Review Film Rumah Kentang: The Beginning (2019)

Rumah Kentang adalah urban legend yang bisa ditemui di beberapa kota di Indonesia. Yah, namanya juga mitos, sampai sekarang tidak diketahui pasti yang mana di antara ‘versi-versi’ tersebut yang benar nyata. Bisa semuanya, bisa juga tidak satu pun. Saya pun pernah mengunjungi salah satunya yang ada di kota Bandung. Hasilnya? Mampir sendiri aja deh, biar lebih afdol, hehehe.

“Rumah Kentang: The Beginning” adalah sekuel (atau prekuel?) dari film “Rumah Kentang” (2012) yang waktu itu dibintangi oleh Shandy Aulia, Tasya Kamila, dan Gilang Dirgahari. Rocky Soraya yang sebelumnya menjadi co-produser kini naik pangkat menjadi produser utama. Ia jugalah yang menggarap naskah skenarionya, bersama dengan Agam Suharto. Seperti apa? Simak sinopsis dan reviewnya di bawah ini.

Sinopsis Singkat

Review Film Rumah Kentang: The Beginning (2019)

Menurunnya minat pembaca pada hasil karyanya membuat novelis Adrian (diperankan oleh Christian Sugiono) memutuskan untuk sementara waktu tinggal di villa milik istrinya Sophie (diperankan oleh Luna Maya) bersama dengan nenek Sophie (diperankan oleh Jajang C Noer) dan ketiga anaknya: Nina (diperankan oleh Davina Karamoy), Nala (diperankan oleh Nicole Rossi), dan Bayu (diperankan oleh Rayhan Vandenmoort). Sophie awalnya enggan karena masih dihantui oleh hilangnya ayah dan ibunya secara misterius saat dulu ia masih kecil. Kekhawatirannya menjadi nyata. Satu demi satu anaknya menghilang tanpa jejak. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ada hubungannya dengan misteri hilangnya orang tua Sophie?

Tanggal Rilis: 21 November 2019
Durasi: 1 jam 42 menit
Sutradara: Rizal Mantovani
Produser: Rocky Soraya
Penulis Naskah: Agam Suharto, Rocky Soraya
Produksi: Hitmaker Studios
Pemain: Luna Maya, Christian Sugiono, Jajang C Noer, Davina Karamoy, Nicole Rossi, Rayhan Vandermoort, Epy Kusnandar

Review Singkat

WARNING! Tulisan di bawah ini mengandung SPOILER!!!

Kita bahas positifnya dulu. Film ini sebenarnya memiliki banyak unsur cerita yang menarik. Mulai dari urban legend, ritual pesugihan iblis, balas dendam, dukun tobat, ibu jahat, zombie, hingga kejar-kejaran dalam gua. Bisa menjadi sesuatu yang memikat JIKA memiliki rajutan cerita yang berkelas. Sayangnya, duet penulis Agam Suharto dan Rocky Soraya sepertinya keteteran sendiri dalam memasukkan semua elemen tersebut sehingga pada akhirnya timbul banyak lobang besar dalam cerita yang tidak disadari.

Atau mungkin disadari tapi enggan ditambal.

Dari segi akting, Luna Maya masih bisa menjaga kualitasnya dalam film-film bertema horor. Di satu dua bagian awal vibe karakter Suzanna masih sedikit terasa, terutama dalam dialog, tapi untungnya setelah itu bisa dihilangkan. Davina, Nicole, dan Rayhan juga cukup baik dalam memerankan ketiga anak Adrian dan Sophie. Mimik wajah saat adegan seremnya tidak terlihat dibuat-buat.

Penilaian berbeda harus saya berikan untuk Christian Sugiono. Walau jujur, sebagian terpengaruh dengan sikap karakternya yang agak tidak masuk akal. Begitu pula dengan Epy Kusnandar yang berperan sebagai Dadang. Dalam satu adegan nada bicara dan mimik wajahnya bisa berubah-ubah. Tapi ya itu, untuk kali ini tidak berani terlalu men-judge karena mungkin itu adalah tuntutan skenario… yang pada dasarnya emang banyak hal tidak masuk akalnya.

Dari sisi visual menurut saya tidak ada yang perlu di-komplain. Indah dan berkelas, sekelas film Hollywood. Untuk departemen ini rasanya memang film-film horor Indonesia belakangan sudah memiliki standar yang baik.

Nah, sekarang kita masuk ke menu utama. Tentang poin negatifnya.

Seperti sudah disinggung di atas, kekurangan utama dalam film “Rumah Kentang: The Beginning” ini adalah lobang pada cerita yang kelewatan besarnya.

Beberapa di antaranya:

  • Saat baru datang ke villa, Bayu dan Nina naik ke lantai dua. Nina lantas masuk ke salah satu kamar tidur. Sesaat kemudian, Bayu berteriak histeris karena diganggu oleh hantu penunggu rumah. Anehnya, TIDAK ADA seorang pun yang mendengar teriakannya. Termasuk Nina yang ada di dalam kamar, yang notabene hanya berjarak beberapa meter saja dari posisi awal Bayu berteriak. Pada beberapa adegan lain, suara teriakan karakter di DALAM KAMAR di lantai dua bisa terdengar oleh karakter lain yang ada di lantai bawah.

  • Sophie diperlihatkan beberapa kali menggambar ilustrasi untuk novel Adrian namun apa yang ia gambar berbeda dengan apa yang ditulis oleh Adrian. Sophie sendiri mengaku menggambar ilustrasi tersebut berdasar atas tulisan Adrian yang ia baca. Belakangan, saat ditunjukkan gambar-gambar Sophie di buku sketsa, Sophie mengaku TIDAK MENGGAMBAR ilustrasi-ilustrasi tersebut.

  • Malam setelah Nina menghilang, Bayu dan Nala tetap dibiarkan tidur sendiri di kamar, sementara Sophie dan Adrian sibuk meneruskan proyek novel mereka. Saya rasa TIDAK ADA orang tua normal yang memutuskan untuk melakukan hal tersebut. Setidaknya mereka bisa meminta Bayu dan Nala untuk tidur di ruang kerja atau sebaliknya, mengerjakan proyek di kamar tidur mereka berdua. Membuat Bayu dan Nala sulit tidur karena penulisan masih dilakukan dengan mesin ketik tradisional bukanlah alasan jika dibandingkan dengan resiko kehilangan anak mereka yang lain, bukan?

  • Setan anak kecil mengaku tidak suka jika ada keluarga bahagia yang tinggal di dalam rumah / villa, sehingga ia akan membunuh siapa pun yang tinggal di sana. Sementara itu, Dadang, selaku dukun yang dulu membantu orang tua Sophie melakukan pesugihan, menyatakan bahwa setan anak kecil itu akan membunuh siapa saja yang membantu terlaksananya pesugihan. Ujung-ujungnya Dadang (dan istrinya) tewas di tangan si setan, membuat motif si setan jadi tidak konsisten. Lebih-lebih buat apa si setan menunggu 20 tahun lebih untuk membunuh si Dadang jika semua itu bisa ia lakukan kapan saja.

Masalah lain adalah ketidaksesuaian cerita dengan judul. Dengan embel-embel “The Beginning”, seharusnya cerita berfokus pada saat pertama kali orang tua Sophie melakukan pesugihan dan mengorbankan anak kecil tersebut, bukan pada cerita balas dendam setan anak kecil. Saya yakin keputusan pemberian judul tersebut supaya terlihat keren saja. Yakin deh.

Oh, by the way, tidak banyak jump scare di film ini. Masih aman buat yang penakut atau kagetan, wkwkwk. Favorit saya saat setannya tiba-tiba merayap cepat dari bawah tempat tidur mendekati si uwa.

Kesimpulan

Ternyata memang jauh lebih baik untuk datang ke bioskop tanpa ekspektasi ketimbang sudah ngarep tapi hasilnya tidak sesuai dengan kenyataan. Trailer yang menjanjikan dari “Rumah Kentang: The Beginning” pada akhirnya berhasil menutupi fakta bahwa cerita yang disajikan jauh dari kata memuaskan. Akting total sebagian bintang utama dan sinematografi yang keren seolah jadi tidak ada artinya. 6/10 skornya. Gak rugi kalau gak nonton, gak (terlalu) nyesel juga kalo nonton.

OK Google, tema artikel yang berhubungan: ,

Reply