Sinopsis The Legend Of The Blue Sea Episode 2 & Preview Episode 3 (17 November 2016)

Di sinopsis The Legend Of The Blue Sea episode sebelumnya, putri duyung Sim Chung (Jun Ji-Hyun) terbawa badai dan terdampar di pantai dekat villa yang diinapi Heo Joon-Jae (Lee Min-Ho), seorang con-artist ulung, di Spnayol. Joon-Jae yang tertarik dengan gelang giok yang dipakai Sim Chung mendekatinya dan diam-diam merampas gelang tersebut. Ia sempat berniat untuk meninggalkannya di sebuah mall, namun akhirnya mengurungkan niatnya dan menjemputnya kembali. Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama Korea Remember the Blue Sea episode 2 kali ini?

Dok. gambar dan video © SBS of Korea Selatan

Sinopsis Episode 2

Di masa Joseon, walikota Dam Ryung (Lee Min-Ho) sedang menerbangkan lampion bersama anak-anak. Salah satunya tiba-tiba tertiup angin hingga terjatuh ke bebatuan di pinggir pantai. Dam Ryung mengejarnya, berniat hendak menerbangkannya kembali. Ia tidak menduga, di balik lampion tersebut, ternyata ada Sim Chung, putri duyung yang ia selamatkan. Seiring dengan lampion yang kembali terbang ke langit, mereka berdua saling berpandangan.

Itu adalah ikatan takdir yang tidak seharusnya terjadi, tapi karena itu sudah terlanjur dibuat, ikatan takdir tersebut akan terus berlanjut. Mereka akan bertemu lagi.

“Jadi kamu bilang bahwa takdir keduanya akan terus terhubung, dan jika aku terus mengikuti walikota, aku akan bisa menangkapnya lagi,” ujar Lord Yang (Sung Dong-il) setelah mendengar seseorang memberitahunya hal tersebut.

“Kami mengatakan padaku agar tidak takut,” ujar Sim Chung pada Dam Ryung, “tapi sesungguhnya bukankah kamu yang ketakutan?”

“Kamu bisa bicara?” tanya Dam Ryung heran.

“Tidak ada alasan kenapa putri duyung tidak bisa melakukan apa yang manusia biasa.”

“Lalu kenapa kamu tidak mengatakan apa-apa pada hari itu?”

“Aku mengatakannya, tapi itu tidak terdengar.”

Sedikit kilas balik pada saat pertama kali Lord Yang mempertontonkan Sim Chung pada Dam Ryung, saat itu ternyata dalam hati Sim Chung mengatakan “Ku mohon, tolong aku,” pada Dam Ryung.

“Putri duyung bisa mendengar pikiran satu sama lain jadi tidak ada alasan untuk berbicara,” lanjut Sim Chung.

“Kalau begitu bisakah manusia tidak mendengar pikiran putri duyung?” tanya Dam Ryung.

“Jaman dahulu kala, seorang anak laki-laki jatuh cinta pada putri duyung dan mendengar suaranya.”

“Dan apa yang terjadi pada anak laki-laki tersebut?”

Sim Chung tidak menjawabnya. Ia melirik ke kanan, terlihat dari kejauhan anak-anak sedang menuju ke tempat mereka berada.

“Bisakah kita bertemu lagi?” tanya Dam-Ryung.

“Jika lampion harapan melayang di atas lautan, aku akan menganggapnya sebagai sinyal untuk kita bertemu lagi,” janji Sim Chung sebelum ia menyelam kembali ke dalam air.

Anak buah lord Yang, yang ditugaskan untuk memata-matai Dam Ryung, memberitahu Lord Yang bahwa Dam Ryung meminta anak buahnya untuk menyiapkan sesuatu yang aneh. Ia pun membisikkan sesuatu di telinga Lord Yang.

Di sebuah tempat di lautan, di balik pulau-pulau, Sim Chung melihat ratusan lampion berterbangan. Sesaat kemudian, dari balik pulau, Dam Ryung tiba dengan naik perahu.

Di masa kini, saat Joon-Jae memayungi Sim Chung.

“Kamu tahu apa yang paling aku benci? Pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal. Itu sebabnya aku datang, untuk mengucapkan selamat tinggal sebelum pergi, tidak ada alasan lain,” ujar Joon-Jae.

Sim Chung tidak menjawabnya, hanya memeluk tubuhnya sendiri sambil menggigil kedinginan.

“Anyway, aku sudah melakukan tujuanku datang ke sini, jadi aku akan pergi,” lanjut Joon-Jae.

Walau begitu, ia ternyata tidak bisa melakukannya. Ia mengajak Sim Chung untuk naik ke mobilnya dan memberikan jasnya untuk menghangatkan tubuh Sim Chung. Melihat Sim Chung yang masih juga kedinginan, Joon-Jae berhenti di sebuah cafe dan membelikan minuman hangat untuknya.

Setelah mengajarkan pada Sim Chung untuk meniup minuman tersebut agar dingin sebelum meminumnya, Sim Chung pun melakukannya sendiri. Tapi ia malah terus-terusan meniup dengan penuh semangat, sehingga Joon-Jae menyuruhnya untuk langsung meminumnya saja. Ia kemudian mengatakan bagaimana bisa Sim Chung berada di Spanyol tanpa punya tempat tinggal dan sebagainya. Alih-alih mendengar, Sim Chung sibuk meminum kopinya sampai mengangkat gelasnya tinggi-tinggi untuk menghabiskan hingga tetes terakhir. Joon-Jae jadi keki karena sudah berbicara panjang lebar tanpa didengarkan sama sekali oleh Sim Chung.

Mereka tiba di sebuah hotel dimana Joon-Jae menyewa kamar yang cukup besar. Joon-Jae meminta Sim Chung untuk berganti pakaian sementara ia mandi. Bukannya langsung melakukan yang diminta, Sim Chung malah memainkan kartu hotel yang ada di kotak listrik sehingga lampu menjadi hidup mati. Joon-Jae yang sedang mandi jadi kebingungan. Ia lantas keluar dengan mengenakan handuk mandi dan meminta Sim Chung menyerahkan kartu tersebut untuk kemudian ia masukkan kembali ke kotaknya. Berada dalam jarak dekat dengan Joon-Jae membuat Sim Chung tersipu malu. Melihatnya malu-malu, Joon-Jae memintanya untuk tidak melakukannya.

“Tipe idealku adalah wanita intelek,” ujar Joon-Jae, “Sepenuhnya kebalikanmu.”.

Sim Chung tidak menghiraukannya dan tambah terlihat malu-malu kucing dengan tatapan menggoda.

“Jangan melihatku dengan menggoda seperti itu,” ujar Joon-Jae. “Untuk berjaga-jaga seandainya kamu salah paham, aku mengatakan kepadamu dengan jelas. Alasan aku membawamu ke sini adalah karena hari sudah larut, hujan, dan kamu agak tidak beres, jadi ‘Aku akan membiarkannya menginap hanya untuk semalam’. Itu saja! Jadi, ‘Ya Tuhan, pria ini tertarik padaku? Haruskah aku menggunakan kesempatan ini untuk mengikatnya bagaimanapun caranya?’, lepaskan semua harapan fana semacam itu. Bangun dari mimpimu. Aku katakan itu kepadamu!”

Sim Chung masih terus saja tersenyum malu sambil sesekali melirik ke arah tubuh Joon-Jae. Joon-Jae akhirnya tidak tahan lagi dan pergi meninggalkannya dengan risih.

“Dia nafsu,” gumam Joon-Jae saat masuk ke kamarnya.

Sim Chung sendiri kemudian melihat-lihat isi kamar. Ia sempat melompat kaget mendengar ponsel Joon-Jae yang tiba-tiba berbunyi. Yang menelpon adalah Cha Si-ah (Shin Hye-sun) dari rumahnya. Ibunya, yang melihat Si-Ah kembali menelpon Joon-Jae, menyindirnya. Si-Ah tidak menanggapi dan mengatakan akan pergi ke lab KAIST dan bekerja di sana hingga larut. Ibunya dengan kesal mempertanyakan mengapa ia tidak melanjutkan saja ke sekolah medis ketimbang melakukan konservasi sains. Si-Ah menjelaskan bahwa keduanya sama saja, sama-sama bertujuan untuk meningkatkan daya hidup. Ibunya pun lantas memintanya untuk segera pergi saja.

Kawan ibunya yang kebetulan ada di sana dan mencuri dengar pembicaraan mereka kemudian menceritakan bahwa anaknya juga lulusan KAIST.

“Anak yang selalu kamu banggakan, yang kamu bilang sangat tampan?”

“Ya. Saat anakku masih kecil, matanya terlihat sangat indah. Saat aku membawanya keluar, sulit untuk berjalan 10 langkah meninggalkannya karena orang-orang terus menanyakan apakah mereka boleh menggendong atau memegangnya.”

“Anak itu bahkan bagus dalam pendidikannya? Sangat sulit bagi naga untuk lahir dari aliran sungai kecil.”

“Itu bukan aliran kecil. Itu adalah laut biru yang sangat luas.”

“Apa yang kamu katakan? Apakah kamu punya latar belakang hebat yang aku tidak tahu?”

Temannya tidak menjawabnya.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Seseorang mengabarkan bahwa kawan mereka yang lain, Jin Ok (Kim Sung-ryung), tidak jadi datang karena baru saja kena scam. Pelakunya siapa lagi kalau bukan Joon-Jae dan komplotannya di episode 1 lalu. Di kantor perusahaan Myeong Dong Capitol milik suaminya, Jin Ok yang tidak terima dengan hal itu meminta anak buahnya untuk menangkap orang yang sudah menipunya, terutama Joon-Jae.

Joon-Jae sedang asyik menonton film di laptop. Dari belakang tiba-tiba Sim Chung mendatanginya dan merebut laptop tersebut. Ia heran melihatnya. Setelah sempat menggoyang-goyangkan laptop tersebut saking penasarannya, semalaman ia menghabiskan waktunya untuk menonton berbagai film yang ada di sana. Mulai dari film action, film kung fu-nya Bruce Lee, pertandingan tinju, dan sebagainya.

Hari pun berganti. Joon-Jae yang baru bangun dari tidurnya kaget mendapati Sim Chung yang masih saja berada di sofa sembari menutup film. Matanya hitam karena tidak tidur semalaman. Joon-Jae hendak mengambil kembali laptop tersebut agar Sim Chung berhenti menonton film, tapi Sim Chung memeganginya dengan erat.

Ponsel Joon-Jae berbunyi. Jo Nam-Doo (Lee Hee-joon) yang menelpon, mengabari bahwa orang-orang dari Myeong Dong Capitol baru saja dikirim ke Spanyol untuk menangkap Joon-Jae. Dengan panik Joon-Jae bergegas mengemas barang-barangnya. Ia lalu pergi setelah berpesan pada Sim Chung untuk melanjutkan perjalanan mereka sendiri. Sim Chung kebingungan melihatnya. Namun tak lama kemudian Joon-Jae kembali masuk ke kamar. Gara-garanya, orang-orang Myeong Dong ternyata sudah berdatangan dan mengepung hotel tempat mereka menginap.

Setelah menenangkan dirinya, Joon-Jae mendapat ide. Dengan menggunakan barang-barang yang ada di kamar, ia membuat tiruan bom waktu. Orang-orang Myeong Dong yang masuk ke kamarnya pun langsung kaget melihat ada bom waktu yang timernya hampir mendekati angka nol. Mereka segera bertiarap sambil ketakutan. Tapi begitu waktu habis, yang ada hanyalah alarm jam yang berbunyi. Saat itulah mereka sadar bahwa Joon-Jae sudah kabur lewat pintu belakang.

Pengejaran pun dimulai. Joon-Jae berlari di pantai bersama dengan Sim Chung, sementara di belakang mereka gerombolan Myeong Dong mengejar. Sim Chung yang tidak tahu apa yang terjadi tersenyum-senyum saja mengikuti Joon-Jae.

Pengejaran berlanjut hingga ke kota. Setiap ada yang mendekat, Sim Chung langsung menghajar mereka. Melihat ada sepeda menganggur di pinggir jalan, Joon-Jae segera mengajak Sim Chung untuk menaikinya. Sambil tersenyum senang, Sim Chung duduk di goncengan belakang sembari memeluk Joon-Jae.

Seiring perjalanan keduanya menggunakan sepeda sambil dikejar oleh gerombolan Myeong Dong, terdengar lagu backsound ‘Clair’ dari Gilbert O’Sullivan.

Tanpa sadar bahwa Sim Chung di belakang beberapa kali menendang dan memukul pengejar Myeong Dong, Joon-Jae berhenti dan membanggakan kecepatannya dalam bersepeda hingga akhirnya bisa meninggalkan mereka semua.

“Tapi, yang perlu kamu sadari adalah ini semua berkatKU bahwa kita bisa keluar dari sini,” ujar Joon-Jae pede. “Tidak mungkin pria lain bisa melakukannya.”

Sim Chung hanya tersenyum. Mereka pun kembali melanjutkan perjalannya. Di sebuah tangga turunan, tiba-tiba sebuah mobil yang berisi tiga orang suruhan Myeong Dong datang menghadang. Dengan gaya gentleman, Joon-Jae meminta Sim Chung untuk bersembunyi sementara ia melawan mereka.

Dari arah belakang tiba-tiba hadir pula tujuh orang gerombolan Myeong Dong. Sim Chung menghadapinya dengan menggunakan berbagai jurus yang sudah semalaman ia pelajari di film. Termasuk tinju dan gaya ala Bruce Lee. Satu demi satu orang-orang Myeong Dong berterbangan ke angkasa terkena pukulan dan tendangan dari Sim Chung.

Dengan bersusah payah Joon-Jae akhirnya bisa mengalahkan ketiga orang musuhnya. Ia menoleh ke arah Sim Chung dan membanggakan pukulannya kepada Sim Chung, tidak sadar bahwa ada beberapa orang musuh mereka yang sedang nyantol di balkon akibat terkena hajaran Sim Chung. Seseorang lantas keluar dari mobil dengan menodongkan pistol. Joon-Jae mencoba menggunakan jurus hipnotisnya, tapi tidak mempan. Ia pun Joon-Jae tidak lagi bisa berkutik dan pasrah saat dibawa masuk ke dalam mobil.

Melihat hal itu, Sim Chung mengambil kembali sepeda yang tadi mereka gunakan dan mulai menyusul Joon-Jae. Dengan kekuatannya, ia bisa menyusul mobil yang sedang melaju kencang tersebut dan menghadang di depannya. Si pembawa pistol meminta agar Sim-Chung ditabrak saja, tapi Joon-Jae yang diam-diam bisa melepaskan diri dari ikatannya segera menyerang sopir mobil dan mengarahkan setirnya sehingga bisa menghindari Sim Chung. Mobil pun akhirnya menabrak kotak telpon umum dan berhenti.

Joon-Jae buru-buru keluar dan merebut pistol lalu naik ke boncengan Sim Chung. Mereka pun kembali pergi dengan dikejar-kejar oleh si pemilik pistol tadi dan tiga rekannya. Tak lama Joon-Jae dan Sim Chung tiba di sebuah perkebunan. Ada semacam labirin di sana. Joon-Jae mengajak Sim Chung untuk masuk ke sana untuk bisa menghindar dari pengejar mereka. Sembari mengendap-endap, Joon-Jae meminta agar nanti Sim Chung menyerahkan kepadanya jika nanti mereka bertemu musuh mereka di depan. Tanpa disangka, empat orang suruhan Myeong Dong justru muncul dari belakang mereka. Di luar sepengatahuan Joon-Jae, Sim Chung mengatasi mereka satu demi satu.

Joon-Jae yang terus saja berjalan baru menyadari bahwa Sim Chung tidak lagi ada di belakangnya. Ia pun segera kembali untuk mencari Sim Chung, yang kemudian ia temui dalam keadaan rambut terdapat beberapa daun, bekas aksi pertarungannya. Tanpa basa-basi, Sim Chung menggandeng tangan Joon-Jae dan membawanya kembali keluar dari labirin, ke tempat sepeda mereka berada. Joon-Jae heran sekaligus kagum Sim Chung bisa membawa mereka keluar dari sana. Setelah memujinya, ia mengambil satu persatu daun yang ada di rambut Sim Chung. Sim Chung memperhatikannya sembari tersenyum senang.

Joon-Jae dan Sim Chung kembali lagi ke kota. Melihat penjual es krim, Sim Chung turun dari boncengannya dan ikutan mengantri untuk membeli. Tidak tahu harus membayar, ia cuek saja hendak pergi sesaat setelah menerima es krimnya. Penjual pun mengomelinya sambil memeganginya agar tidak kabur. Joon-Jae akhirnya membayarkan es krim tersebut, dengan uang-uang receh tersisa yang ada di kantongnya.

Sementara Sim Chung asyik menikmati es krim tersebut sambil menjejak-jejakkan kakinya kegirangan, Joon-Jae menelpon rekannya untuk meminta bantuan karena saat itu ia sedang tidak pegang uang sama sekali dan tidak bisa menggunakan kartu kredit atau telponnya karena sedang diawasi.

Joon-Jae dan Sim-Chung tiba di sebuah gereja. Rekannya, yang ternyata juga sesama con-artist (penipu), saat itu sedang berpura-pura menjadi pengurus gereja dan menyambut rombongan jemaat. Begitu melihat Joon-Jae datang, ia langsung menyambutnya dan memperkenalkan Joon-Jae sebagai seorang pendeta yang banyak melakukan kegiatan kemanusiaan di luar negeri. Para jemaat kagum mendengarnya.

Joon-Jae lantas memperkenalkan Sim Chung sebagai istrinya, yang menjadi bisu dan terganggu mentalnya akibat kecelakaan beberapa tahun lalu. Para jemaat sedih mendengarnya.

“Kapan aku bisa mendengar suaranya lagi?” ujar Joon-Jae berpura-pura sedih.

“Halo, senang bertemu dengan kalian. Cuacanya sangat panas,” tiba-tiba Sim Chung berbicara.

Semua yang ada di sana langsung terdiam. Terutama tentu saja Joon-Jae, yang kaget sekaligus keki.

Joon-Jae membawa Sim Chung keluar dan mempertanyakan mengapa ia bisa tiba-tiba berbicara padahal selama ini selalu diam saja.

“Kamu bilang kamu ingin mendengar suaraku,” jawab Sim Chung.

“Itu benar. Itu benar. Tapi…” respon Joon-Jae.

“Tapi… apa itu ‘istri’? Kamu bilang aku adalah istrimu.”

“Bukan apa-apa. Itu artinya teman. Teman.” jawab Joon-Jae salah tingkah.

“Teman.”

“Lalu apa ini? Kamu bisa bicara selama ini tapi kamu tidak melakukannya. Kamu memalukanku.”

“Itu sulit hingga kemarin, tapi aku menguasainya dengan menggunakan kotak yang kamu berikan kepadaku.”

“Kotak yang aku berikan kepadamu? Laptop? Kamu belajar dari itu? Apa kamu netizen?”

Sim Chung tidak menjawab. Ia menatap dalam ke arah Joon-Jae dan memuji matanya yang indah berkilau.

“Mataku memang selalu berkilau seperti itu. Mereka indah, bukan? Mataku selalu tampak indah. Ibuku mengatakan sulit untuk pergi lebih dari 10 langkah saat ia membawaku keluar karena orang-orang selalu menanyakan apakah mereka bisa menyentuh atau menggendongku,” jelas Joon-Jae.

Sim Chung kembali tersenyum malu-malu mendengar penjelasan Joon-Jae.

Joon-Jae dan Sim-Chung kembali masuk ke dalam menemui rekan Joon-Jae yang ternyata sesama anggota CMC (Con-Artist from Mensa Club). Ia tidak masalah membantunya, asalkan Joon-Jae juga membantunya melakukan aksinya saat ini, menipu para jemaat gereja. Dari komplotannya sendiri sudah ada yang menjadi pemberi kesaksian palsu, ada yang berpura-pura menjadi pedagang yang murah hati, sampai ada yang berpura-pura menjadi jemaat dan ikut meneriakkan ‘Hallelujah’ untuk membuat jemaat lain tertipu. Joon-Jae sendiri mendapat tugas untuk menyanyikan lagu yang emosional dan membuat yang mendengarnya terharu.

Dan Joon-Jae melakukannya, menyanyikan lagu tentang cinta. Sebagian jemaat menangis mendengarnya. Usai bernyanyi, semua orang berdiri dan bertepuk tangan dengan meraih. Tidak ketinggalan Sim Chung, yang bertepuk tangan seolah baru saja menonton konser.

Pemilik gereja mengantarkan Joon-Jae dan Sim Chung ke kamar mereka untuk menginap malam itu. Sim Chung mengatakan bahwa ia haus. Si pemilik gereja memberitahunya bahwa ada dispenser di ujung ruangan. Sembari Sim Chung melangkah ke sana, pemilik gereja mengungkapkan kebahagiaannya karena kini Sim Chung sudah bisa kembali berbicara. Joon-Jae pun berpura-pura senang mendengarnya. Saat menoleh ke arah Sim Chung, mereka berdua kaget mendapati Sim Chung, yang sempat kebingungan memakai dispenser, meminum langsung air mineral yang ada dari galon hingga habis.

Di dalam kamar, Sim Chung menanyakan apa artinya ‘cinta’.

“Cinta adalah sebenarnya sesuatu yang sangat berbahaya. Lebih baik orang seperti kamu untuk tidak mengetahuinya.” jawab Joo-Jae.

“Kenapa?” tanya Sim Chung seraya turun dari tempat tidur, ke tempat Joon-Jae berbaring.

“Anggaplah kamu mencintai seseorang. Itu artinya kamu menyerahkan diri.”

“Apa itu menyerahkan diri?”

“Untuk mengalah. Kamu kalah. Dengan kata lain, jika kamu mencintai seseorang, maka kamu percaya apapun yang ia katakan padamu. Itu artinya kamu dalam masalah besar. Jadi, apakah kamu seharusnya mengatakan hal seperti itu pada seseorang atau tidak?”

“Aku cinta kamu,” jawab Sim Chung tanpa berpikir panjang sembari tersenyum.

Joon-Jae terdiam sejenak, kaget mendengarnya. Ia lalu berkata, “Jangan! Aku kan sudah bilang kepadamu!”

“Aku lapar,” respon Sim Chung.

Keduanya lantas makan mie. Sambil memperhatikan Sim Chung menyantap makanannya, Joon-Jae memaparkan teorinya bahwa menurutnya Sim Chung terkena amnesia sehingga tidak mengingat segala hal.

“Lihat mataku,” pinta Joon-Jae.

Sim Chung langsung menatap mata Joon-Jae dalam-dalam. Joon-Jae jadi salah tingkah sendiri dan membatalkan permintaannya. Sebagai gantinya, ia meminta Sim Chung untuk menarik nafas dalam-dalam dan memikirkan tentang orang tuanya di saat Joon-Jae menghitung satu sampai tiga. Tujuan Joon-Jae sebenarnya adalah untuk menghinoptis Sim Chung agar ia menceritakan tentang dirinya. Tapi begitu pemantik api andalannya ia keluarkan, Sim Chung malah menanyakan apa arti ‘orang tua’.

Dengan kesal Joon-Jae pun menjelaskan bahwa orang tua adalah orang yang melahirkannya.

“Aku tidak punya,” jawab Sim Chung lirih.

“Yah, aku rasa tidak semua orang punya,” respon Joon-Jae tidak enak hati.

“Kamu punya orang tua?” tanya Sim Chung.

Joon-Jae terdiam sebelum menjawabnya.

“Aku punya ayah tapi aku menganggapnya tidak ada. Ibu.. aku berharap aku punya. Itu sebabnya aku pergi, ke ujung dunia.”

Joon-Je lalu menanyakan nama Sim Chung. Sim Chung menjawab tidak punya.

“Itu tidak mengejutkanku lagi,” respon Joon-Jae. “Kamu punya banyak hal yang aneh.”

“Jika aku tidak aneh dan aku punya nama, aku bisa bersamamu setiap waktu, bukan?” tanya Sim Chung.

“Tidak. Bukan itu maksudku. Ada banyak orang aneh di dunia ini. Kamu bahkan tidak mirip dengan mereka.”

“Sungguh?”

“Tentu saja! Akulah yang sebenarnya aneh.”

“Kamu orang yang baik.”

“Apa yang kamu tahu tentang orang macam aku?”

“Tanganku… kamu bisa meninggakanku, tapi kamu memegangnya. Beberapa kali. Kamu orang yang baik.”

Joon-Jae terdiam.

Di kamar, Joon-Jae jadi tidak bisa tidur gara-gara perkataan Sim Chung. Ia kemudian berdiri dan duduk di samping Sim Chung, lantas memakaikan kembali gelang giok Sim Chung ke tangannya.

“Aku telah mengambil dan melarikan diri berulang kali, tapi ini pertama kalinya aku memberikan kembali sesuatu yang sudah pernah aku ambil,” ujar Joon-Jae, “Baiklah. Mari kita pergi bersama. Ke ujung dunia.”

Sementara itu, di kamar hotel yang ditempati Joon-Jae sebelumnya, gerombolan Myeong Dong berada di sana. Pemimpin mereka sedang memegang sebuah peta milik Joon-Jae, yang sepertinya merupakan tempat yang ia maksud sebagai ‘ujung dunia’.

Rekan penipu Joon-Jae memberikan ponsel baru serta uang pada Joon-Jae. Joon-Jae berterima kasih kepadanya. Rekannya berbalik mengucapkan terima kasih karena berkat bantuannya mereka bisa mendapatkan banyak ‘dukungan’.

“Berhati-hatilah kepadanya,” ujar rekan Joon-Jae pada Sim Chung. “Kamu benar-benar tipeku. Jika kamu punya kesempatan, kita harus bertemu di Seoul suatu hari nanti..”

“Apa itu Seoul?” potong Sim Chung.

Joon-Jae tertawa mendengarnya. Rekan Joon-Jae ikut tertawa, mengira Sim Chung sedang bercanda. Ia pun hendak lanjut menggoda Sim Chung, tapi Joon-Jae segera mengajak Sim Chung pergi dan meninggalkannya.

Tak lama pastor pemilik gereja keluar dari dalam gereja dengan penuh suka cita, mengucapkan rasa terima kasihnya karena rekan Joon-Jae itu sudah memberikan semua bagiannya kepada gereja. Sadar sudah dikerjai Joon-Jae, rekan Joon-Jae tertawa sambil menangis mendengarnya. Ia lalu menanyakan apakah boleh membunuh seorang musuh. Pastor bengong kebingungan mendengarnya.

Ujung dunia yang dimaksud Joon-Jae ternyata adalah sebuah tebing di pinggir pantai, Cape Finisterre. Melihat lautan yang luas, Sim Chung menanyakan dimanakah letak ujung lautan itu. Joon-Jae terdiam. Ia teringat saat ia datang ke tempat itu bersama ibunya di saat ia masih kecil. Ibunya menceritakan asal usul tempat itu dan juga mercusuar yang ada di sana. Ibunya juga memberitahu bahwa konon orang yang berpisah akan bisa bertemu lagi di tempat itu.

Joon-Jae lantas menunjukkan coretan tangan namanya yang ia buat di sebuah batu di mercusuar kepada Sim Chung.

“Tidak banyak orang yang tahu nama asliku, jadi kamu harusnya merasa bangga,” ujar Joon-Jae.

“Jadi jika kamu terpisah dari sini, kamu sungguh bisa bertemu lagi?” tanya Sim Chung.

Joon-Jae menggeleng. Ia menjawab, “Aku rasa itu bohong. Aku terpisah dari ibuku di sini. Tapi aku masih belum bertemu dengannya lagi.”

Ternyata memang dulu ibunya pergi meninggalkannya begitu saja di sana, tanpa berpamitan terlebih dahulu.

Sim Chung lalu memberitahunya ada tulisan ‘Heo Joon-Jae’ juga di balik batu yang ditunjukkan Joon-Jae sebaliknya. Joon-Jae kaget mendengarnya dan segera melihatnya. Ternyata benar, dan itu adalah tulisan dari ibunya.

Aku menyayangimu, Heo Joon-Jae.

Joon-Jae jadi sedikit begitu tahu ibunya ternyata berpamitan dengannya. Penasaran, Sim Chung menanyakan apa yang ditulis oleh ibu Joon-Jae.

“Bahwa dia mencintaiku,” jawab Joon-Jae.

“Dia kalah? Dia menyerah?” tanya Sim Chung.

Joon-Jae tertawa mendengarnya. Ia lalu merespon, “Ya. Ia mengatakan ia benar-benar kalah. Ia menyerah.”

Sim Chung tersenyum mendengarnya.

Orang-orang Myeong Dong tiba di Cape Finisterre. Dengan gaya, Joon-Jae segera mengeluarkan pistolnya. Apa daya, ternyata musuhnya satu demi satu mengeluarkan senapan mesin. Ia pun akhirnya memilih kabur.

Pengejaran babak kedua dimulai. Mulai dari menyusuri tebing, melewati perkebunan, hingga akhirnya Joon-Jae dan Sim Chung terdesak ke pinggir jurang. Tahu tidak ada lagi jalan keluar, Joon-Jae menjatuhkan pistolnya dan mempersilahkan mereka untuk bicara dengannya setelah Sim Chung pergi.

“Dia wanita dan tidak ada hubungannya dengan semua ini sama sekali,” ujar Joon-Jae sembari mengangkat tangannya.

Bos musuh tidak percaya karena selama ini Sim Chung selalu mengikuti Joon-Jae.

“Oh, yah itu karena aku mencuri sesuatu darinya. Ini, ini. Gelang,” dalih Joon-Jae seraya menunjukkan gelang giok Sim Chung. “Ini barang murahan, tapi aku mencurinya, dan itu sebabnya ia terus mengikutiku.”

Joon-Jae lantas mendorong Sim Chung dan memintanya untuk pergi karena ia sudah mengembalikan gelangnya.

“Kenapa? Aku ini kan istrimu,” jawab Sim Chung sambil kembali lagi ke samping Joon-Jae.

Mengira sudah ditipu, bos musuh segera merebut senapan milik anak buahnya dan menodongkan ke arah Sim Chung dan Joon-Jae.

“Beraninya kamu mencoba menipu kamu!” bentaknya.

Karena diancam akan ditembak, Joon-Jae tidak lagi berkata apa-apa. Diam-diam ia mengomeli Sim Chung karena tidak menuruti kata-katanya dan malah mengucapkan hal seperti tadi.

“Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanyanya lirih.

Sim Chung menunduk ke arah laut yang ada di bawah jurang.

“Hei, kenapa kamu melihat ke bawah sana?” tanya Joon-Jae mulai khawatir. “Aku ini takut ketinggian dan air. Lebih baik jika aku ditembak sedikit…”

“Ditembak tidak baik. Kamu akan mati seperti lumba-lumba,” potong Sim Chung.

“Tentu saja. Tapi aku juga akan mati kalau aku tenggelam,” balas Joon-Jae. “Biarkan aku mencoba meyakinkan mereka, jadi kamu pergi dulu saja. Pergilah dulu.”

Tanpa disangka-sangka, Sim Chung lantas menggenggam tangannya dan menarik melompat ke laut bersamanya. Bos orang-orang suruhan Myeong Dong segera meminta anak buahnya untuk mencari mereka dengan kesal karena tidak menyangka hal itu akan terjadi.

Di dalam air, Joon-Jae yang memang tidak bisa berenang mulai tenggelam ke dasar laut. Sim Chung, yang sudah kembali berubah menjadi putri duyung, berenang menghampirinya. Joon-Jae kaget melihatnya. Tanpa berkata apa-apa, Sim Chung mencium Joon-Jae.

Di lab KAIST, Si-Ah membersihkan sebuah pot keramik yang tertutup lumpur. Sedikit demi sedikit terlihat gambar di balik lumpur tersebut, gambar seorang putri duyung sedang mencium seorang pria di dalam laut.

Preview Episode 3

Berikut ini adalah preview eps 3 dari drakor Legend Blue Sea:

» Sinopsis Episode 3 Selengkapnya

Reply