Sinopsis Shopping King Louis Episode 5 & Preview Episode 6 (2016)

Di sinopsis Shopping King Louis episode sebelumnya, Cha Joong-Won (Yoon Sang-Hyun) makin kepincut dengan Ko Bok-Sil (Nam Ji-Hyun). Mengetahui ide Bok-Sil diserobot oleh Baek Ma-Ri (Im Se-Mi), Joong-Won memberikan hadiah sepatu bagi Bok-Sil. Sementara itu, Baek Sun-Goo (Kim Kyu-Cheol) mulai menyadari bahwa Louis (Seo In-Guk) benar-benar masih hidup. Apa yang akan terjadi selanjutnya di sinopsis drama korea Shopaholic Louie episode 5 ini?

Dok. gambar dan video © MBC of Korea Selatan

Sinopsis Episode 5

Episode 5: Starry, Starry Night

Sedikit flashback di malam hari saat Bok-Sil sakit. Ternyata ia sempat terbangun dan mengetahui Louis sibuk merawatnya. Ia juga teringat kembali beberapa tahun lalu, di saat kondisi hujan deras seperti sekarang, orang tuanya meninggal karena tanah longsor. Pagi harinya, Bok-Sil yang bangun terlebih dahulu lalu menyelimuti Louis yang masih tertidur dan pergi ke kantor tanpa pamit kepadanya.

Di kantor, Joong-Won yang melihatnya sedang sakit memerintahkannya untuk pulang ke rumah dan beristirahat. Sementara itu, Louis yang datang ke kantor Gold Group untuk mencari Bok-Sil, bertemu dengan Sun-Goo dan bahkan menyapanya, karena ingat bahwa Jo In-Sung (Oh Dae-Hwan) menyebutnya sebagai orang hebat. Belum sempat Sun-Goo membalas sapaan Louis, Bok-Sil keluar dari lift dan Louis segera menghampirinya.

Sun-Goo sendiri ternyata sudah pernah melihat Bok-Sil pada saat ia ngobrol dengan Joong-Won di depan kantor (episode lalu), dan Ma-Ri memberitahukannya bahwa Bok-Sil adalah bekas karyawan cleaning service yang diangkat menjadi karyawan magang di departemen Joong-Won.

Dengan santainya Louis menggandeng Bok-Sil dan membawanya menghampiri Sun-Goo, yang sedari tadi masih melongo tanpa bisa berkata apa-apa. Louis meminta Sun-Goo untuk membantu Bok-Sil, sementara Bok-Sil sendiri jadi salah tingkah karena sungkan menghadapi Sun-Goo, pemegang kendali perusahaan. Ia pun segera meminta maaf dan mendorong Louis keluar kantor. Dengan polos Louis pergi sambil melambaikan tangan pada Sun-Goo.

Saat sedang melangkah keluar kantor sambil bergandengan tangan, Bok-Sil dan Louis berpapasan dengan salah satu rekan kerja Bok-Sil. Saat ditanya oleh rekan kerjanya, dengan pede Louis menjawab bahwa ia adalah penjaga Bok-Sil. Dengan heboh si rekan kerja berlari kembali ke ruangan departemen Merchandise dan memberitakan hal tersebut ke yang lainnya, tentang Bok-Sil yang punya pacar keren. Tanpa diduga Joong-Won yang juga ada di sana tiba-tiba membanting buku yang ia pegang dan melangkah pergi.

Sun-Goo menemui anak buahnya dan memintanya untuk menyelidiki tentang Bok-Sil, serta hubungan Bok-Sil dengan Joong-Won. Ia juga menceritakan tentang Louis yang tidak mengenalinya saat mereka tadi berhadapan.

1

2

3

4

Dalam perjalanan menuju apartemen mereka, melihat Bok-Sil yang kecapekan menaiki tangga, Louis menawarkan.. atau lebih tepatnya memaksakan.. untuk menggendong Bok-Sil. Bok-Sil pun meminta diturunkan, tapi Louis menolaknya.

“Rasanya menyenangkan. Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya.” ujar Louis.

“Apa maksudmu?” tanya Bok-Sil.

“Tubuhku terasa berat dan lelah, tapi hatiku rasanya hangat.” jawab Louis.

Bok-Sil tersenyum mendengarnya. Ia pun memeluk erat Louis. Namun begitu sampai di kamar senyumnya langsung hilang melihat apartemen mereka yang berantakan. Louis meminta Bok-Sil untuk makan terlebih dahulu dengan makanan yang sudah ia bawakan, tapi Bok-Sil menolak karena ingin membereskan kamar terlebih dahulu. Saat sedang saling beradu pendapat, tanpa sengaja makanan panas yang dipegang Louis tumpah ke bajunya. Dengan panik Louis segera melepas bajunya. Pun begitu dengan Bok-Sil yang segera mengambil tisu dan mengelap tubuh dan pakaian Louis yang terkena tumpahan makanan. Tanpa diduga, Joong-Won tiba-tiba masuk dan langsung terkaget-kaget melihat ulah mereka berdua.

Tak lama Louis turun ke bawah ke tempat Hwang Geum-Ja (Hwang Young-Hee) dan In-Sung, memberitahu mereka bahwa ia baru saja diusir oleh atasan Bok-Sil yang jahat. Louis sempat kaget mendengar Bok-Sil pernah pingsan di kantor dan diurus segala sesuatunya oleh Joong-Won. Geum-Ja jadi curiga Joong-Won sengaja datang karena Bok-Sil sedang sakit.

Sementara itu, anak buah Sun-Goo melaporkan bahwa Joong-Won baru saja masuk ke rumah tempat Bok-Sil dan Louis tinggal. Ia pun meyakini bahwa ketiganya saling berhubungan. Sun-Goo jadi makin curiga dengan Joong-Won.

Di dalam apartemen, Joong-Won menanyakan pada Bok-Sil tentang Louis. Louis sendiri saat itu sedang dipanas-panasi oleh Geum-Ja karena Joong-Won lebih baik dan lebih kaya daripada Louis. Louis jadi kesal mendengarnya. Kembali ke kamar apartemen Bok-Sil, Joong-Won memarahinya karena malah mengurusi orang yang amnesia di saat ia sendiri hidup susah. Ia juga tidak suka keduanya hidup bersama. Bok-Sil berusaha menjelaskan bahwa Louis adalah pria yang baik dan tidak berbahaya.

Joong-Won pantang menyerah. Ia kini mencoba merayu Louis untuk tinggal bersamanya saja. Namun Louis menolak dan mengatakan ingin segera pulang dan beristirahat karena badannya capek semua. Mendengarnya membuat Joong-Won malah kepikiran yang tidak-tidak 😀 Ia lalu kembali mencoba merayu Louis, kali ini dengan menawarkan kamar dengan fasilitas terbaik di rumahnya bagi Louis, plus seluruh isi kulkas.

“Apa kau sedang memamerkan isi rumahmu? Kau yang terburuk.” respon Louis sambil berlalu.

Joong-Won jadi tidak bisa berkata apa-apa lagi.

5

6

7

8

Kim Ho-Joon (Eom Hyo-Seop) dan Heo Jung-Ran (Kim Sun-Young) menemani nenek Choi Il-Soon (Kim Young-Ok) yang sedang memandangi sebuah pigura dengan foto Louis. Jung-Ran menawarkan akan mengganti pigura tersebut dengan bingkai emas agar terlihat lebih baik. Namun Ho-Joon mengatakan hal tersebut sudah kuno dan menyarankan untuk menggunakan bingkai platinum bertatahkan berlian. Nenek Choi setuju dengan usulan Ho-Joon dan merasa itu lebih cocok bagi Louis.

Jung-Ran yang kesal kemudian meminta Ho-Joon untuk pergi ke pantai bersamanya. Ia memarahi Jo-Hoon yang masih saja terus-terusan mencampuri urusannya dengan nenek Choi. Dengan gaya ala Black Mamba di film Kill Bill 😀 Jung-Ran pun berniat untuk menghajar Ho-Joon dengan menggunakan sebuah pedang kayu. Apes bagi Ho-Joon, saat sedang berlari menghindar, ia terjatuh dan matanya membentur batu hingga memar.

Sembari mengerjakan tugas harian membagikan brosur Bok-Nam, Louis menceritakan pada In-Sung tentang Joong-Won yang mengajaknya tinggal bersama. Dengan polosnya ia merasa Joong-Won sangat menyukai dirinya. In-Sung jadi gemas mendengarnya dan akhirnya memberitahu Louis bahwa tujuan Joong-Won mengajaknya tinggal bersama adalah agar Louis tidak lagi tinggal bersama Bok-Sil. Dan itu ia lakukan karena ia juga menyukai Bok-Sil. Louis pun kaget mendengarnya.

Tak lama kemudian, usai membagikan brosur, Louis mampir ke sebuah toko di mall dan ‘ngobrol’ dengan sebuah tas mewah yang dipajang di etalase. Ia berjanji akan segera membelinya, sedang si tas meminta Louis agar cepat melakukannya. Sesaat kemudian In-Sung datang dan meminta untuk dikenalkan pada si tas. Louis lantas menoleh ke arahnya dan mengatakan bahwa ia sudah gila.

Sementara itu, anak buah Sun-Goo berhasil mendapatkan informasi mengenai Louis setelah menyogok Geum-Ja dengan sejumlah uang. Anak buah Sun-Goo menawarkan pada Sun-Goo untuk mencari tahu mengenai mayat yang mereka temukan di TKP kecelakaan, namun Sun-Goo menolaknya, karena khawatir masalah akan jadi makin rumit.

9

10

11

12

Ma-Ri sibuk memilih-milih baju yang akan ia gunakan untuk pergi ke Busan bersama Joong-Won untuk urusan bisnis, berharap Joong-Won akan jatuh cinta kepadanya. Ibunya, Shin Young-Ae (Kim Bo-Yeon), menawarkan untuk meminta pendapat pada Fancy Styling Talk, blogger fashion yang sedang naik daun. Ma-Ri menolak, tidak mau nanti penampilannya jadi seperti wanita tua.

Louis menceritakan pada Bok-Sil tentang permintaan Joong-Won kepadanya, serta pendapat In-Sung yang menyatakan bahwa Joong-Won menyukai Bok-Sil. Bok-Sil tidak percaya akan hal itu.

“Walaupun dia menyukaimu, kau tidak boleh menyukainya juga,” ujar Louis.

“Kenapa tidak?” tanya Bok-Sil.

Louis terdiam sejenak lalu berkata, “Aku akan merasa sedih.”

Bok-Sil tersenyum mendengarnya. “Aku tidak bisa membuat orang yang aku jaga merasa sedih. Kau menjagaku tadi malam.”

Bok-Sil lalu menceritakan tentang orang tuanya yang meninggal di saat hujan badai turun dengan deras.

“Mulai saat itu, saat dimana ada petir dan kilat, aku jadi merasa takut dan tidak bisa tidur.”

Louis menggenggam tangan Bok-Sil lalu berkata, “Jangan sampai sakit, Bok-Sil.”

Hari berganti. Saat Bok-Sil tiba di kantor, tanpa diduga Joong-Won segera menghampirinya dan memintanya untuk ikut dengannya ke Busan. Semua karyawan lain kaget mendengarnya, terutama Ma-Ri, yang sejak itu terus-terusan cemberut dan menatap Joong-Won dengan raut muka kesal. Bok-Sil yang duduk di belakang jadi salah tingkah. Ia pun mengabari Louis bahwa hari ini ia tidak akan pulang ke rumah karena pergi ke Busan bersama dengan Joong-Won dan Ma-Ri. Karena cemburu, Louis langsung mengajak In-Sung untuk pergi ke Busan dan menyusul Bok-Sil.

Anak buah Sun-Goo yang mengawasi mereka langsung mengabarkan hal tersebut pada Sun-Goo. Sun-Goo jadi parno, mengira Louis berniat untuk menemui neneknya di Busan. Sementara itu, Bok-Sil terpana melihat keindahan laut kota Busan karena ia belum pernah melihat laut. Mengetahui hal itu, setibanya di tempat pertemuan, Joong-Won meminta Bok-Sil untuk menunggu mereka di pantai. Ma-Ri mempertanyakan mengapa Joong-Won mengaja Bok-Sil kalau ujung-ujungnya tidak ikut masuk. Joong-Won tidak menjawab dan berlalu pergi begitu saja.

13

14

15

16

Lois menghubungi Bok-Sil dan menanyakan lokasinya. Karena tidak tahu, Bok-Sil pun bertanya pada seseorang yang ada di sebelahnya. Ternyata itu adalah nenek Choi, yang sedang menikmati keindahan laut bersama Jung-Ran. Setelah mengetahui nama tempat ia berada sekarang adalah Pulau Dongbaek, Bok-Sil segera memberitahukannya pada Louis. Begitu Louis menutup telpon, ia jadi kepikiran sendiri kalau Louis menyusulnya ke Busan.

Sambil berbasa-basi, Bok-Sil lantas menceritakan tentang ‘temannya’ yang hanya bisa menghabiskan uang. Nenek Choi menanggapinya, mengatakan bahwa pasti temannya sangat suka berbelanja. Bok-Sil mengiyakan, sembari menceritakan tentang ulah-ulah Louis yang aneh-aneh. Nenek Choi tertawa mendengarnya.

“Tapi dia tidak lari darimu,” ujarnya, “dan tetap melakukan apa yang kau suruh untuknya. Belanja adalah teman cucuku satu-satunya. Aku merindukan kesayanganku.”

“Apa cucumu pergi ke suatu tempat?” tanya Bok-Sil.

“Aku mengirimnya ke tempat yang sangat jauh supaya dia bisa hidup dengan lama, tapi dia malah pergi lebih jauh lagi.”

Sementara itu, Ho-Joon sedang browsing kacamata hitam di internet untuk menutupi matanya yang memar. Tanpa sengaja ia kembali menemukan review dari Shopping King Louie di salah satu produk kacamata. Namun sebuah kalimat yang ada di review tersebut membuat Ho-Joon jadi setengah yakin bahwa itu benar-benar Louis.

Sun-Goo menghampiri nenek Choi. Ia pun kaget melihat Bok-Sil sedang berada di sana. Untuk mencegah Bok-Sil berkata yang tidak-tidak, Sun-Goo lantas mengajak nenek Choi untuk kembali. Siapa sangka beberapa saat kemudian Louis dan In-Sung tiba di sana. Nenek Choi sempat mendengar suara Louis yang memanggil Bok-Sil, namun Sun-Goo langsung menghalangi pandangannya dan mencoba mengalih perhatiannya. Usahanya berhasil.

Melihat Louis benar-benar menyusulnya ke Busan membuat Bok-Sil kesal. Apalagi setelah tahu bahwa ia meminjam uang dari In-Sung. Tapi Louis tidak menghiraukannya dan mengatakan bahwa ia melakukan ini semua karena tahu Bok-Sil pergi dengan Joong-Won.

“Kau tidak boleh memasak untuk orang lain selain aku.” ujar Louis.

Bok-Sil heran mendengarnya, pun begitu dengan In-Sung, yang merespon, “Itu pernyataan cinta atau kau sedang memanfaatkannya?”

Louis tidak menjawabnya. Setelah terdiam sejenak, ia lalu mengatakan kalau ia lapar dan minta dibelikan makanan pada Bok-Sil. Bok-Sil dan In-Sung hanya bisa geleng-geleng kepala melihat ulah Louis.

17

18

19

20

Young-Ae yang sedang berjalan-jalan di mall tanpa sengaja bertemu dengan wanita lain yang mengenakan pakaian yang serupa dengannya. Ternyata ia juga pembaca Fancy Styling Talk. Mereka pun ngobrol berdua sambil ngopi-ngopi cantik di cafe.

Sementara itu, Joong-Won makan bersama Sun-Goo, Ma-Ri, dan nenek Choi. Joong-Woon saat itu sedang kesal karena tidak kunjung bertemu kembali dengan Bok-Sil, yang hanya mengabari bahwa ia sedang bersenang-senang. Setelah menuangkan segelas minuman beralkohol pada Joong-Won, Sun-Goo mengabarkan bahwa Sunny Land, taman bermain milik Gold Group, akan segera dibuka. Nenek Choi senang mendengarnya, terlebih karena menurutnya ide Sunny Land berasal dari Louis. Saat hendak meminta pendapat Joong-Won, ia dan yang lainnya kaget melihat Joong-Won yang sudah tidak sadarkan diri. Ternyata ia benar-benar tidak kuat dengan minuman beralkohol.

Tak lama kemudian Ho-Joon datang dan tanpa basa-basi langsung memberitahu nenek Choi tentang kemungkinan Louis masih hidup. Sun-Goo segera memotongnya, meminta Ho-Joon tidak berbicara hal yang tidak-tidak. Ho-Joon jadi curiga melihat raut muka Sun-Goo yang berubah dan terlihat panik.

Usai makan malam, Sun-Goo menemui Jung-Ran dan mengatakan ketidaksukaannya dengan Ho-Joon. Jung-Ran setuju dengannya. Ho-Joon lalu mengatakan sesuatu kepada Jung-Ran, yang didengar Jung-Ran dengan penuh antusias. Sementara itu, Ma-Ri kesal melihat Joong-Won yang masih tertidur akibat pengaruh alkohol. Angan-angannya untuk membuat Joong-Won jatuh cinta kepadanya jadi buyar. Tiba-tiba ponsel Joong-Won berbunyi. Melihat yang menelpon adalah Bok-Sil, Ma-Ri menerima telpon tersebut. Ia lalu meminta Bok-Sil untuk pulang saja ke Seoul.

Setelah menutup telponnya, Ma-Ri mencoba membangunkan Joong-Won. Usahanya tidak membuahkan hasil. Dengan kesal ia pun ikut membaringkan kepalanya di samping Joong-Won, membuat bartender yang ada di sana menjadi kesal karena keduanya malah tidur di situ 😀

21

22

Bok-Sil, Louis, dan In-Sung menikmati kota Busan bersama-sama. Mulai dari mencicipi makanan yang ada, bermain game, hingga selfie-selfie. Mereka lalu duduk di pantai sambil menatap keindahan laut.

“Louis, apa kau pernah lihat laut sebelumnya?” tanya Bok-Sil.

Louis tidak menjawab. Ia hanya memandang ke arah Bok-Sil sambil tersenyum. Terdengar lagu “Starry, Starry Night” dari Don McLean di latar (video klip di bawah). Bok-Sil lalu menoleh ke arah Louis, mata keduanya bertatapan.

“Oh maaf, kau kan tidak ingat apapun,” ujar Bok-Sil.

Louis tertawa, lalu berkata, “Tentu saja aku pernah melihatnya. Pemandangan ini bahkan terasa sangat tidak asing.”

In-Sung menanyakan jangan-jangan Louis memang tinggal di Busan. Louis tidak percaya karena yang ia ingat adalah ia sedang berada di Seoul saat hilang ingatan. Namun logat Louis yang mirip logat Busan membuat In-Sung makin yakin akan hal itu. Ia lalu meminta Louis agar segera menulisnya di buku catatannya (yang berisi hal-hal yang ia rasa berkaitan dengan dirinya, episode 3 kalau tidak salah).

Bok-Sil lalu mengatakan bahwa ini adalah pertama kalinya ia melihat laut dan ia sangat senang melihatnya. Louis lalu menyarankan agar mereka tidur saja di situ. In-Sung menolak, karena tidak mau terkena stroke. In-Sung kemudian pamit untuk pergi ke toilet sejenak. Saat itu melintas seorang anak bersama kedua orang tuanya di pantai. Melihatnya, beberapa ingatan masa lalu Louis muncul. Kepalanya menjadi terasa sakit dan ia tiba-tiba terjatuh.

“Kamu baik saja?” tanya Bok-Sil.

Dengan susah payah Louis mencoba untuk duduk.

“Wajahmu penuh dengan pasir,” lanjut Bok-Sil sembari mengusap pasir yang ada di wajah dan rambut Louis.

Bok-Sil lalu memeluk Louis dan berkata, “Ada apa? Kau mengagetkanku.”

“Tidak apa-apa.”, lanjut Bok-Sil sembari menepuk-nepuk punggung Louis.

Louis tetap terdiam, namun dalam hatinya ia berkata, “Malam gelap dan menyeramkanku jadi lebih bersinar karena Bok-Sil.”

Beberapa saat kemudian Bok-Sil hendak melepaskan pelukannya, namun Louis justru memeluknya lebih erat lagi. Mereka pun terus berpelukan.

23

24

Esok harinya, di kantor Bok-Sil mengumpulkan semua karyawan departemen Merchandise. Ia lalu mempresentasikan ide tur ke Busan yang ia olah berdasarkan pengalamannya semalam. Ma-Ri mencoba menjatuhkannya dengan mengatakan bahwa kompetitor mereka telah menawarkan paket serupa. Bok-Sil sempat down mendengarnya, namun Joong-Won membelanya, mengatakan bahwa paket tur yang ditawarkan Bok-Sil berbeda karena menggunakan sudut pandang dan dasar yang berbeda, berbasis sensibilitas dan storytelling, dua faktor yang merupakan trend saat ini. Karyawan yang lain langsung give applause begitu mendengar penjelasan Joong-Won, termasuk Ma-Ri yang melakukannya dengan berat hati.

Joong-Won lalu menambahkan bahwa ia sudah memutuskan untuk menambah kontrak Bok-Sil menjadi 1 tahun. Ma-Ri tidak terima dengan hal itu dan mempertanyakannya pada Joong-Won.

“Dia memiliki kemampuan untuk menciptakan cerita yang menarik yang bisa menjual produk, walaupun hanya botol. Aku yakin kau juga menyadarinya,” ujar Joong-Won sembari berlalu.

Bok-Sil pulang ke rumah dengan bersemangat. Ia segera mengabarkan perpanjangan kontraknya pada Louis. Louis jadi ikut senang mendengarnya. Tak lama In-Sung datang dan ia pun ikut gembira mendengarnya. Sambil makan bersama, Bok-Sil menunjukkan kartu kredit yang sekarang ia miliki sebagai fasilitas dari perusahaan. Louis bersemangat melihatnya, karena jadi bisa mudah berbelanja. In-Sung segera merebutnya dari tangan Louis dan mengembalikan pada Bok-Sil, sembari mengingatkan Bok-Sil agar menjauhkan kartu tersebut dari Louis.

In-Sung lalu menyarankan Bok-Sil untuk mengubah rambutnya karena sudah kuno dan agar bisa terlihat seperti wanita karir. Mendengarnya, Louis ikutan request untuk diubah rambutnya. In-Sung lantas membawa mereka ke sebuah salon dimana si pemilik bisa mengubah gaya rambut seseorang agar sesuai dengan namanya. Namun saran In-Sung terbukti tidak bisa dipercaya karena tatanan rambut malah jadi ajaib begitu usai dikerjakan oleh si pemilik salon.

Bok-Sil dan Louis mampir ke kantor polisi dan memberikan oleh-oleh es krim pada detektif teman Bok-Sil, sebagai perayaan atas kontrak kerjanya yang baru. Si detektif langsung kaget setengah mati begitu melihat gaya rambut mereka berdua.

Di Busan, Ho-Joon sedang menelpon seseorang. Entah dengan siapa ia berbicara, yang jelas ia meminta maaf karena masih belum bisa menemukan seseorang. Sementara itu, seseorang terlihat sedang diam-diam masuk ke kamar apartemen Bok-Sil dan menggeledah isi kamar.

25

26

27

Hari kembali berganti. Esok harinya, di kantor, Ma-Ri mempertanyakan perihal botol kepada Bok-Sil. Bok-Sil menjawab bahwa ia tidak pernah menceritakan hal itu kepada siapa pun. Ma-Ri jadi bingung bagaimana Joong-Won bisa mengetahui hal tersebut. Ia lalu kembali bertanya apakah Bok-Sil pernah berduaan bersama Joong-Won di kantor. Bok-Sil membantah, mengatakan bahwa Joong-Won hanya pernah sekali datang ke rumahnya dan mereka minum teh bersama. Ma-Ri jadi gusar mendengarnya.

Tak lama Joong-Won tiba di kantor. Ia sempat kaget melihat rambut baru Bok-Sil, namun bukannya menganggap aneh, ia justru tertawa melihatnya. Ma-Ri jadi makin kesal.

Dengan berbekal kartu kredit Bok-Sil, Louis akhirnya membeli tas mewah yang sudah ia incar. Begitu tahu bahwa ia bisa mencicil pembayaran apabila melakukan pembayaran secara kredit, Louis pun kalap dan membeli berbagai macam barang. Mulai dari kacamata, sepatu, hingga robot pembersih lantai. Apes bagi Louis, begitu tahu harga tas tersebut adalah $2400, Bok-Sil memintanya untuk mengembalikannya ke toko. Louis bahkan tidak boleh pulang sebelum ia melakukannya.

28

29

30

Saat Louis sedang kebingungan di luar karena tidak tahu cara mengembalikan tas tersebut, Bok-Sil membereskan kembali barang-barang belanjaan Louis. Ia teringat kata-kata nenek (Choi) yang ia temui di Busan.

Kau mungkin tidak mengerti. Tapi mungkin benda-benda itu adalah benda yang paling dibutuhkan temanmu. Setiap orang punya penilaian yang berbeda. Memperhatikan apa yang orang beli dan pola belanjanya bisa membuatmu belajar banyak tentangnya.

Bok-Sil lantas menyadari bahwa Louis membelikan semua barang-barang itu untuknya. Namun bagaimana lagi, ia tidak mampu untuk membayar itu semua. Di tempat lain, Sun-Goo menemui anak buahnya dan memintanya untuk mempercepat ‘hal itu’ karena pelantikannya sebagai presdir Gold Group akan segera dilaksanakan. Sementara itu, setelah memberanikan nyali, Louis akhirnya berhasil mengembalikan tas beserta barang-barang lain yang ia beli. Ia lalu kembali ke rumah dan memberikan uang pengembalian barang pada Bok-Sil.

“Kerja bagus,” ujar Bok-Sil.

“Aku sangat menderita, jadi tolong tepuk pundakku,” pinta Louis sembari merebahkan kepalanya ke pundak Bok-Sil.

“Jika kau tidak menggunakan kartu kreditnya seperti itu, ini semua tidak akan terjadi. Jangan seperti itu lagi, oke?” respon Bok-Sil.

“Aku hanya ingin membelikanmu hadiah,” ujar Louis.

“Aku tahu”

“Bagaimana kau tahu?” tanya Louis.

“Ada seorang nenek yang memberitahuku,” jawab Bok-Sil.

“Wah, aku tidak tahu siapa dia, tapi aku sangat berterima kasih kepadanya,” ujar Louis sambil tertawa kecil.

“Louis, daripada hadiah, bisakah kau mengajakku ke bioskop? Aku tidak pernah ke bioskop sebelumnya?” pinta Bok-Sil.

“Sepertinya aku juga belum pernah ke sana.”

“Hah? Aku berasal dari gunung, lalu kamu berasal dari planet mana?” tanya Bok-Sil heran.

Bok-Sil lalu mengatakan akan meluruskan rambut Louis. Louis senang karena seharian ini ia sudah ditertawakan banyak orang karena rambutnya yang aneh. Ia juga menawarkan untuk meluruskan rambut Bok-Sil setelah itu. Bok-Sil mengiyakan.

31

Esok harinya, Bok-Sil tiba terlebih dahulu di bioskop. Ia menunggu Louis yang masih belum juga datang. Louis sendiri saat itu sedang mampir ke toko bunga untuk membeli setangkai bunga bagi Bok-Sil. Sambil melangkah riang, dan sempat-sempatnya nemu koin di jalan, Louis berjalan menuju bioskop. Saat menyeberang jalan, ia tidak melihat lampu penyeberangan yang sudah mulai berganti. Tanpa disangka, sebuah mobil tiba-tiba menabraknya.


Lagu “Starry, Starry Night” aslinya berjudul “Vincent”. Lagu ini diciptakan dan dinyanyikan oleh Don McLean sebagai tribut bagi karya-karya lukisa masterpiece Vincent Van Gogh. Berikut ini video klip lagu “Starry, Starry Night” / “Vincent” dari Don McLean.


Preview Episode 6

» Sinopsis Ep 6 Selengkapnya

Reply