Review JDrama Equation To Erase The Teacher (2020)

Beberapa waktu lalu iseng saya ubek-ubek internet untuk mencari serial yang satu ini, “Equation To Erase The Teacher” (先生を消す方程式, Sensei wo Kesu Houteishiki). Dari sinopsisnya kok rasanya menarik. Berhubung selama ini jarang menemukan dorama ber-subtitle yang tuntas (biasanya hanya beberapa episode pertamanya saja), tidak berharap apa-apa saat kemarin mencarinya. Tapi sepertinya memang benar, di saat kita tidak berekspektasi lebih, yang kita cita-citakan justru terwujud. Ketemu komplit videonya dari episode 1 hingga 8 dengan, sayangnya, teks Indonesia, bukan Inggris. Nah, seperti apa ceritanya? Layakkah untuk ditonton? Simak sinopsis dan review singkatnya di bawah ini.

WARNING! Tulisan di bawah ini kemungkinan mengandung SPOILER!!!

Sinopsis Singkat

Review JDrama Equation To Erase The Teacher (2020)

Pak guru Tsuneo Yoshizawa (diperankan oleh Kei Tanaka) didapuk menjadi wali kelas di kelas 3D. Kelas tersebut kebetulan dihuni oleh murid-murid pintar. Empat di antaranya memiliki kelakuan yang tidak berakhlak. Yaitu Toya Fujiwara (diperankan oleh Fumiya Takahashi), Yumi Nagai (diperankan oleh Sayu Kubota), Nagi Oki (diperankan oleh Kokoro Morita), dan Riki Tsurugi (diperankan oleh Nao Takahashi). Dengan memanfaatkan kekayaan dan jabatan orang tua mereka, Toya dkk acap berbuat ulah di kelas. Termasuk pada Yoshizawa.

Anehnya, Yoshizawa selalu berusaha untuk sabar dan tetap tersenyum apapun yang terjadi. Bahkan ketika keempat orang tersebut, ditambah dengan wakil wali kelas pak Asahi Yorita (diperankan oleh Yuki Yamada), berusaha untuk membunuhnya. Belakangan terungkap bahwa tujuan Yoshizawa mengajar di sekolah tersebut adalah untuk membalaskan dendamnya pada pak Asahi yang beberapa tahun lalu sengaja mendorong kekasih Yoshizawa, Shizuka Maeno (diperankan oleh Marika Matsumoto), hingga koma dan harus terus menggunakan alat life support agar bisa tetap bernafas.

Setelah berulangkali gagal, Asahi berhasil membunuh Yoshizawa dan menguburkannya. Yumi, Nagi, dan Riki sebenarnya sudah mulai berada di pihak Yoshizawa, namun mereka tidak kuasa menghadapi Asahi dan Toya.

Salah seorang murid di kelas, Mei Ibuki (Ikuho Akiya), yang kebetulan mempelajari ilmu hitam, belum bisa menerima kepergian Yoshizawa. Ia mencoba untuk membangkitkannya dengan ritual. Petir tiba-tiba muncul dan menyambar tanah tempat Yoshizawa dikubur. Tanpa disangka, pak Yoshizawa benar-benar hidup kembali layaknya zombie. Ia sempat berniat untuk membunuh Toya dkk sebelum akhirnya sadar bahwa musuh sebenarnya adalah Asahi.

Setelah memberikan pelajaran hidup untuk terakhir kalinya pada Toya dkk, Yoshizawa sengaja melepaskan life support Shizuka agar Asahi tidak lagi bisa mengancamnya dengan menggunakan hal itu. Yoshizawa sebenarnya hanya ingin agar Asahi menyerahkan diri ke pihak kepolisian, namun Asahi yang berusaha membunuh Yoshizawa justru tersambar petir dan tewas.

Usai berpamitan, Yoshizawa pergi dengan membawa tubuh Shizuka dan menguburkannya. Lagi-lagi muncul petir yang kini menyambar tempat Shizuka dikubur. Seperti halnya Yoshizawa, Shizuka bangkit kembali sebagai zombie. Mereka berdua pun hidup bahagia selamanya.

Review Singkat

“Equation To Erase The Teacher” ini menghadirkan twist yang luar biasa mengejutkan. Siapa sangka, dorama yang awalnya tampak bergenre misteri dengan latar belakang kehidupan sekolah biasa tiba-tiba berubah 180 derajat menjadi genre action dengan bumbu zombie / supranatural di pertengahan musim. Kejutan yang sukses bikin semua penonton terkejut.

Dari segi cerita, harus diakui tanpa adanya twist di atas, cerita terasa kurang nendang. Guru yang menghadapi murid-murid nakal di kelas sudah bukanlah hal baru di dunia perfilman. Unsur balas dendam yang disematkan juga tidak begitu greget karena tokoh antagonisnya bisa langsung tertebak begitu tragedi yang dialami Shizuka terungkap. Aturan baku bahwa karakter yang *terlalu* baik / *terlalu* ramah adalah tokoh jahat diaplikasikan di sini. Pun begitu, paruh awal cerita (episode 1-4) masih bisa dinikmati.

Sayangnya, begitu genre berubah (episode 5-8), naskah terasa kacau dan berantakan. Sosok Yoshizawa yang seharusnya berupa zombie malah lebih kelihatan bagai hantu. Bisa berpindah-pindah lokasi dengan sendirinya. Atau mungkin di Jepang sosok zombie memang dianggap memiliki kemampuan yang sama dengan hantu?

Sosok asli Asahi yang psikopat juga, bagi saya pribadi, agak mengganggu. Tapi saya tidak akan mempertimbangkan poin ini dalam penilaian akhir. Kebetulan saja sebagai orang yang cenderung memiliki kepribadian introvert saya tidak suka dengan orang yang hobi berteriak-teriak dan lebay seperti karakter Asahi.

Ngomong-ngomong tentang introvert, saya bisa relate banget dengan salah satu perkataan Yoshizawa di dalam serial ini. Yaitu tentang lebih baik hidup sendiri ketimbang berteman. Hal ini tentu tergantung konteksnya, ya. Faktanya, beberapa kali ada orang yang benar-benar saya anggap (lebih dari) teman ternyata ujung-ujungnya mengecewakan. Pinjam duit gak dibalikin misalnya.

Yang agak kontradiksi adalah kata-kata Yoshizawa pada Yumi yang menyatakan bahwa cinta tidak ada artinya. Padahal, semua yang dilakukan Yoshizawa pada saat itu, termasuk keinginan kuatnya untuk tetap hidup, adalah karena ia cinta mati pada Shizuka. Saya tidak tahu apakah memang naskah dialognya yang geblek atau kesalahan penterjemah / pembuat subtitle.

Penutup

Secara keseluruhan, “Equation To Erase The Teacher” merupakan sebuah serial drama Jepang yang, yah, masih okelah buat ditonton. Kejutannya lumayan menyenangkan walau sayang tidak didukung oleh naskah yang kuat. Produksinya pun terlihat low budget, namun bisa dimaklumi dengan kondisi dunia yang sekarang ini. 4/10.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply