Review Film Suster Ngesot The Movie (2007)

Dari yang bisa saya temukan, total ada 4 film mengenai urban legend suster ngesot yang sudah beredar hingga saat artikel ini ditulis. Yaitu “Suster N (Dendam Suster Ngesot)” (2007), “Kutukan Suster Ngesot” (2009), “The Secret: Suster Ngesot Urban Legend” (2018), dan “Suster Ngesot: The Movie”. Dua di antaranya sudah pernah dibahas sementara satu (yang disebut pertama) baru saya ketahui keberadaannya saat menulis artikel ini. Jadi, sebelum saya menontonnya dan melengkapi kuartet film horor hantu perawat yang jalannya ngesot itu, simak aja dulu sinopsis dan review singkat dari “Suster Ngesot: The Movie” berikut ini. Cekidot!

Sinopsis Singkat

Review Film Suster Ngesot The Movie (2007)

Vira (diperankan oleh Nia Ramadhani) dan Silla (diperankan oleh Donita) adalah dua orang perawat yang dari Bandung ke Jakarta untuk praktek di sebuah rumah sakit. Mereka dijemput oleh Mike (diperankan oleh Mike Lewis), kekasih Vira, yang merupakan mahasiswa Australia yang sedang menempuh pendidikan di Indonesia. Karena seluruh kamar asrama penuh, keduanya lantas ditempatkan di sebuah kamar yang sudah 20 tahun tidak dihuni. Belakangan, dari Mak Saroh (diperankan oleh Jajang C Noer), tukang cuci asrama, diketahui bahwa dulunya kamar tersebut dihuni oleh Lastri (diperankan oleh Lia Waode). Lastri tewas dibunuh oleh kekasihnya sendiri yang tega berselingkuh dengan sahabat Lastri yang juga tinggal di kamar tersebut.

Dibukanya kamar tersebut ternyata membawa dampak buruk. Arwah suster Lastri yang penasaran kembali bergentayangan dengan satu misi: membunuh orang-orang yang melakukan perselingkuhan. Dan Vira, orang pertama yang telah membuka pintu kamar, yang kebetulan lahir di tanggal dan bulan yang sama, dipilih untuk menjadi perantara. Di waktu-waktu tertentu, Vira akan melihat penampakan buku harian Lastri dimana di dalamnya muncul satu huruf yang merupakan inisial dari orang yang bakal dibunuh.

Vira mencoba untuk memberitahu hal tersebut pada Mike dan Silla, namun keduanya tidak begitu percaya. Dan tanpa Vira sadari, Mike dan Silla mulai jatuh cinta.

Tanggal Rilis: 10 Mei 2007
Durasi: 87 menit
Sutradara: Arie Azis
Produser: Dhamoo Punjabi, Manoj Punjabi
Penulis Naskah: Aviv Elham
Produksi: MD Pictures
Pemain: Nia Ramadhani, Donita, Mike Lewis, Jajang C. Noer, Lia Waode, Arswendi Nasution, Mastur, Adri Valery Wens, Lulu Dewanti, Ira Duaty, Eva Anindita

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Film ini membuat saya tiba-tiba teringat dengan “Death Note”. Bedanya, jika di film tersebut seseorang bisa menuliskan nama orang yang ingin dibunuh, dalam “Suster Ngesot” buku menjadi media untuk menyampaikan siapa orang berikutnya (berupa inisial) yang akan dibunuh.

Ini adalah ide yang cukup menarik. Terlebih, penulis Aviv Elham lumayan iseng dengan membuat beberapa karakter punya kesamaan inisial. Alhasil, beberapa kali kita berhasil ditipu. Sudah menebak-nebak si X yang jadi korban, eh ternyata malah si Y.

Meski tidak begitu berhasil memperkenalkan secara utuh kepribadian para karakter utamanya, sutradara Arie Azis sebaliknya sukses menjelaskan mengenai mitos Suster Ngesot (versi film ini) dan asal usulnya melalui perantara Mak Saroh. Kemampuan akting Jajang C Noer terpampang nyata saat membawakan peran tersebut. Apalagi dengan gayanya yang terus membawa anak kucing. Walau kadang anak kucingnya kelihatan pengen kabur, hehehe.

Saya juga suka dengan bagaimana unsur perselingkuhan dimasukkan tanpa terkesan dipaksakan. Momen demi momen kecil diselipkan hingga timbul benih-benih cinta di antara Silla dan Mike. Padahal ada kesempatan untuk menghajarnya sejak awal, saat keduanya hujan-hujanan dan Silla yang basah kuyub jadi ‘transparan’ bajunya.

Babak ketiga cerita menutup semuanya dengan sesuatu yang sudah bisa diprediksi. Sayangnya, Arie Azis lupa diri dan membuat si tokoh utama Vira yang TIDAK berselingkuh ikut dibunuh suster ngesot. Untuk twist memang boleh, tapi untuk konsistensi cerita jelas ini merupakan poin negatif.

Poin negatif lainnya adalah tetap saja ada hal-hal yang tidak masuk dalam logika. Seperti dompet Silla yang tertinggal di mobil Mike misalnya. Dengan posisi yang sedemikian rupa, aneh tapi nyata jika lantas butuh waktu 1 hari sebelum Mike me-notice benda tersebut. Begitu pula dengan kondisi asrama yang super sepi. Padahal, Vira dan Silla sengaja ditempatkan di dalam kamar terbengkalai karena asrama sudah penuh. Sepanjang durasi hanya ada satu adegan dimana terlihat 2 penghuni asrama yang lain.

Bagaimana dengan jump scare-nya? Ada beberapa momen yang mencekam. Sebagian sisanya biasa saja dan cenderung berulang polanya. Suka banget saat pintu kamar mandi terbuka perlahan lantas menutup kembali tanpa disusul penampakan. Yang seperti demikian yang harusnya dipahami oleh para pembuat film horor di Indonesia. Tanpa ada muka burik berdarah-darah yang mendadak nongol di layar pun penonton juga bisa menahan nafas.

Selain Jajang C Noer, hanya Donita yang aktingnya mencuri perhatian saya. Tidak terlalu istimewa, but at least di atas rata-rata pemain lainnya. Nia Ramadhani? Sudah terlanjur ilfil dengan akting ketakutannya di salah satu adegan, yang hanya berdiri di tempat sembari teriak lantas menutup mata dengan kedua tangannya. Gak meyakinkan.

Penutup

Dari dua film tentang suster ngesot sebelumnya, “Suster Ngesot The Movie” yang hadir lebih dulu ternyata tidak terlalu mengecewakan. Ide ceritanya berpotensi. Sayang dalam eksekusinya masih tidak rapi dan tidak konsisten. Ada momen jump scare yang mencekam, walau yang lain tidak menakutkan. Akting Nia Ramadhani yang kurang meyakinkan tertutupi oleh Donita dan Jajang C Noer yang kebetulan termasuk salah dua yang sering menemani karakter yang dibawakan Nia di layar. 4/10.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply