Review Komik The Extinction Parade (Avatar Press, 2013)

Saat beberapa waktu lalu membahas tentang komik horor “Stitched“, saya sempat menyinggung deretan komik zombie favorit saya. Saya sebutkan bahwa saya lupa judul seri yang ada di posisi kedua. Nah, hari ini akhirnya ketemu juga tajuknya. Tak lain dan tak bukan adalah “The Extinction Parade” karya Max Brooks, pengarang novel populer “World War Z”. Sayangnya, nasib franchise ini belum seberuntung “World War Z” yang sudah diangkat ke layar lebar. Semoga saja bisa segera menyusul, karena bagi saya pribadi, cerita dan settingnya cukup menarik. Penasaran seperti apa?

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Sinopsis Singkat

Cover komik The Extinction Parade #1

With human populations dwindling from the zombie apocolypse, the vampire race plans to wipe out the undead in order to save humanity for their own nefarious purposes.

Penulis: Max Brooks
Artis: Raulo Cáceres (Pencil, Ink) / Digikore Studios (Color) / Kurt Hathaway (Letter)
Publikasi: 2013
Penerbit: Avatar Press
Genre: Horor, Action
Status: Completed (5 Edisi)

Well, kalau teman-teman paham bahasa Inggris, dari cuplikan di atas tentunya sudah langsung ketahuan seperti apa garis besar ceritanya. Iya benar, jika kebanyakan cerita zombie hanya mengusung tema manusia yang harus bertahan hidup agar tidak ikut-ikutan menjadi mayat hidup, dalam “The Extinction Parade” ada tambahan satu ras lagi yang turut eksis. Vampire.

Dikisahkan, kaum vampir yang semula hidup tenang menjadi terusik akibat hadirnya kaum zombie. Bukan apa-apa. Sumber makanan mereka sama. Bedanya, kaum zombie yang tidak berakal akan selalu bergerak untuk memangsa manusia tanpa memperhitungkan keberadaan sumber makanan mereka itu yang lama-kelamaan bisa habis. Sebaliknya, selama ini kaum vampir sadar akan hal tersebut, sehingga mereka hanya mengkonsumsi manusia seperlunya saja. Mereka bahkan selalu menutupi keberadaan mereka dengan cara mengkamuflasekan korban mereka agar terlihat seperti korban kriminal atau kecelakaan biasa.

Meski sudah mengetahui keberadaan zombie sejak awal, para vampir awalnya tidak mempedulikan mereka. Terlebih kaum zombie sama sekali tidak menganggap keberadaan mereka. Dalam arti sama sekali tidak punya naluri untuk menyerang kaum vampir saat bertemu. Namun populasi manusia yang semakin lama semakin menipis pada akhirnya menjadi titik balik.

Dengan keberadaan umat manusia yang dipertaruhkan, kini kaum vampir harus mencari cara bagaimana mereka bisa memusnahkan kaum zombie. Meski unggul dari segi kekuatan fisik, namun tentu saja, dari segi jumlah mereka jauh di bawah kaum zombie. Mampukah kaum vampir ‘menyelamatkan’ umat manusia?

Review Singkat

Dalam beberapa halaman pertama mungkin teman-teman sudah akan langsung tahu alasan kenapa saya menyatakan “The Extinction Parade” punya setting yang berbeda. Ya, alih-alih di negeri barat seperti kebanyakan komik horor / zombie, serial ini mengambil latar di negeri Malaysia. Betul, saya tidak salah tulis, latarnya di negara tetangga kita sendiri. Dari sudut ini saja sudah kebayang betapa uniknya penampakan zombie-zombie yang ada. Mulai dari yang bersarung hingga yang berjilbab.

Selain tentang pergerakan kaum zombie dalam menggerus populasi manusia, sebagian kisah dalam “The Extinction Parade” fokus pada sejarah masa lalu kaum vampir, terutama dari mata kedua tokoh utamanya, Laila dan adiknya, Vrauwe. Bagaimana mereka bisa terus eksis dan menutupi keberadaan mereka dari dunia luar sejak dahulu kala.

Sayangnya, saya tidak melihat (bisa jadi terlewat) ada penjelasan bagaimana keduanya bisa berubah menjadi vampir. Sayang yang sama dengan tidak adanya titik awal lahirnya kaum zombie. Tahu-tahu sudah bejibun aja jumlahnya. Untungnya, aksi-aksi horor yang ‘menawan’ bisa membuat saya sedikit lupa dengan kedua hal tersebut.

Lalu kapan perangnya? Itu dia. Momen pertarungan antara kaum vampir dan kaum zombie sebenarnya baru dimulai di serial sekuelnya, “The Extinction Parade: War”. Agak mengecewakan memang. Namun saya pribadi tetap memberi acungan jempol pada serial singkat ini, yang mampu membuat tersenyum-senyum sendiri melihat kebrutalan para zombie yang ada. Dan setidaknya, di edisi pamungkasnya, kita bisa mendapat sedikit preview bagaimana nanti perang antar kaum pemangsa manusia tersebut berlangsung.


Artworknya memang tidak bisa dibilang istimewa. Tapi entah kenapa, elemen itu yang membuat salah satu penyebab saya masih teringat dengan serial komik “The Extinction Parade” hingga sekarang. Tentu saja, alasan utama adalah premis ceritanya yang menarik dan unik. Kita memang tidak akan banyak melihat sajian pertempuran antara kaum zombie dan vampir di sini, namun bukan berarti serial ini miskin aksi. Baik aksi seru maupun aksi horor. Tetap layak kok untuk disimak. Minimal sebagai pemanasan untuk sekuelnya, “The Extinction Parade: War”.

Jangan dilewatkan!

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply