Review Komik 30 Days of Night (IDW, 2002)

Seperti sudah disinggung dalam Blog Talk edisi awal bulan Maret, seri Kamus Bahasa sementara bakal vakum. Sebagai gantinya, Curcol.Co akan menghadirkan seri review komik 30 Days of Night yang saya baru tahu belakangan ini kalau terdapat beberapa seri dengan cerita berkesinambungan. Tiga tahun lalu saya sebenarnya juga sudah pernah me-review seri komik ini, namun versi remake-nya. Sementara yang akan hadir dalam beberapa waktu ke depan adalah seri orisinil plus seri-seri sekuelnya.

Untuk pembuka, tentu saja serial utamanya, “30 Days of Night” versi tahun 2002. Seri ini terdiri dari 3 edisi dan diterbitkan pada rentang waktu bulan Agustus hingga Oktober. Untuk sinopsis di bawah ini adalah versi rekap dari ketiga edisi tersebut, ya, bukan satu persatu seperti kebanyakan sinopsis komik yang ada di Curcol.Co. Selamat membaca!

Sinopsis Komik

The story of an isolated Alaskan town that is plunged into darkness for a month each year when the sun sinks below the horizon. As the last rays of light fade, the town is attacked by a bloodthirsty gang of vampires bent on an uninterrupted orgy of destruction. Only the small town’s husband-and-wife Sheriff team stand between the survivors and certain destruction.

Story: Steve Niles
Art: Ben Templesmith
Letter: Robbie Robbins
Tanggal Rilis: Agustus – Oktober 2002 2002

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung spoiler!

Di Barrow, Alaska, matahari tidak terbenam selama periode 10 Mei hingga 2 Agustus. Sebaliknya, pada periode 18 November hingga 17 Desember, matahari tidak terbit di sana.

Tepat di tanggal 17 November, sehari sebelum kegelapan menyelimuti, pasangan suami istri penegak hukum sherif Eben Oleman dan Stella Oleman menemukan setumpuk ponsel milik warga yang dilaporkan hilang baru-baru ini terkubur di salju. Tentu saja dengan kondisi rusak. Eben berniat untuk segera melakukan penyelidikan sebelum hari berganti. Sebelum pergi, Stella mengajak Eben untuk menikmati matahari tenggelam untuk terakhir kalinya di bulan November. Eben mengiyakan.

Di New Orleans, Lousiana. George melaporkan pada Judith Ali dan putranya, Taylor, tentang adanya komunikasi di kalangan vampire. Dua orang bernama Marlow Roderick dan V janjian untuk mengadakan ‘acara’ di Barrow dengan jumlah peserta sebanyak 20 orang. Judith punya firasat buruk terhadapnya.

Setelah menyaksikan matahari terbenam, Eben dan Stella memenuhi sebuah panggilan di Ikos Dinner. Ada orang asing di sana yang membuat keributan dengan memesan makanan dan minuman yang tidak ada di menu: alkohol dan daging mentah. Agar tidak berujung rusuh, keduanya lantas memasukkan orang tersebut ke dalam sel.

Gus Lambert mendapati berbagai peralatan dan alarm di Stasiun Komunikasi rusak. Sesaat kemudian muncul beberapa orang berpakaian serba hitam putih dan berwajah pucat. Mereka memastikan apakah benar tempat tersebut adalah pusat komunikasi di Barrow. Begitu Gus mengiyakan, salah seorang di antaranya, Marlow, membunuhnya.

Di kantor sherif, orang yang ditahan sebelumnya mencoba memancing emosi Eben. Setelah menyatakan bahwa mereka semua bakalan mati, orang tersebut dengan mudahnya membengkokkan jeruji sel. Tidak mau ambil resiko, Eben menembak kepalanya. Stella memastikan dengan beberapa kali menembak tubuhnya.

Keduanya kemudian pergi ke Stasiun Komunikasi hanya untuk mendapati bangunan tersebut telah terbakar dan kepala Gus sudah terpisah dari tubuhnya. Dalam perjalanan kembali ke kota, Stella melihat sesuatu dari kejauhan. Mereka menghentikan mobilnya untuk mengecek. Melalui teropongnya, Eben menyaksikan sekumpulan orang berwajah pucat, bergigi tajam, dan berpakaian hitam putih tengah berjalan menuju Barrow.

Beberapa waktu kemudian, Barrow sudah berubah menjadi neraka. Satu demi satu warga dihabisi dan dihisap darahnya oleh orang-orang berwajah pucat tersebut yang ternyata adalah sekumpulan vampire. Sebagian warga yang masih selamat, termasuk Eben dan Stella, bersembunyi di dalam sebuah basement. Stella heran kenapa orang-orang tersebut tidak bisa mati walau sudah ditembaki sementara orang yang ada di sel bisa mereka bunuh. Stella curiga bahwa kuncinya ada di kepala mereka, namun Eben tidak yakin akan hal itu.

Di New Orleans. Judith memerintahkan Taylor untuk pergi ke Barrow dan merekam aksi vampire di sana. Ia berpesan agar keselamatan Taylor lebih utama ketimbang menyelamatkan warga di Barrow jika seandainya memang ada yang masih bernyawa. Tak lupa Judith membekali sepucuk pistol agar Taylor bisa bunuh diri jika tergigit oleh vampire. Setelah berpamitan, Taylor pun berangkat menuju Alaska.

Tiba di Fairbanks, Taylor menemui seorang pemilik helikopter dan menyewanya. Badai salju terlihat sudah mulai menerjang wilayah tersebut.

Seorang diri Eben menyelinap dari tempat persembunyian untuk mencari sumber makanan. Aksinya terpergok seorang vampire bertubuh tambun dan berkepala botak. Vampire tersebut menanyakan dimana warga bersembunyi karena hawa dingin membuat indera mereka terganggu. Eben menjawab dengan tembakan ke wajah si vampire.

Setelah memukul mundur vampire tersebut, Eben segera berlari meninggalkan TKP. Dari kejauhan Marlow sempat melihatnya. Namun ia memilih untuk membiarkannya dengan alasan masih punya banyak waktu untuk menghabisi warga Barrow. Terlebih, pimpinan mereka, V alias Vicente, baru saja tiba.

Para vampire menyambut meraih kehadiran Vicente. Marlow menghampirinya dan memberitahu bahwa mereka baru saja menemukan surga. Dengan matahari yang tidak terbit dalam waktu lama, mereka bisa bebas melakukan apa saja di sana tanpa harus repot bersembunyi menghindari cahaya matahari seperti di tempat lain. Marlow juga menunjukkan kesiapan mereka dengan memenggal kepala warga yang telah mereka hisap darahnya agar warga tidak berubah menjadi vampire.

Bukannya senang, Vicente justru marah pada Marlow. Baginya Marlow telah membuat kesalahan fatal. Selama ini kaum vampire melakukan aksinya dengan hati-hati agar keberadaan mereka tidak diketahui. Sementara yang baru dilakukan Marlow dkk adalah sebaliknya. Terang-terangan menunjukkan kepada dunia akan eksistensi mereka.

Marlow kesal dengan respon Vicente. Ia berusaha menyerangnya. Dengan mudah Vicente membunuhnya dengan cara menginjak kepalanya hingga hancur. Eben (dan Stella) yang mengintip dari kejauhan menyadari ada satu cara untuk melawan mereka.

Vicente kemudian memberi instruksi pada vampire yang lain. Ia memerintahkan mereka untuk sesegera mungkin mengumpulkan penduduk Barrow yang masih hidup di satu tempat, membunuh dan memenggal kepala mereka, lalu membakar habis kota Barrow hingga tidak tersisa sedikit pun.

Salah seorang warga tergigit oleh vampire. Dibantu oleh warga yang lain, begitu warga tersebut berubah, Eben membunuhnya dan lantas mengambil darahnya.

Taylor dengan helikopternya tiba di Barrow. Ia berkeliling di udara untuk merekam aksi para vampire di sana. Ulahnya diketahui oleh Vicente. Tanpa basa basi, Vicente melompat ke udara dan menjatuhkan helikopter tersebut. Tahu tidak mungkin selamat, Taylor segera mengirimkan hasil rekaman videonya ke Judith sebelum akhirnya helikopter menghantam bangunan dan meledak. Vicente girang karena sekarang jadi alasan kenapa kota Barrow bisa terbakar habis.

Tanpa bisa dicegah oleh Stella, Eben nekat menyuntikkan darah vampire ke tubuhnya. Tak lama ia berubah menjadi vampire, namun dengan sedikit kesadaran yang tersisa. Alih-alih menyerang Stella dan warga yang ada di sekitarnya, Eben memilih melangkah keluar.

Ia kemudian menuju tempat Vicente berada dan menantangnya bertarung satu lawan satu. Dengan santai Vicente menerima tantangan tersebut. Meski minim pengalaman bertarung, Eben yang berjuang demi melindungi istri dan warga Barrow ternyata mampu mengimbangi Vicente. Para vampire yang tadinya mendukung Vicente mulai senyap. Hingga akhirnya Eben bisa membunuh Vicente.

Satu persatu warga yang bersembunyi keluar dan berdiri di belakang Eben. Dengan tegas Eben memerintahkan vampire lain untuk pergi dari kota Barrow. Mereka melakukannya.

Malam itu adalah malam terakhir matahari tenggelam. Esok matahari mulai terbit seperti biasa. Tahu itu adalah hari terakhir Eben yang sudah berubah menjadi vampire, Eben dan Stella duduk bersama menanti terbitnya matahari. Dan bersamaan dengan itu, tubuh Eben berubah menjadi tumpukan abu, menyisakan hanya pakaiannya.


Saya bukan penggemar artwork dengan gaya yang ditunjukkan dalam serial ini. Bukan hanya tidak suka. Biasanya akan langsung batal membaca komiknya begitu tahu artwork semacam ini yang akan saya temui di sepanjang halaman. Walau kualitas cerita “30 Days of Night” ini bisa membuat saya sedikit mengabaikan artworknya, tapi tetap saja saya berharap seri-seri sekuelnya tidak menggunakan artwork yang seperti ini lagi.

Di sisi lain, dengan aksi invasi vampire selama 1 bulan yang disampaikan hanya melalui 2 edisi saja, saya merasa ceritanya tidak benar-benar tuntas. Sama sekali tidak teryakinkan bahwa 1 bulan telah berlalu begitu saja semenjak Marlow dkk datang ke Barrow. Tapi yah mau bagaimana lagi. Jumlah edisi dalam sebuah serial komik kan ditentukan oleh banyak faktor. Sebagai pembaca hanya bisa menerima dengan lapang dada.

rk 30daysofnight 2

Leave a Reply