Pengalaman Menginap di WO Hotel Itaewon, Akomodasi Minim Pegawai di Seoul

Asal memilih kamar hotel yang masih tersedia di daerah Itaewon, Seoul, dengan harga terjangkau, saya malah mendapatkan momen perdana menginap di akomodasi tanpa pegawai. Tepatnya di WO Hotel yang terletak persis di balik Seoul Central Mosque. Sayangnya belum sepenuhnya unmanned, tapi setidaknya sedikit banyak memberi demo pengalaman atas apa yang suatu saat nanti bisa kita harapkan dari hotel sejenis. Seperti apa?

Unmanned Hotel

Unmanned hotel, atau hotel tanpa awak / karyawan, adalah konsep akomodasi modern yang saat ini mulai dikembangkan. Adalah negara Jepang yang awalnya mempelopori pengembangan proyek ini di tahun 2006 silam. Setelah lebih dari satu dekade, baru mulai bermunculan realisasi dari proyek tersebut di berbagai negara. Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah FlyZoo Hotel milik perusahaan raksasa asal negeri Cina, Alibaba.

Di FlyZoo Hotel, tugas para pegawai telah sepenuhnya digantikan oleh robot. Mulai dari proses check-in, check-out, hingga pelayanan kamar (room service). Jadi jangan kaget jika kita memesan makanan atau minuman dan yang lantas mengirimkannya adalah robot.

Untuk saat ini memang belum semua hotel sejenis memiliki kecanggihan setara dengan FlyZoo. Sebagian besar terbatas pada proses check-in dan check-out saja. Ada yang menggunakan WeChat sebagai perantara; ada yang memanfaatkan teknologi RFID pada kartu kredit milik kita sendiri sebagai pengganti kunci kamar; dan ada pula yang mengganti resepsionis dengan semacam vending machine. Yang disebut terakhir inilah yang saya hadapi saat melangkah masuk ke dalam bangunan hotel WO cabang Itaewon.

Di Korea Selatan, atau lebih tepatnya di Seoul, sudah bisa ditemui beberapa akomodasi dengan konsep tanpa awak, khususnya untuk proses keluar masuk tamu.

WO Hotel di Itaewon

Terdapat 4 cabang WO Hotel di kota Seoul, yaitu di daerah Itaewon, Yongsan, Chungjeongro, dan Sookdae. Jaringan hotel ini tidak memiliki situs web resmi sehingga saya tidak bisa mengkonfirmasi. Namun *sepertinya* keempat-empatnya menerapkan sistem resepsionis tanpa awak.

Dari penampakan yang ada di Google, tampilan kamar dan interior dari cabang Yongsan dan Chungjeongro terlihat lebih baik dari cabang Itaweon yang saya inapi. Padahal rata-rata biaya booking per malamnya lebih murah. Lokasi cabang Itaewon juga tidak bisa dibilang strategis strategis amat. Bikin pegel malah. Lha wong pas di atas ‘bukit’.

WO Hotel Itaewon sendiri memiliki 4 lantai. Tidak ada lift untuk berpindah antar lantai. Jadi yang membawa koper dalam jumlah banyak atau yang beratnya di atas rata-rata perlu mempertimbangkan hal ini. Untuk interiornya bernuansa gelap, seperti seragam dengan cabang-cabang yang lain.

Saya lupa memfoto tampak depan hotel tersebut dari depan. Dokumentasi yang ada hanya dari kejauhan saja. Harap dimaklumi, hehehe.

Hotel WO Itaewon dari kejauhan

Meski tidak berada di pinggir jalan besar, tidak terlalu sulit untuk mencari letak hotel ini. Apabila menggunakan subway, kita bisa turun di stasion Itaewon, lantas keluar melalui Exit 3. Lanjut berjalan ke arah timur hingga sampai di perempatan. Belok kanan, lalu belok kiri di perempatan pertama. Tinggal lurus saja. WO Hotel terletak di ujung jalan, pada pertigaan pertama. Walau tidak terlalu besar, papan namanya terlihat jelas kok.

Oh ya, bagi teman-teman yang muslim, Seoul Central Mosque terletak tepat di balik hotel ini. Untuk menuju ke sana, dari pertigaan hotel kita bisa berbelok kanan (atau belok kiri setelah keluar dari hotel). Setelah tiba di ujung jalan, ambil belokan ke kiri. Lurus saja sampai tiba di pintu masuk masjid (di sisi kiri jalan).

Pengalaman Menginap Semalam di WO Hotel Itaewon

Well, mungkin lebih tepatnya pengalaman check-in dan check-out di hotel tanpa pegawai. Toh kalau untuk pengalaman menginapnya tidak jauh berbeda dengan di hotel-hotel lain pada umumnya, mengingat kamarnya cukup bersih dan segala fasilitas yang tersedia berjalan normal.

Kamar hotel

Nah, jadi, pada saat masuk ke hotel ini untuk pertama kalinya, yang saya lakukan tentu saja adalah bengong. Ya bagaimana, tidak ada apa-apa selain semacam vending machine, sebuah kotak berlubang seperti kotak surat, serta sebuah telepon. Saat sedang celingak celinguk, telpon tiba-tiba berdering. Di saat itulah saya baru memperhatikan sebuah tulisan di atasnya (dalam bahasa Korea, Inggris, dan Jepang), yang meminta agar kita mengangkat telpon tersebut apabila berbunyi.

Vending Machine Reservasi Hotel

Saat diangkat, seorang pria menyapa dan menanyakan keperluan saya. Setelah tahu saya hendak check-in dan sudah melakukan reservasi sebelumnya (via Traveloka), ia pun mengkonfirmasi nama dan negara asal saya. Terdengar suara ketukan keyboard dari ujung telpon. Tak lama, ia memandu saya mengoperasikan vending machine yang ada di sana, hingga pada akhirnya sebuah kunci terjatuh keluar dari salah satu lubang!

Itulah kunci kamar saya… yang apesnya berada di lantai teratas, lantai 4.

Bagaimana dengan proses check-out? Ternyata lebih sederhana. Cukup dengan memasukkan kunci tersebut ke dalam kotak berlubang yang sudah tersedia di meja. Praktis.

Saya tidak tahu apakah pada kasus hotel FlyZoo proses pembersihan kamar juga dilakukan oleh robot. Yang jelas, di WO Hotel, yang melakukannya adalah manusia biasa. Saya beberapa kali berpapasan dengan mereka saat keluar masuk hotel.

Untuk kamarnya sendiri, seperti sudah disebutkan di atas, tidak jauh berbeda dengan kamar-kamar hotel pada umumnya. Tidak ada sesuatu yang spesial dan perlu untuk dibahas secara mendetil. Yah, kecuali disediakannya kondom di dalam salah satu rak meja di kamar. Lumayan bisa dibawa pulang.

Kesimpulan

Menginap di WO Hotel Itaewon memberi pengalaman tersendiri bagi saya yang belum pernah menjejakkan kaki di hotel berkonsep unmanned sebelumnya. Bagi yang tidak banyak membawa bawaan dan juga tidak sering sering keluar masuk hotel patutlah untuk mempertimbangkan WO Hotel Itaewon. Apalagi letaknya tidak jauh dengan area muslim yang dipenuhi dengan deretan makanan bersertifikat halal asli. Bukan yang abal-abal seperti yang dipajang oleh para penjual street food di Myeongdong, hehehe.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , , , , ,

Reply