Review Komik Grimm Fairy Tales: Short Story Collection Volume 1 (Zenescope, 2010)

Zenescope tahu betul bagaimana cara menghasilkan uang dari jagat komik populer mereka, Grimm Fairy Tales (GFT). Secara rutin, di setiap volume TPB (Trade Paperback) mereka menambahkan satu cerita pendek yang memiliki kaitan cerita erat dengan cerita utama jagat GFT. Setelah terkumpul 6 cerita dari Grimm Fairy Tales TPB Volume 1-6, cerita-cerita pendek itu mereka publikasikan ulang sebagai Short Story Collection. Cerdas.

Berhubung edisi #37 dari GFT ada kaitannya dengan salah satu cerita pendek di komik ini, maka sudah sewajarnya jika saya bahas terlebih dahulu agar tidak sama-sama bingung, hehehe. Langsung deh simak sinopsis dari 6 cerita pendek yang ada adalam GFT: Short Story Collection Volume 1 berikut.

Sinopsis Komik *SPOILER*

Review Komik Grimm Fairy Tales: Short Story Collection Volume 1 (Zenescope, 2010)

Through each of the first six volumes of Grimm Fairy Tales trade paperbacks a new short story was found, each one offering more insight into the worlds of Sela and Belinda, each one holding a key to the incredible epic tale that continues to build. Now these shorts are collected into one complete edition as glimpses into Sela’s and Belinda’s pasts are revealed. Legacy, Timepiece, Pawns, The Gift, The Lamp and Wicked Ways. This six story collection is a must-have for any hardcore Grimm fan!

Tanggal Rilis: Februari 2010

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Legacy

Story: Ralph Tedesco
Art: Lynx Studios

Sela Mathers mengajar di sebuah kelas. Sepertinya berkaitan dengan sastra atau filosofi. Usai mengajar, salah satu murid menghampirinya, menyatakan kekagumannya pada Sela yang terlihat sangat bersemangat dan menikmati tema pelajaran mereka hari itu mengenai moral manusia.

Murid tersebut, yang belakangan diketahui bernama Megan, lantas menanyakan mengenai buku berwarna merah yang dijadikan bahan mengajar oleh Sela. Sela mengaku buku tersebut diberikan kepadanya sejak lama.

Thomas menunjukkan sebuah rumah kayu di tengah hutan pada saudarinya, Belinda. Menurut Thomas, paman mereka yang bernama John menyatakan bahwa itu adalah tempat tinggal seorang penyihir.

Penasaran, Sela nekat masuk ke dalamnya, tidak menghiraukan Thomas yang berusaha mencegahnya. Di dalam ia menemukan sebuah buku berwarna merah.

Seorang nenek tua tiba-tiba muncul. Ia memberitahu Sela bahwa buku tersebut memiliki kekuatan yang besar. Tidak itu saja, ia bahkan sudah menunggu kedatangan Sela untuk serah terima buku tersebut. Tanpa ada penjelasan lebih lanjut, nenek itu menghilang setelah mengatakan Sela lambat laun akan mengetahui sendiri takdirnya.

Sekejap kemudian, Sela mendapati dirinya sudah terbaring di lantai. Rumah yang tadinya rapi kini berantakan. Dengan kebingungan, Sela mengambil buku merah sebelumnya lalu keluar menuju cahaya terang di hutan.

Tanpa disangka, Sela kini berada di sebuah kota. Ia merasa kota itu mirip dengan kota tempat tinggalnya, namun suasananya sudah jauh berbeda.

Saat berjalan, ia menabrak seorang pria tua. Pria tua itu kaget melihat wajah Sela. Apalagi setelah ia memastikan ada goresan bekas luka di tangan Sela.

Heran mengapa orang tua itu bisa tahu mengenai lukanya, Sela lantas menanyakan siapa sebenarnya dirinya. Dan pria tua itu pun menjawab bahwa ia adalah Thomas, saudara Sela.

Sela memberitahu Megan bahwa suatu saat nanti ia akan menceritakan lebih lanjut mengenai masa lalunya. Nanti jika Megan sudah siap untuk itu.


Timepiece

Story: Joe Tyler, Ralph Tedesco
Art: John Toledo / Andrew Mangum
Color: Nei Ruffino
Letter: Alphabet Soup’s Pilip Clark

Seorang pria menghampiri Sela Mathers. Karena tidak mengenalnya, Sela menanyakan siapa pria tersebut. Pria tersebut mengatakan ada teman Sela yang meminta dirinya menyerahkan sebuah jam saku kepadanya.

Melihat jam tersebut, Sela mengaku bahwa itu bukan miliknya dan mengembalikan jam tersebut. Namun saat ia hendak beranjak pergi, pria tersebut meraih tangannya dan mengajaknya maka siang bersama. Ia mengatakan bahwa ia merasa pernah bertemu dengan Sela sebelumnya. Sela mengiyakan.

Makan siang tersebut berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya. Hubungan mereka menjadi makin dekat dan berujung ke hubungan asmara.

Sela sendiri awalnya merasa bahwa ia tidak seharusnya terlibat dengan pria tersebut yang diketahui bernama Robert. Namun hatinya berkata lain. Pada akhirnya ia jatuh cinta kepadanya walau dalam hati kecilnya ia sadar itu adalah sebuah kesalahan.

Tahun demi tahun berlalu. Selama ini Sela menyembunyikan kekuatannya dari Robert. Ia juga selalu menolak menikah dengannya. Hingga suatu hari Robert benar-benar memohon agar Sela mau menikah dengannya. Sela mengiyakan.

Itu terakhir kalinya Robert melihat Sela. Dengan meninggalkan sebuah surat permohonan maaf, Sela memutuskan untuk akhirnya pergi dari kehidupan Robert.

Tahun demi tahun kembali berlalu. Sela mendatangi rumah milik Robert dan mendapati pria yang ia cintai itu terbaring di tempat tidur. Kondisinya sepertinya sudah kritis. Ada banyak alat medis di sampingnya. Termasuk alat bantu pernafasan.

Robert menyatakan bahwa sejak kepergian Sela, ia menghabiskan waktunya untuk berkeliling dunia mencari Sela. Pun begitu, ia tidak menyesalinya karena setidaknya permintaan terakhirnya terkabul. Yaitu bertemu sekali lagi dengan Sela sebelum ia meninggal.

Sela duduk di depan makam Robert. Seorang wanita berambut merah tiba-tiba muncul dan menyapanya. Wanita itu rupanya tahu mengenai Sela yang awet muda dan betapa tersiksanya sela atas hal itu. Wanita itu kemudian mengajak Sela untuk membuat orang-orang lain merasakan kepedihan yang mereka rasakan.

Hati Sela seperti tercerahkan. Selama ini ia menggunakan kekuatannya untuk mencoba membantu orang lain. Wanita tersebut merespon bahwa ada banyak yang masih harus dipelajari oleh Sela.


Wicked Ways

Story: Joe Tyler
Art: Vic Drujiniu (Lynx Studio)
Color: Garry Henderson
Letter: Thomas Mauer

Tidak banyak yang diceritakan di edisi ini. Hanya ditunjukkan bahwa kemana Belinda melangkah, selalu saja ada keributan atau permasalahan di sana. Pun begitu, tidak jelas apakah hanya kebetulan atau diam-diam Belinda yang merencanakan itu semua.


The Lamp

Story: Raven Gregory & Dan Wickline
Art: Renato Gamilo
Color: Garry Henderson
Letter: Crank!

Sekelompok orang, yang sepertinya adalah penjarah, sedang mengumpulkan barang-barang berharga dari rumah penyihir yang sudah meninggal (baca Grimm Fairy Tales #21). Ada sebuah lampu minyak tergeletak di dekat jenazah penyihir tersebut.

Barang-barang berharga tersebut kemudian diselundupkan ke kota lain dengan menggunakan kapal. Ada seorang pangeran kerajaan yang juga ikut di kapal tersebut.

Di tengah perjalanan, kapal diserang badai besar. Pembantu sang pangeran lantas meminta pangeran untuk terlebih dahulu menyelamatkan diri dengan menggunakan perahu.

Beberapa saat kemudian, kapal tersebut menghantam karang dan hancur berantakan. Tak lama, perahu kayu yang digunakan pangeran juga retak dan ia terombang-ambing di lautan.

Puing-puing kapal terdampar di pantai. Melihat sebuah lampu minyak, seorang anak kecil mengambilnya. Anak tersebut, yang belakangan diketahui bernama Pots, menunjukkan lampu minyak itu pada ayahnya.

Melihat lampu minyak tersebut, ayah Pots berniat untuk menjualnya dengan harga mahal. Sebelumnya, ia mengambil kain dan menggosoknya agar berkilau.


Pawns

Seorang pria berambut putih (tidak diketahui namanya, penyamaran dari Death) sedang bermain catur dengan menggunakan karakter-karakter dalam jagat Grimm Fairy Tales sebagai bidaknya. Belinda dan Sela termasuk di antaranya.

Seorang pria lain, berkacamata, datang dan memberikan secarik kertas kepadanya. Pria berambut putih tadi lantas menanyakan dimana mereka berada. Kemungkinan yang dimaksud adalah Nathan Cross dan Wendy Darling, karena ada foto mereka di meja.

Pria berkacamata menjawab bahwa orang yang dicari ada di New York.

Pria berambut putih memastikan apakah pria berkacamata itu tahu apa yang harus ia lakukan. Pria berkacamata mengiyakan. Nanti malam ia bakal mendatangi teman mereka yang ada di dimensi ketiga.

Pria berkacamata itu lantas menanyakan apakah ‘ia’ menaruh curiga tentang anaknya (baca Grimm Fairy Tales Giant-Size #1). Pria berambut putih dengan yakin menjawab tidak. Dia menambahkan, memang seharusnya ‘ia’ tidak boleh tahu tentang hal itu karena bisa merusak segala rencana mereka.


The Gift

Story: Joe Brusha
Art: Jean-Paul Deshong
Color: Shenfali Randeria
Letter: Bernie Lee

Seorang wanita berjubah ungu masuk ke sebuah ungu. Tak lama ia tiba di depan sebua pintu berornamen tengkorak.

Sesosok monster muncul membukakan pintu tersebut. Ia memberitahukan bahwa tuannya sudah menunggu kedatangan wanita tersebut.

Setelah menyusuri beberapa ruangan dan anak tangga, mereka tiba di sebuah ruangan khusus. Ada sosok iblis tinggi besar bernama Orcus di sana. Mengetahui kedatangannya, Orcus menyambutnya sebagai ratu.

Tanpa banyak basa-basi, Orcus menyerahkan sebuah batu kristal yang sepertinya sudah dipesan oleh wanita berjubah ungu tersebut. Orcus mengklaim bahwa batu kristal itu bisa menunjukkan apa saja yang ingin dilihat oleh si wanita.

Pun begitu, masih ada satu lagi pesanan si wanita yang belum jadi. Sepertinya sebuah pedang. Ada komponen bahan baku yang belum terkumpul, yang berasal dari kuda unicorn. Untungnya, saat itu sudah waktunya kuda unicorn muncul di dunia.

Orcus menyatakan, kematian kuda unicorn tersebut bakal menandai lahirnya dunia baru dimana pemimpin mereka berkuasa. Dan yang lebih penting, dunia dimana ia bisa melakukan balas dendam.


Oke, tebakan saya sebelumnya rupanya tepat. Pria berambut putih ternyata memang jelmaan dari Death. Tapi yang masih bikin penasaran, kenapa dalam GFT Annual 2008 ia berhubungan dengan Sela, ya? Sela sendiri sepertinya tidak tahu bahwa pria tersebut adalah Death.

Yang agak membingungkan adalah pada cerita terakhir, “The Gift”. Apakah si wanita berjubah ungu itu adalah Belinda? Atau jelmaan dari pria berambut kacamata yang sebelumnya berdiskusi dengan Death / pria berambut putih dalam “Pawns”.

Duh, jadi makin penasaran.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply