sendiri juga menganggap Asih sebagai ibunya.

Untuk mendapatkan Ana kembali, Asih berkali-kali meneror Razan dan Sylvia. Puncaknya, Ana justru lebih memilih Sylvia sebagai ibunya. Hal itu membuat Asih sedih.

Mak Ipah (diperankan oleh Ruth Marini) yang dulu pernah bekerja bersama Asih dan sudah menganggap Asih sebagai putrinya sendiri berhasil meyakinkan Asih agar mengikhlaskan semuanya. Arwahnya pun menghilang dan tidak lagi mengganggu Sylvia dan Razan.

Tanggal Rilis: 24 Desember 2020
Durasi: 104 menit
Sutradara: Rizal Mantovani
Produser: Manoj Punjabi
Penulis Naskah: Lele Laila
Produksi: MD Pictures, Pichouse Films
Pemain: Shareefa Daanish, Marsha Timothy, Ario Bayu, Anantya Rezky, Ruth Marini, Graciella Abigail, Ully Triani, Darius Sinathrya, Marini, Inggrid Widjanarko, Kenya Nindia, Sarah Presli

Review Singkat

Yang bikin gatel dulu.

Pertama, adegan rebutan Ana antara Asih dan Sylvia. Masing-masing saling mengklaim kalau itu anaknya. Alih-alih mengharukan atau menegangkan, saya justru geli karena faktanya Ana bukanlah anak kandung keduanya.

Kedua, saat nenek Amelia (Ana) mengetahui kedatangan Asih, ia menjedot-jedotkan keningnya ke tembok hingga berdarah. Baik Sylvia, suster Rita, maupun perawat RSJ (yang ada tepat di sebelah nenek Amelia) tidak langsung bereaksi. Padahal jelas-jelas mereka petugas medis yang semestinya tanggap saat ada kejadian semacam itu.

Ketiga, setelah Asih mendapatkan Ana, ia sama sekali tidak membawa Ana kembali ke hutan. Melainkan tetap asik bermain di dalam rumah Sylvia. Padahal selama film berlangsung tidak disebutkan adanya keterkaitan antara rumah tersebut dengan Asih. Ini aneh banget.

Nah, di luar ketiga hal yang disebutkan di atas, “Asih 2” ini BAGUS BANGET. Baik dari segi cerita, akting pemain, hingga urusan jump scare.

Untuk cerita, adegan pembuka film ini menutup dengan baik kisah dalam “Asih” yang bagi saya tidak begitu layak. Aksi karakter paranormal bernama Abah di prekuel tidak meyakinkan sama sekali. Syukurlah jadi terlihat wajar begitu ditunjukkan hantu Asih bisa kembali lagi dengan mudahnya.

Harus diakui ada satu dua bagian yang terasa dragging. Untungnya tidak sampai bikin ngantuk atau malas melanjutkan.

Harus diakui juga, “Asih 2” mungkin satu dari sedikit film horor yang bisa membuat perasaan campur aduk. Terutama di bagian menjelang akhir.

Seperti sebelumnya, jump scare dalam film ini memanfaatkan suara alami yang di momen-momen tertentu volumenya dikeraskan. Sayangnya, Rizal Mantovani kurang bisa menahan diri untuk tidak menggunakan musik latar maupun efek suara tambahan untuk mengagetkan penonton. Padahal adegan-adegan jump scare natural maupun yang hadir secara senyap justru terasa lebih creepy.

Terakhir, untuk akting, ada 3 pemain yang bagi saya pribadi patut diberi acungan jempol. Yaitu Ario Bayu sebagai Razan, Anantya Rezky sebagai Ana, dan terakhir, tentu saja, Shareefa Daanish sebagai Asih.

Terkhusus untuk Ana. Meski kebanyakan aktingnya hanya melibatkan ekspresi senyam senyum, namun malah sukses bikin merinding.

Penutup

Masa pandemi sepertinya dimanfaatkan dengan baik oleh Rizal Mantovani untuk merenungi dan mempelajari kesalahan yang ada dalam karya-karya horornya yang belakangan jauh menurun kualitasnya. Bagi saya, “Asih 2” sukses menasbihkan diri sebagai film terbaik dalam jagat Danur. Baik dari segi kualitas cerita maupun horor. Sayangnya masih ada beberapa kesalahan minor yang membuatnya tidak mampu meraih poin (mendekati) sempurna. 8/10.

Catatan: review serta rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

Last modified on April 4, 2021 10:11 am

Share
Cosa Aranda

Cosa Aranda adalah blogger profesional dari kota Surabaya yang sudah berkecimpung di dunia bisnis online sejak tahun 2005. Sempat beberapa kali menjadi pembicara seminar dan mengadakan workshop pada periode tahun 2007-2010. Saat ini lebih banyak menghabiskan waktu untuk menggeluti hobi dan passionnya di bidang travelling, hiburan, serta permainan arcade. Bisa ditemui di Facebook jika ingin berkenalan.