Review Komik DCeased: Hope At World’s End #3 (DC Comics, 2020)

Di cerita sebelumnya, kita melihat apa yang menjadi nasib dari Black Adam paska terjadinya pandemi virus Anti-Life. Sempat menolak permintaan Superman, Wonder Woman, dan Martian Manhunter untuk menjadikan Kahndaq sebagai tempat penampungan penduduk bumi yang selamat, ujung-ujungnya justru Black Adam ikut terinfeksi dan berpotensi mengubah seluruh pengikutnya menjadi zombie. Kisah siapa lagi yang akan dihadirkan kali ini? Simak jawabannya dalam sinopsis komik DCeased: Hope At World’s End #3 berikut ini.

Sinopsis Komik *SPOILER*

Review Komik DCeased: Hope At World's End #3 (DC Comics, 2020)

Wally West is the Fastest Man Alive…but will even HE be fast enough to save his city from the Anti-Life plague?! With the help of his fellow Speedsters including Impulse and Jesse Quick he’s going to give it his best shot!

Story: Tom Taylor
Art: Carmine Di Giandomenico
Color: Rex Lokus
Letter: Saida Temofonte
Judul Edisi: Chapter Three
Tanggal Rilis: 16 Juni 2020

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Keystone City. Begitu mengetahui adanya penyebaran virus Anti-Life, Wally West (The Flash) berpesan pada Linda Park untuk berdiam diri di kamar. Setelah memastikan seluruh alat elektronik di sana rusak, ia pun pergi meninggalkannya demi menyelamatkan warga Keystone City.

Di tengah aksinya, Batman, yang pada saat itu belum meninggal, menghubungi Wally dan memintanya untuk mengurung diri. Bukan tanpa alasan. Batman khawatir virus akan menyebar semakin tak terkendali apabila ada seseorang dengan kekuatan Speed Force seperti Wally terinfeksi. Wally kemudian memastikan pada Batman bahwa ia baik-baik saja dan bakal menjaga diri.

Beberapa saat kemudian, Wally tiba di tempat Bart Allen (Impulse) tepat di saat Bart hendak menghidupkan layar televisi. Ia kemudian menjelaskan apa yang terjadi pada Bart serta Max Mercury dan Jesse Quick yang juga ada di sana, lantas berbagi tugas. Sebagian menyelamatkan penduduk sipil, sebagian lagi mencari lokasi penampungan yang sekiranya aman.

Setelah tahu tidak ada lagi tempat yang memungkinkan, Max usul agar mereka melakukan evakuasi ke dunia lain alias bumi alternatif. Caranya dengan menggunakan alat Tandem Cosmic Treadmill yang dulunya pernah dipakai Jay Garrick dan Barry Allen (keduanya The Flash dari generasi yang berbeda) untuk membuka pintu gerbang antar dimensi. Adalah Wally dan Bart yang akan mengoperasikan alat tersebut, mengingat keduanya yang tercepat di antara keluarga Speed Force yang ada.

Sesuai rencana, satu demi satu penduduk Keystone City mulai dipindahkan. Setelah semuanya berhasil dibawa ke bumi alternatif, Bart mendadak kelelahan dan terlempar ke belakang. Tepat di tengah-tengah kerumunan zombie. Max bergegas menyelamatkannya dan kembali masuk melintasi pintu gerbang antar dimensi dengan sekaligus mendorong Wally.

Di bumi alternatif, Wally mengira semua sudah beres. Sayangnya, saat menyelamatkan Bart, Max ternyata terkena serangan dari salah satu zombie. Meski tahu apa yang bakal terjadi, Wally tidak mau membiarkan Max tewas begitu saja. Setelah yang lain men-transfer sebagian energi mereka pada Max, ia dan Max lantas berlari dan terus berlari hingga menjadi dimensi Speed Force. Tubuh Max pun perlahan menghilang diselimuti cahaya biru sembari tersenyum.


Nyaris 1 bulan absen mengikuti dunia komik, saya langsung dibikin syok dengan perkembangan cerita DCeased. Terutama yang nanti menyusul saya bahas, Dead Planet. Hope At World’s End sendiri ternyata merupakan kumpulan one-shot yang mengisahkan apa yang terjadi pada beberapa orang karakter dalam jagat DC pasca penyebaran virus Anti-Life. Semoga saja bukan sekedar filler dan bakal ada kaitannya dengan Dead Planet.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , , ,

Reply