Review Film Sumpah Pocong Di Sekolah (2008)

Saya pernah sekali melihat pocong. Di belakang rumah dulu, kebetulan ada halaman yang cukup luas. Saat itu saya pikir hanya halusinasi karena tak lama setelah dilihat pocongnya bergeser ke kanan. Bayangan saya dulu si poci bergerak dengan cara melompat, seperti yang ada di film-film. Alhasil pas melayang ya positive thinking aja, palingan saya lagi halu. Eh belakangan baru tahu kalau aslinya pocong ya melayang. Beneran dong artinya yang dulu dilihat, wkwkwk.

Spoiler di awal, tidak ada penampakan pocong di film “Sumpah Pocong di Sekolah”. Yang parno dengan si poci tidak perlu mengurungkan niat untuk menonton. Tapi biar lebih sreg, sebelum menonton simak dulu deh sinopsis dan review singkatnya di bawah, hehehe.

Sinopsis Singkat

Review Film Sumpah Pocong Di Sekolah (2008)

Sekolah Pramudya Mulya, khusus laki-laki, kedatangan guru baru bernama bu Sonya. Ramon (diperankan oleh Marcell Darwin) langsung jatuh hati melihat parasnya yang cantik. Kedua sahabatnya, Evan (diperankan oleh Hardi Fadhillah) dan Dimas (diperankan oleh Fandy Christian), yang mengetahui hal itu diam-diam merencanakan kejutan di hari ulang tahun Ramon. Mereka menyewa seorang wanita penari striptease dan mendandaninya agar mirip dengan bu Sonya untuk menghibur Ramon.

Kejadian tersebut ternyata direkam oleh seseorang. Videonya beredar dengan cepat di lingkungan sekolah. Kepala asmara pak Rizal yang mengetahuinya segera memanggil Ramon, Evan, dan Dimas untuk dihukum. Ketiganya tidak mau mengaku kalau mereka pelakunya. Tanpa sadar Ramon berucap bahwa mereka berani sumpah pocong sebagai buktinya.

Meski sempat kaget, pak Rizal menerima tantangan tersebut. Beberapa saat kemudian ketiganya siap untuk melakukan upacara sumpah pocong di ruang serbaguna. Sebelum upacara berlangsung, datang pak Sentot (diperankan oleh Joshua Pandelaki), kepala sekolah. Ia langsung meminta sumpah tersebut dibatalkan.

Sebagai gantinya, kepsek lantas memanggil ayah Ramon, Heru (diperankan oleh Alex Komang). Berhubung Heru adalah bekas staff di sekolah tersebut, maka hukuman Ramon diperingan. Ia hanya diminta untuk membersihkan asrama pada akhir minggu.

Anehnya, sejak insiden sumpah pocong itu, kejadian-kejadian mistis mulai terjadi di asrama. Tidak hanya dialami oleh Ramon, Evan, dan Dimas, melainkan juga Heru. Kasihan melihat sikap Ramon yang sering panik, bu Sonya berinisiatif untuk mencari penyebabnya. Kecurigaannya makin kuat saat pak Sentot menyatakan bahwa Ramon hanya sekedar mencari perhatian saja.

Belakangan terungkap bahwa arwah yang menghantui Ramon dkk adalah arwah seorang gadis bernama Bunga. Dulu ia adalah murid sekolah Pramudya Mulya sebelum berubah menjadi khusus laki-laki. Akibat kondisi keluarga yang kacau, Bunga sering curhat pada Heru yang kala itu menjadi guru BP. Lama-lama mereka menjadi dekat dan menjalin hubungan intim. Hingga suatu ketika Bunga memberitahu Heru bahwa ia hamil. Pun begitu, ia tidak keberatan menggugurkan kandungannya jika memang Heru tidak siap menerima.

Usai menggugurkan kandungan dengan diantarkan oleh Heru, Bunga meninggal di jalan. Heru lalu menyembunyikan jenazah Bunga di balik tembok sekolah yang saat itu sedang dibangun. Dan kini arwah Bunga datang kembali untuk meminta Heru menemaninya. Heru yang ketakutan kemudian didorong oleh arwah Bunga hingga terjatuh dari lantai 3 bangunan sekolah. Untung nyawanya masih bisa diselamatkan.

Di akhir terlihat kursi roda yang tengah diduduki oleh Heru bergerak sendiri di halaman rumah sakit./blockquote>

Tanggal Rilis: 12 Juni 2008
Durasi: – menit
Sutradara: Awi Suryadi
Produser: Ody Mulya Hidayat
Penulis Naskah: Awi Suryadi, Abbe AC
Produksi: Maxima Pictures
Pemain: Marcell Darwin, Fandy Christian, Hardi Fadhillah, Herichan, Joshua Pandelaki, Henidar Amroe

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Terlepas dari adegan lingerie serta adegan sensual penari striptease yang gak penting (dan gak logis juga dilakukan oleh pelajar SMA), “Sumpah Pocong Di Sekolah” sebenarnya hadir dengan cerita yang cukup baik. Alurnya jelas dan mengalir, minim durasi yang terbuang percuma. Mungkin hanya di babak ketiga dimana pengungkapan misteri sedikit bertele-tele.

Jawaban misterinya sendiri terbilang memuaskan. Tidak terkesan mengada-ada maupun dipaksakan. Awalnya sempat ilfil kenapa ayah Ramon juga ikut diteror mengingat sekilas tidak ada hubungannya dengan si hantu. Ternyata saya salah. Bukan penampakannya yang lebay, melainkan memang ada alasan di balik itu, hehehe.

Penampakannya pun tidak mengecewakan. Sedang lah kuantitasnya. Lumayan bervariasi pula. Selain yang nongol saat lift bergerak naik atau turun. Rasanya terlalu berlebihan jika terus-terusan dimunculkan di setiap lantai. Harusnya cukup di salah satunya. Kendati demikian, sulit mengabaikan tata suara yang lumayan mengganggu. Untungnya tidak semua jump scare dibarengi dengan genjreng genjreng. Setidaknya masih memberi waktu bagi gendang telinga untuk beristirahat.

Yang saya suka, ada satu adegan dimana Dimas tanpa sengaja minum air kencing Evan yang ada dalam botol. Di film-film lain, adegan seperti ini biasanya dipanjang-panjangkan durasi untuk memberi titik tawa. Sementara di “Sumpah Pocong Di Sekolah”, dibiarkan berlalu begitu saja. Sepertinya agar film tetap fokus di jalurnya.

Yang sedikit kurang adalah eksplorasi naskahnya. Secara keseluruhan memang bisa dinikmati. Namun terlalu lempeng, minim kejutan di babak pertama maupun kedua. Sosok bu Sonya yang menjadi salah satu kunci pembuka misteri di sekolah juga tidak banyak ditampilkan.

Oh ya, ada dua plot hole. Pertama, di film diceritakan yang dihukum hanyalah Ramon. Evan dan Dimas sama sekali tidak mendapat hukuman. Tidak dijelaskan kenapa. Kedua, Heru diperlihatkan jatuh dari lantai 3. Ajaibnya ia masih bisa selamat.

Penutup

Film ini cukup memperkuat opini pribadi saya bahwa film-film horor di tahun 2010 ke bawah punya variasi cerita yang jarang dimiliki film sejenis yang lahir belakangan. Orisinil sih tidak, tapi berhasil dikemas dengan baik sehingga terasa fresh. Sayangnya, penulis kurang berani mengeksplore cerita sehingga terlalu datar dan lempeng alurnya. Bisa mendapat skor nilai lumayan seandainya tidak menyertakan adegan sensual, menambal plot hole, serta mengurangi jumlah penampakan yang ada. 4/10.

Catatan: rating bersifat subyektif dan berdasarkan preferensi pribadi

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply