Review Film Sebelum Iblis Menjemput: Ayat 2 (2020)

“Sebelum Iblis Menjemput: Ayat 2” jadi salah satu film horor layar lebar yang paling banyak ditunggu kehadirannya di bulan Februari 2020 ini. Wajar mengingat edisi perdananya di tahun 2018 lalu mampu menembus angka 1 juta penonton. Akankah kali ini Alfie masih mampu melawan takdirnya yang ada di tangan iblis? Dapatkah juga sutradara Timo Tjahjanto melawan takdir kebanyakan film sekuel yang tidak mampu mengimbangi prekuelnya? Yuk mari kita simak sinopsis dan review singkatnya di bawah ini.

Sinopsis Singkat

Review Film Sebelum Iblis Menjemput: Ayat 2 (2020)

Alfie (diperankan oleh Chelsea Islan) dan Nara (diperankan oleh Hadijah Shahab) mencoba untuk move on pasca kejadian yang mereka alami sebelumnya. Namun meski dua tahun telah berlalu, mimpi buruk terus menerus mereka alami. Hingga suatu hari, enam orang menculik keduanya dan membawa mereka ke rumah bekas panti asuhan yang terpencil. Enam orang tersebut adalah Gadis (diperankan oleh Widika Sidmore), Budi (diperankan oleh Baskara Mahendra), Leo (diperankan oleh Arya Vasco), Kristi (diperankan oleh Lutesha), Martha (diperankan oleh Karina Salam), dan Jenar (diperankan oleh Shareefa Daanish). Mereka meminta agar Alfie mau membantu membebaskan mereka dari teror arwah Pak Ayub, bapak penjaga panti yang dulunya sempat bersekutu dengan iblis.

Tanggal Rilis: 27 Februari 2020
Durasi: 1 jam 50 menit
Sutradara: Timo Tjahjanto
Produser: Wicky V Olindo, Timo Tjahjanto
Penulis Naskah: Timo Tjahjanto
Produksi: Frontier Pictures, Legacy Pictures, Rapi Films, Screenplay Films
Pemain: Chelsea Islan, Hadijah Shahab, Shareefa Daanish, Baskara Mahendra, Lutesha, Karina Salim, Arya Vasco, Aurélie Moeremans, Widika Sidmore

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Jika film “Sebelum Iblis Menjemput” punya alur cerita yang rapi dan apik, tidak begitu dengan sekuelnya ini. Plot yang dihadirkan terlalu sederhana dan mudah ditebak. Sedari awal kita pasti sudah merasa bahwa salah satu dari 6 orang anak panti asuhan tersebut berbohong. Hanya tinggal menunggu clue hingga tahu apakah pelakunya si A atau si B. Memang, Timo sebagai sutradara sekaligus penulis sudah mencoba menyamarkan si pelaku, tapi saat terungkap pun efek kejutnya sudah tidak terasa.

Bagi saya pribadi, yang paling mengecewakan adalah dari perkembangan ceritanya sendiri. Terutama dari sudut pandang karakter utama, Alfie. Di sini karakternya lebih tampak sebagai sosok superhero ketimbang manusia biasa. Apalagi ketika dirinya mengubah tangan kanannya menjadi tangan iblis. Auto teringat dengan manga “Hell Teacher Nube”, dimana si pak guru Nube punya tangan kiri berkekuatan iblis.

SIM2 versus Hell Teacher Nube

Buruknya cerita untungnya tertutupi dengan ketegangan yang dihadirkan dari menit ke menit. Nyaris tanpa jeda. Memang tidak semua menarik karena ada sebagian yang berulang. Serangan dari hantu kayang misalnya. Penampakan pertama dan kedua masih oke, yang berikutnya biasa saja. Kendati demikian, dengan penambahan bumbu sadisme, masih tetap harus diberi acungan jempol.

Timo juga cerdas untuk memberi selipan humor di tengah-tengah teror iblis. Tidak banyak tapi berkesan. Jauh lebih baik ketimbang film-film sejenis yang seringkali memberi porsi khusus untuk titik tawa namun efeknya mudah dilupakan.

Satu yang amat sangat saya apreasiasi adalah pada akhirnya ada film horor lokal yang tidak melulu semua hal yang ada di layar dieksploitasi sebagai sumber kengerian. Di “Sebelum Iblis Menjemput: Ayat 2” ini terkadang ada hal-hal kecil yang diabaikan oleh para karakter, namun di film lain biasanya sudah diheboh-hebohkan dengan efek suara gonjreng gonjreng yang memekakkan telinga. Bola yang tiba-tiba menggelinding sendiri misalnya. Atau patung manekin yang bergerak tanpa sebab. Keren.

Soal musik dan suara bisa dibilang sempurna bagi saya. Yang seperti ini yang saya harapkan dari sebuah film horor lokal. Sebagai penonton dan penggemar film horor, saya butuh ditakut-takuti lewat cerita dan apa yang terlihat di layar, bukan dari volume keras yang membuat jantung kaget.

Bagaimana dengan karakter dan akting pemainnya? Untuk karakter bagi saya tidak ada masalah. Semua sesuai dengan porsi dan kebutuhan cerita. Tidak ada yang berlebihan, tidak ada yang tidak ada gunanya. Berbeda dengan akting pemain yang harus diakui kurang maksimal. Ekspresi wajah seringkali tidak sesuai dengan kondisi adegan yang sedang berjalan. Bahkan Chelsea Islan sendiri sebagai pemeran utamanya saja terlihat seperti karakter Cha Dal-Gun dalam drama Korea “Vagabond” yang marah-marah serta berteriak melulu sepanjang cerita.

Penutup

Sebagai sebuah tontonan, secara keseluruhan “Sebelum Iblis Menjemput: Ayat 2” adalah film yang sangat menghibur. Saya seperti sedang menonton film Marvel, namun dengan tema horor. Ketegangan dan kengerian terus hadir nyaris tanpa henti. Sayangnya, hal tersebut tidak diimbangi dengan naskah skenario yang berkualitas. Akting sebagian pemain juga terasa sekali ada yang out of place di beberapa adegan. Sulit sepertinya untuk bisa menyamai atau melebihi capaian penonton film sebelumnya.

Setidaknya, hingga saat ini, “Sebelum Iblis Menjemput: Ayat 2” adalah film horor lokal yang paling layak untuk ditonton di tahun 2020. Jadi jangan ragu untuk membeli tiket dan nonton di bioskop, ya.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply