Review Komik Year Zero #5 (AWA Studios, 2020)

Di cerita sebelumnya, Sara Wilson dan rekan-rekannya berada dalam kondisi terjepit. Di dalam Stasiun Penelitian Kutub mereka terlihat sedang menghadapi sesuatu yang mematikan, sementara di luar badai salju tengah menerjang. Sistem komunikasi yang mati juga membuat Sara tidak bisa memberi kabar pada dunia luar mengenai manusia es yang sebelumnya ditemukan. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Simak kelanjutannya dalam sinopsis komik Year Zero #5 berikut.

Sinopsis Komik *SPOILER*

Review Komik Year Zero #5 (AWA Studios, 2020)

Benjamin Percy (Wolverine) and Ramon Rosanas (Star Wars: Age of Resistance) present an epic tale that offers a global look at the Zombie Apocalypse. A Japanese hitman, a Mexican street urchin, an Afghan military aide, a Polar research scientist, a midwestern American survivalist – five survivors of a horrific global epidemic who must draw upon their unique skills and deepest instincts to navigate a world of shambling dead. Year Zero wrestles with the weighty moral and theological questions posed by the pandemic and investigates its cause and possible cure.

Story: Benjamin Percy
Art: Ramon Rosanas
Color: Lee Roughridge
Letter: Sal Cipriano
Judul Edisi: –
Tanggal Rilis: 30 September 2020

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Di Stasiun Penelitian Kutub, dengan situasi yang makin genting, Sara Lemons merasa tidak ada pilihan lain. Sembari menghindar dari manusia es dan rekan-rekannya yang telah terinfeksi virus zombie, Sara masuk ke area dapur dan menghidupkan kompor gas. Terakhir, berharap agar virus tersebut tidak menyebar ke dunia luar, Sara menyalakan korek api dan meledakkan seluruh bangunan.

Di Mexico City, Daniel Martinez kembali ke dalam Metropolitan Cathedral. Sempat ada yang memergokinya, namun ia mengaku hanya sekedar mencari tempat sunyi untuk berdoa. Tak lama kemudian, di belakang Daniel mulai bermunculan zombie-zombie yang memang sudah dipancing oleh Daniel untuk mengikutinya. Sesuai rencana, Daniel langsung memanjat ke atas patung salib raksasa untuk menyelamatkan diri.

Di Tokyo, setelah melalui pertarungan sengit, Saga Watanabe berhasil membunuh Hideo, mantan bos yakuza-nya, dan sekaligus membalaskan dendamnya. Meski tahu ia bisa bertahan hidup jika terus tinggal di dalam markas yakuza, Saga memutuskan untuk menjalani hidupnya yang memiliki garis keturunan samurai dan kembali turun ke jalan.

Di Tora Bora, Afghanistan. Fatemah Shah dkk mengira hidup mereka bakal berakhir di tangan teroris. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir dirinya telah bekerja dengan tentara Amerika Serikat sebagai penterjemah. Tanpa disangka, orang-orang yang menangkap mereka bukanlah teroris. Melainkan justru sekelompok wanita (dan anak-anak) yang sengaja kabur dan bersembunyi di sana. Mereka pun diterima untuk menjadi bagian dari kelompok tersebut.

Di Burnsville, Minnesota. Walau kecewa karena yang selama ini ia hubungi sebenarnya adalah seorang pria bernama Keith, B.J. Hool alias Bob memutuskan untuk bersikap rasional. Ia menanyakan apa yang sebenarnya diinginkan oleh Keith. Jawabannya ternyata sederhana. Keith, yang selama ini merasa sendirian di dalam rumah, ingin hang out ke rumah Bob dan mengobrol bersamanya. Bob pun pada akhirnya bisa menerima hal itu.


Seperti perkiraan, di episode terakhirnya ini sebagian cerita dalam Year Zero terasa tidak tuntas. Masih menggantung dan bikin geregetan. Saat artikel ini ditulis memang sudah ada kelanjutannya, Year Zero Volume 2. Saya sendiri belum membacanya, kurang tahu apakah ceritanya melanjutkan cerita-cerita di sini atau kembali mengangkat alur-alur yang baru. Kalau opsi kedua yang diambil, rasanya bakal seru kalau suatu saat ada ‘pertemuan’ dengan karakter-karakter di miniseri ini. Ya, kan?

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply