Review Komik The Extinction Parade: War (Avatar Press, 2014)

Setelah sedikit banyak memberikan gambaran mengenai kondisi dunia pasca bangkitnya kaum zombie dan pengaruhnya terhadap populasi manusia serta eksistensi kaum vampir, cerita dalam “The Extinction Parade” berlanjut ke sekuelnya yang diberi tajuk “The Extinction Parade: War”. Sesuai namanya, bisa diharapkan banyak adegan seru pertarungan antara kaum vampir dan juga kaum zombie. Sedikit flashback, kaum vampir jadi termotivasi untuk merespon keberadaan kaum zombie pasca menyaksikan sendiri bagaimana Vrauwe dan Laila menghabisi sekumpulan mayat hidup tersebut. Nah, lalu seperti apa kelanjutan kisahnya?

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Sinopsis Singkat

Cover komik The Extinction Parade War #1

MAX BROOKS returns to the frightening world of zombies versus vampires in his groundbreaking follow up series: Extinction Parade: War! Well known for his breathtakingly original fiction, Brooks pushes the limits of the horror genre with his trademark meticulous research and vision for the next evolution in zombie storytelling. The subdead were always a joke to the aristocratic vampire race. Just a spec on the radar of their immortal lives, nothing worth even a moment’s notice in their quest for self-gratification through the veins of their host, the human race. But at last they have been pulled from their ignorance into the reality of the world. The human race is facing extinction and should they succumb so too shall the vampires disappear beneath the waves of rotting walking dead. Extinction Parade: War opens the doors to the next violent chapter in Brooks’ epic tale with an oversized issue starting the all-out battle for the survival of the races!

Penulis: Max Brooks
Artis: Raulo Cáceres (Pencil, Ink) / Digikore Studios (Color) / Kurt Hathaway (Letter)
Publikasi: June – November 2014
Penerbit: Avatar Press
Genre: Horor, Action
Status: Completed (5 Edisi)

Usaha Laila dan Vrauwe dalam menghentikan kaum zombie menghabiskan sumber makanan mereka dimulai. Sayangnya, seberapa kuat mereka berusaha, gelombang kedatangan zombie yang seolah tanpa henti membuat mereka berdua kewalahan. Dari segi kekuatan memang keduanya jauh di atas manusia biasa. Namun tetap saja, stamina mereka ada batasnya. Terlebih lagi, meski zombie tidak punya naluri menyerang mereka, keduanya tetap bisa terinfeksi apabila darah zombie masuk ke dalam tubuh mereka.

Untungnya satu demi satu rekan mereka sesama vampir datang dan bergabung. Perang pun berlanjut. Tidak lagi dengan tangan kosong, melainkan mulai menggunakan senjata. Dari keris, pedang, tombak, sampai senjata api. Hingga akhirnya mereka semua bergabung dengan Nguyen, salah seorang vampir, yang berhasil membentuk pasukan tentara vampir untuk membasmi zombie. Akankah pada akhirnya umat manusia bisa terselamatkan?

Review Singkat

Meski dibalut dengan aksi pertarungan kaum vampir melawan kaum zombie, pembaca yang jeli akan menyadari sebelum edisi pamungkas bahwa Max Brooks sedang membawa kita dalam kilas balik sejarah kehidupan manusia, khususnya yang berkaitan dengan perang. Entah itu untuk bertahan hidup atau untuk menguasai / mendominasi pihak lain.

Tidak itu saja, kaum vampir yang selama ini berusaha untuk menutupi keberadaan mereka, tanpa disadari merasa bahwa dirinya sudah bukan lagi manusia yang sama dengan yang lain. Kondisi dunia pasca serangan zombie membuat mereka mulai ‘mencoba’ merasakan bagaimana rasanya menjadi manusia biasa. Yang bisa dengan ‘asyiknya’ berperang dan membunuh musuh mereka tanpa harus repot-repot menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi.

Titik klimaks yang dihadirkan jelas menjadi twist yang mengejutkan. Masih ada hubungannya dengan yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya, Nguyen yang membawahi sepasukan tentara vampir, pada akhirnya hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang jendral yang mengepalai para tentara. Ia sama sekali tidak memiliki naluri untuk berperang, apalagi strategi untuk mengalahkan musuh. Alih-alih, ia justru sibuk mendesain seragam yang mentereng bagi dirinya sendiri.

Kisah lagi-lagi ditutup dengan tidak tuntas, dimana Laila dan Vrauwe memutuskan untuk berhenti berperang dan tidak lagi memangsa manusia. Di halaman akhir terlihat kondisi keduanya yang sudah nyaris sekarat akibat kelaparan. Nasib mereka selanjutnya kabarnya baru akan bisa kita simak di “The Extinction Parade: Endangered”, yang sayangnya, hingga artikel ini ditulis, belum ada tanda-tanda bakal dirilis.


Cerita yang belum juga mencapai kata “The End” jelas bikin kesel. Apalagi setelah 5 tahun berlalu tetap tidak ada kelanjutannya. Padahal bisa saja, cerita diperpanjang satu edisi lagi untuk menunjukkan nasib kedua tokoh utamanya, Laila dan Vrauwe, agar tidak bikin gregetan. Entah ini strategi marketing atau Max Brooks yang males meneruskan kisahnya.

Di sisi lain, cerita “The Extinction Parade: War” dapat dikatakan cukup menarik karena lagi-lagi mengambil sudut pandang kisah zombie yang berbeda. Kita dibawa mengikuti sejarah perang umat manusia dari jaman dahulu hingga jaman modern. Goresan pena Raulo Cáceres juga masih mampu menyajikan artwork yang berkesan: brutal dan sadis tanpa ditutup-tutupi.

Recommended!

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply