Sinopsis The K2 Episode 3 & Preview Episode 4 (2016)

Di sinopsis The K2 episode sebelumnya, pihak JSS terus mengejar Kim Je-Ha (Ji Chang-Wook) hingga tidak segan mencelakai orang-orang yang membantunya. Je-Ha tidak bisa tinggal diam dan mencari tahu siapa orang yang memerintahkan hal itu. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan kediaman Choi Yoo-Jin (Song Yoon-A) dan menyusup masuk ke dalamnya. Bola kini berada di tangannya dengan todongan pistol yang ia arahkan ke kepala Yoo-Jin. Tiba-tiba saja, Ko An-Na (Im Yoona) yang baru pulang dari Spanyol keluar dari kamarnya dan meminta Je-Ha untuk membunuh Yoo-Jin. Apa yang selanjutnya bakal terjadi di sinopsis drama korea The K2 episode 3 kali ini?

Dok. gambar dan video © tvN of Korea Selatan

Sinopsis Episode 3

Pengawas An-Na datang dan membawanya kembali masuk ke kamar. Je-Ha sempat terkejut melihatnya.

“Sepertinya… ada orang lain yang kau mati selain diriku.”, ujarnya pada Yoo-Jin.

Kejadian barusan membuat bodyguard Yoo-Jin punya waktu untuk datang dan mengepung Je-Ha. Je-Ha segera meminta mereka semua keluar dan menyiapkan mobil untuknya. Yoo-Jin memberi tanda agar mereka menuruti kata-kata Je-Ha. Sambil melangkah perlahan dan tetap menodongkan pistolnya ke kepala Yoo-Jin, Je-Ha melangkah keluar dari rumah. Ia tidak mempedulikan Yoo-Jin yang mencoba mengintimidasinya dan memintanya untuk menyerah.

Tanpa diduga, Je-Ha berhenti di sebuah pot dan mengambil sebuah ponsel. Sedari tadi ternyata ia merekam apa yang terjadi di sana. Setelah mengutak-atik ponselnya, ia pun mengancam akan menyebarkan video rekaman tersebut apabila ada sesuatu yang terjadi dengannya, baik itu disengaja oleh Yoo-Jin maupun tidak. Agar tidak ada yang bisa mendapatkan video tersebut, Je-Ha juga meledakkannya dengan menggunakan microwave yang ada di dapur.

Di episode sebelumnya, saat Jang Se-Joon (Cho Seong-Ha) meminta Jo, ketua tim bodyguard JSS, untuk meminggirkan mobilnya, ternyata itu terjadi setelah ia mendapat kabar mengenai penyanderaan Yoo-Jin. Dan usai berbicara empat mata dengan ketua Jo, ia mempertanyakan kenapa Jo membawanya menuju kediaman Yoo-Jin karena akan berbahaya bagi dirinya.

“Aku mencoba untuk memenuhi janjiku kepadamu sekarang, anggota parlemen. Sekarang An-Na ada di rumah,” ujar ketua Jo.

Mendengarnya, Se-Joon segera meminta sopir untuk memacu mobilnya.

1

2

Dua orang polisi yang bikin gemes bodyguard yang berjaga di luar rumah Yoo-Jin ternyata masih ada. Mereka langsung menyambut Yoo-Jin yang keluar bersama Je-Ha. Kim Dong-Mi (Shin Dong-Mi) diam-diam memberi tanda pada bodyguard untuk menyingkirkan polisi tersebut, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Giliran Je-Ha yang memberi tanda pada Yoo-Jin untuk menyapa polisi-polisi tersebut seolah tidak terjadi apa-apa. Untunglah pada akhirnya Je-Ha dan Yoo-Jin bisa lanjut berangkat dengan mobil yang sudah disediakan, meninggalkan kedua polisi yang bingung melihat Yoo-Jin yang menyetir sendiri mobilnya, serta Dong-Mi yang bergegas menyusul mereka dengan mobil lain bersama beberapa orang bodyguard.

Dalam perjalanan, Yoo-Jin mencoba untuk membeli akun email tempat Je-Ha menyimpan video rekamannya. Bahkan ia berani membayar dua kali lipat dari harga berapapun yang disebutkan Je-Ha.

“Seberapa pantas harga jualmu?” tanya Je-Ha balik. Ia melanjutkan, “jika aku mengatakan kepada suamimu bahwa aku akan menjualmu atau akses ke akun itu Aku ingin tahu, manakah yang akan suamimu pilih. Apakah ia akan menyerah dengan kekuatan politik dan memilihmu? Atau akankah dia menjualmu untuk kekuatan politik? Apa, kau juga tidak yakin ia akan memilihmu? Lalu apakah itu artinya kau bernilai kurang dari akses email itu?”

Yoo-Jin terdiam. Ia tidak bisa menjawab karena tahu suaminya seperti apa. Tiba-tiba dua orang pria dengan menggunakan sepeda motor melaju kencang di samping mobil mereka. Je-Ha mengira itu adalah anak buah Yoo-Jin, sementara Yoo-Jin sendiri tampak bingung melihat mereka.

Se-Joon tiba di rumahnya. An-Na yang sempat keluar kamar bergegas masuk kembali begitu melihat ayahnya. Ketua Jo segera menyusul yang lain begitu mengetahui kondisi terkini. Seorang pelayan menanyakan apakah Se-Joon ingin menemui An-Na. Ia sempat berpikir sejenak sebelum menjawab tidak, beralasan saat ini ia sudah capek. An-Na yang menguping dari balik pintu menangis mendengarnya.

3

4

Mobil yang dikendarai Yoo-Jin dan Je-Ha ternyata sudah dihack oleh sepeda motor yang membuntuti mereka. Dengan menggunakan tablet, mereka bisa mengatur segala sesuatu yang ada di mobil tersebut, termasuk mematikan rem dan mengunci pintu mobil. Dan saat ini tujuan mereka adalah membuat seolah-olah mobil tersebut mengalami kecelakaan dengan cara mempercepat laju mobil. Je-Ha pun memutuskan untuk mengambil alih setir mobil dari tangan Yoo-Jin yang sudah mulai panik.

Melihat mobil yang makin melaju, Dong-Mi segera memerintahkan sopir untuk makin mempercepat mobil mereka. Ketua Jo yang mendapat laporan situasi tersebut menjadi curiga ada sesuatu yang terjadi, apalagi setelah tahu kini Je-Ha yang mengemudikan mobil tersebut. Je-Ha sendiri telah menyadari bahwa mobil mereka dihack sehingga ia berusaha untuk semakin mempercepat laju mobil agar bisa menjauh dari mereka.

Kejar-kejaran seru pun terjadi. Je-Ha meminta Yoo-Jin terus menekan tombol penurun jendela agar jendela bisa segera terbuka pada saat jarak mereka cukup jauh dengan si pengendara sepeda motor. Begitu hal itu terjadi, Je-Ha segera memutar mobilnya dan menembak ke arah pengendara sepeda motor. Sayang usahanya belum membuahkan hasil karena tembakannya hanya mengenai badan sepeda motor mereka tetap bisa melaju mengejar mobil Je-Ha. Je-Ha pun segera memacu kembali mobilnya… hingga masuk ke jalur jalan yang ditutup karena ada perbaikan. Sadar bahwa ujung jalan tersebut buntu, si pengendara motor segera menghentikan kendaraannya. Tanpa diduga, Dong-Mi yang berada di belakang mereka, menginstruksikan pada sopir untuk menabrak sepeda motor tersebut.

Mobil Je-Ha menabrak rintangan-rintangan jalan yang dipasang oleh petugas perbaikan hingga akhirnya terguling. Pun begitu dengan mobil yang dikendarai Dong-Mi, walau nasib mereka lebih baik, tidak sampai terguling. Petugas perbaikan bergegas menarik Je-Ha yang berlumuran darah keluar dari mobil. Belum sempat menolong Yoo-Jin, muncul api dari mobil tersebut. Je-Ha pun berusaha untuk membangunkan Yoo-Jin yang tak sadarkan diri. Dong-Mi yang melihat api dari mobil yang dikendarai Yoo-Jin semakin membesar mulai panik dan berniat untuk menuju ke sana. Tapi bodyguard lain mencegahnya, menganggap bahwa sudah tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan.

Sesaat sebelum mobil tersebut meledak, Je-Ha terlihat berjalan dengan menggendong Yoo-Jin. Dong-Mi dan bodyguard lainnya kaget melihatnya. Beberapa detik kemudian mobil tersebut meledak. Secara reflek Je-Ha segera memunggunginya demi melindungi Yoo-Jin. Namun akibatnya, knalpot mobil yang terlempar akibat ledakan tersebut tepat mengenai punggungnya, sehingga ia pun terjatuh tak sadarkan diri. Dong-Mi dan bodyguard segera menolong Yoo-Jin.

5

6

7

8

9

Setelah sempat tak sadarkan diri, Yoo-Jin meminta Dong-Mi untuk membawa Je-Ha ke rumah sakit. Dong-Mi sempat akan menolak, tapi Yoo-Jin mengingatkan perjanjian mereka di rumah tadi, yang membuat mereka mau tidak mau harus menjaga agar Je-Ha tetap hidup.

Adegan masa lalu Je-Ha muncul, dimana ia sedang bebicara dengan seorang wanita bernama Naniya di masa ia masih menjadi tentara bayaran. Saat itu ia memutuskan untuk kembali ke Korea dan mengajak Naniya untuk ikut bersamanya.. sebagai istrinya. Sempat terperanjat mendengarnya, Naniya menerima pinangan Je-Ha, dan keduanya pun berciuman.

Je-Ha terbangun di kamar rumah sakit dalam kondisi tangan dan kaki terikat. Ada seorang bodyguard yang menjaganya. Di luar terdengar suara dua orang detektif polisi yang berniat untuk berbicara dengannya guna menggali informasi mengenai kejadian semalam. Bodyguard JSS yang berjaga di luar tidak memperbolehkan mereka masuk dengan alasan Je-Ha sedang beristirahat. Kepala detektif akhirnya mengalah begitu mengetahui mereka berasal dari JSS. Anak buahnya masih ngotot ingin memaksa masuk, tapi kepala detektif menjelaskan bahwa CEO perusahaan JSS dekat dengan direktur kepolisian (yang ditemui di episode sebelumnya) dan juga direktur di Kantor Kejaksaan. Anak buahnya tidak bisa berkata apa-apa lagi mendengar hal tersebut.

Dari kamar inap Yoo-Jin, ia bersama Se-Joon dan Dong-Mi menyimak sebuah acara talkshow, dimana anggota parlemen Kim, yang menjadi narasumber pada saat itu, secara tidak langsung menyatakan bahwa kompetitor Se-Joon, Park Gwan-Soo (Kim Kap-Soo), yang berada di balik penyerangan Yoo-Jin. Se-Joon tertawa senang mendengarnya, sementara Yoo-Jin meminta Dong-Mi untuk mengucapkan terima kasih kepadanya usai acara talkshow.

Tak lama kemudian seorang dokter masuk dan menanyakan kondisi Yoo-Jin. Yoo-Jin lantas menanyakan mengenai Je-Ha, yang dijawab oleh si dokter bahwa kondisi ‘pengawalnya’ juga baik-baik saja. Meski mengalami patah tulang di beberapa bagian, namun karena kondisi tubuhnya yang baik, maka tidak terlalu menimbulkan masalah yang berarti. Dokter menambahkan bahwa kondisinya akan berbeda jika Yoo-Jin yang mengalami hal tersebut. Yoo-Jin jadi terdiam, mungkin membayangkan saat dimana Je-Ha melindunginya dari ledakan mobil.

Sepeninggal dokter, Se-Joon mempermasalahkan Je-Ha yang akan mungkin berbicara yang aneh-aneh setelah dia bangun. Tanpa diduga, Yoo-Jin mengatakan berniat untuk benar-benar menjadikannya pengawalnya, walau ia sendiri juga tidak yakin Je-Ha akan mau.

“Cara terbaik untuk menjaga seseorang yang aku waspadai adalah dengan membuatnya berada di sisiku,” ujar Yoo-Jin.

“Sama seperti An-Na?” tanya Se-Joon. “Kau tidak bisa terus membuatnya berada di sisimu.”

10

11

12

Je-Ha kaget melihat Jo tiba-tiba masuk ke kamarnya. Melihat ikatan Je-Ha, Jo melepaskannya sekaligus meminta bodyguard yang berjaga untuk keluar. Jo meminta maaf karena dulu tidak bisa membantu Je-Ha pada saat ia mendapat masalah di Blackstone. Je-Ha sepertinya memang kesal kepadanya karena ia ‘diusir’ keluar dari Blackstone sebagai ‘orang biasa’, sementara Jo masih tetap sebagai ‘tentara’.

“Kekuranganmu bukanlah kekuatan. Hanya saja kau tak punya alasan untuk membantuku.”, respon Je-Ha.

“Kau perlu kekuatan untuk mewujudkan keinginanmu,” balas Jo.

Choi Sung-Won (Lee Jung-Jin) membesuk Yoo-Jin. Yoo-Jin terlihat tidak terlalu suka melihat kedatangannya karena hubungan mereka yang tidak terlalu dekat. Tak lama kemudian asisten Se-Joon memberitahu bahwa awak media sudah menunggu di bawah. Sebelum ia pergi, Yoo-Jin memintanya untuk mendekatinya. Ternyata Yoo-Jin membuat penampilan Se-Joon agak berantakan agar semua orang percaya bahwa ia telah semalaman menunggui istrinya.

Sebagai seorang politikus, Se-Joon memang cukup lihai dalam berakting. Dalam konferensi pers dengan media yang sengaja ia lakukan di lorong rumah sakit agar lebih dramatis, ia mengatakan bahwa perasaannya hancur karena istrinya hampir mati gara-gara dirinya. Ia lanjut bercerita bahwa sudah banyak hal yang ia lakukan yang membuat istrinya kesusahan. Orang-orang mulai menangis mendengarnya.

“Namun istriku seorang yang pemberani,” lanjut Se-Joon, “DIa membuang segala yang dia punya dan mencintaiku yang tidak punya apa-apa.”

Sung-Won memuji akting Se-Joon. Ia berkata, “Seakan-akan terasa seperti dia sungguh-sungguh.”

Yoo-Jin hanya terdiam. Namun dalam hati ia menjawab kata-kata adiknya, “Karena.. itu cukup benar.”

Se-Joon kini mulai memberi gong pada konferensi persnya. Ia menyatakan akan mengundurkan diri sebagai kandidat calon presiden karena merasa tidak mampu untuk menerima semua beban itu. Sebagai gantinya, ia akan tetap berjuang sebagai politiku untuk melawan terorisme di Korea yang nekad berbuat apa saja untuk mewujudkan keinginan mereka tanpa mempedulikan masyarakat yang lemah. Pancingannya berhasil. Mendengar penyataannya, semua orang yang berada di sana justru semakin bersemangat untuk mendukungnya sebagai presiden.

13

14

15

Jo memberikan kartu identitas baru pada Je-Ha, sembari menawari pekerjaan di JSS sebagai pengawal. Dengan demikian ia tidak perlu melarikan diri lagi ke sana kemari. Je-Ha tidak terlalu tertarik dengan tawaran tersebut. Tapi Jo memberitahunya bahwa mereka memiliki pusat data yang besar. Tidak hanya seputar JB Group yang mereka jaga saat ini, melainkan juga jaringan data di luar. Berbekal hal itu, Jo yakin bahwa Se-Joon pasti akan memenangkan kursi kepresidenan. Dan apabila itu terjadi, maka Je-Ha bisa dieksekusi secara ‘resmi’.

Je-Ha masih tetap menolak. Ternyata Jo sudah tahu alasan utamanya, yaitu karena Je-Ha mengalami PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder). Jo justru berpendapat dengan adanya hal tersebut membuat Je-Ha bakal menjadi pengawal yang hebat.

“Ayo kita bersama-sama ke Blue House,” ajak Jo. “Jika kita melakukannya, kita bisa membalas dendam pada bajingan yang melakukan ini kepada kita.”

Je-Ha menanggapinya dengan emosional karena ‘bajingan’ itu yang membuatnya pernah tidak berniat untuk kembali lagi menginjakkan kaki di Korea. Jo melanjutkan ajakannya dengan meminta Je-Ha untuk tetap tinggal di JSS setidaknya hingga pemilihan presiden.

“Jika kau melakukannya, kita akan saling menguntungkan dan kau tidak akan memiliki alasan untuk melarikan diri.”

Tapi Je-Ha tetap teguh pada pendiriannya. Ia memastikan tidak akan ada yang terluka apabila tidak ada yang berusaha menyentuhnya. Selain itu, ia juga akan menghapus video rekaman yang ia buat setelah pemilihan presiden berakhir. Ia pun pergi meninggalkan Jo setelah mengatakan hal tersebut.

Sung-Won berpamitan untuk kembali ke kantor. Sebelum ia pergi, Yoo-Jin menanyakan masalah keuangan perusahaan mereka. Sung-Won berdalih saat ini sedang banyak pihak yang mengawasinya, sehingga ia tidak bisa menarik uang dalam jumlah banyak sekaligus. Yoo-Jin menyindirnya yang mungkin saja berat untuk melepaskan uang-uang itu. Sung-Won membantahnya karena yakin akan bisa mendapatkan kembali uang itu dalam jumlah yang berlipat ganda apabila Yoo-Jin menjadi First Lady.

Gwan-Soo tiba di rumah sakit untuk membesuk Yoo-Jin. Saat ditanya oleh awak media mengenai gosip dirinya yang berada di balik penyerangan Yoo-Jin, dengan cerdas ia membalikkannya dengan mengatakan ia juga ingin mendapatkan penyerangan semacam itu karena bisa meningkatkan popularitasnya sementara ia sendiri beristirahat santai di rumah sakit. Ia sempat berpapasan dengan Sung-Won. Meski sekilas saling menyapa, namun terlihat ada sesuatu yang lebih di antara mereka berdua.

16

17

18

Gwan-Soo masuk ke kamar Yoo-Jin. Setelah berbasa-basi dan saling menyindir secara halus, ia pun berpamitan kembali. Saat masuk ke dalam lift, ada Je-Ha dan seorang bodyguard yang mengantarkannya ke kamar di sana. Je-Ha teringat masa lalunya dimana Naniya terbunuh dan dari raut wajahnya sepertinyan Gwan-Soo adalah penyebabnya. Emosi Je-Ha memuncak. Dengan sigap ia merebut pistol yang dibawa oleh seorang polisi yang mengawal Gwan-Soo serta melumpuhkan semua pengawal Gwan-Soo (termasuk bodyguard yang mengantarnya). Terakhir ia menodongkan pistolnya ke arah Gwan-Soo, yang terlihat kaget sekaligus ketakutan melihat sosok Je-Ha.

Preview Episode 4

» Sinopsis Ep 4 selengkapnya

Reply