Review Komik Grimm Fairy Tales #31 (Zenescope, 2008)

Di cerita sebelumnya, Grimm Fairy Tales volume 5 ditutup dengan teaser hadirnya kembali Sela Mathers untuk melawan Belinda. Belum jelas kapan dan bagaimana ia bakalan bisa terbebas dari bongkahan es yang membekukannya. Untuk saat ini, kita nikmati dulu saja sinopsis edisi pembuka volume selanjutnya, Grimm Fairy Tales #31. Cekidot!

Sinopsis Komik *SPOILER*

Review Komik Grimm Fairy Tales #31 (Zenescope, 2008)

A single father has only his young son left in the world. It’s a bond that can never be shattered, but what if your son isn’t really the boy you thought he was? Will Belinda find a way to corrupt yet another young mind, or will a father’s love be enough to protect his flesh and blood from evil? Two lives mirror one another if the first part of what might be the most intense and heart-wrenching Grimm Fairy Tales to ever hit store shelves!

Story: Ralph Tedesco, David Seidman
Art: Dave Hoover
Color: Garry Hendeson
Letter: Crank!
Judul Edisi: Pinocchio Part 1
Tanggal Rilis: Oktober 2008

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

3 tahun yang lalu. Jacob Fremont, berusia 8 tahun, baru saja ditinggal pergi oleh ibunya. Saat sedang menunggu kereta datang, seseorang berusaha merampas kamera yang dibawa ibunya. Tarikannya membuat ibu Jacob terjatuh ke rel dan tertabrak kereta hingga tewas di tempat. Sejak itu Jacob tinggal berdua bersama ayahnya, Mark Fremont.

Suatu pagi, ayah Jacob membangunkannya. Tidak sengaja ia melihat sebuah buku di bawah tempat tidur Jacob. Saat ditanya, Jacob mengatakan bahwa ia meminjamnya dari temannya yang bernama Lynn. Mengingat sejak kematian ibunya Jacob lebih banyak menyendiri, ayah Jacob senang mendengarnya. Ia bahkan menggoda dengan menanyakan apakah Lynn adalah pacar Jacob. Jacob membantah.

Di sekolah, mereka bertemu dengan Sarah McCormack, guru Jacob. Mark meminta agar Jacob masuk duluan ke dalam kelas karena ia hendak ngobrol terlebih dahulu dengan gurunya. Sebelum berbincang, Mark berniat menyalakan rokoknya. Karena tidak menemukan pemantiknya, Sarah lantas meminjamkan miliknya. Mark kagum dengan bentuk pemantik api milik McCormack yang cukup unik.

Mark kemudian menanyakan perihal kondisi Jacob di sekolah. Termasuk tentang Lynn. Tanpa diduga, tidak ada murid yang bernama Lynn di sekolah. Mark kaget mendengarnya. Ia khawatir jangan-jangan Jacob hanya mengada-ada. Kendati demikian, Sarah menyarankan agar Mark tidak buru-buru menghentikan terapi yang tengah dijalani Jacob. Lagipula, pihak sekolah masih menginvestigasi kematian binatang peliharaan sekolah yang diduga dilakukan oleh Jacob.

Agar tidak terlalu stress, Sarah menawarkan untuk makan malam bersama. Mark mengiyakan.

Di rumah, Mark jadi penasaran dengan buku yang disebut Jacob pinjaman dari Lynn. Saat dibuka, isinya adalah dongeng tentang Pinocchio. Ada pula selembar kertas pesan untuk Jacob dari seseorang berinisial B.

Gepetto adalah seorang tukang kayu yang hidup sebatang kara pasca kematian istri dan putra satu-satunya. Ia mencoba untuk mengisi kekosongan hatinya dengan membuat boneka-boneka kayu. Hasil karyanya yang tampak realistis membuat banyak orang sengaja jauh-jauh datang ke rumahnya untuk membeli boneka-boneka tersebut.

Pun begitu, lama-kelamaan Gepetto kembali merasa jenuh dan berhenti melakukannya. Ia kembali menyendiri bersama dengan satu boneka kayu yang ia anggap hasil karya terbaiknya. Boneka kayu tersebut ia beri nama Pinocchio. Ia berharap Pinocchio bisa benar-benar hidup dan menjadi pengganti anaknya yang sudah tiada. Saking ngarepnya, setiap malam ia membacakan dongeng untuknya, layaknya seorang ayah yang menidurkan anaknya.

Suatu malam Gepetto terbangun. Ia terkejut mendapati Pinocchio tidak berada di pangkuannya seperti biasanya. Lebih terkejut lagi, Pinocchio ternyata sudah berada di ruangan lain, dalam kondisi hidup. Tubuhnya memang masih terbuat dari kayu, namun ia bisa bergerak dan berbicara layaknya manusia. Dan itu membuat Gepetto bahagia.

Hari demi hari berlalu. Pinocchio masih penasaran dengan boneka-boneka kayu lain milik Gepetto yang hanya teronggok begitu saja. Tidak seperti dirinya yang bisa bergerak ke sana kemari. Gepetto memberitahu bahwa Pinocchio spesial, berbeda dengan yang lain. Hal itu makin membuat Pinocchio penasaran. Ia menanyakan apakah ada anak lain yang bisa bergerak dan berbicara seperti dirinya. Jika ada, ia ingin bertemu dengan mereka. Walau sempat khawatir orang-orang bakal tidak menerima Pinochhio karena kondisinya, Gepetto akhirnya mengijinkan Pinocchio untuk pergi ke sekolah.

Tepat sesuai dugaan Gepetto, di sekolah Pinocchio di-bully habis-habisan. Seekor belalang muncul, mencoba menguatkan Pinocchio. Ia mengaku berasal dari pohon yang sama seperti Pinocchio.

Pinocchio lantas melihat poster pertunjukan boneka Punch & Judy yang diadakan oleh Professor Fireeater. Ia kepo, mengira bakal bertemu dengan boneka-boneka seperti dirinya di sana. Dengan menjual buku-buku pelajarannya, atas usul si belalang, Pinocchio menyewa kereta kuda untuk diantarkan ke Great Marionette Theater, tempat pertunjukan berlangsung.

Setibanya di sana, Pinocchio kecewa begitu tahu bahwa boneka-boneka di sana juga dalam keadaan mati. Ia justru bertemu dengan Professor Fireeater, yang begitu tahu kondisi Pinocchio langsung mengajaknya ‘berkolaborasi’.

Sementara itu, Gepetto mencoba mencari keberadaan Pinocchio yang belum juga pulang ke rumah. Saat tengah menempelkan poster kehilangan, 2 orang pria bernama samaran Fox dan Cat menawarkan diri untuk mencarinya asal diberi bayaran di muka. Gepetto setuju.

Fox ternyata tahu bahwa Professor Fireeater hendak membuat pertunjukan dengan boneka kayu yang diklaim bernyawa. Setelah melihat Pinocchio yang dikurung di dalam sangkar, ia mengatur rencana untuk mencuri kunci sangkar tersebut dari tangan Professor Fireeater. Usaha mereka berhasil.

Pun begitu, Fox tidak langsung membebaskan Pinocchio. Alih-alih, ia diam-diam menemui Pinocchio dan membuat penawaran. Fox mengaku tahu orang yang bisa mengubah Pinocchio menjadi manusia seutuhnya. Sembari menyerahkan kunci sangkar pada Pinocchio, Fox meminta agar besok pagi ia menemui dirinya di Greak Oak Tree.

Malam harinya, Pinocchio mengambil keputusan untuk pergi. Ia sudah terlanjur kesal dengan Professor FireEater yang mengurung dan acap mengancam akan membakarnya. Sebelum pergi, si belalang memanas-manasi Pinocchio agar membalaskan dendamnya. Pinocchio setuju. Setelah mengatur perangkap, sang profesor pun tewas di tangannya.

Fox membeberkan rencananya pada Cat. Setelah mendapatkan uang sisa pembayaran dari Gepetto, Cat diminta untuk membunuhnya. Berikutnya Pinocchio akan mereka jual ke Nobles Carnivale dengan harga tinggi.

Tak lama Pinocchio datang. Ia buru-buru minta dipertemukan dengan orang yang dijanjikan Fox bisa mengubahnya menjadi manusia. Fox meminta Pinocchio bersabar karena ayahnya akan segera datang. Pinocchio tidak terlalu antusias mendengarnya. Ia sama sekali tidak ingin pulang ke rumah karena menganggap Gepetto sama saja seperti yang lain. Tahu bahwa Fox dan Cat berniat buruk, Pinocchio kemudian menyerang mereka. Fox terbunuh sementara Cat terbentur dan jatuh pingsan.

Saat Gepetto tiba, ia menanyakan apa yang terjadi pada Pinocchio. Pinocchio berbohong dengan menyatakan bahwa Cat sudah membunuh Fox. Tanpa ia sadari, hidungnya memanjang dengan sendirinya. Gepetto heran melihatnya.

Sesaat kemudian Cat datang. Ia langsung menyerang Pinocchio karena tahu pasti Pinocchio yang sudah membunuh Fox. Tanpa sempat dicegah oleh Gepetto, Cat lantas melemparkan Pinocchio dari tebing. Khawatir dengan nasib Pinocchio, Gepetto ikut melompat dari tebing.

Mendengar Jacob pulang, Mark buru-buru menyimpan kembali buku tersebut di bawah tempat tidur. Pada ayahnya Jacob mengatakan bahwa sekolah diliburkan karena Sarah meninggal. Lebih tepatnya dicekik hingga tewas. Mark kaget mendengarnya.

Belum hilang kekagetannya, pihak sekolah tiba-tiba menelpon dan mengabarkan hal tersebut. Saat disinggung soal pembunuhan, pihak sekolah mengaku bahwa tidak ada seorang pun yang memberitahukan soal pembunuhan pada murid. Mereka hanya diberitahu bahwa guru mereka itu meninggal karena kecelakaan. Mark semakin kaget mendengarnya.


Sebelumnya, prolog dari kisah “Pinocchio” ini bisa dibaca di Grimm Fairy Tales 2007 Annual, dimana di situ dijelaskan asal usul kayu yang digunakan untuk membuat boneka Pinokio.

Artwork dari cerita dongeng Pinocchio di sini cukup menarik. Artistik. Meski indah di mata, saya pribadi kurang menyukainya karena perlu kerja ekstra untuk membaca dan memahami alurnya. Yang agak mengecewakan justru cerita utamanya. Rasanya sudah lebih dari sekali pola serupa dipakai. Tentang anak laki-laki yang terlihat biasa saja tapi di belakang ternyata psycho. Semoga di part keduanya nanti, yang merupakan konklusi, ada sesuatu yang menjadi pembeda.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply