Review Film 40 Hari Bangkitnya Pocong (2008)

“Pocong 2” (2007) besutan sutradara Rudi Soedjarwo, yang sayangnya belum sempat saya tonton, digadang-gadang merupakan salah satu film horor lokal terbaik di era tahun 2000 ke atas. Judul tersebut merupakan bagian dari kisah trilogi hantu pocong garapan penulis Monty Tiwa. Dimulai dari “Pocong” yang dilarang beredar hingga “Pocong 3” setahun berselang. Nanti pasti akan saya review… kalau sudah nemu layanan video streaming yang menyediakan judul-judul tersebut. Sekarang kita bahas dulu film “40 Hari Bangkitnya Pocong” yang dihadirkan oleh Rudi Soedjarwo di tahun 2008. Seperti apa?

Sinopsis Singkat

Review Film 40 Hari Bangkitnya Pocong (2008)

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Sebuah kecelakaan mobil terjadi. Salah satu mobil terlihat terlempar ke udara dan terbanting dengan keras hingga rusak parah.

Adegan berlanjut ke karakter Jessi (diperankan oleh Sabai Morscheck), seorang teknisi komputer di toko Elektronik Mas. Ia mendapat tugas untuk men-service komputer di rumah Kevin (diperankan oleh Irwansyah). Setibanya di sana, Jessi bertemu dengan tante Kevin, Alice (diperankan oleh Connie Sutedja), yang terlihat tidak suka dengan kehadirannya. Anehnya, sejak itu Jessi mulai dihantui oleh sosok pocong dan kuntilanak. Pun begitu dengan Nino (diperankan oleh Raffi Ahmad), mantan pacar Jessi yang terobsesi untuk balikan dengannya.

Belakangan diketahui bahwa mobil yang mengalami kecelakaan sebelumnya adalah mobil yang dikendarai oleh orang tua Kevin. Salah seorang kerabat Kevin, Tante Ve (diperankan oleh Farida Pasha), seorang paranormal, memberitahu Kevin bahwa pada saatnya nanti pelaku tabrakan tersebut akan datang dengan sendirinya ke rumah mereka. Tanpa disangka, yang datang adalah Jessi. Sebuah kejadian lantas membuat Jessi, yang ternyata mengalami hilang ingatan, sadar bahwa dirinya dan Nino terlibat dalam peristiwa kecelakaan tersebut. Bahkan, liontin yang kini ia bawa, sebenarnya adalah milik ibu Kevin, yang dititipkan kepadanya di saat sekarat. Saat itu Nino memaksa Jessi untuk kabur agar tidak tertangkap oleh polisi. Karena merasa bersalah, Jessi memutuskan untuk berdiam diri di kamar.

Kevin yang mulai jatuh hati pada Jessi berusaha mencari keberadaannya. Rike (diperankan oleh Monique Henry) dan kekasihnya, Eno (diperankan oleh Herichan), lalu mempertemukan Kevin dengan Jessi. Kevin akhirnya tahu mengenai masa lalu Jessi dan marah kepadanya karena pada saat kecelakaan tidak berusaha menolong kedua orang tuanya.

Sementara itu, Jessi, Rike, dan Eno mendapati Nino tiba-tiba menghilang. Khawatir Nino bakal menyerang Kevin, mereka mendatangi rumah Kevin. Di dalam, Jessi menemukan adik Kevin, David (diperankan oleh Griff Padapa), dalam keadaan terluka. Saat kebetulan Kevin menelpon, Jessi memberitahukan kondisi David kepadanya. Betapa kaget Jessi begitu Kevin menginformasikan bahwa sebenarnya David juga telah meninggal dalam kecelakaan mobil.

Panik dihantui oleh pocong dan kuntilanak, Jessi lari dan masuk ke dalam sebuah kamar di loteng. Ia pun syok begitu mendapati tiga buah pocong di dalam kamar tersebut. Selama ini ternyata tante Alice menggali kembali kuburan David dan kedua orang tuanya, untuk kemudian menyimpan jasad mereka di sana karena masih belum bisa menerima kematian mereka.

Di akhir terlihat Nino yang menyetir dalam keadaan mabuk mengalami kecelakaan fatal hingga tewas.

Tanggal Rilis: 6 Maret 2008
Durasi: 90 menit
Sutradara: Rudi Soedjarwo
Produser: Gope T. Samtani, Subagio Samtani
Penulis Naskah: Cassandra Massardi
Produksi: Rapi Films
Pemain: Irwansyah, Raffi Ahmad, Sabai Morscheck, Farida Pasha, Connie Suteja, Ully Artha, Monique Henry, Herichan, Griff Pradapa

Review Singkat

Dengan mempertimbangkan “40 Hari Bangkitnya Pocong” adalah film horor yang hadir jauh sebelum film bergenre serupa menjamur di bioskop, saya tidak akan membahas dan membandingkan soal jump scare-nya. Tidak adil rasanya. Menurut saya pribadi sih tidak seram dan biasa saja. Tapi bisa jadi pada masanya cukup mampu bikin penonton merinding dan gak bisa tidur semalaman.

Eniwei, dari segi cerita, sayangnya sedari awal sudah bikin geregetan. Detil sama sekali tidak diperhatikan oleh sang sutradara. Seperti pemberian nama “Elektronik Mas” untuk sebuah toko dan servis komputer. Adegan kecelakaan yang terlalu didramatisir sehingga menjadi tidak masuk akal. Atau ketika karakter Jessi, yang digambarkan sebagai teknisi komputer, memilih untuk mengecek kabel instalasi listrik ketimbang mencoba terlebih dahulu menghidupkan kembali komputer pada saat komputer yang hendak diperbaiki mati mendadak. Auto diketawain teknisi-teknisi komputer beneran itu. Belum lagi gelas air yang dituang sekelebat oleh karakter Kelvin, namun saat hendak diberikan pada Jessi ternyata sudah terisi penuh. Ajaib.

Sayangnya, keteledoran-keteledoran tersebut terus berlanjut hingga akhir. Agak sulit jadinya menikmati cerita dengan tenang. Ter-distract oleh hal-hal sepele yang seharusnya bisa dihindari. Untung saya sedang tidak mood membuat daftarnya. Bisa panjang artikel ini jadinya.

Jika digarap dengan lebih hati-hati, cerita yang disuguhkan sebenarnya masih bisa diterima. Tidak spesial namun juga tidak membuat muntah. Apalagi tertolong dengan akting trio pemeran utama (Raffi Ahmad, Irwansyah, Sabai Morscheck) yang menurut saya cukup lumayan. Menyegarkan rasanya melihat Raffi membawakan peran di luar zona nyamannya. Lebih baik daripada aksinya dalam “Ada Hantu Di Sekolah“, yang sebenarnya juga masih layak ditonton. Sabai Morscheck tidak kalah meyakinkannya. Malah di beberapa momen saya lebih takut melihat lirikan mata Sabai ketimbang pocong-pocongnya.

Penutup

Animo masyarakat terhadap film horor di tahun 2008 sebenarnya cukup baik. Terbukti dengan raihan 500 ribu penonton selama naik layar. Sayang sekali secara kualitas film “40 Hari Bangkitnya Pocong” berada di bawah standar. Terlalu banyak detil adegan yang tidak diperhatikan sehingga jadi mengganggu kenyamanan untuk menonton. Akting yang tidak mengecewakan dari para pemeran utama ujung-ujungnya terasa sia-sia. 3/10.

Catatan: rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply