Review Komik Dark Days (IDW, 2003)

Meski tidak menyandang embel-embel “30 Days of Night” di judulnya, “Dark Days” sebenarnya adalah sekuel dari serial komik tersebut. Tidak itu saja, tim yang menggarapnya pun masih sama. Seperti apakah cerita dari serial yang terdiri dari 6 edisi ini? Simak sinopsisnya secara keseluruhan di bawah ini. Cekidot!

Sinopsis Komik

Stella Olemaun is one of the few survivors of the Burrows vampire massacre, and she wrote a book where she unveiled the existence of vampires to the entire world. Obviously the vampire will try to stop her but Stella is well prepared to fight them back. The war has begun!

Stella is prepared to start a war against the vampires but no one believes her. No one except Judith who was an irrefutable proof of the vampires existence. And of course, the vampires themselves with Lilith as their leader.

Stella’s plans for vengeance are crumbling down as the public opinion don’t believe her story. But she may have gained an ally among the vampires.

Lilith is making her move, taking down everyone close to Stella. Now that she’d provoked the wrath of the vampires, there’s no turning back

Stella and Dane became really close, and Lilith is tired of games and put a trap in motion to deal with Stella and the vampire traitor once and for all. But or course Stella won’t go so easily without a fight.

The final showdown is here. Stella and Lilith agreed in an unholy pact trading Eben’s ashes for the proof of the vampires existence. But Stella had an ace up to her sleeve to deal with Lilith and after an explosive epilogue, Dane tried to convince her to stay with him.

But with Eben’s ashes, the only thing left for her was to resurrect her husband. Don’t miss the epic finale of Dark Days!

Story: Steve Niles
Art: Ben Templesmith
Letter: Robbie Robbins
Tanggal Rilis: Juni – Desember 2003

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

16 bulan pasca kejadian di Barrow. Setelah mendatangi makam Eben dan berpamitan, Stella menjalani penerbangan ke Los Angeles. Ia terlihat dikawal oleh beberapa orang bodyguard.

Di New Orleans. Sejak kematian putranya Taylor, Judith Ali lebih banyak berdiam diri. George mendatanginya dengan membawakan buku hasil karya Stella yang berjudul “30 Days of Night”. Judith meyakini Stella bakalan menjadi target kaum vampire. Kendati demikian, ia memutuskan untuk menemuinya dan membantunya, dengan video rekaman Taylor yang jelas-jelas membuktikan keberadaan kaum haus darah tersebut.

Sebelum pergi ke acara tanda tangan buku di UCLA (University of California Los Angeles), Stella menguji senjata rahasia yang telah ia pesan. Sebuah bom waktu dalam bentuk semacam bros kecil. Tanpa disangka, tiba-tiba seorang vampire datang dan hendak membunuh Stella. Dengan tenang Stella menghadapinya dan, tentu saja, menghabisinya.

Beberapa waktu kemudian, di UCLA, Stella mencoba meyakinkan orang-orang yang datang ke acaranya bahwa vampire benar-benar ada seperti yang ia tulis dalam bukunya. Hampir semua tidak percaya. Stella sudah mengetahui hal itu akan terjadi. Ia lalu meminta rekan-rekannya untuk menguci pintu masuk dan mempersilahkan vampire yang berpura-pura menjadi pengunjung untuk menampakkan diri mereka. Jika tidak, Stella mengancam akan menghidupkan lampu khusus yang sinarnya mengandung vitamin D, sama seperti sinar matahari.

Sesuai prediksinya, beberapa vampire berdiri dan mulai menyeringai menampakkan gigi taring mereka yang tajam. Dengan muka datar, Stella lantas mengintruksikan anak buahnya untuk menghidupkan lampu. Situasi pun menjadi tidak terkendali.

Salah seorang vampire yang ada di sana, Dane, dihubungi oleh rekannya, Yuki, yang berada di Barrow Airport. Yuki memberitahu bahwa ia sudah mendapatkan ‘benda itu’. Sebaliknya, Dane melaporkan bahwa ia sudah menemukan wanita yang menulis buku “30 Days of Night”.

Karena kondisi yang makin genting bagi kaum vampire, Dane menutup telponnya dan membukakan pintu masuk yang terkunci. Melihatnya, Stella mengejarnya dan hendak membunuhnya. Sayang, di saat Dane sudah tidak berdaya, pihak kepolisian justru tiba dan menghentikan aksi Stella. Dane pun melarikan diri.

Di kantor polisi, Stella diinterogasi. Detektif yang menangani kasusnya sama sekali tidak percaya akan cerita Stella tentang vampire. Mereka justru menganggap aksi Stella barusan sebagai pertunjukan pemasaran untuk mengangkat penjualan bukunya. Pada akhirnya mereka melepaskan Stella karena pengunjung juga tidak ada satu pun yang mengajukan laporan.

Stella dan rekan-rekannya tiba di sebuah hotel. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengawasi mereka di luar.

Di dalam kamar, seorang rekan Stella, Mike, mendapati buku kiriman dari penerbit. Buku tersebut ternyata diberi label fiksi. Stella jadi kecewa karena tidak seorang pun percaya kepadanya.

Rencana Stella memancing vampire agar menjadi bahan berita tidak kalah gagalnya. Di media, yang diberitakan hanyalah adanya kericuhan kecil dalam sebuah acara. Sama sekali tidak disebutkan mengenai vampire. Bodyguard Stella yang lain, Peter, menghiburnya dengan menekankan bahwa yang terpenting buku Stella sudah terbit dan bisa dibaca oleh publik.

Beberapa saat kemudian, wanita yang tadi mengawasi Stella dkk mendatangi kamar Stella. Ternyata ia adalah Judith. Setelah tahu Judith adalah ibu dari pengemudi helikopter waktu itu, Stella langsung mempersilahkannya masuk.

Mendengar cerita Stella yang berhasrat untuk membeberkan eksistensi kaum vampire ke publik agar mereka bisa dibinasakan, Judith memberitahu bahwa ia memiliki bukti otentik yang bisa membantu Stella. Ia hanya berharap agar Stella bisa mengurangi konfrontasi yang tidak perlu dengan kaum vampire dan fokus pada usaha untuk membongkar keberadaan mereka. Stella menyatakan akan berusaha namun tidak bisa berjanji untuk sepenuhnya tidak melakukan hal tersebut.

Peter kemudian menghampiri Stella dan memberitahu ada orang yang telah membongkar makam Eben. Stella tidak terkejut dan membiarkan saja hal itu.

Tanpa mereka sadari, di bangunan seberang ada seorang anggota FBI, belakangan diketahui bernama agen Norris, tengah memata-matai keduanya.

Di Alesland, Norwegia. Seseorang bernama Dimi membawakan paket berisi beberapa dokumen. Salah satunya mengenai Stella. Si penerima, Lilith, ternyata adalah istri dari Vicente. Ia pun meminta Dimi untuk mempersiapkan barang-barangnya.

Stella bermimpi buruk. Terbangun dari tidurnya, ia lalu ngobrol dengan Judith di balkon. Tanpa rasa panik, ia memberitahu Judith untuk melihat sekilas ke balik papan billboard yang ada di seberang. Ternyata ada seorang vampire di sana, mengawasi mereka dari kejauhan. Stella lantas mengacungkan jari tengah ke arahnya. Tahu aksinya terpergok, vampire tersebut segera pergi meninggalkan TKP.

Yuki tiba di bandara Los Angeles. Pesawatnya ternyata tiba tak lama setelah pesawat lain dari Norwegia mendarat. Lilith sempat ada di pesawat tersebut sebelum ia menghabisi seluruh penumpang yang ada di sana. Dengan menggunakan telepati, Lilith menyapa Yuki. Entah kenapa, Yuki merespon dengan bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut. Lilith mengatakan bahwa ia pasti akan menemukannya.

Pihak penerbit membatalkan tour jumpa penggemar Stella karena tidak mau insiden yang sama terulang. Rencana yang berantakan membuat Stella galau. Judith mengajaknya untuk menemui pihak berwajib dan menyerahkan rekaman video yang ia miliki. Walau tidak mengiyakan, Stella memerintahkan anak buahnya untuk lebih dulu kembali ke hotel sementara ia pergi bersama Judith.

Stella ternyata menyadari ada vampire yang mengawasinya. Ia sengaja pergi berdua dengan Judith untuk memancing vampire tersebut keluar. Usahanya berhasil. Yang muncul adalah Dane.

Dane langsung menyerang Stella. Namun Stella bisa mengalahkannya berkat bom kecil yang sudah ia siapkan. Saat ia hendak membunuh Dane, Dane tiba-tiba menyebutkan nama Marlow. Dane rupanya adalah sahabat Marlow. Lebih tepatnya, Marlow yang mengubahnya menjadi vampire dan juga merawatnya selama ini. Dane mengira Eben dan Stella yang membunuh Marlow.

Stella memberitahu Dane bahwa pembunuhnya adalah Vicente. Ia pun menceritakan apa yang terjadi pada saat itu. Usai bercerita, Stella bersiap untuk membunuh Dane.

Tanpa disangka, Dane mengatakan bahwa jika Stella membunuhnya, maka ia tidak akan tahu alasan kenapa makam Eben dibongkar. Stella terkejut mendengarnya.

Dane lantas menyatakan bahwa bagian tubuh terkecil dari seorang vampire sudah cukup untuk menghidupkannya kembali. Yang dibutuhkan hanyalah sedikit darah yang tepat. Ia berjanji akan menyerahkan abu tubuh Eben jika Stella membiarkannya pergi. Dan Stella melakukannya, tanpa menghiraukan Judith yang kesal kepadanya.

Stella mengatakan bahwa Judith bisa saja melakukan hal yang sama apabila seseorang menawarkan untuk menghidupkan kembali putranya. Judith tak bisa berkata apa-apa.

Sepeninggal Stella, agen Norris muncul dan minta waktu untuk menginterogasi Judith.

Lilith berhasil menangkap Yuki. Ia rupanya sudah tahu bahwa Yuki membawa abu tubuh Eben, orang yang telah membunuh suaminya. Yuki mengaku hanya disuruh oleh Dane, dimana Dane berencana untuk menghidupkan Eben kembali dan membunuhnya yang kedua kali di depan mata Stella. Setelah puas mendengar jawaban Yuki, Lilith membunuhnya dan lantas mengambil abu tubuh Eben.

Norris memberitahu Judith bahwa sudah sejak lama FBI memiliki departemen khusus untuk menangani kasus-kasus supranatural. Begitu Stella dan bukunya muncul ke publik, FBI mengutus dirinya untuk menginvestigasi Stella. Berharap mendapatkan bukti-bukti keberadaan vampire yang selama ini mereka cari.

Percaya kepadanya, Judith mengajak Norris ke kamarnya dan menunjukkan CD yang berisi video rekaman insiden Barrow. Norris memaksa Judith untuk segera menyerahkan CD tersebut kepadanya. Judith yang mulai curiga lantas diam-diam mengeluarkan pistolnya. Sayangnya, Norris sudah terlebih dahulu menembak kepalanya. Siapa sangka Norris ternyata adalah seorang vampire, anak buah Lilith.

Saat meninggalkan ruangan, Norris berpapasan dengan Peter. Apes bagi Peter, ia pun tewas di tangan Norris.

Mendengar keributan itu, Stella, Tina, dan Mike bergegas mengejar Norris. Norris berusaha kabur dengan menggunakan mobil. Tidak ingin membuang waktu, Stella dan Mike mencuri mobil yang tengah di parkir di depan hotel dan langsung mengejar Norris.

Di saat ada kesempatan, mobil mereka bisa melompat dan tepat menimpa mobil Norris. Norris sekarat dan CD Judith kembali berada di tangan Stella. Stella yakin bahwa Norris hanyalah kaki tangan. Ada orang lain yang menyuruhnya. Norris tidak membantah walau tidak mau membocorkan siapa atasannya. Karena polisi mulai mendatangi TKP, Stella membunuh Norris dan kabur dari TKP.

Di suatu tempat, Stella berkumpul kembali dengan rekan-rekannya. Tak lama Dane muncul, memberitahu bahwa temannya yang membawa abu tubuh Eben telah dibunuh. Rekan-rekan Stella yang lain berniat untuk membunuh Dane, namun Stella mencegahnya. Menganggap Stella sudah berubah, Tina dan Mike memutuskan untuk meninggalkan Stella.

Dane melanjutkan bahwa yang membunuh temannya adalah Lilith, salah satu vampire tertua yang sekaligus merupakan istri Vicente. Dan sekarang Lilith tengah mengincar Stella.

Di saat bersamaan, Lilith menyerang Tina dan Mike yang baru saja meninggalkan Stella.

David berpatroli di sekeliling sementara Stella dan Dane ngobrol berdua. Tidak diduga-duga, hubungan keduanya menjadi dekat dan berujung pada hubungan intim. David yang mengintip dari luar terkejut melihatnya. Namun keterkejutannya tidak bertahan lama. Muncul Tina dan Mike yang sudah berubah menjadi vampire. Tanpa bisa menghindar, keduanya langsung menggigit David.

Melalui telepati Lilith mengapresiasi aksi mereka berdua. Ia memerintahkan agar mereka datang ke tempatnya sembari lanjut mengumpulkan pasukan sebanyak-banyaknya dalam perjalanan mereka.

Setelah mengenakan kembali pakaian mereka, Stella dan Dane mendapati David di luar sudah berubah menjadi vampire. David menyampaikan pesan dari Lilith agar Stella pergi ke sebuah pemakaman. Sedang Dane diminta untuk tidak ikut campur urusan mereka. Tidak berniat menurutinya, Dane merespon dengan menembak kepala David.

Stella dan Dane tiba di pemakaman yang dimaksud. Mereka disambut oleh pasukan mayat hidup. Bahu membahu keduanya berhasil mengalahkan mereka semua.

Dengan menggunakan kemampuan inderanya, Dane menuntun langkah Stella hingga mereka tiba di sebuah rumah. Terdapat beberapa orang vampire di halaman. Kendati demikian, mereka membiarkan Stella dan Dane masuk begitu saja ke dalam rumah tersebut. Sudah ada Lilith, Mike, Tina, dan beberapa vampire lain di sana.

Setelah memerintahkan anak buahnya untuk menyingkirkan Dane dari ruangan, Lilith ‘bernegosiasi’ dengan Stella. Dialog keduanya berujung pada barter abu Eben dengan CD video rekaman insiden Barrow. Masing-masing berjanji untuk tidak mencampuri urusan satu sama lain.

Beberapa langkah menjauh dari rumah, Stella bertemu dengan Dane yang mengaku tidak mengalami kesulitan menghadapi vampire-vampire pemula yang menyerangnya tadi. Dane menanyakan jaket Stella yang ternyata sudah tidak ia kenakan lagi. Tanpa disangka, Stella meninggalkan jaket (yang penuh dengan bom mini) di dalam rumah tersebut. Sesaat kemudian rumah tersebut meledak.

Dane mengajak Stella untuk tinggal bersamanya. Stella menolak. Ia ingin berusaha menghidupkan kembali suaminya. Setelah berciuman sebagai tanda perpisahan, Dane memberitahu bahwa Stella bisa menggunakan darahnya sendiri untuk menghidupkan Eben.

Di kamar hotel, Stella mengeluarkan abu tubuh Eben dan meneteskan darahnya ke atas tumpukan abu tersebut. Tanpa disangka, Eben ternyata benar-benar hidup kembali. Dengan bahagia Stella memeluknya sembari menyatakan rasa cintanya. Eben membalas ungkapan perasaan tersebut dengan membuka mulutnya lebar-lebar dan bersiap untuk menggigit leher Stella.


Pertama-tama, saya suka dengan cerita yang tidak banyak menambahkan karakter baru. Dengan demikian cerita bisa tetap fokus pada karakter utama, Stella Olemaun. Dengan akhir yang menggantung, saya rasa kita masih akan bertemu dengan Lilith, Dane, Eben, dan juga Stella di sekuel-sekuel berikutnya. Untuk artwork memang masih menggunakan gaya yang sama dengan “30 Days of Night”. Namun entah kenapa saya lebih bisa menikmatinya. Apa mungkin karena mulai terbiasa?

rk darkdays

Leave a Reply