Review Film Ruqyah: The Exorcism (2017)

Tidak banyak film horor Indonesia yang memasukkan unsur religi di dalamnya. Kalau pun ada, jarang berhasil menimbulkan decak kagum. Lalu bagaimana dengan “Ruqyah: The Exorcism”, sebuah karya dari sutradara Jose Poernomo, di tahun 2017. Berhasilkah ia menandai come back-nya Celine Evangelista ke layar lebar pasca vakum selama 6 tahun dengan torehan yang berkualitas? Simak sinopsis dan review singkatnya berikut.

Sinopsis Singkat

Review Film Ruqyah: The Exorcism (2017)

Diangkat dari kisah nyata yang terjadi di tahun 2012. Mahisa (diperankan oleh Evan Sanders) adalah seorang wartawan yang hendak membantu seorang artis film bernama Asha (diperankan oleh Celine Evangelista) dari gangguan makhluk halus yang sering ia alami. Dari seorang ustad, Mahisa disarankan untuk melakukan ruqyah pada Asha. Namun ternyata hal tersebut tidak mudah karena makhlub gaib yang ada dalam diri Asha terus melawan.

Tanggal Rilis: 5 Oktober 2017
Durasi: 1 jam 26 menit
Sutradara: Jose Poernomo
Produser: Manoj Punjabi
Penulis Naskah: Jose Poernomo, Baskoro Adi Wuryanto
Produksi: MD Pictures, Pichouse Films
Pemain: Celine Evangelista, Evan Sanders, Hikmal Nasution, Mega Carefansa, Torro Margens

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Seorang wartawan yang hobi meliput hal-hal mistis berkenalan dengan seorang artis yang belakangan mengaku bahwa dirinya sering mendapat gangguan gaib. Wartawan tersebut lantas menawarkan bantuannya. Sayangnya, menyembuhkan ternyata tidak semudah sekedar menginvestigasi. Sama halnya membuat horor religi yang pada kenyataannya tidak sesederhana menyematkan unsur religi ke dalam cerita.

Dalam “Ruqyah: The Exorcism”, ada dua hal yang menjadi permasalahan utama.

Pertama adalah cerita. Berantakan dan tidak logis. Sudah tahu temannya kesurupan, bukannya dibawa ke ustad yang sebelumnya menyarankan untuk ruqyah, lah kok malah dibawa ke bangunan terbengkalai untuk ditangani sendiri. Mana ajaib pula. Di tempat tersebut bisa-bisanya sudah ada beberapa standing lamp dan kursi dalam keadaan bersih dan rapi.

Banyak yang memprotes kondisi pakaian karakter Asha yang terbuka pada saat proses ruqyah dilakukan. Buat saya itu tidak masalah karena Mahisa tidak mendapatkan instruksi mengenai hal itu dari ustad yang ia temui. Saya lebih konsen dengan proses ruqyah ‘main-main’ yang dilakukan Mahisa yang bisa menjadi bumerang karena seolah-olah tidak mempan untuk mengusir makhluk halus yang bersemayam dalam diri Asha.

Untungnya hal ini kemudian ‘dikoreksi’ di bagian akhir dimana proses ruqyah yang baik dan benar dilakukan oleh orang-orang yang kompeten. Walau masih ada kurangnya karena yang membenarkan pakaian Asha atau memeganginya bukanlah jamaah wanita melainkan Mahisa.

Ketidaklogisan cerita juga terjadi menjelang akhir dimana secara kebetulan apa yang terjadi pada Asha ternyata berhubungan dengan salah satu investigasi yang pernah dilakukan Mahisa. Terlihat kemalasan penulis dalam mencari jalan dalam memecahkan misteri yang telah dibentuk.

Permasalahan kedua datang dari pemilihan Evan Sanders sebagai pemeran utama. Aktingnya secara umum memang tidak ada masalah. Namun sejak eksis dilm film “Kuntilanak” dan “Kuntilanak 2”, doi masih saja belum bisa memainkan mimik wajah ketakutan dengan natural. Yang melihat bukan jadi simpati tapi justru tertawa geli. Di kedua film tersebut ia beruntung karena perannya tidak begitu signifikan, sehingga kekurangannya tertutupi oleh akting menawan Julie Estelle. Tidak demikian dengan “Ruqyah: The Exorcism” ini. Dengan penampilan aktor dan aktris lain yang juga B aja dan cenderung kaku, Evan Sanders jadi noda hitam yang sulit untuk diabaikan.

Untuk elemen horornya sendiri saya cukup menikmati. Tidak mengerikan dan tidak terlalu spesial, tapi bisa dinikmati. Lumayan suka saat momen lidah panjang menjulur. Kabarnya bagian tersebut sesuai dengan apa yang dilihat dalam kejadian asli oleh Jose Poernomo. Boleh percaya boleh tidak.

Penutup

Ide cerita “Ruqyah: The Exorcism” sebenarnya tidak buruk. Mengangkat isu penggunaan makhluk gaib sebagai susuk pemikat dari orang-orang yang berniat menjadi artis. Sayangnya, pada prosesnya hal tersebut tidak tersampaikan dengan baik karena buruknya naskah yang dimiliki. Penyakit sutradara yang sibuk menakut-nakuti masih saja sulit untuk disembuhkan. Apalagi dengan ending yang seperti dipotong begitu saja. 4/10.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: , ,

Reply