Review Film Ada Hantu Di Sekolah (2004)

Menurut mbah Google, hanya ada 4 judul film horor lokal di tahun 2004. “Bangsal 13”, “Di Sini Ada Setan”, “Bunian”, dan, yang akan kita bahas kali ini, “Ada Hantu Di Sekolah”. Film ini disutradarai oleh Nayato Fio (dengan menggunakan nama Koya Pagayo) dan dibintangi oleh beberapa bintang muda seperti Stephanie Pascalia, Raffi Ahmad, dan Gita Puspasari. Bersama dengan Arie K Untung, film ini jadi debut mereka di layar lebar. Lalu seperti apa ceritanya? Seram kah? Simak sinopsis dan review singkatnya di bawah ini.

Sinopsis Singkat

Review Film Ada Hantu Di Sekolah (2004)

Tasya, Monika, Arya, Ardan, Upi, dan Rafael adalah sahabat sejak SMP. Mereka kini bersekolah di SMA yang sama. Suatu hari, Tasya yang ketiduran di kelas dan sempat mendapat mimpi buruk membuatnya dihukum membereskan buku-buku di perpustakaan. Ia pun ditemani oleh kelima orang sahabatnya itu. Saat itu, ada seorang siswi misterius yang membentak mereka. Anehnya, semenjak itu, mereka diteror oleh hantu siswi yang sama, bahkan hingga salah satu di antara mereka meninggal. Apa yang sebenarnya terjadi?

Tanggal Rilis: 23 September 2004
Durasi: 101 menit
Sutradara: Koya Pagayo
Produser: Chand Parwez Servia, Shanker RS Bsc
Penulis Naskah: Ery Sofid
Produksi: Starvision
Pemain: Stephanie Pascalia, Raffi Ahmad, Arie K. Untung, William Alvin, Gita Puspasari, Renny Umari, M. Ikhsan Himawan, Wichita Setiawati, Tiza Radia, Dela Caroline

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Jujur, awalnya saya pesimis. Bisa apa sih film horor di tahun 2000-an seperti “Ada Hantu Di Sekolah” ini. Apalagi Koya Pagayo a.k.a Nayato Fio punya track record yang tidak terlalu mengagumkan di genre tersebut. Menonton tanpa ekspektasi, ujung-ujungnya saya malah dibuat kagum dengan cerita yang baik, chemistry antar pemain yang solid, dialog yang tidak bikin sakit kepala, hingga, yang langka dari film horor lokal, pengungkapan misteri yang mengalir begitu saja tanpa terkesan dipaksakan.

Ya, yang disebut terakhir bisa dibilang merupakan penyakit yang belakang menyerang film horor Indonesia. Bersemangat dalam menjejalkan misteri, namun kedodoran sendiri dalam mencari cara untuk mengungkapkan jawabannya. Mayoritas lantas menggunakan jalur cepat, pilih satu karakter, biasanya karakter utama, lalu bikin dia kerasukan atau mendapatkan penglihatan gaib dalam pikirannya.

Tidak dengan film ini. Satu demi satu misteri terungkap pada momen yang berbeda. Dengan melalui interaksi karakter yang berbeda pula. Prosesnya pun masuk akal dan bisa diterima dengan logika manusia pada umumnya.

Paling suka saat karakter Jonathan yang lepas kontrol dan meracau menceritakan apa yang terjadi di masa lalu. Di awal sebenarnya saya agak ilfil dengan karakter tersebut karena terkesan agak lebay saat berakting panik. Namun begitu memasuki babak ketiga, kemampuan seni peran dari aktor yang bersangkutan seolah meningkat berkali-kali lipat. Meyakinkan banget. Bagai psikopat yang sedang berada di ambang kegelisahan.

Tidak hanya dia saja. Hampir semua pemain utama mampu melakukan tugasnya dengan baik. Chemistry di antara keenam orang sahabat benar-benar bisa dirasakan. Raffi Ahmad yang belakangan kemampuan aktingnya dipertanyakan, ternyata dapat bermain natural dalam “Ada Hantu di Sekolah”. Pun begitu dengan Ardan yang diperankan oleh Arie Untung. Meski menurut saya wajahnya agak kurang pas sebagai siswa SMA, namun misinya sebagai pendorong gelak tawa terselesaikan dengan nyaris sempurna.

Pun begitu, permasalahan mulai muncul saat cerita mendekati akhir. Alur waktu berantakan yang paling terasa. Satpam yang sudah dibunuh lantas sengaja didudukkan di area terbuka dengan kondisi berdarah-darah juga tidak masuk akal. Tapi oke lah, masih bisa dimaafkan. Apalagi dengan adanya credit scene walau hanya sekilas. Langka loh yang seperti itu.

Penutup

Secara keseluruhan, “Ada Hantu Di Sekolah” berhasil menyuguhkan sebuah film horor yang tidak hanya menghibur namun juga berkualitas. Meski menyelipkan unsur komedi yang lumayan, namun sama sekali tidak mengganggu jalannya cerita. Bagian pengungkapan bagi saya patut diberi acungan dua jempol tersendiri. Ditambah dengan chemistry antar pemain yang top, 7/10 adalah nilai yang layak.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply