Review Film The Sacred Riana: Beginning (2019)

Meski memulai debutnya secara nasional di tahun 2013 melalui ajang pencarian bakat The Next Mentalist dan menjadi runner-up di saat itu, nama Marie Antoinette Riana Graharani, atau lebih dikenal dengan nama The Sacred Riana, baru benar-benar menjulang saat ia berhasil menjuarai ajang Asia’s Got Talent 2017. Tidak berhenti di sana, dunia internasional pun makin akrab dengan Riana saat ia menjadi peserta America’s Got Talent 2018. Sayangnya langkahnya tidak terlalu panjang di sana.

Pun begitu, sudah bisa ditebak bahwa aksinya bakal berlanjut ke dunia film layar lebar. Dan terbukti, di tahun 2019 ini, tepatnya pada minggu kedua di bulan Maret, film “The Sacred Riana: Beginning” yang dibintangi olehnya sendiri mulai tayang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia.

Bagaimana ceritanya?

Sinopsis Singkat

Poster Film The Sacred Riana: Beginning

Di masa kecilnya Riana (The Sacred Riana) tinggal di kota kecil bersama ayah (Prabu Revolusi) dan ibunya (Citra Prima) yang menjalankan usaha rumah duka. Musibah mengharuskan mereka pindah ke rumah oom Johan (Willem Bevers) di Jakarta dan Riana bertemu dengan Boneka Riani. Riana tumbuh dewasa dan suatu hari didatangi Bu Klara (Aura Kasih), guru BP sekolahnya yang ingin mengetahui mengapa Riana tidak masuk sekolah dan menyarankan agar Riana direhabilitasi. Musibah silih berganti menimpa orangtua Riana. Bu Klara kembali datang bersama Hendro (Ken Anggrean), Lusi (Agatha Chelsea) dan Anggi (Ciara Nadine), untuk membantu agar Riana dapat bersosialisasi. Tapi, kehadiran mereka memicu masalah yang lebih besar: mahluk keji masa lampau terlepas dan meneror mereka semua.

The Sacred Riana : Beginning (2019) Official Trailer - Billy Christian

The Sacred Riana : Beginning (2019) Official Trailer - Billy Christian

Review Film / Pendapat Pribadi

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!

Tidak banyak yang menonton bersama saya siang tadi. Biasanya slot tayang perdana lumayan ramai, tapi hanya ada 13 orang di dalam satu studio. Mungkin efek dari “Yowis Ben 2” yang juga mulai rilis hari ini.

Kita mulai dari segi cerita. Secara keseluruhan alurnya cukup sederhana. Bahkan sepertinya sengaja dibuat bertele-tele dengan tempo yang lambat untuk memperpanjang durasi. Yang menjadi masalah utama, tempo selow ini tidak hanya terjadi pada alur cerita, melainkan juga ‘tingkah laku karakter’ di dalamnya.

Di saat suasana seharusnya mencekam alias menegangkan, karakter tidak terlihat terburu-buru untuk pergi. Seolah berjalan santai saja. Adegan melarikan diri dengan mobil yang secara logika sewajarnya dilakukan dengan menekan pedal gas dalam-dalan pun terganti dengan adegan mobil yang melaju dengan kecepatan yang normal. Bahkan sama sekali tidak terlihat kepanikan di wajah karakter-karakter yang ada di dalam mobil. Malah seolah hendak pergi jalan-jalan saja.

Banyak sekali adegan-adegan tanpa ekspresi di film ini. Saya sampai bingung. Seolah tidak ada yang mendalami atau bahkan memahami peran yang mereka mainkan. Asal baca script lalu akting di depan kamera. Sampai sampai ada satu adegan dimana saya membayangkan yang saat itu di depan layar adalah sebuah kentang yang sedang berdiri tegak. Saking gak ada ekspresinya, gaes.

Satu-satunya pemain yang aktingnya (menurut saya) meyakinkan adalah Citra Prima yang berperan sebagai ibu Riana. Ciara Nadine sebenarnya oke. Misinya untuk mencairkan suasana berjalan lancar. Banyak yang tertawa mendengar celotehnya. Sayangnya, di beberapa bagian justru dialognya terdengar tidak konsisten dengan suasana saat itu. Bikin tensi yang sedang dibangun jadi ngedrop lagi.

Poin positifnya, hampir tidak ada kejanggalan dari segi cerita. Jarang-jarang ini untuk kasus film horor lokal. Yang bisa saya tangkap hanya ada dua. Yang pertama adalah Pandora Box milik om Johan yang dibiarkan tidak terkunci padahal ia tahu seberapa bahaya kotak tersebut apabila terbuka. Yang kedua adalah Anggi yang bisa terbujuk oleh setan Bavagogh padahal sebelumnya ia sudah melihat sendiri bahwa setan tersebut berniat jahat.

Oh ya, hampir lupa. Untuk penampakan hantu dan sejenisnya, well, gak terlalu serem sih. Mungkin karena wujudnya yang menyerupai manusia biasa. Bukan yang wajahnya rusak atau berdarah-darah. Ada 2-3 penampakan hantu lain yang tidak terlalu berhubungan dengan cerita. Saya justru malah kecewa, karena di dalam cerita beberapa kali karakter Riana menyebutkan bahwa rumah yang ia tinggali banyak dihuni oleh makhluk gaib. Nyatanya pada malu-malu semua.

Yah, semoga saja ‘uneg-uneg’ di atas bisa menjadi masukan bagi semua pihak yang terlibat, ya. Suer saya bukan kaum netizen yang suka nyinyir tanpa alasan kok, hehehe.

Level Horor: 3/10
Gak serem sih, tapi hantu tanpa kepalanya boleh lah. Tambahan +1 poin juga karena mengimport hantu dari Perancis

Level Cerita: 6/10
Cerita oke, hanya saja alurnya lambat dan sebenarnya tidak terlalu panjang.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply