Review Film Tiren: Mati Kemaren (2008)

Saya ingat benar bagaimana film “Tiren: Mati Kemaren” ini mendapat respon yang cukup ramai saat dulu ditayangkan di bioskop. Positif atau negatifnya saya sudah lupa. Yang jelas nama Dewi Perssik sebagai pemeran utama melambung saat itu. Padahal dari judulnya aja sebenarnya sudah aneh sih. Lha wong istilah tiren itu sendiri biasanya dipakai untuk menyebut daging ayam yang sudah kadaluwarsa. Gak mungkin dong film horor ini yang jadi hantunya adalah ayam, hehehe.

Eniwei, yuk deh simak sinopsis dan review singkatnya di bawah ini. Cekidot!

Sinopsis Singkat

Ranti (diperankan oleh Dewi Perssik) memergoki kekasihnya, Leo (diperankan oleh Renee The), di kamar sedang berhubungan intim dengan temannya, Maya (diperankan oleh Dariell Jacquelinne). Padahal Maya sudah memiliki suami yang bernama Reno (diperankan oleh Aldiansyah Taher). Dengan kesal, Ranti pergi meninggalkan mereka. Apesnya, saat turun dari tangga, ia terjungkal kemudian tewas.

Leo yang mengetahu hal tersebut panik. Ia memaksa Maya menemaninya menguburkan mayat Ranti diam-diam. Sempat menolak, Maya akhirnya setuju. Mereka kemudian membawa mayat Ranti ke sebuah lapangan. Namun saat hendak dikubur, Maya mendengar ada suara orang. Takut ketahuan, mereka lantas meninggalkan mayat Ranti begitu saja.

Kematian putrinya yang tidak wajar membuat Hendra (diperankan oleh Baron Hermanto) diam-diam mengikat kembali tali pocong anaknya. Ia berbisik kepadanya agar jangan pulang dulu sebelum membalaskan dendamnya pada orang-orang yang telah membunuhnya. Malam harinya, Hendra tersenyum simpul saat melihat ada sosok pocong berdiri di depan rumahnya.

Teror mulai menghantui Leo. Hal tersebut berujung pada kematian Leo akibat terjatuh dan kepalanya terantuk meja.

Pasca kejadian itu, arwah Ranti mulai diam-diam mendekati Reno. Parasnya yang rupawan membuat Reno semakin lama makin jatuh hati. Bahkan sampai kemudian berhubungan intim dengannya di sebuah hotel. Setelahnya, justru Reno yang mulai merasakan keanehan pada tubuhnya. Mulai dari muntah ulat hingga badannya yang menghitam di beberapa bagian.

Setelah serangkaian teror yang bergantian menimpa Maya dan Reno, Maya pun menemui ajalnya. Serupa dengan Ranti, ia memergoki Reno sedang berhubungan dengan pocong (yang dilihat Reno saat itu adalah Ranti). Saat hendak pergi, arwah Ranti menghadangnya dan menyatakan bahwa ia sengaja melakukan itu agar Maya tahu bagaimana rasanya orang yang dicintai direbut oleh orang lain. Tak lama, saat melangkah menuruni tangga, Maya tersandung, terjatuh, dan tewas. Reno sendiri kemudian ditahan oleh polisi karena dianggap telah membunuh Maya.

Di akhir terlihat Hendra menggali kembali kuburan Ranti lantas melepaskan tali pocong jenazah anaknya itu.

Tanggal Rilis: 26 Juni 2008
Durasi: 90 menit
Sutradara: Emil G. Hampp
Produser: Ody Mulya Hidayat
Penulis Naskah: Nestor Katanya, Valilo
Produksi: Maxima Pictures
Pemain: Dewi Perssik, Deriell Jacqueline, Renee The, Aldiansyah Taher, Budi Anduk

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Saya menonton film ini di Hooq. Sepertinya yang tersedia di sana sudah mengalami sensor ulang, berbeda dengan versi yang dulu dirilis di bioskop. Banyak yang dipotong plus di-blur. Agak susah jadinya untuk mengkonfirmasi kenapa “Tiren: Mati Kemaren” ini bisa menembus angka 600 ribu penonton lebih kala dirilis di bioskop.

Masalahnya, berdasarkan apa yang saya tonton, jangankan menjadi box office, untuk bisa mendapat jatah tayang di biskop saja rasanya tidak mungkin. Lah levelnya hanya sekelas azab atau FTV horor di salah satu televisi swasta. Apalagi, tampaknya ini satu-satunya film horor Indonesia yang punya satu adegan khusus berdurasi 15 menit (di akhir) dengan fungsi sebagai filler komedi belaka. 15 menit, bro!

Belum ditambah dengan beberapa adegan di awal yang sebenarnya juga tidak penting-penting amat. Kembali lagi, hanya sebagai pemancing tawa penonton saja. Berhasilkah? Entahlah. Saya kurang paham selera humor masyarakat +62 di tahun 2008. Bisa jadi berhasil dengan menilik raihan penontonnya. Buat saya pribadi sih fifti:fifti. Ada yang kena, ada pula yang terlalu garing.

Pocong naik becak duduk di depan itu lucu sih, hehehe.

Cerita utamanya sederhana. Seorang wanita diketemukan tewas secara misterius. Ayahnya tidak terima dan sengaja mengikat kembali tali kain kafannya agar anaknya menjadi pocong dan membalas dendam kepada pembunuhnya. Pelakunya, jika boleh disebut demikian, ternyata adalah kekasihnya sendiri, yang selingkuh dengan wanita lain, yang sudah bersuami. Usai semua mendapat balasan, sang ayah melepas kembali tali pocong jenazah anaknya. Tamat.

Eh, gak langsung tamat ding. Diisi filler komedi yang disebut di atas dulu. Baru tamat.

Kita bahas satu persatu.

Pertama, si wanita ini, Ranti, aslinya tidak benar-benar dibunuh. Usai memergoki kekasihnya, Leo, ML dengan Maya, Ranti buru-buru pergi lantas terjatuh dari tangga. Mati. Ya, secara tidak langsung memang Leo punya andil dalam kematiannya. Tapi aneh rasanya saat Ranti menyalahkan Leo atas kejadian itu (saat beradu argumen dengan Maya). Lebih wajar jika dia dendam karena ‘dikhianati’, bukan karena ‘dibunuh’.

Kedua, banyak dialog yang terlalu formal. Menggunakan kata ganti ‘saya’. Risih dengernya. Apalagi dengan gaya bicara sebagian pemain yang terasa dibuat-buat agar keren.

Ketiga, menjadi misteri baru bagaimana ayah Ranti, Hendra, bisa tahu bahwa Ranti sudah selesai melakukan balas dendam. Pelakunya saja siapa ia tidak tahu kok. Kematian Leo dan Maya pun, seandainya dimuat dalam berita koran atau TV, tidak menunjukkan ada sesuatu yang tidak wajar. Yang satu terantuk meja, satu lagi jatuh dari tangga.

Keempat, ketiga kematian yang ada di dalam film semuanya ajaib. Secara logika medis, proses kematian mereka hanya akan menimbulkan efek di dalam, bukan luka luar. Namun ketiganya mati dengan bersimbah darah. Itu pun mati dulu, baru tahu-tahu muncul darah dimana-mana. Wow, magic.

Kelima, tidak ada kesuaian antara poster dengan isi cerita. Jangankan poster, judul dengan cerita pun minim sekali korelasinya.

Lima aja cukup, kali ya. Capek nulisnya, hehehe.

Oh ya, untuk jump scarenya sendiri menggunakan pola yang sama. Intinya, pocong muncul tiba-tiba dimana saja dan kapan saja.

Penutup

“Tiren: Mati Kemaren” adalah film yang labil. Tidak tahu mau menakut-nakuti atau menjadi sebuah komedi. Pada akhirnya keduanya dijejalkan, tanpa lagi memikirkan benang merah yang konkrit. Porsi filler yang terlalu memakan durasi bagi saya membuat film ini jadi tidak seharusnya tayang di bioskop. Yah, dengan adegan-adegan sensual yang ada rasanya tidak mungkin tayang di televisi juga sih. Banyak yang patut dipertanyakan dalam alur cerita. Terlalu berantakan. 2/10, untuk beberapa bumbu humor yang lumayan bikin saya ngakak malem-malem.

Catatan: rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

rf tiren

Leave a Reply